“PREFERENSI POLITIK JELANG 2019: PERSONALITAS DAN SOLIDITAS PASCA PENETAPAN”

2018-10-24T09:34:34+00:00
Rilis Survei
Dimas Ramadhan
Dimas Ramadhan
October 24, 2018

Survei ini dilakukan secara scientific dengan mendasarkan pada penarikan sampel sesuai kaidah probability sampling di 34 provinsi di Indonesia. Survei ini diselenggarakan pada tanggal 23 September – 1 Oktober 2018 setelah penetapan dan pengundian nomor urut pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, serta setelah dibentuknya tim kampanye nasional baik dari kubu Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi.  Tujuannya adalah untuk mengetahui peta elektabilitas kandidat pasca penetapan pasangan oleh KPU. Survei ini dengan cara wawancara tatap muka dengan 1.470 responden yang dipilih dengan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error +/- 2,53 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dari sisi elektabilitas pasangan, Jokowi-Ma’ruf mendapatkan angka elektabilitas sebesar 56,3 persen. Sementara itu, elektabilitas Prabowo-Sandiaga berada di angka 30,9 persen.   

Adapun untuk tingkat kemantapan pilihan, jumlah masyarakat yang telah mantap dengan pilihannya sedikit meningkat dari 72.6 persen di bulan Agustus menjadi 75,2 persen. Di sisi lain, jumlah pemilih yang masih mungkin berubah pilihannya juga menurun dari 13,4 persen menjadi 12,1 persen. Dilihat berdasarkan sebaran pemilihnya, sebanyak 65.1 persen pemilih pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin adalah pemilih yang sudah mantap dengan pilihannya. Sementara, pemilih pasangan Prabowo – Sandiaga yang sudah mantap dengan pilihannya ialah sebesar 33,3 persen.

Pemilihan calon wakil presiden belum memberikan dampak elektoral yang signifikan terkait perolehan elektabilitas pasangan. Hal ini bisa terlihat dari data di bulan Agustus dimana elektabilitas Jokowi – Ma’ruf ialah 55,1 persen, dan hanya naik sedikit menjadi 55,6 persen di bulan Oktober. Begitu pula halnya dengan pasangan Prabowo-Sandiaga. Di bulan Agustus elektabilitas pasangan ini sebesar 30,3 persen, sementara di bulan Oktober sebesar 30,9 persen.

Dengan demikian, baik Ma’ruf Amin mau pun Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden sejauh ini masih belum memberikan kontribusi terhadap tingkat keterpilihan calon presiden, Joko Widodo mau pun Prabowo Subianto.

Hal yang juga menarik ialah bagaimana pemilih usia milenial dalam menilai kedua pasangan capres dan cawapres. Berdasarkan temuan, Joko Widodo menjadi tokoh yang paling menarik penampilannya di mata pemilih milenial dengan rentang usia dibawah usia 34 tahun dengan perolehan persentase sebesar 42.3%. Selain itu, pemilih milenial juga mengapresiasi cara berpidato Joko Widodo. Pemilih milenial yang menyukai gaya berpidato Joko Widodo tercatat 42,8 persen, beda tipis dengan pemilih milenial yang memilih gaya berpidato Prabowo Subianto sebesar 43,2 persen. Ini menunjukkan, di antara tokoh capres dan cawapres yang ada Prabowo bukan lagi satu-satunya tokoh yang dianggap pandai berpidato.

Dilihat dari sebaran responden berdasarkan jenis kelamin, pasangan Jokowi-Ma’ruf diunggulkan baik dari responden laki-laki dengan persentase 57.0 persen maupun responden perempuan dengan persentase sebesar 55,6 persen. Sementara itu, pasangan Prabowo-Sandiaga sendiri dipilih oleh 31,3 persen pemilih laki-laki dan 30,5 persen pemilih perempuan.

Kemudian, berdasarkan sebaran dukungan wilayah pulau, data menunjukkan bahwa sebaran pemilih Jokowi-Ma’ruf paling banyak berasal dari Indonesia Timur yakni dengan persentase 61,8 persen, diikuti oleh Pulau Jawa dengan 55,8 persen. Di sisi lain, sebaran pemilih Prabowo – Sandi paling banyak berasal dari Sumatera yakni 42,8 persen, lalu Pulau Jawa sebesar 31,9 persen.

Selanjutnya, berdasarkan pemilih usia milenial (di bawah 34 tahun) lebih banyak yang memilih pasangan Joko Widodo – Ma’ruf dengan persentase sebesar 56,1 persen. Begitu juga dengan pemilih di atas usia 35 tahun yang juga memilih pasangan ini dengan persentase sebesar 57,1 persen.

Melihat sebaran pemilihnya, soliditas dukungan partai untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf ada pada partai PKB (73,0 persen), PDIP (90,8 persen), dan NasDem (82,3 persen). Sedangkan, pemilih partai Golkar belum sepenuhnya mendukung pasangan nomor urut satu ini dengan persentase 58,0 persen. Sama halnya dengan PPP (47,5 persen). Untuk pasangan Prabowo-Sandiaga sendiri mendapat dukungan yang solid dari Partai Gerinda (86,2 persen), PKS (70,5 persen), Garuda (85,7 persen), dan PAN (66,7 persen). Sementara itu, Partai Demokrat sebesar 54,5 persen. Berdasarkan sebaran tersebut, pemilih partai yang masih belum solid pilihannya kepada salah satu kubu, ialah PPP, Demokrat dan Golkar.

Temuan survei berupa simulasi pilihan terhadap partai politik, tercatat paling tidak terdapat lima parpol yang berpotensi lolos batas ambang parlemen sebesar 4 persen, yaitu PDIP (25,1 persen), Gerindra (11,8 persen), PKB (10,3 persen), Golkar (10,2 persen), dan Nasdem (4,2 persen). Sementara partai peserta pemilu lainnya belum aman lolos dari ambang batas parlemen karena masih di bawah 4 persen.

Nara Hubung : Dimas Ramadhan [085721277487]

*Pada rilis sebelumnya terdapat kesalahan penulisan Partai Keadilan Sosial yang sudah kami koreksi menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Terima Kasih.

Hasil Survei selengkapnya disini