Reshuffle (Jadi) Lagi?

Reshuffle (Jadi) Lagi?

JAKARTA. Perombakan kabinet menjadi kebijakan sensitif yang diambil oleh Presiden. Tawar menawar antar kepentingan politik beserta keinginan untuk menempatkan orang yang kompoten di bidangnya adalah pertarungan yang menarik.

Populi Center bekerja sama dengan Smart FM Network menyelenggarakan diskusi Perspektif Indonesia bertemakan “Reshuffle (Jadi) Lagi?” di Gado-Gado Boplo Menteng, Sabtu (19/3). Dalam diskusi ini hadir Direktur Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, Wartawan Senior Budiarto Shambazy, Direktur Indo Barometer Mohamad Qodari, dan Pemerhati Masalah Korupsi Ridaya Laode Ngkowe.

Direktur Indo Barometer Mohamad Qodari mengatakan kinerja Jokowi perlu dilihat dari berbagai sisi. Perspektif pertama, anggap Jokowi tidak kuat. Perspektif kedua, anggap Jokowi kuat. Perspektif pertama dilatarbelakangi oleh Jokowi yang bukan datang dari elit nasional dan bukan ketua umum partai. Lalu, beberapa langkah politiknya itu naif sehingga seolah-olah dirinya tidak mempunyai kepemimpinan.

Dalam hal ini, Qodari bilang Jokowi lebih tepat digambarkan melalui perspektif yang kedua. Potret Jokowi pada awal menjabat adalah perspektif yang pertama, namun selanjutnya ia menjadi presiden yang kuat. “Pelan-pelan dia bisa memasukkan orang-orang yang kompeten. Sebelumnya ia memang kelihatan bagi-bagi politik waktu pengumuman kabinet,” ujarnya.

Jokowi hingga saat ini belum sekuat dan seidealnya presiden dalam sistem presidensial. Hal ini tidak akan terjadi selama Jokowi tidak menjabat sebagai ketua umum partai besar. Mengenai reshuffle, Qodari melihat tergantung kebutuhan politik presiden saat ini. Kalau perlu memfinalkan koalisinya maka Jokowi membutuhkan reshuffle yang lebih cepat. Namun, bisa saja mundur hingga musyawarah nasional Golkar dilakukan.

Pemerhati Masalah Korupsi Ridaya Laode Ngkowe menjelaskan secara kinerja Jokowi menang karena ekspektasi masyarakat yang begitu tinggi terhadap dirinya. Menteri saat ini tidak bisa mencapai target Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang mereka buat.

Dari sisi pergantian, Ridaya melihat kalau dari sisi pencapaian maka menteri layak dilakukan pergantian. Dari sisi publik ada ekspektasi yang belum bisa dicapai pemerintah saat ini. “Ada juga pelaku politik yang tidak kebagian tempat atau kalah bersaing,” terangnya.

Wartawan Senior Budiarto Shambazy mengakui kalau presiden tidak melakukan reshuffle maka tidak menjadi masalah. Semakin Jokowi ditekan untuk melakukan perombakan maka dirinya akan semakin lari dari reshuffle. Apalagi, akan menjadi sia-sia apabila yang diganti kualitasnya juga sama dengan menteri sebelumnya.

“Malah yang sekarang itu bukan kinerjanya tapi attitude menterinya. Hampir mayoritas menteri sudah perform,” aku Shambazy. Ini saatnya presiden untuk memperkuat kabinet dengan tidak mendengar berbagai kepentingan politik. Direktur INDEF Enny Sri Hartati menambahkan, dari sisi ekonomi mulai terjadi stabilitas di mana nilai tukar rupiah tidak terlalu terpuruk.

Hanya saja kebutuhan mendasar masyarakat yang belum terjawab yaitu penciptaan lapangan kerja dan stabilitas harga kebutuhan pokok. Instrumen formula untuk pengupahan dan ketenagakerjaan serta kebijakan paket ekonomi 1 hingga 10 belum memenuhi problem dasar masyarakat.

Kalau ingin melakukan reshuffle maka waktu yang tepat adalah sekarang di tengah situasi pemerintah belum mengajukan RAPBN Perubahan 2016. “Sebelum dibahas sudah ada komandan baru yang akan mengeksekusi sekaligus bertanggung jawab terhadap hal-hal yang baru,” imbuh Enny.

Tags:
No Comments

Leave a Reply