PAN Menatap Masa Depan

PAN Menatap Masa Depan

Kongres PAN, Pertarungan Visi dan “Gizi”

Sabtu, 28 Februari 2015 | 11:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Partai Amanat Nasional (PAN) akan segera melakukan pemilihan ketua umum dalam Kongres IV PAN di Bali mulai hari ini hingga Senin (2/3/2015). Menurut Chairman Populi Center Nico Harjanto, pertarungan dalam Kongres PAN akan berlangsung sengit. “Saya kira pertarungan tidak hanya pada tataran visi, tapi juga seberapa kuat ‘gizi’. Karena kalau visi, PAN sudah bagus. Saya kira pertarungan seberapa kuat ‘gizi’ atau uang,” kata Nico dalam diskusi yang diselenggarakan oleh SmartFM di Jakarta, Sabtu (28/2/2015). Nico mengungkapkan, sejauh ini hanya ada dua kandidat kuat yang akan maju sebagai calon ketua umum PAN, yaitu calon petahana Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan. Ia yakin kedua calon ketua umum itu tidak akan mengubah arah politik PAN, yang saat ini berada di luar pemerintahan. Ia juga yakin posisi politik PAN tidak akan berubah setelah mendapatkan ketua umum periode 2015-2020. Nico menilai PAN akan lebih baik menjadi penyeimbang seperti Partai Demokrat jika Hatta terpilih sebagai ketua umum. Jika Zulkifli yang terpilih, ia memprediksi PAN akan lebih nyaman bersama Koalisi Merah Putih. Kongres PAN digelar di Bali pada 28 Februari – 2 Maret 2015. Sejauh ini, Hatta dan Zulkifli menjadi kandidat kuat yang akan bertarung dalam kongres tersebut.

 

Guru Besar: Jangan Harap Politisi Mundur Legawa

Sabtu, 28 Februari 2015 13:55 WIB

JAKARTA (HN)-Tidak ada politisi yang berkeinginan mundur dari jabatannya dengan legawa, tak heran posisi ketua umum dalam sebuah partai bakal dipertahankan sebisa mungkin, demikian pendapat Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said. “Ada dua profesi yang tidak kenal pensiun, aktor dan politisi. Politisi yang tersingkir itu karena tidak laku. Jadi jangan berharap ada politisi yang mundur dengan legawa,” kata Salim Said dalam diskusi bertajuk “PAN Menatap Masa Depan” di Jakarta, Sabtu (28/2). Salim menilai wajar bila Ketua Umum PAN Hatta Rajasa ingin menjabat kembali posisi itu, sebab partai politik yang ada saat ini belum dapat menjalankan tugasnya untuk mempersiapkan kader-kader baru. Sementara dalam kesempatan yang sama, pengamat politik dari Populi Center, Nico Harjanto menilai pemimpin negara yang baik sulit terlahir karena sistem kaderisasi partai politik yang buruk. Salah satu hal yang ia soroti adalah transaksi uang untuk mendapatkan jabatan-jabatan strategis di partai politik merupakan hal sering terjadi. Nico menilai seharusnya PAN menjalankan regenerasi kepemimpinan agar sesuai dengan semangat reformasi yang diusung partai itu sejak berdiri. “Setelah melewati empat kali pemilu harusnya PAN sudah bisa mencetak kader-kader barulah,” ujarnya. Kongres PAN yang dijadwalkan berlangsung mulai hari ini, Sabtu, 28 Februari hingga 2 Maret 2015 di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua, Kabupaten Badung, akan memilih Ketua Umum Partai dengan dua calon kuat bersaing, yakni Hatta Rajasa dan Zulkifli Hassan.

Reportase : Antara, Editor : Sandi Prastanto

Link:  KLIK DISINI 

 

Guru Besar Politik Islam: Sekarang Jadi Ketum Parpol Hanya Soal Banyak Duit

Mulya Nurbilkis – detikNews

Jakarta – Dalam setiap pertarungan calon ketua umum selalu diwarnai dengan saling klaim memiliki suara terbanyak. Selain itu sudah jadi rahasia umum, dalam setiap kontestasi ketum parpol selalu diwarnai isu pemberian uang dalam jumlah besar pada kader yang memiliki hak suara agar memenangkan salah satu kubu. Hal ini tak pelak membuat pertarungan sebagai ketua partai tak hanya soal siapa yang memiliki visi terbaik untuk partai, namun siapa yang mampu memberi uang paling banyak pada kader. Akhirnya, yang menjadi ketua umum partai selalui orang yang ‘berduit’. “Partai kita sekarang gampang pecah karena tidak ada ikatan pada apa mereka akan setia. Ini juga yang dihadapi Golkar. Saya selalu bilang Golkar dulu aman karena dijaga Pak Harto. Dia nggak ada, nggak ada yang jaga,” kata‎ Guru Besar dan Ahli Politik Islam Prof Salim Said dalam diskusi Smart FM dan Populi Center dengan tema PAN Menatap masa depan di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia, Jakpus, Sabtu (28/2/2015). Dalam diskusi itu hadir mantan politisi PAN yang kini di Golkar Indra J Piliang, dan peneliti Populi Center Nico Harjanto. Salim mengatakan saat ini seorang calon ketua umum harus memiliki modal uang yang besar. Akhirnya, persaingan politik internal partai lebih pada materil. “Sekarang duit. JK merebut Golkar‎ karena memiliki uang, Ical menang karena duit banyak. Regenerasi Golkar, ada duit nggak? Ya karena sejak reformasi ditekan sama yang punya duit. Itu by product dari tanaman politik orde baru,” sambungnya. Menurutnya, tak hanya Hatta Rajasa yang diterpa isu besan SBY sehingga membuat PAN berada dibayang-bayang partai Demokrat, tapi Zulkifli juga seperti itu. ‎Zulkifli juga diperkirakan mendapat dukungan Amien Rais karena hubungan ‘besan’ antara mereka. Puteri pertama Zulkifli Hasan, Putri Zulya Safitri dipersunting oleh Mumtaz Rais, putra bungsu Amin Rais. “Sekarang tekanannya perbesanan. Kalau anak Amien sudah kawin sama (anak) Zul, itu juga faktor. Itu kepentingan. Jadi sekarang tinggal adu kuat (uang),” kata Said. Peranan uang ini juga dinilai peneliti Populi Center Nico Harjanto akan terjadi di kongres PAN yang mulai dibuka hari ini. ‎Menurutnya ketokohan Amien Rais tak lagi menjadi magnet besar bagi kader PAN. (bil/tor)

