Reshuffle: Kali Ini Jadi?

Reshuffle: Kali Ini Jadi?

Soal Reshuffle, Jokowi Didorong Segera Ambil Keputusan

JAKARTA – Tarik ulur isu reshuffle jilid dua Kabinet Kerja pada pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla tampaknya belum menemukan keputusan yang tepat dalam kebijakan politik. Pasalnya, wacana perombakan kabinet sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, tetapi hingga saat ini masih belum terlaksana.

Menurut Peneliti Senior LIPI, Syamsuddin Haris, isu perombakan ini sebenarnya sudah lama digelontorkan Jokowi dalam beberapa kesempatan. Hal itu ia sampaikan dalam Diskusi, Populi Center dan Smart FM Network, dalam Perspektif Indonesia dengan topik: “Reshuffle: Kali Ini Jadi?”

“Memang kalau dihitung isu reshuffle sudah berbulan-bulan tunda lagi, tunda lagi. Padahal, Pak Jokowi sudah memberi sinyal soal ini sudah di beberapa tempat dan berkali-kali,” kata Syamsuddin di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia No. 41, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/7/2016).

Ia menyampaikan, Jokowi jangan sampai terkena sindrom kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Saya khawatirkan adalah dia (Jokowi) terjebak apa yang saya sebut sindrom SBY,” ucapnya.

Peneliti senior LIPI itu pun memberikan penjelasan tentang sindrom SBY. Di saat memimpin, terkadang politisi Partai Demokrat itu terlalu lama dalam mengambil keputusan.

“Yaitu pengambilan keputusan yang ditunda, bolak-balik. Itu fenomena SBY banget. Jangan sampai terjebak pada situasi itu karena menimbulkan ketidakpastian publik,” ujarnya.

Sebaiknya isu reshuffle menteri Kabinet Kerja harus segera dilaksanakan untuk meningkatkan pembangunan bangsa. “Saya kira biar bagaimanapun keputusan itu harus diambil,” tuturnya. (erh)

Link:  KLIK DISINI 

 

Golkar: Jangan Sampai Jadi Kabinet Reshuffle

JAKARTA – Pengurus DPP Partai Golkar Andi Harianto Sinulingga berharap bahwa reshuffle jilid II ini kali terakhir terjadi dalam rezim pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Mengingat, cita-citanya adalah membentuk kabinet kerja bukan kabinet reshuffle.

“Jangan sampai habis reshuffle ini ada lagi. Sehingga nanti dikatakan bukan kabibet kerja lagi, tapi kabibet reshuffleoleh karena itu biarlah tunggu saja proses ini lebih baik,” kata Andi dalam sebuah diskusi di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia No. 41, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, (23/7/2016).

Sementara itu, meskipun terbilang baru bergabung dalam koalisi ini, bagi Andi, partai berlambang beringin itu sangat setuju apabila ada perombakan dalam jabatan menteri.

“Saya relatif setuju. Pengambilan keputusan ini tapi harus diambil secara cermat lalu dengan penglihatan yang matang,” susulnya

Sehingga, menurut dia, muncul sosok baru yang lebih kredibel dan yang mampu menjawab persoalan Indonesia.

“Memang jauh lebih baik kalau ada kepastian. Namun, jika dilihat indikasi kuat ke arah reshuffle bagi saya itu tepat keinginan publik juga meminta seperti demikian,” pungkasnya.

(wal)

Link:  KLIK DISINI 

 

Reshuffle, Golkar Sindir Menteri Banci Tampil

Willi Nafie

INILAHCOM, Jakarta – Partai Golkar seutuhnya mendukung agar secepatnya Presiden Joko Widodo mengambil keputusan untuk segera merombak jajaran menterinya.

Menurut Ketua DPP Partai Golkar Andi Harianto Sinulingga, reshuffle sangatlah tepat dilakukan. Banyak para menteri yang tak sejalan dengan tujuan Jokowi, lebih tepatnya seperti banci tampil.

“Kabinet kerja yang dimaksud Pak Jokowi itu emang kerja. Apa tujuan dari fokus di tiap kementerian. Jadi kementerian tidak boleh lagi melakukan sebuah kerja-kerja yang atraktif,” kata Andi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/7/2016).

“Orientasinya hanya mencari perhatian publik. Seolah-olah dianggap bekerja,” lanjut dia.

Hal-hal yang kerap dilakukan pada menteri kini jelas tak masuk pemikiran. Bagi Andi, masa mencari perhatian sudah lampau, tidak tepat untuk dilakukan.

