Pekerjaan Lama untuk Menteri Baru

Pekerjaan Lama untuk Menteri Baru

Jadi Menteri ESDM, Jonan Diminta Tetap Profesional dan Tegas

Yazir Farouk | Nikolaus Tolen, Sabtu, 15 Oktober 2016 | 13:58 WIB

Suara.com – Mantan Sekmen BUMN Said Didu meminta Ignasius Jonan mempertahankan sikap profesional dan ketegasannya setelah menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sebab menurut dia, banyak kepentingan di sektor yang ditangani Kementerian ESDM.

“Semoga dia (Jonan) tidak berubah. Karena kepentingan di ESDM ini sangat banyak,” kata Said dalam diskusi bertajuk ‘Pekerjaan Lama untuk Menteri Baru’ di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/10/2016).

Lebih lanjut Said mengatakan bila Jonan membuka jendela terhadap orang-orang berkepentingan bisnis, maka jabatannya tak akan lama. Sebab, saat ini, Jonan mendapat dukungan dari segala arah.

“Kepercayaan publik terhadap Jonan ini tinggi, dukungan DPR-nya juga bagus. Dia sekarang tinggal minta mandat ke presiden mau diarahkan kepada dirinya, biar tidak jadi kesalahpahaman,” ujarnya.

Sementara itu, Director Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa menyarankan agar Jonan lebih dulu belajar tentang berbagai sektor yang ditangani lembaganya.

“Saya kira Jonan sebagai menteri baru di ESDM harus belajar dulu memahami konstelasi, paling tidak 30 hari setelah dilantik. Kemudian, segera minta mandat dari presiden,” ucapnya.

Presiden Joko Widodo melantik Jonan dan Arcandra Tahar sebagai Menteri dan Wakil Menteri ESDM pada Jumat (14/10/2016) kemarin. Sebelumnya, Arcandra menjabat Menteri ESDM selama 20 hari. Dia dicopot dari jabatannya karena kasus dwi kewarganegaraan.

Link: KLIK DISINI

 

Sisa 2 Tahun, Menteri ESDM Yang Baru Harus Tentukan Prioritas

EKBIS  SABTU, 15 OKTOBER 2016 , 16:29:00 WIB | LAPORAN: JOHANNES NAINGGOLAN

RMOL. Menteri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang baru dilantik kemarin, Ignasius Jonan, harus bisa beradaptasi dan dengan cepat dalam mempelajari kebijakan-kebijakan di kementerian tersebut.

Sebab, efektivitas masa kerja Jonan hanya berkisar dua tahun. Sebab, satu tahun lagi akan disibukkan kampanye Pemilu 2019.

“Menurut saya perlu sekali belajar dengan cepat dan harus membuat prioritas-prioritas kebijakan,” ujar Director Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, dalam diskusi “Pekerjaan Lama untuk Menteri Baru” di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/10).

Febby menilai tantangan Jonan dalam membuat prioritas kebijakan yakni mensinergiskan mandat Presiden dan kepentingan publik. Seperti menstabilkan harga gas yang berkitan dengan kebutuhan masyarakat hingga isu perpanjangan kontrak Freeport di Papua yang sering diingatkan Presiden.

“Freeport ini harus hati-hati, karena publik juga melihat. Jangan samapai timbul anggapan Presiden tidak punya kepedulian dengan Papua. Jadi tantangan sekarang membalance, kebijakan atau keputusan yang membuat presiden oke, pelaku usaha oke publik juga oke,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Said Didu, mantan Sekmen BUMN yang juga Staf Khusus Menteri ESDM era Sudirman Said, juga menyoroti kebijakan prioritas Jonan kedepan dalam penetapan harga gas.

Menurutnya, penentuan harga gas harus mengedepankan kajian mendalam. Tidak seperti sebelumnya yang menetapkan harga gas bumi 6 USD per MMBTU.

“Cara-cara menentukan harga terhadap gas harus dihindari. Karena anggka 6 USD itu membuat risau investor, sehingga semua berdampak kenaikan. Jadi menentukan harga harus dihindari sebelum ada kajian yang mantap,” pungkasnya. [zul]

Link: KLIK DISINI

 

Anggota DPR Ungkap 35 Proyek Mangkrak di PLN

Menteri Ignasius Jonan diminta membenahinya.

