Reading the Corona: From Gloom to Doom, Are We Doing the Right Things?

Reading the Corona: From Gloom to Doom, Are We Doing the Right Things?

ANU (Australia National University) Indonesia Project mengadakan diskusi online terkait dengan tema virus Corona. Diskusi ini hendak membahas beberapa aspek, terutama bagaimana kebijakan negara-negara, baik itu di Asia, USA maupun Australia dalam menghadapi penyebaran virus Corona. Diskusi ini hendak melihat bagaimana pengalaman ketiga negara tersebut, dalam menangani pandemic Corona ini.

Terkait dengan hal ini, peneliti Populi Center bergabung dalam diskusi online dengan tema “Reading the Corona: From Gloom to Doom, Are We Doing the Right Things?” pada hari Rabu, 1 April 2020, pukul 09.00 – 12.00 WIB. Diskusi ini menghadirkan pembicara Haryo Aswicahyoni (CSIS), Puspa Amri (Sonota State University), Erick Hansnata (KPMG Australia), dan Ari Perdana (ADB).

Pada pemaparannya, Erick Hansnata mengatakan bahwa pemerintah Australia secara umum telah memberikan respons yang baik, terutama dengan strategi membuka satu pintu informasi kepada publik, terkait dengan penyebaran virus ini. Australia memberikan penekanan kebijakan dengan memberikan stimulus ekonomi. Fokus utamanya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi negara, sembari memperhatikan persoalan kesehatan masyarakat. Salah satu kebijakan yang diambil adalah kebijakan social distancing, hanya saja kebijakan ini tidak sepenuhnya dapat berjalan efektif, mengingat banyak masyarakat yang tidak mematuhi aturan tersebut.

Ari Perdana mengatakan bahwa pengalaman di Filipina berbeda, fokusnya ada pada melakukan karantina ke =pada masyarakatnya. Filipina menerapkan kebijakan soft lockdown, masyarakat masih dapat melakukan mobilitas dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Karantina yang dilakukan Filipina dilakukan bertahap, mulai dari wilayah Metro Manila (kota) sebelum pada akhirnya melakukan karantina di kepulauan Luzon. Salah satu langkah strategis yang diambil pemerintah Filipina adalah dengan memberikan 30 kewenangan baru kepada eksekutif, kebijakan dari legislatif ke eksekutif ini disebut Bayanihan Act. Fokusnya ada pada relokasi anggaran, mempercepat pengadaan barang, memaksa kelompok bisnis, serta mengatur lalu lintas dan interaksi sosial. Pemerintah Filipina memberikan bantuan langsung tunai, sekaligus menghindari penggunaan instrumen militer dalam menjaga tertib sosial.

Puspa Amri mengatakan bahwa pengalaman Amerika Serikat lebih banyak menekankan pada aspek kesehatan publik dan stimulus ekonomi, di antaranya asuransi bagi pengangguran, bantuan langsung tunai, penangguhan kredit untuk usaha kecil menengah, dan pinjaman langsung ke perusahaan-perusahaan besar. Amerika Serikat juga menerapkan peraturan social distancing, pengalaman penerapan social distancing di Ohio menunjukkan penurunan tingkat masyarakat yang terkena corona. Berbeda dengan negara lain, Amerika Serikat memiliki banyak asset, termasuk sistem perbankan yang berpengaruh di dunia. Dengan kekuatan tersebut, sangat mudah bagi pemerintah Amerika Serikat untuk membuat kebijakan fiskal.

Haryo Aswicahyoni memberi pengamatan terhadap kondisi Indonesia. Kebijakan utama yang didorong oleh pemerintah adalah dengan menerapkan prinsip social distancing. Di samping hal tersebut, sejauh ini Indonesia telah membuat tiga kebijakan, dua kebijakan di awal banyak memfokuskan pada stimulus ekonomi, dengan salah satunya membayar buzzer untuk mengajak wisatawan datang ke Indonesia. Pada kebijakan ketiga, kebijakan sudah lebih berimbang antara stimulus ekonomi dan mengedepankan aspek keselamatan masyarakat, terutama kepada masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Salah satu kebijakan strategis dari pemerintah Indonesia adalah dengan memberikan bantuan langsung tunai.

Fokus dari keempat negara tersebut tampak berbeda. Namun jika diperhatikan, keempatnya memiliki satu persoalan yang sama, yakni dilema antara menjaga ekonomi negara tetap berjalan, namun di sisi lain juga harus menjaga warga negaranya. Terhadap dilema tersebut, tampaknya keempatnya menekankan pada kebijakan yang sama, yakni melakukan bantuan langsung tunai. Dengan demikian, meski tampak berbeda pilihan dan fokus kebijakannya, namun persoalan dan pilihan kebijakan yang diambil pada dasarnya sama. Hal krusial lain yang perlu diperhatikan adalah tidak efektifnya kebijakan social distancing.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.