“Masa itu sudah lewat, masa-masa bekerja seperti itu. Masa cari perhatian itu sudah lewat. Kampanye sudah selesai,” ucapnya. [rok]

Link:  KLIK DISINI 

 

Golkar Desak Jokowi Reshuffle Menteri-menteri ‘Atraksi’

Tapi Jokowi juga diminta tak terlalu sering reshuffle.

Sabtu, 23 Juli 2016 | 14:02 WIB, Oleh : Toto Pribadi, Taufik Rahadian

VIVA.co.id – Ketua DPP Golkar Andi Harianto Sinulingga menilai bahwa Presiden Joko Widodo perlu melakukan perombakan Kabinet Kerja. Dia menyebut masih ada menteri yang bukan berorientasi pada kerja, melainkan hanya ingin disorot media.

“Itu tepat, permintaan publik saya kira untuk mereshuffle menteri-menteri yang bukan menteri kerja, tapi menteri atraksi. Tidak ada kegiatan kecuali untuk menarik perhatian publik. Kalau kerja kan orientasinya hasil,” kata Andi dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu 23 Juli 2016.

Andi menyebut bahwa Jokowi harus segera mencari orang yang tepat untuk mengisi posisi yang tepat pula. Hal tersebut diperlukan agar nantinya Kabinet Pemerintahannya dapat langsung bekerja secara cepat.

Kendati demikian, Andi berharap Jokowi juga tidak terlalu sering melakukan perombakan. “Jangan sampai habis reshuffle ini adareshuffle lagi, sehingga orang bilang bukan kabinet kerja tapi kabinetreshuffle,” kata Andi.

Pada kesempatan berbeda, Peneliti Senior LIPI, Syamsuddin Haris, menyebut perombakan diperlukan untuk lebih mengoptimalkan kinerja para Menteri dalam kabinet. Dia berharap Jokowi tidak terlalu lama menunda Reshuffle.

Selain itu, dia menyarankan Jokowi untuk melakukan perombakan dengan berdasarkan penilaian kerja, bukan semata-mata faktor politik saja.

“Reshuffle harus bertolak pada kinerja, bukan akomodasi politik, karena banyak pihak akan kecewa. Jangan sampai reshuffle disandera banyak kepntingan di sekeliling Jokowi,” katanya.

Link:  KLIK DISINI 

 

Ancaman “Reshuffle” Cara Jokowi Gertak Menteri agar Terpacu Bekerja

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, melihat, Presiden Joko Widodomenggunakan cara gertakan untuk memacu para menteri kabinet meningkatkan kinerjanya.

Pernyataan Ray tersebut menyusul isu perombakan kabinet yang akhir-akhir ini terus berembus.

“Ini manajemen by ancaman. Ancaman akan di-reshuffle. Ini gertakan bagi menteri agar terpacu,” kata Ray dalam sebuah acara diskusi di bilangan Menten, Jakarta Pusat, Sabtu (23/7/2016).

Hal tersebut dinilainya efektif jika mengacu pada perombakan kabinet jilid pertama pada Agustus 2015. Ray melihat kinerja menteri pasca-reshuffle menjadi lebih optimal.

“November-Desember kan menteri menggeliat tuh kerjanya. Mungkin ini pengalaman yang akan diulang lagi,” sambung dia.

Isu perombakan kabinet kini kencang berembus. Ray melihat geliat perombakan kabinet itu sebagai bentuk untuk menutupi kegalauan Jokowi. Sebab kondisi kabinet saat ini dinilainya sudah memenuhi tiga faktor utama penentu pentingnya perombakan dilakukan.

Pertama, dari faktor urgensi dimana pencapaian pemerintah di luar infrastruktur berjalan lambat. Tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Artinya, ada masalah dalam tubuh kabinet yang tidak sesuai keinginan Jokowi.

Kedua, faktor strategi. Ia menilai, tantangan ke depan adalah pemerintah harus siap menghadapi situasi perekonomian yang memburuk. Pada tingkatan tertentu, lanjut Ray, menteri terlihat hanya menunggu isyarat Presiden padahal hal tersebut tak disenangi Presiden.

Ketiga, faktor politik dimana harus ada dua hal yang dicapai, yaitu mengakomodasi dua partai baru yang bergabung dalam koalisi pendukung pemerintahan, yaitu Golkar dan PAN. Baik disodorkan atau tidak disodorkan nama, Jokowi tentu memiliki rasa terikat yang membuatnya menimbang untuk menarik satu atau dua orang dari dua partai tersebut menjadi menteri.

