Lampu Kuning Utang Luar Negeri

Lampu Kuning Utang Luar Negeri

Arif Budimanta: Utang Luar Negeri Indonesia Masih Normal

Sabtu, 30 Januari 2016 13:59 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – ‎Wakil Ketua Kom‎ite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta menilai utang luar negeri Indonesia masih dalam batas normal. Menurutnya, saat ini tidak perlu dikhawatirkan dengan jumlah utang luar negeri Indonesia. “‎Soal utang pemerintah, kita masih dalam batas yang normal. Utang Indonesia masih proporsional,” kata Arif di Jakarta, Sabtu (30/1/2016). Politikus PDI Perjuangan itu menuturkan, pemerintah memiliki alasan untuk berhutang kepada luar negeri. Dikatakannya, utang dilakukan untuk dipergunakan segala aktivitas produktif yang dapat dirasakan rakyat dalam waktu jangka panjang. Arif mengatakan, pemerintah dalam melakukan utang lebih banyak untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Karena saat ini masih terjadi disparitas harga antara di daerah dengan di pusat. “Kita menggenjot pembangunan infrastruktur dengan cepat seperti instruksi presiden. Kalau infrastruktur tidak dibangun dengan baik maka akan menimbulkan ketimpangan harga,” ujarnya. Arif pun beerharap sektor perbankan bisa mengambil peran untuk dapat mengurangi utang luar negeri Indonesia. ‎”Kita harapkan mengenai pembiayaan bunga terkait hutang ada satu langkah efisiensi yang dilakukan oleh sektor perbankan secara keseluruhan agar suku bunga kita rendah. Nanti biaya produksi akan tumbuh, lalu sektor riil akan bergerak,” katanya.

Link:  KLIK DISINI 

 

KEIN: Utang Luar Negeri RI Tak Mengkhawatirkan

Sabtu, 30 Januari 2016 | 15:28 WIB, Oleh : Daurina Lestari, Eka Permadi

VIVA.co.id – Presiden, Joko Widodo (Jokowi) baru saja mengesahkan pembentukan Komisi Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN). Lembaga baru ini langsung bergerak menyikapi polemik utang luar negeri Indonesi yang semakin membesar. Wakil Ketua KEIN, Arif Budimanta, menilai utang luar negeri Indonesia, yang tercatat Rp4.241 triliun, masih dalam batas normal dan belum ada yang dikhawatirkan. “Soal utang pemerintah, kita masih batas yang normal. Utang luar negeri sebagian besar dimanfaatkan dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur sehingga pertumbuhan ekonomi dipastikan akan tumbuh juga,” kata Arif disela-sela diskusi “Lampu Kuning Utang Luar Negeri?” di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu 30 Januari 2016. Dari catatan Bank Indonesia, per November 2015, utang luar negeri Indonesia sebesar US$304,6 miliar atau sebesar Rp4.241 triliun (kurs Rp13.925 per dolar Amerika Serikat). Utang luar negeri Indonesia tumbuh 3,2 persen year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2015 sebesar 2,5 persen. Namun politisi PDIP ini berharap sektor lain, terutama perbankan, bisa membantu dalam penyaluran dan pembayaran utang luar negeri ini. Menurutnya perbankan harus memiliki langkah yang efisien dalam menangani pembiayaan bunga utang luar negeri. “Kita harapkan mengenai pembiyaan bunga utang ada satu langkah efisiensi, yang dilakukan oleh sektor perbankan secara keseluruhan, agar suku bunga kita rendah,” ujar Arief. Menurutnya langkah perbankan dengan mengeluarkan kebijakan utang bunga rendah akan memacu industri produktif dan mendorong sektor rill untuk terus bergerak.

