PERSPEKTIF INDONESIA: MENCARI KURIKULUM YANG MAKSIMUM – 13 DESEMBER 2014

PERSPEKTIF INDONESIA: MENCARI KURIKULUM YANG MAKSIMUM – 13 DESEMBER 2014

Diusulkan Jadi Cawagub DKI, Djarot Saiful Malah Sindir Ahok

Septiana Ledysia

detikNews Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengkonsultasikan nama mantan Walikota Blitar Djarot Saiful Hidayat sebagai salah satu cawagubnya. Namun, di sisi lain Djarot justru menyindir gaya kepemimpinan Ahok yang suka marah-marah. “Kita perlu pemimpin daerah terutama Jakarta yang satu kata satu perbuatan, bukan pandai mengancam dan marah-marah,” kata Djarot Saiful Hidayat di dialog Perspektif Indonesia Smart FM bertema “Revolusi Mental ala Ahok” di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/11/2014). Menurut Djarot, para pemimpin juga harus konsisten dengan omongannya. Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PDIP ini juga mengatakan bahwa revolusi mental harus dilakukan agar bisa berkomunikasi dengan baik. “Harus ada revolusi mental. Kapan bicara keras dan kapan lembut supaya bisa berkomunikasi dengan rakyat, anggota dewan, pengamat dan lain-lain,” jelas Djarot. Meski menyindir soal pemimpin yang suka marah-marah di acara yang bertemakan tentang Ahok, ia tak blak-blakkan menyebut gaya kepemimpinan Ahok salah. Menurut Djarot, gaya kepemimpinan mantan Bupati Belitung Timur itu datang dari hati nurani. “Kalau menurut saya tidak akan mengomentari gaya Basuki, saya percaya itu karakter asal keluar dari hati nurani,” tutupnya. Sebelumnya diberitakan, PDIP telah mengusulkan nama Boy Sadikin sebagai cawagub untuk Ahok. Namun, suami Veronica Tan itu kemudian mengkonsultasikan 3 nama lain ke Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Tiga nama itu adalah mantan Wali Kota Blitar Djarot Syaiful Hidayat, mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH, dan mantan Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Sarwo Handayani. Saat disinggung bahwa Bambang DH tersangkut kasus gratifikasi, Ahok menyebut masih mengantongi nama Djarot dan Yani. “(Ada) Yani sama Djarot. Tambah si Boy lagi dong, nanti kita lihat saja,” tutur Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2014). Birokrasi Indonesia Harus Diubah dari Abdi Negara ke Abdi Rakyat MedanBisnis – Jakarta. Guru Besar Universitas Pertahanan Prof Salim Said menilai birokrasi saat ini Indonesia masih menganut birokrasi dari zaman Belanda yaitu menjadi abdi negara. Namun Indonesia perlu revolusi agar menjadi lebih baik. “Kata tepat bukan reformasi tapi revolusi. Mengganti birokrasi dari abdi negara yang sudah ada dari zaman kolonial menjadi abdi masyarakat,” ujar Salim dalam acara Perspektif Indonesia Smart FM di Gado-Gado Boplo Menteng, Jakarta Pusat. Dalam acara yang bertema “Revolusi Mental ala Ahok” ini hadir pula Anggota Komisi II dari PDIP Djarot Saiful Hidayat dan Nico Haryanto Pengamat politik Populi center. Salim mengatakan, saat ini belum ada pemimpin yang mengabdi masyarakat. Untuk itu harus ada perubahan mental sejak sekarang. “Apa yang dilakukan Ahok sekarang sudah dilakukan oleh Ali Sadikin karena waktu itu dia ceplas-ceplos juga. Namun, yang saya lihat saat ini ada yang ingin Ahok buktikan,” tutup Salim. (dtc) KEPEMIMPINAN Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dinilai berhasil jika dia mampu mengelola keunggulan Jakarta. “Pemimpin dinilai sukses kalau bisa mengelola kekuatan yang ada,” kata anggota Komisi II DPR Djarot Saiful Hidayat dalam diskusi bertema Revolusi mental ala Ahok, di Menteng, Jakarta, kemarin. Djarot menyebut DKI Jakarta bagaikan toko serbaada, dari fasilitas, kebudayaan, hingga karakter manusia. Keanekaragaman itulah yang dia nilai sebagai keunggulan. Ketimbang mengancam dan bersikap pesimistis, memberi motivasi dan arahan dinilai lebih ampuh, terlebih bagi anak buah. “Jangan terlalu pesimistis dengan birokrat karena orang kan punya gaya sendiri-sendiri,” jelas Djarot yang merupakan satu dari dua kandidat wakil gubernur yang diajukan Ahok. Meski begitu, Djarot yang mantan Wali Kota Blitar, Jawa Timur, itu tetap berharap ada revolusi di tubuh birokrasi DKI yang menurut dia dilanda penyakit akut seperti mental ingin dilayani dan ingin punya banyak anak buah agar dihormati. “Kata yang tepat untuk taklukkan birokrasi, ya, revolusi,” ucapnya. Untuk membenahi Jakarta, ada satu kata kunci yang dinilai penting oleh Djarot, yakni komunikasi. Dalam hal ini, komunikasi dengan DPRD DKI guna menghasilkan solusi untuk segala permasalahan Jakarta. “Untuk menyelesaikan masalah di Jakarta, tidak bisa jalan sendiri. Gandeng pemerintah Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Ide-ide seperti itu harus disampaikan secara baik-baik, positive thinking saja dengan DPRD,” kata Djarot lagi. Pada diskusi yang sama, Guru Besar Universitas Pertahanan Indonesia, Salim Said, juga menilai Ahok beruntung bisa memimpin di zaman sekarang dengan ruang politik terbuka lebar. “Ahok menarik, ia juga punya sesuatu yang ingin dibuktikan. Saatnya pas karena temannya, Joko Widodo, sekarang menjabat presiden RI. Jadi banyak hal yang menguntungkan Ahok,” ujar Salim.