Link:  KLIK DISINI 

 

Tak Ada Politisi yang Legowo, Termasuk Hatta

Happy Karundeng, Minggu, 01 Maret 2015 12:37

JAKARTA – Ketua Umum PAN Hatta Rajasa berkeinginan maju sebagai calon incumben. Niat mantan Menko Perekonomian itu dinilai wajar. Sebab tidak ada politisi yang legowo mundur dari jabatannya. Karena itu, Hatta diprediksi akan berusaha keras mempertahankan jabatan yang strategis itu. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Pertahanan, Salim Said. Menurutnya di Indonesia partai politik belum dapat menjalankan tugasnya mempersiapkan kader-kader baru. Kaderisasi tidak berjalan baik sehingga pembangunan politik untuk reformasi juga tidak optimal. “Ada dua profesi yang tidak kenal pensiun, aktor dan politisi. Politisi yang tersingkir itu karena tidak laku. Jadi jangan berharap ada politisi yang mundur dengan legowo,” kata Salim Said dalam diskusi bertajuk “PAN Menatap Masa Depan” di Jakarta, Sabtu (28/2). Hal senada juga diungkapkan pengamat politik dari Populi Center, Nico Harjanto. Dia menilai pemimpin negara yang baik sulit lahir karena sistem kaderisasi partai politik yang buruk. Salah satu hal yang disoroti adalah transaksi uang untuk mendapatkan jabatan-jabatan strategis di partai politik merupakan hal sering terjadi. PAN, lanjut Nico, seharusnya menjalankan regenerasi kepemimpinan mengingat semangat reformasi yang diusung partai itu sejak berdiri. “Setelah melewati empat kali pemilu harusnya PAN sudah bisa mencetak kader-kader baru,” jelasnya. Kongres PAN dijadwalkan berlangsung di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua, Kabupaten Badung, pada 28 Februari hingga 2 Maret 2015. Salah satu agenda penting dalam kongres tersebut adalah pemilihan ketua umum partai dengan dua nama yang masuk bursa yakni pertahana Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan.

Link:  KLIK DISINI 

 

Kharisma Amien Rais dinilai sudah memudar di internal PAN

Reporter : Mohammad Yudha Prasetya | Sabtu, 28 Februari 2015 13:15

Merdeka.com – Kharisma seorang Amien Rais di internal Partai Amanat Nasional (PAN) saat ini dianggap sudah cukup memudar. Sehingga, hal ini ditengarai tidak terlalu menguntungkan Zulkifli Hasan sebagai calon ketua umum PAN, yang diusung sang pendiri partai dan tokoh reformasi 1998 tersebut. Hal ini jelaskan oleh pengamat politik dari Populi Center, Nico Harjanto, dalam sebuah diskusi bertema ‘PAN Menatap Masa Depan’ yang diadakan oleh sebuah stasiun radio swasta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. “Saya kira posisi Amien Rais sudah tidak terlalu dominan sebagai tokoh sentral. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa Zulkifli Hasan sudah mulai mengajak Sutrisno Bachir, melakukan pendekatan dengan Syafii Maarif, Din Syamsuddin dan tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya,” kata Nico di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/2). “Hal ini menunjukkan bahwa kharisma, pengaruh dan bahkan kontribusi Amien Rais sudah cukup memudar di internal PAN sendiri,” katanya menambakan. Namun, Nico melihat adanya perubahan mendasar dari posisi PAN di perpolitikan nasional, di mana mereka yang dulu mengedepankan istilah ‘Poros Tengah’ kini sudah mulai menentukan posisi politiknya. Hal inilah yang harus diperhatikan apabila nanti PAN memiliki ketua umumnya yang baru, beserta arah kebijakan reposisional nya di politik nasional saat ini. “Tapi saya kira yang lebih menarik adalah posisi PAN di mana mereka dulunya adalah penggagas poros tengah, apakah sekarang mereka akan memposisikan partainya sebagai penyeimbang dengan mendekatkan diri ke Demokrat. Tapi jika mereka tetap memilih menjadi oposisi, Zulkifli yang notabene merupakan ketua MPR usungan KMP, tentunya mereka akan lebih cocok sebagai oposisi seperti saat ini,” pungkasnya.

Link:  KLIK DISINI 

No Comments

Leave a Reply