Sabtu, 15 Oktober 2016 | 13:31 WIB, Oleh : Suryanta Bakti Susila, Edwin Firdaus

VIVA.co.id – Anggota Komisi VII DPR RI, Dito Ganinduto, mengimbau Ignasius Jonan selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang baru dilantik Presiden Joko Widodo, tetap melanjutkan kebijakan lama yang telah berjalan.

Sebab, Kementerian ESDM selama ini sudah mengacu Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEM), di mana kebijakan itu sudah melewati kajian dan proses yang cukup lama di lintas stakeholder.

“Jadi jangan membuat kebijakan-kebijakan baru yang kontroversial dan berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang sudah dibuat selama ini. Karena untuk membuat kebijakan, melalui suatu proses yang cukup lama,” kata Dito dalam acara diskusi bertajuk “Pekerjaan Lama untuk Menteri Baru di Gado-Gado Boplo”, Menteng, Sabtu, 15 Oktober 2016.

Seperti diketahui, sebelumnya Jonan menjabat Menteri Perhubungan (Menhub). Dia pun dikenal publik dengan kebijakan-kebijakan yang kerap menuai pro kontra saat ini.

Selain itu, kata Dito, pekerjaan rumah Jonan di institusi barunya adalah peraturan penunjang undang-undang Migas dan Minerba, yakni revisi PP 79 tahun 2010 yang mengatur mengenai kegiatan usaha panas bumi.

“Kemudian untuk sektor minerba, itu renegosiasi kontrak karya dan PKP2B juga harus segera diselesaikan,” kata Politikus Partai Golkar itu.

Yang tidak kalah penting, kata Dito adalah masalah kelistrikan. Di mana target pemerintah merampungkan 35 ribu megawatt pembangkit listrik. Menurut Dito, Jonan harus ekstra mengawasi proyek-proyek kelistrikan itu. Sebab berdasarkan rapat Komisi VII DPR bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN) terungkap adanya 35 proyek mangkrak selama ini.

“Surprise sekali kan. Jangankan saya, direktur utamanya saja menyatakan baru satu tahun ini dia baru dapat data-data, dan  baru tahu yang mangkrak ada sekian. Karena sebelumnya waktu dia serah terima jabatan PLN tidak ada dibilangin oleh pejabat lamanya. Jadi dia butuh satu tahun untuk mengecek. Kontraknya juga sangat melemahkan pemerintah. Sangat melemahkan PLN,” kata Dito. (ase)

Link: KLIK DISINI

 

Jokowi Dinilai Tepat Pilih Jonan Jadi Menteri ESDM

Penilaian disampaikan mantan Staf Khusus Menteri ESDM Sudirman Said.

Sabtu, 15 Oktober 2016 | 12:59 WIB, Oleh : Suryanta Bakti Susila, Edwin Firdaus

VIVA.co.id – Sekretaris Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Said Didu menilai langkah Presiden Joko Widodo sudah tepat menempatkan Ignasius Jonan kembali memimpin institusi pemerintah. Jonan ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri ESDM. Arcandra Tahar ditunjuk menjadi Wakil Menteri ESDM.

“Saya rasa sudah pas, karena Pak Jonan ini memiliki modal bagus dan dipercaya publik. Ditambah sudah semakin baik para birokrat di ESDM dan gaya komunikasi dengan DPR-nya bagus,” kata Said Didu dalam diskusi bertajuk ‘Pekerjaan Lama untuk Menteri Baru’ di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 15 Oktober 2016.

Meski begitu, diakui Said, ada yang belum tuntas dijelaskan Presiden. Kementerian ini adalah institusi yang juga paling disorot publik, tetapi presiden justru mengangkat menteri yang bukan berlatar energi ataupun sumber daya mineral.

Menurut Said, penting bagi Jonan menanyakan langsung kepada Presiden, maksudnya ditempatkan di ESDM. Pasalnya, Wamen ESDM sekarang justru dijabat orang yang jauh berpengalaman di bidang ESDM, yakni Arcandra Tahar.

“Yang harus dia (Jonan) lakukan sekarang, menanyakan ke Presiden, ‘bapak mau menugaskan apa di sini?’, dan meminta mandat langsung untuk menjadi pintu tunggal untuk ambil kebijakan, jangan memakai petugas lain lagi,” kata mantan Staf Khusus Menteri ESDM Sudirman Said itu. (ase)

Link: KLIK DISINI

Tags:
No Comments

Leave a Reply