{"id":9725,"date":"2026-06-19T10:55:59","date_gmt":"2026-06-19T03:55:59","guid":{"rendered":"https:\/\/populicenter.org\/?p=9725"},"modified":"2026-06-19T10:56:00","modified_gmt":"2026-06-19T03:56:00","slug":"interseksional-smart-city-untuk-transportasi-publik-aman-bagi-perempuan-dan-kelompok-rentan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/populicenter.org\/en\/2026\/06\/19\/interseksional-smart-city-untuk-transportasi-publik-aman-bagi-perempuan-dan-kelompok-rentan\/","title":{"rendered":"Interseksional Smart City untuk Transportasi Publik Aman bagi Perempuan dan Kelompok Rentan"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak tragedi kecelakaan KRL di Bekasi Timur pada 27 April 2026, tata kelola transportasi publik perlu dievaluasi secara lebih hati-hati. Meski peristiwa itu juga berkaitan dengan persoalan teknis keselamatan, perdebatan publik setelahnya justru banyak bergerak ke isu posisi gerbong khusus perempuan. Hal ini memperlihatkan betapa mudahnya kebijakan afirmatif ditarik secara horizontal menjadi pertentangan antarkelompok penumpang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Polemik publik setelah kecelakaan menandai kebijakan transportasi berbasis gender yang masih dibaca secara reaktif dan moralistik, bukan secara sistemik. Akibatnya, sumber kerentanan yang perlu dibaca bersama dan menyeluruh justru menyempit ke dalam respons yang saling menyalahkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peninjauan terhadap layanan transportasi publik perlu disertai data tentang pola kepadatan, riwayat insiden, titik rawan, akses evakuasi, respons petugas, serta pengalaman harian penumpang perempuan dan kelompok rentan lain. Dari sini, pembahasan tentang <em>big data<\/em> menjadi penting.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data transportasi mestinya membaca perbedaan pengalaman sosial para penggunanya. Tanpa data yang peka gender dan interseksional, kebijakan transportasi akan terus bergerak melalui respons sesaat dan tidak benar-benar menyentuh sumber kerentanan yang dialami perempuan, anak, lansia, penyandang disabilitas, pekerja informal, dan kelompok rentan lain yang bergantung pada transportasi publik.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:35px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apakah Data Kota Sudah Mengenali Warganya?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Smart city<\/em> dibayangkan melalui sistem yang rapi, cepat, dan terhubung. Dalam transportasi publik, bayangan itu tampak melalui data arus penumpang, laporan insiden, dan pola perjalanan harian. Data semacam ini tampak netral, tetapi netralitas justru bermasalah ketika pengalaman pengguna dilebur ke dalam kategori umum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Persoalan kota pintar tidak selesai melalui pengumpulan data dalam jumlah besar. Budiman (2021a) pernah menulis bahwa masih ada jarak yang cukup lebar antara pemanfaatan teknologi pencatatan data dengan implementasi kebijakan politik dalam proses perlindungan keamanan warga masyarakat. Di Sejong, Korea Selatan, <em>big data<\/em> pergerakan pejalan kaki tidak memuat informasi gender, sehingga pola mobilitas perempuan tidak dapat dibaca secara khusus dan kebutuhan serta risikonya melebur dalam angka umum (Chang et al., 2022).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiadaan pemilahan semacam ini juga membuat perjalanan pengasuhan (<em>mobility of care<\/em>), mulai dari mengantar anak, mendampingi keluarga ke layanan kesehatan, membeli kebutuhan rumah tangga, atau berpindah moda dalam satu rangkaian perjalanan, sulit terbaca. Padahal, pola perjalanan seperti ini menentukan titik risiko yang berbeda, mulai dari waktu tunggu yang lebih panjang, paparan di area transit, beban membawa anak atau barang, sampai kebutuhan akses evakuasi yang lebih mudah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembacaan yang terlalu umum dapat membuat rasa aman tampak seperti kebutuhan yang sama bagi semua orang. Dalam studi yang sama di Sejong, responden laki-laki lebih menempatkan CCTV sebagai fasilitas penting, sedangkan responden perempuan lebih menilai bel darurat sebagai fasilitas yang dibutuhkan (Chang et al., 2022). Perbedaan ini secara sederhana menunjukkan bahwa sistem yang merekam kejadian belum selalu cukup bagi pengguna yang membutuhkan pertolongan langsung saat risiko muncul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah serupa tampak dalam audit terhadap layanan transportasi publik di Victoria, Australia, yang menemukan bahwa data terkait kekerasan seksual dan pelecehan masih lemah. Disebutkan bahwa data tersebut kurang peka gender, tidak komprehensif, sulit dibandingkan, kurang reliabel, dan sulit diakses (Hooker et al., 2024). Beberapa rincian penting seperti identitas pelapor, disabilitas, etnisitas, serta informasi pelaku bahkan ditempatkan sebagai data opsional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan desain pendataan semacam itu berpengaruh pada cara masalah dibaca, dari pelecehan yang masuk ke kategori gangguan umum hingga kesulitan penyandang disabilitas yang terpisah dari isu keselamatan. Data transportasi perlu lebih dulu mengenali profil dan pola perjalanan pengguna. Siapa yang bergerak, untuk tujuan apa, pada jam berapa, dan melalui moda apa. Setelah itu, data perlu membaca kondisi yang membuat perjalanan lebih rentan, mulai dari kepadatan di dalam rangkaian, riwayat insiden, titik rawan, akses evakuasi, respons petugas, sampai pola perpindahan moda. Seluruh pembacaan itu perlu dihubungkan dengan gender, usia, disabilitas, dan kondisi sosial pengguna.