RILIS MEDIA – “PETA DUKUNGAN PILGUB JAWA TIMUR 2018”

2018-05-03T10:01:26+00:00
Rilis Survei
Nona Evita
Nona Evita
May 3, 2018

RILIS MEDIA – SURVEI PROVINSI JAWA TIMUR

“PETA DUKUNGAN PILGUB JATIM 2018” – 3 MEI 2018

Populi Center, lembaga non-profit yang mendalami masalah opini dan kebijakan publik, menyelenggarakan survei di Provinsi Jawa Timur mulai tanggal 22 April hingga 28 April 2018 di 80 desa/kelurahan. Pemilihan provinsi Jawa Timur sebagai lokasi survei didorong oleh dua alasan utama. Pertama, provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia. Selain itu, provinsi Jawa Timur juga merupakan basis Nahdlatul Ulama terbesar di Indonesia. Struktur sosial masyarakat Jawa Timur pun didominasi oleh banyak tokoh (elit) penting dengan relasi sosial vertikal, dimana posisi Kyai menjadi salah satu tokohnya. Melihat dua hal tersebut, menjadi penting untuk melihat bagaimana pengaruh posisi Kyai dan Nahdlatul Ulama terhadap suara pemilih di Pilkada Jawa Timur. 

Metode pengambilan data dalam survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 800 responden yang dipilih menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error +/- 3,39% dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasil survei menunjukkan beberapa temuan penting. Pertama, dari sisi tokoh yang paling dihormati, 55,1 persen masyarakat Jawa Timur mengaku paling menghormati pemuka agama. Sebagai tokoh yang paling dihormati di lingkungan masyarakat, pemuka agama memiliki posisi penting dalam struktur masyarakat di Jawa Timur. Temuan ini juga sekaligus menegaskan bahwa pemuka agama memiliki potensi besar untuk menggiring suara pemilih di Pilkada Jawa Timur 2018.

Kedua, kurang lebih 2 bulan jelang Pilgub Jatim 2018, terdapat kenaikan elektabilitas pada pasangan calon Khofifah-Emil, sedangkan elektabilitas pasangan calon Gus Ipul-Puti cenderung stagnan. Hal ini terlihat pada elektabilitas pasangan calon Khofifah-Emil yang naik dari 39,6 persen pada bulan Januari 2018 menjadi 44,0 persen pada bulan April 2018. Sedangkan, elektabilitas pasangan calon Gus Ipul-Puti cenderung stagnan dari 39,5 persen di bulan Januari 2018 menjadi 38,8 persen di bulan April 2018. Meski terdapat sedikit penurunan elektabilitas bagi pasangan calon Gus Ipul-Puti, namun penurunan ini masih dalam ambang margin of error.

 Ketiga, PDIP (20,4 persen) dan PKB (20,4 persen) sama-sama menjadi partai yang paling aktif dalam mengkampanyekan pasangan calonnya (Gus Ipul-Puti). Meski menjadi kedua partai ini tergolong aktif, namun keaktifan kedua partai ini tidak sebanding dengan perolehan elektabilitas Gus Ipul-Puti yang cenderung stagnan.

Keempat, untuk sebaran pemilih berdasarkan kategori preferensi partai politik, pemilih dengan preferensi PDI-P dan PKB memiliki dukungan suara yang terbelah. Banyak pemilih dengan preferensi dukungan ke PKB yang lebih memilih pasangan calon Khofifah-Emil (49,8 persen) dibanding pasangan calon Gus Ipul-Puti (40,4 persen). Sedangkan untuk pemilih dengan preferensi dukungan ke PDI-P lebih memilih mendukung pasangan calon Gus Ipul-Puti (48,9 persen) dibanding pasangan calon Khofifah-Emil (41,1 persen). Hal ini menunjukan bahwa secara umum pemilih di Jawa Timur lebih melihat ke sosok figur dibandingkan partai politik yang mendukungnya. Temuan ini menarik mengingat baik PDI-P maupun PKB merupakan dua partai yang selama ini dikenal solid dalam memberikan dukungan. Terbelahnya suara di dua partai ini, membuat tokoh-tokoh/elit di dua partai ini menjadi kunci dalam mempengaruhi suara pemilih di Pilkada Jatim 2018.

Kelima, temuan pada survei bulan April 2018 menunjukan bahwa akseptabilitas Emil Dardak meningkat lebih signifikan dibanding akseptabilitas Puti Guntur Soekarno. Tingkat akseptabilitas Emil Dardak meningkat di aspek tokoh yang bersih dari korupsi, berani memberantas korupsi, mampu memimpin, tegas dan religius. Peningkatan akseptabilitas Emil Dardak tentu berdampak sedikit pada kenaikan pada elektabilitas pasangan calon Khofifah-Emil di survei bulan April 2018.

Keenam, jika melihat peta dukungan dari kacamata geopolitik, maka wilayah Jawa Timur dapat terbagi ke dalam 5 wilayah, yakni Wilayah Arek 1 (Surabaya Raya), Wilayah Mataraman, Wilayah Pendalungan, Wilayah Arek 2 (Malang Raya dan Blitar), dan Wilayah Madura Kepulauan. Sampel terbesar terdapat di Wilayah Arek 1 (28,9 persen) dan Mataraman (28,8 persen). Pasangan calon Khofifah-Emil unggul di wilayah Mataraman dan Pendalungan, sedangkan di wilayah lainnya tingkat dukungan terhadap pasangan calon Khofifah-Emil dan pasangan calon Gus Ipul-Puti proporsional. Hasil ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat Trenggalek (salah satu wilayah Mataraman) merupakan kantung suara bagi Emil Dardak yang merupakan cucu dari H. Mochamad Dardak (salah satu Kyai Nahdlatul Ulama sekaligus imam besar Masjid Agung Trenggalek). Ketokohan kakek Emil Dardak ini dapat menjadi factor meningkatnya dukungan terhadap pasangan calon.

Ketujuh, sebesar 31,3 persen responden menganggap bahwa latar belakang agama menjadi hal yang paling harus dipertimbangkan dalam memilih Gubernur Jatim periode 2018-2023. Sementara itu sebesar 27,9 persen responden merasa prestasi pada jabatan sebelumnya menjadi pertimbangan penting, sedangkan 14 persen responden merasa latar belakang profesi/pekerjaan calon gubernur menjadi hal yang patut menjadi pertimbangan memilih.

Contact person: Nona Evita 021-22123150

Rilis selengkapnya bisa di download  disini