RILIS MEDIA – SURVEI NASIONAL “MENCARI CAPRES DAN CAWAPRES 2019-2024” 28 FEBRUARI 2018

2018-02-28T04:48:57+00:00
Rilis Survei
Nona Evita
Nona Evita
February 28, 2018

Dinamika politik semakin tinggi setelah sejumlah partai mendeklarasikan dukungan terhadap dua tokoh utama yaitu incumbent Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto untuk berkontestasi lagi dalam Pilpres 2019. Hingga saat ini, Presiden Jokowi masih mendominasi bursa Pilpres 2019 dengan dukungan resmi yang telah diberikan oleh delapan partai politik, yaitu Partai Nasdem, PSI, PPP, Golkar, Hanura, Perindo, PKPI, dan PDIP. Kuatnya nama Joko Widodo disokong juga oleh tingginya tingkat kepuasan dari masyarakat terhadap kinerja maupun kepemimpinannya seperti yang terungkap dalam survei nasional ini. Karena Joko Widodo menjadi calon paling kuat, maka adakah penantang potensial lainnya selain Prabowo? Kemudian mengingat wapres 2019 sangat besar kemungkinan menjadi capres terkuat di 2024, maka sosok seperti apa yang ideal untuk menjadi calon wakil Presiden?

Populi Center sebagai sebuah lembaga non-profit yang mendalami masalah opini dan kebijakan publik, telah menyelenggarakan survei nasional yang dilakukan antara tanggal 7 hingga 16 Februari 2018 di 120 desa/kelurahan tersebar di 120 kecamatan di 34 provinsi di Indonesia. Pengambilan data dalam survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 1200 responden yang dipilih menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error +/- 2,89% dan tingkat kepercayaan 95% dengan menggunakan pendanaan internal.

Terdapat beberapa temuan menarik sebagai berikut. Pertama, hasil survei menunjukan bahwa untuk preferensi jumlah pasangan calon, 41.2 persen masyarakat menginginkan 2 pasang calon di Pilpres 2019, sementara yang ingin ada tiga pasang hanya 24.8 persen dan yang tidak mempertimbangkan jumlah pasangan 20.4 persen. Temuan ini sejalan dengan belum adanya calon alternatif untuk Pilpres tahun 2019, sehingga jumlah 2 pasang calon menjadi pilihan paling masuk akal menurut masyarakat.

Kedua, temuan terkait dengan dinamika dukungan terhadap partai politik. Untuk survei bulan Februari 2018, partai PDIP, Golkar, Gerindra, PKB, dan PPP masuk kedalam 5 besar partai dengan persentase elektabilitas teratas. Jika mengacu pada survei pada bulan Januari 2015, deretan 14 partai politik peserta pemilu tahun 2019 mengalami tingkat dukungan yang fluktuatif. Ditengah fluktuasi dukungan, PDIP tercatat menjadi partai yang mendapatkan peningkatan dukungan yang lebih baik dibandingkan partai lainnya. Pada survei bulan Januari 2015, PDIP memperoleh dukungan sebesar 21.1 persen, sedangkan pada bulan Februari 2018 mendapatkan dukungan sebesar 28.6 persen. Untuk partai politik selain PDIP, tren dukungan masih dalam rentang margin of error, artinya dapat dikatakan tidak ada perubahan signifikan/stagnan dalam hal tingkat dukungan masyarakat kepada partai tersebut jelang Pemilu 2019.

Ketiga, terkait tingkat popularitas sejumlah figur pemerintahan dan politisi, pada survei ini nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mulai muncul dan mendapat tingkat pengenalan sebesar 70.9 persen, menduduki peringkat ke-6 di antara sejumlah nama yang ditanyakan. Tingkat popularitas AHY ini mendekati persentase popularitas Anies Baswedan. Hal ini menunjukan bahwa dua figur muda ini semakin memiliki modal politik untuk menjadi pemimpin ke depan. Sementara itu popularitas figur seperti Gatot Nurmantyo sedikit meredup seiring berkurangnya visibilitas. Sedangkan figur politisi muda yang gemar pasang baliho sebagai cawapres 2019 yaitu Muhaimin Iskandar popularitasnya semakin membaik dari 35.6 persen di bulan Desember 2017 menjadi 41.3 persen di survei Februari 2018 ini.

