PERSPEKTIF INDONESIA: Obat Terlarang Mengancam Anak-Anak Kita – 16 September 2017

2018-01-05T08:22:35+00:00
Indonesia
Rafif Imawan
Rafif Imawan
January 4, 2018

JAKARTA. Di Kendari sejumlah anak ditengarai menjadi korban obat jenis PCC (paracetamol cafeein carisoprodol). Di sejumlah tempat lain, flakka adalah kosakata baru obat terlarang yang mulai menyerang kaum belia. Bagaimana kita harus mengatasinya?

Untuk membahas isu ini, Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network mengadakan diskusi Perspektif Indonesia bertemakan “Obat Terlarang Mengancam Anak-Anak Kita” di Restoran Gado-Gado Boplo Jakarta, Sabtu (16/9). Dalam diskusi ini hadir Dr. Andi Irwan Asfar, Sp.FK (Sekretaris Komite Obat dan Pengobatan Komplementer PB IDI), Anthony Charles Sunarjo, MBA (Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia 1996-2011), Fadli Nasution, SH, MH (Ketua Perhimpunan Magister Hukum Indonesia), dan Retno Listyarti (Komisioner KPAI). Diskusi dimoderatori oleh host Perspektif Indonesia, Ichan Loulembah.

Pembicara pertama, Dr. Andi Irwan Asfar, Sp.FK (Sekretaris Komite Obat dan Pengobatan Komplementer PB IDI) mengatakan bahwa sebenarnya ini kasus penyalahgunaan obat untuk kasus yang terjadi di Kendari. Tujuan utama dari obat ini (PCC) adalah untuk membuat relaksasi dari penggunanya, namun ketika dipakai oleh pengguna yang depresi hal ini mendorong halusinasi. Belum lagi kerusakan-kerusakan organ yang ditimbulkan, seperti kerusakan hati. Secara medis, apabila digunakan secara berlebihan selama 2-3 minggu, dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal.

Senada dengan Dr. Andi Irwan Asfar, Anthony Charles Sunarjo, MBA (Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia 1996-2011) memaparkan kesalahan persepsi dari masyarakat kita. Obat itu pada dasarnya racun. Hanya saja, apabila dosis yang digunakan tepat dan dengan tujuan pengobatan, maka obat ini akan bermanfaat. Harap diingat bahwa setiap obat pasti memiliki efek samping. Dalam kasus ini, individu yang melakukan penyalahgunaan obat ini, adalah individu yang mencari efek samping dari obat, dan bukan manfaatnya.

Lebih lanjut, Anthony Charles Sunarjo memaparkan pentingnya sosialisasi dari pemerintah. Beliau memaparkan: “Sosialisasi oleh pemerintah untuk menggunakan obat dengan baik dan benar harus diperhatikan, seperti di Hongkong saja yang orang tingkat pendidikan lebih tinggi saja tidak pernah putus sosialisasi mengenai penggunaan obat yang benar.”

Dari kacamata hokum, Fadli Nasution, SH, MH (Ketua Perhimpunan Magister Hukum Indonesia) memaparkan bahwa dari kacamata regulasi, seharusnya PCC sudah tidak beredar di Indonesia. Selain itu, persoalan penyalahgunaan obat ini belum menjadi perhatian dari pemerintah. Kasus serupa sebenarnya sudah pernah terjadi di Sleman, Yogyakarta. Pada saat itu pelaku hanya diberikan hukuman 6 bulan. Dengan kasus di Kendari ini, seharusnya bisa diberikan efek jera. Ketika PCC dinyatakan sebagai obat terlarang, maka ada unsur pelanggaran yang dalam aspek hukum, dapat diancam pidana hingga 15 tahun penjara.

Retno Listyarti (Komisioner KPAI) memberi pandangan berbeda. Bagi beliau, butuh kerjasama yang erat antar orang tua, guru dan pemerintah daerah dalam hal mengatasi persoalan PCC ini. Artinya, kerjasama ini perlu diintesifkan dikarenakan banyak anak-anak yang mendapatkan informasi terkait dengan penyalahgunaan obat dari internet. Anak-anak harus didorong untuk melakukan kegiatan positif seperti ekstrakulikuler.

Lebih lanjut, Retno melihat bahwa ini merupakan satu kunci bagi pemerintah untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat: “Ini seharusnya menjadi momentum untuk mendorong sosialisasi yang massif dari pemerintah untuk mendorong penggunaan obat yang benar.”

Di akhir diskusi, Dr. Andi Irwan Asfar, Sp.FK (Sekretaris Komite Obat dan Pengobatan Komplementer PB IDI), Fadli Nasution, SH, MH (Ketua Perhimpunan Magister Hukum Indonesia), dan Retno Listyarti (Komisioner KPAI) menekankan pentingnya kolaborasi bersama untuk mengatasi permasalahan penyalahgunaan penggunaan obat di kalangan anak-anak. Sosialisasi dari pemerintah menjadi kunci dari bagaiamna mengatasi persoalan ini di masyarakat. Pandangan sedikit berbeda dikemukakan oleh Anthony Charles Sunarjo, MBA (Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia 1996-2011) yang melihat bahwa persoalan penyalahgunaan obat ini tidak hanya menyangkut dimensi hokum saja, tapi juga ada persoalan pendidikan dan ekonomi yang mendasari persoalan ini.