Link:  KLIK DISINI 

 

KEIN: Utang Luar Negeri RI Masih Aman

Sabtu, 30 Januari 2016 16:31 WIB

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – ‎Wakil Ketua Kom‎ite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimantamenilai hutang luar negeri Indonesia masih dalam batas normal. Menurutnya, saat ini tidak perlu dikhawatirkan dengan jumlah hutang luar negeri Indonesia. “‎Soal hutang pemerintah, kita masih dalam batas yang normal. Hutang Indonesia masih proporsional,” kata Arif di Jakarta, Sabtu (30/1/2016). Politikus PDI Perjuangan itu menuturkan, pemerintah memiliki alasan untuk berhutang kepada luar negeri. Dikatakannya, hutang dilakukan untuk dipergunakan segala aktivitas produktif yang dapat dirasakan rakyat dalam waktu jangka panjang. Arif mengatakan, utang-utang baru yang dilakukan Pemerintahan Jokowi lebih banyak dialokasikan untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Karena saat ini masih terjadi disparitas harga antara di daerah dengan di pusat. “Kita menggenjot pembangunan infrastruktur dengan cepat seperti instruksi presiden. Kalau infrastruktur tidak dibangun dengan baik maka akan menimbulkan ketimpangan harga,” ujarnya. Arif berharap sektor perbankan bisa mengambil peran untuk dapat mengurangi hutang luar negeri Indonesia. ‎ “Kita harapkan mengenai pembiayaan bunga terkait hutang ada satu langkah efisiensi yang dilakukan oleh sektor perbankan secara keseluruhan agar suku bunga kita rendah. Nanti biaya produksi akan tumbuh, lalu sektor riil akan bergerak,” tandasnya.

Link:  KLIK DISINI 

 

KEIN: Utang Pemerintah Masih Dalam Batas Normal

Sabtu, 30 Jan 2016 – 13:18:56 WIB

 

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) – Wakil Ketua Komisi Ekonomi & Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta meminta masyarakat tidak perlu khawatir dengan kondisi utang luar negeri Indonesia. “Soal utang pemerintah, kita masih batas yang normal,” ujar Arif saat diskusi di Perspektif Indonesia dengan tema Lampu Kuning Hutang Luar Negeri?, Jakarta, Sabtu (30/1/2016). Lanjutnya, sejumlah utang luar negeri sebagian besar dimanfaatkan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur, sehingga pertumbuhan ekonomi dipastikan akan tumbuh juga. Namun demikian, ia berharap sektor perbankan harus bisa memiliki langkah yang efisien dalam menangani pembiayaan bunga utang luar negeri. “Kita harapkan mengenai pembiyaan bunga terkait utang ada satu langkah efisiensi yang dilakukan oleh sektor perbankan secara keseluruhan agar suku bunga kita rendah. Nanti biaya produksi akan tumbuh, lalu sektor rill akan bergerak,” ungkap politsi PDIP itu. Seperti diketahui, Bank Indonesia mencatat kenaikan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia sebesar USD304,6 miliar atau sebesar Rp4.241 triliun (kurs Rp13.925 per USD). ULN tumbuh 3,2 persen year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2015 sebesar 2,5 persen (YoY).(yn)

Link:  KLIK DISINI 

 

INGAT PESAN BUNG HATTA SOAL UTANG LUAR NEGERI

SABTU, 30 JANUARI 2016 , 09:27:00 WIB, LAPORAN: ALDI GULTOM

 