Keempat, untuk pertanyaan terkait tingkat akseptabilitas, Joko Widodo masih dianggap sebagai tokoh yang paling bersih dari korupsi (41.2 persen), paling tegas (46.6 persen), paling mampu memimpin (56.8 persen), dan paling layak untuk menjadi Presiden (57.2 persen). Hal ini menunjukan bahwa masyarakat menyukai pendekatan atau cara Joko Widodo dalam memimpin  dan sosok ideal sebagai Presiden karena bersih, tegas, dan mampu memerintah. Keunggulan Joko Widodo dalam beberapa kategori ini, menempatkan Joko Widodo sebagai sosok yang paling layak menjadi Presiden 2019-2024 oleh masyarakat.

Kelima, ketika masyarakat diberi pertanyaan terbuka terkait calon presiden pilihannya, sosok Joko Widodo juga masih menempati posisi pertama dengan persentase 52.8 persen, disusul Prabowo Subianto di posisi kedua dengan persentase 15.4 persen. Adapun persentase masyarakat yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab semakin besar, dari yang semula berada pada persentase 20.5 persen di bulan Desember 2017 menjadi 25.5 persen di bulan Februari 2018. Temuan ini menarik, mengingat meningkatnya persentase masyarakat yang undecided tidak mempengaruhi persentase dukungan terhadap Joko Widodo. Naiknya persentase undecided merupakan akibat dari turunnya persentase dukungan kepada Prabowo dan tokoh-tokoh lain.

Keenam, Ketika masyarakat diberi pertanyaan terbuka terkait calon wakil presiden pilihannya, nama Jusuf Kalla masih menempati posisi pertama, namun angka dukungannya turun cukup signifikan dari 21.3 persen di bulan Desember 2017 menjadi 15.3 persen di bulan Februari 2018. Posisi kedua, ketiga, dan keempat, ditempati masing-masing oleh Gatot Nurmantyo (7.3 persen), Anies Baswedan (3.4 persen), dan AHY (3.3 persen). Di luar sosok Jusuf Kalla, terdapat kesamaan latar belakang daerah asal dari sosok Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, dan AHY yang berasal dari Pulau Jawa.

Temuan menarik terkait dengan latar belakang daerah asal cawapres untuk Jokowi. Sebagian besar responden, yaitu sebesar 38.2 persen tidak mempertimbangkan latar belakang daerah cawapres. Namun, selanjutnya 23.7 persen masyarakat menginginkan Calon Wakil Presiden pendamping Jokowi yang berasal dari Pulau Jawa, kemudian 8.1 persen dari Sumatera, dan 7.5 persen dari Sulawesi. Ini bisa mengindikasikan keinginan kuat publik untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan ke depan, karena jika cawapres Jokowi dari suku Jawa maka sangat mungkin untuk bisa menjadi capres terkuat pada pilpres 2024 nantinya.

Sementara untuk kategori usia ideal, persentase masyarakat yang menginginkan Cawapres dengan kategori usia 35-50 tahun sebesar 33.7 persen dan 50-60 tahun sebesar 32.6 persen. Ini juga menunjukkan bahwa pemilih memiliki preferensi terhadap cawapres yang relatif muda supaya bisa melanjutkan kepemimpinan di pilpres 2024 nantinya. Karena itu wajar jika politisi dan tokoh muda sekarang ini semakin giat berlomba mempopulerkan dirinya untuk menjadi cawapres.

Dari sejumlah simulasi dua pasangan, tampak bahwa jika nama Prabowo tidak ada, maka persentase elektabilitas pasangan yang menjadi lawan Joko Widodo turun banyak. Ini tentu karena belum ada tokoh selain Prabowo yang sudah dideklarasikan secara terbuka untuk  menjadi alternatif capres. Dari sejumlah nama yang coba disimulasikan, semua nama berpotensi justru menurunkan elektabilitas Joko Widodo. Ini bisa dipahami karena masing-masing nama memiliki basis dukungan yang sempit, sehingga satu nama terpilih untuk menjadi cawapres Joko Widodo bisa menurunkan dukungan dari kekuatan-kekuatan politik lainnya. Akan tetapi, figur yang non-partai, non-TNI/Polri, atau yang non-partisan juga belum tampak menonjol, meski figur tersebut berpeluang untuk diterima banyak kekuatan politik pendukung Joko Widodo.

Rilis selengkapnya Klik disini