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:35px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Memahami Ulang Fungsi Gerbong Khusus<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika data transportasi belum mampu membaca risiko penumpang secara rinci, kebijakan perlindungan mudah berhenti pada solusi yang paling cepat terlihat. Polemik pemindahan gerbong khusus perempuan setelah kecelakaan Bekasi Timur memperlihatkan cara baca tersebut. Gerbong khusus perempuan dibicarakan terutama melalui posisinya dalam rangkaian. Percakapan publik lalu bergerak ke soal siapa yang akan berada di bagian paling berisiko bila susunan gerbong diubah. Akibatnya, keselamatan dibaca sebagai urusan tata letak, bukan sebagai persoalan yang dibentuk oleh pengalaman harian pengguna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gerbong khusus perempuan lahir dari pengalaman tidak aman dalam transportasi publik (Mchunu et al. 2025). Pelecehan, sentuhan di ruang padat, komentar seksual, tatapan tidak nyaman, dan rasa waswas saat menunggu di area transit memengaruhi keputusan perjalanan perempuan. Pengalaman itu menentukan jam berangkat, pilihan gerbong, posisi berdiri, rute, pakaian, dan strategi menghindar selama perjalanan (Parnell et al. 2022).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di banyak negara berkembang, gerbong khusus perempuan, bus khusus perempuan, atau \u201cpink transportation\u201d dipakai sebagai jawaban cepat atas pelecehan di transportasi publik. Solusi semacam ini kurang berkelanjutan bila tidak disertai pembenahan pada kebijakan, desain ruang transit, pengawasan, pelaporan insiden, serta budaya kerja transportasi (Noor &amp; Iamtrakul 2023). Dari sini dapat dilihat bahwa perubahan posisi gerbong perempuan belum menyentuh sumber kerentanan yang membuat perempuan membutuhkan ruang khusus sejak awal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gerbong khusus perempuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memindahkan beban kerentanan dari satu kelompok penumpang ke kelompok lain. Keamanan perempuan tidak perlu dibenturkan dengan keamanan laki-laki bila desain keselamatan dibangun melalui data kerentanan pengguna yang lebih lengkap. Gerbong khusus perempuan sebaiknya dipahami sebagai tanda bahwa layanan transportasi secara umum belum aman bagi penumpang dengan latar sosial yang berbeda. Jika satu masalah dijawab dengan solusi yang tidak menyentuh akarnya, masalah lain dapat menerima perlakuan yang sama.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:35px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tata Kelola Keselamatan dalam Transportasi Publik<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kecelakaan KRL di Bekasi Timur dan polemik setelahnya memperlihatkan kebutuhan mendesak untuk memperbaiki cara keselamatan transportasi publik dibaca. Temuan teknis tentang persinyalan dan komunikasi operasional dalam kecelakaan tersebut tetap perlu menjadi dasar evaluasi. Bagian ini penting karena keselamatan kereta bergantung pada tanda, informasi, dan koordinasi yang bekerja tepat waktu. Saat salah satu bagian terganggu, dampaknya langsung masuk ke penumpang yang berada di dalam rangkaian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan prinsip yang sama, pembacaan itu dapat diperluas ke pengalaman penumpang. Sistem tidak hanya perlu mengenali gangguan pada operasi perjalanan, tetapi juga kondisi yang membuat penumpang lebih rentan selama perjalanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budiman (2021b), dengan merujuk Deleuze, menulis bahwa \u201cmesin selalu bersifat sosial sebelum bersifat teknis\u201d. Selalu ada \u201cmesin sosial\u201d yang memilih atau memberikan tugas kepada elemen teknis yang digunakan (Budiman, 2021b). Dalam transportasi publik berbasis <em>smart city<\/em>, catatan ini membantu menjelaskan bahwa data bekerja secara berkesinambungan. Data dikumpulkan, dipilah, dan diterjemahkan melalui perangkat teknis yang sejak awal mengikuti prioritas lembaga pengelola. Apa yang dicatat, cara pencatatan dilakukan, dan pengalaman siapa yang dijadikan dasar kebijakan akan menentukan arah perlindungan yang dihasilkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada hakikatnya, teknologi tidak serta merta menghadirkan rasa aman bagi warga penumpang kereta. Data transportasi baru bermakna ketika mampu membaca kerentanan perempuan dan kelompok rentan, lalu diterjemahkan ke dalam akses bantuan, respons petugas, pelaporan yang mudah, dan perlindungan yang terasa selama perjalanan.