Suka dan Duka Belajar Daring

Suka dan Duka Belajar Daring

Ada anak memaksa masuk sekolah, walaupun sendirian, karena tidak mempunyai perangkat. Ada orang tua yang nekat mencuri gawai bagi anaknya. Masih banyak kisah miris sejenis. Bagaimana kita mengatasi masalah di sekitar sekolah daring yang terpaksa dilakukan ini?

Populi Center dan Smart FM Network serta didukung The MAJ Senayan membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Suka dan Duka Belajar Daring”. Diskusi yang dilaksanakan pada Sabtu, 8 Agustus 2020, itu mengundang tiga narasumber, yakni Retno Listiyarti (Komisioner KPAI/Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Edi Purnama (Kepala SMA Dewi Sartika, Jakarta), dan Chalid Muhammad (Inisiator Gerakan Berbagai Untuk Pemimpin Indonesia Masa Depan). Ichan Loulembah memandu diskusi tersebut sejak pukul 09.00 – 11.00 WIB via aplikasi Zoom.

Retno Listiyarti menjelaskan, pemerintah memang sudah merumuskan kurikulum baru di situasi darurat ini. Kurikulum yang disederhanakan itu bisa membantu pembelajaran jarak jauh. Lebih jauh, lanjutnya, berdasarkan survei yang dilakukan KPAI di 34 provinsi kepada siswa dan guru, terdapat sejumlah temuan menarik. Pertama, murid mengeluhkan banyaknya tugas sekolah. Hal ini terjadi karena guru mengejar ketercapaian kurikulum. “Kedua, murid dan guru, khususnya guru honorer, mengeluhkan ketiadaan alat pendukung pembelajaran jarak jauh, seperti kuota internet,” ujarnya.

Sementara itu, Chalid Muhammad menyebutkan, ia bersama dengan individu-individu dan sejumlah organisasi yang tergabung dalam Indonesia Bergerak sudah mendorong perbaikan pembelajaran jarak jauh kepada pemerintah. Pertama, koalisi itu mengeluarkan dan menyebarkan imbauan penyediaan infrastruktur digital untuk belajar secara cuma-cuma. Kedua, mereka mengingatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan jaringan pemerintah daerah untuk bisa memenuhi hak anak untuk belajar. Terakhir, mereka mendorong adanya evaluasi yang efektif terhadap pembelajaran daring. “Hal ini semakin terasa penting, sebab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ingin melanjutkan pembelajaran daring di masa pasca Covid-19,” ucapnya.

Adapun Edi Purnama memaparkan kondisi guru, orang tua, dan murid di Jakarta. Menurutnya, ada empat kategori murid dan orang tua di tengah pandemi ini. Pertama, siswa yang memiliki kompetensi bagus, dan orang tuanya mampu secara ekonomi. Kedua, siswa yang tidak mampu secara kompetensi, namun orang tuanya mampu secara finansial. Ketiga, siswa memiliki kompetensi bagus, akan tetapi orang tuanya tidak berkecukupan. Keempat, siswa yang tidak mampu secara kompetensi, dan orang tuanya tidak mampu secara finansial. “Kategori yang terakhir itu mungkin banyak di luar daerah, tapi di ibu kota juga ada,” tambahnya.

Di sesi terakhir, Edi Purnama menyatakan, infrastruktur digital sangat krusial untuk menyukseskan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ini. Sejak Maret, guru sudah mengurangi jam belajar dan mengubah jadwal. Persoalannya, acuannya seperti yang diarahkan oleh pemerintah belum diketahui oleh guru-guru. Retno Listiyarti kembali mengapresiasi kurikulum darurat. Namun, perlu adanya ketegasan dari pemerintah untuk menerapkannya di seluruh Indonesia. Di samping itu, ia juga menyarankan agar pemerintah jangan sampai putus asa terhadap pembelajaran jarak jauh, dan pada akhirnya, nekat membuka sekolah pada zona kuning.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.