 

“Ahok Sangat Mengingatkan Saya kepada Ali Sadikin” 

Sabtu, 29 November 2014 | 13:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com. Gaya kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dikenal ceplas-ceplos ternyata sama dengan Ali Sadikin kala menjabat DKI Hal itu diungkapkan Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said dalam diskusi Revolusi Mental ala Ahok yang diselenggarakan Populi Centre dan Smart FM 95,9 di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/11/2014). Buat generasi Salim, gaya Ahok bukan hal baru. “Menurut saya, itu Ahok sangat mengingatkan saya kepada Ali Sadikin. Ali Sadikin seperti Ahok ngomong ceplas-ceplos dan turun ke lapangan,” kata Salim Said di Menteng, Jakarta Pusat.[Baca: Djarot: Jakarta Perlu Teladan Pemimpin yang Bukan Hanya Pandai Mengancam] Dia menganggap Ali Sadikin telah banyak mengabdi kepada Ibu Kota. Adanya ruang politik yang tersedia dan memiliki gagasan itu melekat pada Ali Sadikin. Mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta ini menilai, Ahok juga perlu membuat gagasan-gagasan. Bagi Salim Said, Ahok menarik karena mempunyai sesuatu yang ingin dibuktikan. “Ahok itu gubernur satu-satunya pertama dilantik di Istana (di era pilkada). Ada yang menguntungkan Ahok. Dia mau buktikan sesuatu, ‘gue bisa kok’,” kata dia. Selain itu, Salim Said mengungkapkan, gaya blusukan Presiden Joko Widodo yang kini juga dilakukan Ahok, sudah pernah tertanam dalam kepemimpinan Ali Sadikin. Ia mencontohkan, Ali Sadikin pernah mengejar calo tiket di Lapangan Banteng sampai ajudannya lari tergopoh-gopoh menghadapi bosnya itu. Gaya bicara Ahok ceplas ceplos disamakan dengan Ali Sadikin Reporter : Desi Aditia Ningrum | Sabtu, 29 November 2014 10:42 Merdeka.com – Gubernur Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) dikenal sebagai orang yang tegas dalam memimpin Jakarta. Meskipun banyak yang mengatakan jika cara bicara Ahok ceplas ceplos bahkan kasar. Hal itu juga yang menyebabkan ormas islam menolak Ahok jadi gubernur karena dianggap arogan. Guru besar Universitas Pertahanan serta Mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta Salim Said, mengatakan cara Ahok memimpin Jakarta sudah dilakukan oleh Ali Sadikin. Ketika Ali Sadikinmenjadi gubernur, kata Salim, dia juga memiliki gaya bicara ceplas ceplos. “Sebenarnya bukan hal aneh Ahok kaya gitu (ceplas ceplos) apa yang dilakukan oleh Ahok sudah dilakukan Ali Sadikin,” kata Salim Said, dalam diskusi revolusi mental ala Ahok di Gado-gado Boplo, Menteng Jakarta Pusat, Sabtu (29/11). Salim menegaskan, bukan hanya cara kerja dan gaya bicara Ahok yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Ali Sadikin, namun gaya blusukan Jokowi juga sudah ada pada zaman Ali Sadikin. “SebelumJokowi blusukan Ali Sadikin sudah lakukan,” ujarnya.