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:35px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bibliography<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budiman, H. (2021a) \u2018Dari Tower Inferno ke Duoveillance\u2019, <em>Kakoph\u014dnia<\/em>, 16 July.<a href=\"https:\/\/hikmatbudiman.id\/kakophonia\/files\/dari_tower_inferno_ke_superpanopticon.php\"> <\/a><a href=\"https:\/\/hikmatbudiman.id\/kakophonia\/files\/dari_tower_inferno_ke_superpanopticon.php\">https:\/\/hikmatbudiman.id\/kakophonia\/files\/dari_tower_inferno_ke_superpanopticon.php<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budiman, H. (2021b) \u2018Digital, Ruang, Rupa, dan Kuasa: Cerita-cerita Ringan tentang Kamera\u2019, <em>Kakoph\u014dnia<\/em>, 28 May.<a href=\"https:\/\/hikmatbudiman.id\/kakophonia\/files\/digital_ruang_rupa.php\"> <\/a><a href=\"https:\/\/hikmatbudiman.id\/kakophonia\/files\/digital_ruang_rupa.php\">https:\/\/hikmatbudiman.id\/kakophonia\/files\/digital_ruang_rupa.php<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Chang, J.-I., Choi, J., An, H. and Chung, H.-Y. (2022) \u2018Gendering the smart city: A case study of Sejong City, Korea\u2019, <em>Cities<\/em>, 120, 103422.<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.cities.2021.103422\"> <\/a><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.cities.2021.103422\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.cities.2021.103422<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hooker, L., Ison, J., Forsdike, K., Giles, F., Henry, N. and Taft, A. (2024) \u2018Incident reporting and data monitoring of sexual violence and harassment on public transport\u2019, <em>Journal of Transport &amp; Health<\/em>, 39, 101903.<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.jth.2024.101903\"> <\/a><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.jth.2024.101903\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.jth.2024.101903<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mchunu, G.G., Kuupiel, D., Ncama, B.P., Isike, C., Kistan, M., Pillay, J.D. and Duma, S.E. (2025) \u2018Public transport systems and safety of female commuters in low-and-middle-income countries: A systematic scoping review\u2019, <em>BMC Women\u2019s Health<\/em>, 25(1), 264.<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1186\/s12905-025-03821-0\"> <\/a><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1186\/s12905-025-03821-0\">https:\/\/doi.org\/10.1186\/s12905-025-03821-0<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Parnell, K.J., Pope, K.A., Hart, S., Sturgess, E., Hayward, R., Leonard, P. and Madeira-Revell, K. (2022) \u2018It\u2019s a man\u2019s world: A gender-equitable scoping review of gender, transportation, and work\u2019, <em>Ergonomics<\/em>, 65(11), pp. 1537\u20131553.<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1080\/00140139.2022.2070662\"> <\/a><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1080\/00140139.2022.2070662\">https:\/\/doi.org\/10.1080\/00140139.2022.2070662<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Noor, S. and Iamtrakul, P. (2023) \u2018Women\u2019s access to urban public transport: Toward addressing policy constraints in combating sexual harassment\u2019, <em>Transport Policy<\/em>, 137, pp. 14\u201322.<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.tranpol.2023.04.010\"> <\/a><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.tranpol.2023.04.010\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.tranpol.2023.04.010<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak tragedi kecelakaan KRL di Bekasi Timur pada 27 April 2026, tata kelola transportasi publik perlu dievaluasi secara lebih hati-hati. Meski peristiwa itu juga berkaitan dengan persoalan teknis keselamatan, perdebatan publik setelahnya justru banyak bergerak ke isu posisi gerbong khusus perempuan. Hal ini memperlihatkan betapa mudahnya kebijakan afirmatif ditarik secara horizontal menjadi pertentangan antarkelompok penumpang. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":9727,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[78,87,191,177,184],"class_list":["post-9725","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-indonesia","tag-media","tag-pemerintah","tag-perempuan","tag-transportasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9725","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9725"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9725\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9726,"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9725\/revisions\/9726"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9725"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9725"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/populicenter.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9725"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}