Trump dan Perkara Rasial yang Timbul-Tenggelam

Trump dan Perkara Rasial yang Timbul-Tenggelam

Ibarat cacat bawaan, problem rasial mewarnai perjalanan sejarah Amerika Serikat. Beragam perkara kelam sejenis tak pernah benar-benar tenggelam. Bagaimana kita membacanya?

Populi Center dan Smart FM Network bekerjasama dengan the Maj membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan judul “Trump dan Perkara Rasial yang Timbul-Tenggelam”. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Diskusi dilakukan menggunakan aplikasi Zoom.

Adapun diskusi ini menghadirkan empat pembicara, yakni Prof. Dewi Fortuna Anwar, MA, PhD (Peneliti Senior LIPI, Pengurus Pusat AIPI), Ratri Istania, MA, PhD (Board Populi Center, Pengajar STIA LAN Jakarta, Research Fellow Loyola University Chicago), Nadia Madjid (Jurnalis, Warga Negara Indonesia di Washington DC), dan Eitan Paul (PhD Cand. University of Michigan, Research Fellow Populi Center). Diskusi ini dipandu oleh Ichan Loulembah.

Mengawali pemaparan, Nadia Madjid mengatakan bahwa saat ini sudah ada banyak sekali garda nasional yang diturunkan di Washington DC. Kerusuhan sangat menurun, meski terdapat tindakan yang dinilai tidak sesuai dengan aturan yang ada dari aparat kepolisian. Di beberapa jalan terdapat tulisan besar “black lives matters” yang berada di Washington DC, hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat di Washington DC berseberangan dengan pemerintah federal.

Ratri Istania mengatakan setelah melihat demografi dari masyarakat di Minneapollis dan Chicago, keduanya memiliki demografi yang sama, yakni sebesar 30 persen. Keduanya menghadapi persoalan yang sama, bahwa hasil penelitian yang terbaru menunjukkan bahwa masyarakat kulit hitam ter dampak paling besar secara ekonomi. Dengan kata lain, terdapat kesenjangan ekonomi yang besar antara masyarakat dengan dua ras tersebut.

Eitan Paul memaparkan bahwa peristiwa George Floyd menjadi satu peristiwa penting yang membedakan dengan persoalan ras yang ada sejauh ini. Adanya media sosial membuat isu terkait dengan ras ini meningkat, termasuk juga dengan bagaimana sikap dari pemerintah federal dalam menangani persoalan ini. Persoalan paling serius ada pada sedikitnya tokoh dari partai Republik yang membahas soal hal ini. Meski di akhir-akhir ini, terdapat beberapa tokoh Republik yang membahas masalah ini, seperti George Bush.

Dewi Fortuna Anwar mengatakan bahwa jika dilihat saat ini, gelombang protes tidak hanya ada di Amerika Serikat, namun juga terjadi di New Zealand dan Prancis. Gelombang protes ini menunjukkan bahwa ini bukan lagi menjadi isu nasional, melainkan isu internasional. Terdapat beberapa isu yang harus diperhatikan, pertama terkait dengan isu bagaimana pemerintahan Trump yang Rasis. Kedua, terkait dengan rasisme yang berada di kepolisian. Meski warga kulit hitam merupakan warga yang proporsinya rendah, namun warga kulit hitam yang banyak berurusan dengan pihak keamanan.

Di akhir diskusi, Eitan Paul memaparkan bahwa saat ini persoalan demonstrasi terus berjalan dikarenakan ini merupakan momentum dari persoalan rasialisme di Amerika Serikat. Ratri Istania menjelaskan diperlukan melihat secara lebih serius, mana orang yang benar-benar melakukan demonstrasi untuk mengatasi persoalan rasialisme dan mana yang hanya hendak rusuh.  Nadia Madjid mengatakan hal paling penting adalah bagaimana tetap menegakkan aturan terkait dengan dan prinsip demokrasi. Di akhir, Dewi Fortuna Anwar mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Amerika Serikat gagal dalam menunjukkan sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.