Hal kedua kedua adalah konsolidasi. Ray melihat hingga saat ini tak ada kendala bagi Jokowi untuk mengundur-undur perombakan kabinet.

“Pertanyannya, apakah ada kendala penting, hebat dan luar biasa yang bisa mengakibatkan reshuffle tidak jadi?” kata dia.

Penulis : Nabilla Tashandra

Editor : Egidius Patnistik

Link:  KLIK DISINI 

 

Ray Rangkuti: Pencapaian Pemerintah tak Memuaskan, Segera Reshuffle

Riyan Ferdianto    •    23 Juli 2016 15:16 WIB

Metrotvnews.com Jakarta: Pengamat Politik Ray Rangkuti menerangkan tiga alasan Presiden Joko Widodo harus segera melaksanakan reshuffle kabinet. Pencapain pemerintahan dianggap belum memberikan kepuasan kepada masyarakat Indonesia.

“Pertama, sejauh ini pencapaian pemerintah memang terlihat tidak berjalan terlalu cepat. Kedua, tantangan ekonomi yang makin cepat. Terakhir, sejumlah menteri masih menunggu instruksi dari Presiden,” kata Ray dalam diskusi di Gado-Gado Boplo, Jakarta Pusat, Sabtu (23/7/2016).

Menurutnya, sejumlah menteri belum mengerti apa yang diinginkan Presiden. Menurut dia, menteri sangat mungkin belum mampu menerjemahkan keinginan Jokowi dalam kebijakan maupun eksekusi.

Selain itu, seharusnya pembantu Jokowi bisa saling mendukung satu sama lain dalam menjalankan pemerintahan negara. Menteri tidak boleh terjebak kepentingan masing-masing.

“Jangan ada lagi konflik menteri dengan menteri lainnya, karena masyarakat sangat membutuhkan pelayanan publik yang inheren,” ucap Ray.

Isu perombakan kabinet telah berhembus berbulan-bulan lalu. Menteri-menteri seraingkali dipanggil Presiden untuk dievaluasi. Sayangnya, keputusan Jokowi soal reshuffle belum juga diambil. (OJE)

Link:  KLIK DISINI 

 

Pengamat Ungkap 2 Rahasia dalam Isu Reshuffle Kabinet Jokowi

Rahasia itu diungkap pengamat politik Ray Rangkuti.

Sabtu, 23 Juli 2016 | 14:46 WIB, Oleh : Bayu Adi Wicaksono, Taufik Rahadian

VIVA.co.id – Pengamat politik Ray Rangkuti menyebut, saat ini kapan perombakan kabinet masih misterius. Menurut Ray hal tersebut merupakan rahasia dari Presiden Joko Widodo.

Namun, Ray menyebut ada rahasia lain Jokowi selain kapan akan terjadinya reshuffle atau perombakan. Rahasia tersebut yakni, kenapa posisi Rini Soemarno sebagai Menteri BUMN tidak tergantikan.

“Ada dua rahasia, kapan reshuffle dan kenapa Bu Rini tidak bisa diotak-atik,” kata Ray dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng Jakarta, Sabtu 23 Juli 2016.

Pada kesempatan berbeda, Peneliti Senior LIPI Syamsuddin Haris menyebut bahwa Rini termasuk tangan kanan dari Jokowi.

“Bagaimana pun Jokowi banyak obsesi, cita-citanya, butuh tangan kanan. Rini ini salah satu tangan kanannya, Menteri PU juga tangan kanannya,” kata Syamsuddin.

Terkait kemungkinan adanya perombakan, Syamsuddin menyebut Jokowi seharusnya sudah tidak ragu lagi dalam melakukannya. Saat ini, Jokowi telah mendapat tambahan dukungan dari PAN dan Golkar yang menyatakan diri mendukung pemerintahan.

Menurut Syamsuddin, Jokowi sudah bisa dalam melakukan perombakan. “Tidak ada lagi alasan Jokowi menunda perombakan kabinet,” kata dia.

Link:  KLIK DISINI 

 

Isu Reshuffle Kembali Menguat, Jokowi Dinilai Tutupi Isu Besar

Sabtu, 23 Juli 2016 12:41 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat politik Ray Rangkutimenilai ada yang sedang ditutupi oleh Presiden Joko Widodo, sehingga  kembali menguatkan isu reshuffle atau perombakan kabinet.

