SURVEI DAN DEMOKRASI

SURVEI DAN DEMOKRASI

Pemilu 2019 kian dekat, beberapa lembaga survei merilis temuan-temuannya. Ada keyakinan bahwa tumbuhnya lembaga-lembaga survei seiring pula dengan tumbuhnya demokrasi. Bagaimana sebenarnya kehadiran dan peran lembaga survei ini bagi demokrasi. Apakah turut memajukan demokrasi atau sumber kegaduhan politik belaka?

Populi Center dan Smart FM Network membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Survei dan Demokrasi”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 9 Maret 2019 pukul 09.00 – 11.00 WIB, bertempat di  Gado-Gado Boplo, Jalan Cikini Raya 111, Menteng, Jakarta Pusat.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si (Anggota Dewan Etik Persepi – Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia), Abdul Manan (Ketua Aji – Aliansi Jurnalis Independen), Afrimadona, PhD (Peneliti Senior Populi Center), Hasyim Asy’ari (Anggota KPU RI), Diskusi ini dipandu oleh Zacky Housein.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Hamdi Muluk, mengatakan bahwa para pelaku survei dalam undang-undang tidak ada kewajiban untuk bergabung kedalam asosiasi keilmuan, misalnya seperti Persepi. Maksud didirikannya perhimpunan survei seperti Persepi adalah pertama, supaya di antara para pelaku survei opini publik tersebut ada yang dapat mengontrol, sehingga dibentuklah dewan etik yang berasal dari para akademisi. Kedua, di antara pelaku survei dapat saling memberdayakan diri, misalnya dengan diskusi rutin untuk mengupgrade metodologi. Tujuannya jelas, agar supaya metodologi (survei) tersebut memiliki standar, jika ada anggota Persepi yang membutuhkan capacity building maka akan diberikan. Ketika ada salah satu anggota yang mempublikasikan hasil survei yang tidak lazim maka dewan etik bisa turun untuk menginvestigasi dan mengaudit seluruh proses-proses ilmiah dimulai dari A sampai Z.

Di kesempatan yang sama, Abdul Manan memaparkan bahwa, lembaga survei tumbuh setelah iklim demokrasi. Adapun manfaat adanya lembaga survei yaitu sebagai instrumen partai politik, yakni paling utama ingin mengetahui prediksi apa yang akan terjadi dan juga memberi dampak bagi persepsi publik. Hasil polling menjadi penting tergantung bagaimana media menyampaikannya kepada publik. Disinilah masyarakat harus bisa mengkritisi dan memfilter setiap informasi yang diterima.

Peneliti senior Populi Center, Afrimadona, PhD menjelaskan bahwa di Amerika ketika Pemilu 2016, survei banyak yang mengunggulkan Hillary Clinton, padahal Amerika adalah negara yang memiliki demokrasi dan tradisi survei yang sudah matang namun prediksi tersebut meleset. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi hal ini, yakni Pertama, terkait persoalan metodologi, sebenarnya banyak orang yang ingin mendukung Trump dimana mayoritas adalah kulit putih dan terdidik, dengan mendukung Trump dianggap stupid sehingga mereka malu untuk mengungkapkan itu dalam survei sedangkan pendukung Hillary Clinton bisa percaya diri, wajar kiranya jika dalam survey Hillary Clinton menang. Kedua, bagaimana media menangkap hasil survei dan memberitakannya kepada publik sehingga publik akhirnya bisa menilai kepada siapa menjatuhkan pilihan saat Pemilu dilaksanakan.

Hasyim Asy’ari memaparkan bahwa salah satu indikator pemilu demokratis adalah adanya lembaga-lembaga survei yang bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai jejak pendapat perolehan suara. Ada dua metode, yaitu quick count dan exit poll dimana hasilnya bisa cepat diketahui setelah penghitungan selesai di masing-masing TPS. Dengan exit poll bisa diketahui secara presisi siapa yang akan menang, walapun hasil resminya masih lama diumumkan. Bagi KPU ini menjadi sarana untuk mengawal suara rakyat agar tidak bergeser di setiap Kabupaten/Kota dengan melihat kecenderungan pemilih di TPS melalui exit poll tersebut.

Di akhir diskusi, Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa hasil survei ilmiah memberikan kontribusi, seperti survey pengetahuan pemilih maupun survey terkait kepercayaan publik terhadap lembaga. Lembaga survey juga dapat memberikan gambaran secara cepat terkait dengan kondisi social politik, sehingga masyarakat dapat segera melanjutkan hidupnya paska electoral. Afrimadona menekankan pentingnya untuk saling review antara satu lembaga dengan lembaga survey lainnya. Terkait dengan kinerja dari lembaga survey, maka yang paling memiliki basis legitimasi adalah assosiasi lembaga survey.

Abdul Manan memaparkan bahwa lembaga dan media itu simbiosis mutualisme, meskipun saat ini terdapat kritik bahwa muncul jurnalisme pacuan kuda, dikarenakan menfokuskan diri pada elektabilitas. Media perlu untuk masuk ke substansi, seperti apa yang dijual oleh kandidat, dibandingkan focus semata pada elektabilitas. Terakhir, Prof. Dr. Hamdi Muluk mengatakan bahwa jangan membunuh seluruh lembaga survey, justru harus dibenarkan apabila terdapat lembaga survey yang patut dipertanyakan hasilnya. Ke depan, Persepi berfikir untuk melakukan review di dewan etik sebelum sebuah hasil survey dirilis.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.