Setelah Pelonggaran…

Setelah Pelonggaran…

Mengikuti beberapa negara dan kota besar dunia, Jakarta dan kota-kota Indonesia melonggarkan kuncian. Sebuah pilihan jalan dari dilema ancaman kesehatan dan perekonomian. Apa kira-kira yang akan terjadi?

Populi Center dan Smart FM Network bekerjasama dengan the Maj membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Setelah Pelonggaran…”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 20 Juni 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Dr. Abidinsyah Siregar, MPH (Ahli Kesehatan Masyarakat, Birokrat Senior), Prof Juhaeri Mukhtar, PhD (Ahli Epidemiologi, University of North Carolina, Princeton USA), Ian J. Morse (Jurnalis, Penulis, Seattle USA), dan Maria Yuliana Benyamin (Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali pemaparan, Ian J. Morse mengatakan bahwa masyarakat di Amerika Serikat saat ini tertekan virus maupun ekonomi. Terkait dengan virus Covid-19, sudah ada banyak orang yang meninggal, namun gelombang pertama belum selesai. Kebijakan penanganan Covid-19 sangat ditentukan oleh negara bagian, dikarenakan negara federal tidak terlalu mengambil bagian. Pemerintah federal tidak terlalu memperhatikan bagaimana penanganan dari setiap negara bagian, termasuk negara-negara bagian yang dikuasai oleh partai Republik.

Juhaeri Mukhtar mengatakan hal yang harus diperhatikan secara mendalam adalah kesehatan masyarakat dalam menjalankan aktivitas. Termasuk di dalamnya aktivitas-aktivitas bisnis apa saja yang rentan penyebaran Covid-19. Perlu diperhitungkan jumlah kontak dan intensitasnya. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mitigasi masalah, termasuk masalah physical distancing. Bagaimanapun juga, saat ini seluruh orang harus beradaptasi dengan kenyataan yang baru.

Maria Yuliana Benyamin mengatakan bahwa masyarakat dihadapkan pada dua kepentingan utama yakni kesehatan dan ekonomi. Kedua hal ini adalah hal yang tidak dapat ditunda. Pemerintah juga tidak dapat lama untuk menahan persoalan ekonomi. Saat ini industri manufaktur merupakan industri yang paling banyak terdampak. Apabila hendak mencontoh bagaimana ekonomi dan kesehatan diseimbangkan ada di negara Jerman. Pada konteks Indonesia, dibukanya Mall sejauh ini terlihat rendahnya antusiasme masyarakat.

Abidinsyah Siregar mengatakan persoalan penanganan Covid-19 terlambat, padahal persoalan penanganan Covid-19 sudah ada sejak bulan Desember. Apa yang terjadi saat ini masyarakat tidak terlalu percaya terhadap hal-hal yang dikatakan oleh pemerintah. Persoalannya banyak masyarakat yang tinggal di tempat berbeda dengan realitas yang berbeda. Daerah yang aman dari Covid-19, dianggap berlaku pula di daerah tempat masyarakat tersebut tinggal. Masalahnya hilir mudik orang di Indonesia sangatlah tinggi.

Di akhir diskusi, Juhaeri Mukhtar mengatakan bahwa terdapat dua hal yang dikhawatirkan dalam jangka panjang dan pendek. Pemetaan transmisi Covid-19 belum dapat dipahami, belum diketahui mode transmisinya. Maria Yuliana Benyamin mengatakan pembukaan aktivitas ekonomi sejauh ini baru dapat dilihat di kuartal kedua, terkait bagaimana Covid-19 menghantam ekonomi Indonesia. Sebagai penutup, Ian J. Morse mengatakan bahwa perlu ada pengujian yang besar ke masyarakat, sehingga dapat mendeteksi gelombang kedua dari penyebaran Covid-19.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.