“Jangan-jangan sebetulnya geliat reshuffle yakni bentuk lain Pak jokowi untuk menutupi persoalan yang besar ini,” ujar Ray dalam diskusi Perspektif Indonesia Smart FM bersama Populi Center di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (23/7/2016).

Menurut Ray, isu reshuffle yang menguat ini merupakan trik politik.

Hal tersebut umum dilakukan untuk menutupi isu yang lebih besar.

“Bisa jadi ini hanya untuk menggertak agar menterinya lebih serius untuk bekerja,” ucap Ray.

Ray menyebut bahwa saat ini Presiden sedang galau karena ada tiga persoalan besar yang sedang menerpanya, yaitu persoalan ekonomi melemah, penyerapan anggaran yang tidak optimal dan persoalan pengampunan pajak atau tax amnesty.

Namun, pendiri LSM Lingkar Madani ini mengatakan, tiga persoalan yang dihadapi Presiden saat ini merupakan serangan alami, bukan serangan politik.

“Jadi Pak Jokowi pusing sendiri menghadapi serangan alami ini,” ujar Ray.

Penulis: Imanuel Nicolas Manafe

Editor: Johnson Simanjuntak

Link:  KLIK DISINI 

 

Dua Rahasia Jokowi: Kapan Reshuffle, Kenapa Rini Tidak Tergantikan

Sabtu, 23 Juli 2016 12:20 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat politik Ray Rangkutimengungkapkan ada dua rahasia yang sampai saat ini sulit untuk ditebak.

Dua rahasia tersebut yakni kapan Presiden akan melakukan reshuffle atau perombakan dan mengapa Menteri BUMN Rini Soemarno tidak tergantikan.

“Ada dua rahasia yang susah diungkap. Kapan reshuffle dan Rini yang tidak bisa diganti,” ujar Ray dalam diskusi yang digelar dalam acara diskusi Perspektif Indonesia Smart FM bersama Populi Center di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (23/7/2016).

Soal Rini Soemarno, namanya ‘digoyang’ sejak awal pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Isu yang paling kental yakni persoalan di Pelindo II yang menghasilkan rekomendasi agar Presiden mencopotnya oleh Pansus Pelindo II.

“Saat pemanggilan menteri-menteri kemarin, Rini tidak dipanggil oleh Presiden,” kata Ray.

Meski Ray menilai situasi politik tidak bergejolak dan menjadi momentum Jokowi untuk reshuffle, namun PDI Perjuangan masih ingin agar posisi menteri Rini diganti.

“PDI Perjuangan sepertinya sudah tidak ada ambisi lagi, kecuali soal Rini,” kata Ray.

Penulis: Imanuel Nicolas Manafe

Editor: Johnson Simanjuntak

Link:  KLIK DISINI 

 

Pengamat: Ada Tiga Alasan Reshuffle Harus Segera Dilakukan

JAKARTA – Pengamat politik Ray Rangkuti mendesak pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera melakukan perombakan (reshuffle) jilid II terhadap Kabinet Kerja. Menurutnya, masih banyak menteri yang belum maksimal dalam menjalankan perintah Presiden.

Ia menerangkan, ada tiga alasan Jokowi harus segera mempercepat reshuffle kabinet. Salah satu yang paling urgen adalah pencapaian rezim hari ini belum memberikan kepuasaan dari harapan masyarakat Indonesia.

“Pertama, sejauh ini pencapaian pemerintah memang terlihat tidak berjalan terlalu cepat. Kedua, tantangan ekonomi yang makin cepat. Terakhir, sejumlah menteri masih menunggu instruksi dari Presiden,” kata Ray dalam sebuah diskusi di Rumah Makan Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia Nomor 41, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/7/2016).

Ia menuturkan, beberapa menteri masih terlihat kebingungan dalam membaca gaya kepemimpinan mantan Gubernur Jakarta tersebut. Sehingga, berdampak pada kinerja dan pencapaian.

“Karena kabinet mungkin belum mampu terjemahkan keinginan Jokowi dalam kebijakan maupun eksekusi,” tutur dia.

Selain itu, lanjut Ray, seharusnya para menteri tidak terjebak pada kepentingannya masing-masing. Pasalnya, satu sama lain masih banyak yang berbeda pandangan, padahal seharusnya sebagai orang kepercayaan Presiden harus menunjukkan cermin kesolidan dalam menjalankan pemerintahan negara.

“Jangan ada lagi konflik menteri dengan menteri lainnya, karena masyarakat sangat membutuhkan pelayanan publik yang inheren,” tutup Ray. (wal)

Link:  KLIK DISINI 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.