 

Pengamat: Gaya Kepemimpinan Ahok Mirip Ali Sadikin

Ahok dan Ali Sadikin gaya bahasanya ceplas ceplos.

Sabtu, 29 November 2014 | 10:44 WIB Oleh : Siti Ruqoyah, Taufik Rahadian

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama usai pelantikan di Istana Negara, 19 November 2014. (REUTERS/Beawiharta) VIVAnews – Pengamat Politik Universitas Indonesia, Salim Said menyebut bahwa sosok Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sangat mirip dengan Gubernur terdahulu, Ali Sadikin. Salim menyebut salah satu kemiripan antara Ahok dengan Ali Sadikin adalah gaya bahasanya yang ceplas ceplos. “Pak Ahok sangat mengingatkan saya dengan Ali Sadikin,” kata Salim dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 29 November 2014. Dia menambahkan, Ahok dengan Ali Sadikin juga mempunyai kemiripan lainnya yakni memiliki common sense. Salim menyebut keduanya juga memiliki kemiripan lain yakni mempunyai pertentangan dengan sejumlah pihak ketika menjabat sebagai Gubernur. Salim menjelaskan, Ahok dan Ali terlihat menonjol karena pada masa jabatannya itu, keduanya memiliki ruang politik yang luas. “Ahok beruntung mempunyai ruang yang luas, Presiden (Joko Widodo) kan teman dia,” kata dia. Salim menambahkan, Ahok menjadi sosok yang cukup menarik karena dia menilai bahwa Ahok mempunyai motivasi untuk membuktikan sesuatu. “Ahok menarik karena dia punya sesuatu, ada yang ingin dibuktikan,” tambah dia. Direktur Eksekutif Populi Center, Nico Harjanto menambahkan, hingga saat ini masyarakat masih memercayai bahwa Ahok akan membawa perubahan dalam masa jabatannya sebagai Gubernur. Hal tersebut, salah satunya dilihat dari popularitas Ahok di media sosial masih positif. “Ini modal politik yang baik, ada kepercayaan dan ekspektasi dari publik,” ujar dia.

