MEMBACA ARAH BARU POLITIK ISLAM

MEMBACA ARAH BARU POLITIK ISLAM

Ormas Islam Akan Beri Masukan Pada Parpol Islam

Baron, Sabtu, 19 April 2014 16:41 WIB

beritabatavia.com – Ketua Umum PP Muhamadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsudin mengatakan organisasi masyarakat Islam agar bisa mengajukan masukan yang bermanfaat bagi partai politik Islam. Karena dalam Pileg 2014, terlihat parpol Islam mulai ditinggalkan pendukungnya.

‘Parpol Islam harus mulai mengangkat isu kerakyatan. Jangan lagi sekedar isu internal, apalagi konflik. Itu menyebabkan simpatisan parpol Islam lari dan bergabung dengan parpol nasionalis,’ ujarnya dalam dialog Perspektif Nasional-Membaca Arah Politik Islam, bersama Populi Center dan Smart FM di Jakarta Selatan, Sabtu (19/4).

Din mensinyalir, sekarang banyak unsur yang menyebabkan parpol Islam ditinggalkan pendukungnya. ‘Mulai isu mengucurnya uang dari konglomerat, pengaruh pihak asing yang ingin ikut campur, ada yang berpikir sektarian dan ingin menggunakan pahamnya sendiri,’ ujarnya.

Din menghimbau parpol Islam menolak campur tangan asing dan pengaruh uang.

‘Kalau merugikan kepentingan umat Islam Indonesia, akan kami tolak’ tegasnya.

Mengenai koalisi parpol Islam baik dengan sesama mereka maupun dengan partai nasionalis, Din menilai situasi politik masih cair, jadi masih bisa terjadi segala kemungkinan untuk koalisi.

‘Tak ada yang tak mungkin dalam politik’ tegasnya.

Din dan sejumlah ormas Islam seperti Nahdatul Ulama akan berkumpul di kantor PP Muhamadiyah, Jakarta Pusat pada Senin (21/4) untuk membahas masukan yang akan diberikan pada parpol Islam mengenai pandangan politik dan sikap ormas Islam.

Sementara Ketua PB NU, Slamet Effendi Yusuf mengatakan jika saja suara NU kompak, maka PKB bisa meraih 21 persen suara, sehingga bisa mengajukan capres sendiri.

‘Sekarang karena berbagai macam faktor, misalnya uang, campur tangan asing, banyak kaum Nadhliyin yang memilih partai lain. Karena itu umat Islam harus berwawasan Pancasila. Jangan ada lagi pendapat bahwa Islam harus mendirikan negara Islam dan menjalankan syariat Islam’ jelasnya.

Slamet juga masih menunggu perkembangan soal kebijakan PKB untuk berkoalisi dengan partai lain, termasuk dengan sesama partai Islam, meskipun PKB pernah menyatakan kapok berkoalisi dengan parpol Islam. O brn

Link berita:   KLIK DISINI 

Ormas dan Partai Islam Akan Lanjutkan Pertemuan di MUI

Sukma Indah Permana – detikNews, Sabtu, 19/04/2014 11:14 WIB

Jakarta – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin mengungkap pertemuan-pertemuan antar ormas Islam dan partai-partai Islam sudah berulang kali digelar. Selanjutnya, Senin (21/4) pagi akan ada pertemuan sejenis di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Besok Senin jam 10 di MUI, mendorong partai-partai Islam bersatu. Menjalin koalisi,” ujar Din dalam acara Perspektif Indonesia yang diadakan oleh Populi Center dan Smartfm di Restoran Rarampa, Jalan Mahakam II No 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (19/4/2014).

Meski begitu, Din yang menjabat Ketua Umum MUI ini mengaku bahwa arah pilpres dalam pertemuan ini belum jelas. Menurutnya, arah pilpres masih harus dibicarakan.

Dia mengakui pertemuan-pertemuan sudah terjadi, bahkan sebelum pertemuan di Cikini, Kamis (17/4) kemarin. “Cikini itu (pertemuan) lanjutan,” katanya mengungkapkan.

Din, yang hadir mengenakan kemeja batik warna hijau ini menuturkan umat dan ormas Islam memiliki harapan terhadap partai Islam untuk dapat menduduki posisi strategis terkait umat, termasuk mengajukan capres dan cawapres.

Menurut dia persatuan ini masih bisa terjadi tapi memang memerlukan waktu dan strategi. “Saya sudah temui parpol satu per satu, mereka sudah mau (untuk bertemu). Terserah mau gimana keputusannya (di hari Senin),” kata Din.

 Link berita:  KLIK DISINI 

“Ironis, Partai Islam Merasa Tak Percaya Diri”

Sabtu, 19 April 2014 | 13:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Bachtiar Effendi, menyayangkan kecenderungan partai berbasis massa Islam yang kerap berkoalisi dengan partai nasionalis. Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bahwa partai Islam tidak percaya diri dengan kekuatan yang mereka miliki.

“Ini ironisnya, partai Islam merasa Islam itu penting, tapi tidakpede. Maunya mendukung partai lain. Sekarang PPP sudah bergabung dengan Gerindra, PKS mau bergabung dengan Golkar, PKB mau merapat ke PDI-P. Untuk apa?” kata Bachtiar dalam diskusi bertajuk “Membaca Arah Politik Islam” di Jakarta, Sabtu (19/4/2014).

Bachtiar menyoroti PKB yang memiliki suara cukup tinggi dalam pemilu legislatif kemarin. Berdasarkan hasil hitung cepat pileg dari berbagai lembaga, PKB diperkirakan mendapat suara sekitar 9 persen, sementara parpol Islam lain paling besar hanya mendapatkan sekitar 6 persen.

“Saya tidak tahu kenapa Muhaimin Iskandar (Ketua Umum PKB) tidak pede. Kenapa dia tidak memelopori koalisi partai Islam. Padahal PKB bisa mengajukan calon presiden kalau koalisi. Tidak harus Muhaimin, (tetapi) bisa Mahfud, bisa Rhoma, atau orang lain,” ujarnya.

Padahal, lanjut Bachtiar, nantinya koalisi yang dibentuk tidak selalu harus menang. Jika kalah pun, menurutnya, koalisi parpol Islam masih bisa mendapatkan banyak keuntungan. Sistem politik di Indonesia memungkinkan hal itu.

“Politik di Indonesia sistemnya tidak winner takes all, (tetapi) pasti dapat sesuatu walaupun kalah. Kenapa tidak koalisi saja? Kalau kalah dalam koalisi pilpres, bisa koalisi lagi dengan yang menang. Tidak masalah,” ujarnya.

Jika terus tak percaya diri dan mengandalkan koalisi dengan partai nasionalis, dia khawatir, nasib partai Islam tak akan pernah berubah ke depannya.

“Partai Islam hanya akan terus menjadi pelengkap politik, tidak akan pernah penting sebagai sejarah politik Indonesia. Tidak akan jadi partai besar,” pungkasnya.

 Link berita:   KLIK DISINI 

No Comments

Leave a Reply