Article Review:
The Tragedy of the Commons

Darin Atiandina |

Peneliti Populi Center

f363c-illustration-public-domain-tragedy-e1547452760913
Sumber ilustrasi: fritsahlefeldt.com

Judul Artikel: The Tragedy of the Commons
Penulis: Garret Hardin
Tahun Terbit: 1968
Penerbit: American Association for the Advancement of Science
Jumlah Halaman: 6

Skor : 4/5



Artikel berjudul The Tragedy of Commons yang ditulis oleh Garret Hardin secara garis besar berbicara mengenai fenomena populasi manusia yang semakin hari terus mengalami peningkatan, akan tetapi, tidak berbanding lurus dengan sumber daya yang ada di dunia untuk memenuhi kebutuhan populasi tersebut. Seperti apa yang dikatakan Thomas Malthus, Hardin mengibaratkan pertumbuhan penduduk seperti deret ukur (1,2,4,8…), sementara pertumbuhan sumber daya sama seperti deret hitung (1,2,3,4,5…). Yang artinya, jumlah manusia yang hidup di bumi terus bertambah di tengah pertumbuhan sumber daya yang terbatas.

Sama seperti judul artikel yang ditulisnya, tragedy, menurut Hardin seluruh sumber daya di dunia akan berakhir dengan tragedi. Hardin memberi contoh dengan meminta pembacanya membayangkan sebuah padang rumput terbuka. Padang rumput ini yang disebut Hardin sebagai sumber daya bersama atau commons. Hardin mengatakan tragedi akan terjadi begitu para penggembala mengetahui hewan ternak mereka bisa secara bebas memakan rumput di padang tersebut. Para penggembala akan mulai berdatangan membawa ternak pula. Keesokan harinya, para penggembala itu datang lagi dengan jumlah ternak yang lebih banyak. Kedatangan penggembala dan ternak akan terus berulang dan jumlahnya akan terus bertambah sampai akhirnya rumput di padang itu habis, berakhir punah karena tidak sanggup lagi menanggung beban populasi ternak.

Hardin mengatakan alasan para penggembala membawa ternak sebanyak-banyaknya ke padang rumput tersebut karena setiap individu memiliki kebebasan serta tendensi untuk memaksimalkan sesuatu yang mereka rasa membawa manfaat secara langsung ke kehidupan mereka. Kemudian, individu juga cenderung berpikir, apabila padang rumput itu habis atau rusak, semua penggembala akan menanggung akibatnya secara bersama -–kehabisan makan ternak secara bersama. Pada titik inilah cerita tragedi atau ketidakbahagiaan itu muncul, yaitu ketika tambahan aktivitas pada sumber daya, berakhir dengan kerugian pada semua.

Each man is locked into a system that compels him to increase his herd without limit—in a world that is limit. Ruin is the destination toward which all men rush, each pursuing his own best interest in a society that believes in the freedom of the commons.



Ilustrasi penggembala, ternak, dan kehancuran padang rumput ini jadi contoh bagaimana pertambahan populasi manusia akan menghancurkan sumber daya di dunia. Menurut Hardin, kebebasan seseorang untuk berkembang biak dan mengeksploitasi sumber daya untuk memenuhi kepentingan individu pada akhirnya akan menimbulkan kehancuran yang dirasakan oleh banyak orang.

Selama membaca tulisan Hardin soal populasi dan kehancuran sumber daya, yang teringat di otak saya adalah film Avenger: Invinity wars. Thanos, salah satu karakter antagonis dalam film garapan marvel tersebut menginginkan agar 50 persen populasi di alam semesta ini punah. Alasan Thanos melakukan rencana jahatnya itu adalah karena alam semesta ini memiliki sumber daya yang terbatas, sementara populasi terus bertambah. Sama seperti Hardin, menurut Thanos, masalah overpopulasi ini akan mengakibatkan kehancuran. Bagi Thanos, membantai setengah populasi di dunia akan membuat setengah populasi lainnya selamat serta sejahtera memaksimalkan sumber daya yang ada.

Berbeda dengan Thanos, bagi Hardin masalah populasi dan kehacuran sumber daya ini masuk ke dalam kategori ‘no technical solution’ alias tidak bisa diselesai