Bursa Wagub DKI, Djarot: Jadi Presiden Juga Siap 

MINGGU, 30 NOVEMBER 2014 | 05:12 WIB

TEMPO.CO , Jakarta:Mantan Wali Kota Blitar Djarot Saiful Hidayat mengaku pernah diajak curhat oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Isinya soal pembangunan Jakarta. “Curhat masalah birokrasi dan hubungan dengan dewan,” kata Djarot seusai diskusi “Perspektif Indonesia” di Jakarta pada Sabtu, 29 November 2014. Djarot menilai Ahok orang yang berkomitmen. (Baca: Soal Wagub, Ahok: Dari Dulu Saya Jagoin Djarot) Ahok, kata Djarot, juga menyinggung soal kriteria Wakil Gubernur. Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini mengatakan Ahok menyebut salah satu yang utama adalah pengalaman dalam memimpin daerah. “Terus rekam jejak jelas, bijaksana, dan saling membantu,” katanya. Djarot pernah menjadi Wali Kota Blitar selama sepuluh tahun atau dua periode dari 2000 sampai 2010.(Baca:Cari Wagub, Ahok: Saya Meditasi Dulu Cari Wangsit) Ketika ditanya apakah siap menjadi pendamping Ahok, dia menjawab, “untuk republik ini siap, bahkan jadi presiden juga siap.” Ia menegaskan hingga saat ini pengurus pusat PDIP belum mengambil keputusan terkait nama pendamping Ahok. Selain Djarot, calon wagub lainnya adalah Boy Bernardi Sadikin dan Sarwo Handayani. Boy sebelummnya sudah direstui Mega tapi ditolak Ahok. Ahok Bukan Hal Baru Bagi Jakarta Dheri Agriesta – 29 November 2014 19:09 wib Metrotvnews.com, Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dikenal sebagai sosok kontroversial. Tingkah dan polahnya sering tidak terduga. Tapi sosok seperti Ahok sesungguhnya bukan hal yang baru bagi Jakarta. Sosok Ali Sadikin lebih dulu menggebrak Ibu Kota dengan kelakuannya. “Buat generasi saya, Ahok itu tidak sesuatu hal yang baru. Karena ketika Ali Sadikin menjadi gubernur, kebebasan politik belom terbuka. Ali sadikin down to earth,” kata Pengamat Politik Universitas Indonesia, Salim Said, di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat (29/11/2014). Salim menyebut Ahok cukup beruntung dengan keterbukaan politik saat ini. Sehingga, saat Ahok menginginkan sesuatu untuk dibuktikan, dia pun memiliki kesempatan untuk membuktikan hal itu. Namun, kebanyakan tindakan yang diambil mantan Bupati Belitung Timur tersebut telah dilakukan Gubernur Jakarta yang memimpin pada 1966-1977 itu. Salim yang telah lama tinggal di Jakarta pun mengatakan tindakan Ahok mengingatkannya pada sosok Ali Sadikin. “Ali Sadikin juga ceplas-ceplos memberi perintah,” jelas Salim. Selain itu, Salim bercerita mengenai aksi Ali yang turun langsung mengejar calo tiket di wilayah Lapangan Banteng. Tindakan tersebut sempat membuat panik ajudan-ajudan yang berada sebagai pengaman terdekat orang nomor satu Jakarta kali itu. “Saya ingat dulu lari kejar sendiri calo tiket, sehingga ajudannya yang seorang marinir ikutin busnya. Lalu waktu kita bangun Taman Ismail Marzuki (TIM) Ali Sadikin juga datang mimpin penyemprotan di halaman, beliau betul-betul turun ke bawah. Makanya buat generasi saya, Ahok tidak terlalu baru,” kenang Salim.

 

Jokowi Diminta Berdayakan Kepala Daerah untuk buat ‘Jakarta’ Kecil

Sabtu, 29 November 2014 | 11:48

detikNews – Jakarta, Ibu Kota Jakarta dinilai masih menjadi daya tarik karena menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, perdagangan dan hiburan. Untuk mengurangi populasi dan pengangguran di Jakarta, Jokowi harus memberdayakan para kepala daerah membuat ‘Jakarta’ kecil di kotanya masing-masing. “Jokowi sebaiknya menggagaskan menggalangkan kepala daerah agar membuat Jakarta-Jakarta kecil di daerahnya. Agar segala potensi seniman di berbagai kota tidak usah ke Jakarta,” jelas Guru Besar Universitas Pertahanan Prof Salim Said di acara Perspektif Indonesia Smart FM di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/11/2014). Dalam acara yang bertema “Revolusi Mental ala Ahok” ini hadir pula Anggota Komisi II dari PDIP Djarot Saiful Hidayat dan Nico Harjanto, pengamat politik Populi center. Salim mengatakan, kondisi Jakarta saat ini sudah penuh dengan orang-orang pintar dan itu membuat persaingan menjadi susah. Jadinya, banyak sekali pengangguran dan menjadi penyakit masyarakat. “Di Jakarta tidak mudah untuk bersaing. Untuk itu sebaiknya para kepala daerah mulai menciptakan sesuatu di kota masing-masing,” jelas Salim. Salim menambahkan, kalau gagasan tersebut berhasil dijalankan pasti Jakarta akan lebih baik. “Menciptakan kebijakan agar arah Indonesia tidak sentral,” tutupnya. (spt)

No Comments

Leave a Reply