PROPAGANDA RUSIA DALAM PILPRES?

PROPAGANDA RUSIA DALAM PILPRES?

Beberapa waktu lalu, dalam pidatonya capres Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan istilah propaganda Rusia. Pada kesempatan tersebut, Jokowi menekankan bahwa politik propaganda Rusia yang merujuk pada cara-cara berpolitik dengan menyampaikan dusta, fitnah, maupun hoax harus dihentikan.  Beragam reaksi, alhasil Jokowi pun meluruskan arti dari ucapannya tersebut. Pada dasarnya istilah ini tidak mengacu pada sebuah negara, melainkan merujuk pada teori “firehose of falsehood” yang muncul dalam laporan RAND Corporation (lembaga think-tank Amerika Serikat) yang berjudul “the Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model”.  Lalu, apa maksud dari istilah Propaganda Rusia tersebut?

Untuk membahas hal tersebut lebih lanjut, Forum Populi Edisi Pemilu 2019 mengangkat tema “Propaganda Rusia dalam Pilpres?” Dalam diskusi ini hadir Hendrajit (Pengamat Intelijen dari Global Future Institute) dan Rafif Pamenang Imawan (Peneliti Populi Center).

Rafif Pamenang Imawan mengatakan maksud dari pernyataan Jokowi yang menyebut istilah propaganda Rusia adalah pesan kepada publik untuk membangun narasi kritis. Dalam konteks pemilu yang sedang terjadi sekarang ini, banyak informasi yang beredar di masyarakat adalah informasi yang tidak benar. Informasi tersebut bisa jadi merupakan model propaganda Rusia yang bekerja dalam pemilu.

Sementara itu, dalam konteks struktur politik Indonesia, menurut Rafif tidak dimungkinkan bekerjanya praktik propaganda Rusia. Hal ini disebabkan, Indonesia memiliki struktur politik yang bertingkat. Hasilnya muncul aktor-aktor di daerah yang memiliki pengaruh yang besar, mulai dari Gubernur, Bupati, tokoh adat, maupun pemuka agama. Oleh karenanya propaganda Rusia dinilai tidak akan efektif diterapkan dalam pemilu di Indonesia.

Selain itu, integritas pemilu di Indonesia juga diapresiasi, lebih lanjut Rafif Pamenang Imawan mengatakan “Kita mempunyai pengawas yaitu Bawaslu dan masyarakat sipil yang banyak berkembang. Organ-organ dan aktor masyarakat sipil inilah yang menjadi elemen penting dalam mengkontrol day to day pemerintahan dan demokrasi di Indonesia.”

Adapun, Hendrajit menjelaskan apa yang disampaikan Jokowi terkait propaganda Rusia adalah bagian dari perang asimetris. Untuk pertama, Jokowi melakukan penebaran isu. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah isu yang ditebar oleh Jokowi itu sesuai dengan isu sebagai pola atau sekedar sebagai metode. Yang dilihat oleh Hendrajit sejauh ini, apa yang disampaikan Jokowi hanya sekedar isu untuk testing the water. “Ini (pernyataan Propaganda Rusia) memang digulirkan dalam konteks menebar isu,” pungkasnya.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.