RMOL. Kelompok ekonom di dalam negeri Indonesia terbelah dua dalam menyikapi utang luar negeri. Pertama, kelompok yang anggap utang sangat dibutuhkan (program saving investment gap) di saat APBN murni tak mampu biayai pembangunan infrastruktur. Mereka menganggap jalan keluarnya adalah utang luar negeri. Kelompok kedua, menganggap utang sebagai jebakan. Ini seperti para ekonom Amerika Latin yang menggunakan mazhab ini sebagai bentuk perlawanan terhadap utang. Demikian dikatakan Anggota Badan Anggaran DPR RI, Eka Sastra, dalam diskusi Lampu Kuning Utang Luar Negeri di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (30/1). Dia akui, ada negara-negara yang mampu tingkatkan pertumbuhan ekonominya lewat utang, misalnya Korea Selatan. “Tapi jangan tutup mata krisis utang tahun 80-an di Amerika Latin dan sekarang terjadi di Eropa,” tegasnya. Dia juga mengingatkan, jangan melihat “lampung kuning” utang dari jumlahnya. “Bukan soal jumlahnya, tapi ini lampu kuning dari awal. Utang harus dikelola hati-hati. Wapres pertama (Bung Hatta) sendiri sudah memberi beberapa penekanan, hati-hati kelola utang yang kita ciptakan. Kalau tak dianggap lampu kuning dari awal akan bikin kita tergantung dan tak menciptakan kemandirian,” jelas Eka. Sebenarnya, lanjut dia, utang luar negeri Indonesia sendiri saat ini masih dalam batas aman.”Tapi kita lupa menghitung kita punya utang dalam negeri,” ucap politisi Golkar ini. [ald]

Link:  KLIK DISINI 

 

Jangan Terjebak dengan Utang Luar Negeri

Whisnu Mardiansyah – 30 Januari 2016 17:09 WIB

Metrotvnews, Jakarta: Pemerintah diharapkan tidak terjebak dengan utang luar negeri (ULN), meski rasionya saat ini masih dalam level wajar. Bahkan, Pemerintah harus selalu melihat utang sebagai lampu kuning. Menurut Anggota Badan Anggaran DPR Fraksi Golkar, Eka Sastra, ULN bisa menjadi perangkap bagi pemerintah. Sehingga jangan dijadikan ketergantungan oleh pemerintah. “Negara kadang terjebak dengan tingkat suku bunga ULN yang murah, kita jangan lengah. Nilai tukar mata uang kita kan fluktuatif dan kita masih sangat mengandalkan dolar Amerika,” jelas Eka, saat diskusi “Lampu Kuning Utang Luar Negeri?” Populi Center dan Smart FM Network, di Restoran Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/1/2016). Dia menjelaskan, ULN Indonesia harus digunakan untuk hal yang produktif dan bukan konsumtif. Dia pun memberikan solusi jika Pemerintah Indonesia harus mengoptimalkan pembiayaan dalam negeri. Kemudian mendorong BUMN masuk ke pasar modal dan membuat perbankan dan nonperbankan memiliki tingkat kompetensi yang tinggi. “Saya kira fokus agenda kita ke depan adalah mengoptimalkan pembiayaan dalam negeri, utang luar negeri hanya sebagai pelengkap,” tutup Eka. AHL

Link:  KLIK DISINI 

 

Waspada, Utang Luar Negeri Indonesia Diambang Batas

Whisnu Mardiansyah – 30 Januari 2016 17:31 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Utang luar negeri (ULN) Indonesia dinilai telah mendekati ambang batas waspada. Pemerintah harus mewaspadai rasio utang luar negeri yang terus meningkat per tahunnya. Dalam rilis resmi Bank Indonesia (BI), peningkatan ULN Indonesia tercatat lebih dari enam persen pada tahun kemarin. Hal itu dinilai sudah mendekati ambang batas waspada. “Utang luar negeri kita mencapai USD300 miliar. Bila dikonversikan ke rupiah mencapai Rp4.205 triliun,” kata Pengamat Ekonomi Hardy Hermawan, dalam diskusi ‘Lampu Kuning Utang Luar Negeri’ Populi Center dan Smart FM Network, di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/1/2016). Menurut Hardy, ambang batas waspada utang luar negeri sebesar 51 persen dari total produk domestik bruto (PDB). Saat ini, ULN Indonesia masih berada di kisaran 42 persen dari total PDB. Namun, yang cukup mengkhawatirkan, kemampuan Pemerintah Indonesia dalam membayar utang luar negeri cenderung melemah. Sehingga harus menjadi perhatian serius dari pemerintah. “Meski utang luar negeri kita di tenor jangka panjang, kita harus tetap waspada, karena rentan terjadi fluktuasi nilai tukar,” pungkas Herdy.

Link:  KLIK DISINI 

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.