Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Book Review:
Sabda dari Surga

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

hata ni debataJudul Buku: Hata Ni Debata: Etnografi Kebudayaan Spiritual-Musikal Parmalim Batak Toba
Penulis: Irwansyah Harahap
Penerbit: Semai
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5





Beberapa dekade selepas Nommensen mengabarkan Injil di Tanah Batak, Sitor Situmorang menulis cerpen "Ibu Pergi ke Sorga". Di dalamnya, kita bersua dengan satu keluarga Batak Kristen, akan tetapi memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama itu: seorang anak lelaki yang sudah enggan bersentuhan dengan agama; ibu yang rutin ke gereja dan mengikuti kegiatan agama; dan bapak yang tampaknya belum beranjak dari praktik Parmalim, sekalipun sudah dibaptis menjadi seorang Kristen.

Jika Sitor Situmorang secara terang benderang menggambarkan sikap si anak dan ibu terhadap agama, ia justru secara samar-samar, atau tidak terlalu gamblang, mengilustrasikan keyakinan si bapak. Dalam benak orang Batak (Toba), khususnya mereka yang sudah berafiliasi dengan agama di luar Parmalim, (penganut) agama Parmalim acap kali digambarkan dengan takhayul, mantra, dan makan sirih. Read More…

Book Review:
Pertemuan Tanpa Percakapan

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

Chairil Anwar Sebuah PertemuanJudul Buku: Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan
Penulis: Arief Budiman
Penerbit: Best Publisher (Galang Press Group)
Tahun Terbit: 2018

Skor : 4/5




Dengan "Doa", Chairil berserah: "Tuhanku/ aku hilang bentuk/ remuk... Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling." Dengan sajak, Chairil mencemooh agama:

"Aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidadari beribu.

Namun, sajak berjudul "Sorga" itu tidak hanya berhenti di situ. Larik-larik terakhirnya berbunyi:

"Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidadari
suaranya berat menelan seperti Nina
punya kerlingnya Yati? "

Dari sajak-sajak Chairil yang menyoal agama, yang kerap dijadikan sandaran (terakhir) manusia, Arief Budiman (AB) dalam "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" menyatakan bahwa 'Si Binatang Jalang' lebih dari sekadar mencemooh agama. Bagi AB, ia bahkan menolak secara ekstrem agama. Sebab, ia tidak mau menukarkan, terlebih mengorbankan, apa yang dimilikinya dengan sesuatu yang tidak pasti di masa depan. "'Lagi siapa yang bisa mengatakan pasti di situ memang ada bidadari' yang sama cantik dan genitnya seperti Nina dan Yati," perempuan-perempuan yang hadir di kehidupannya (hal. 51). Dari pernyataan AB, kita tahu bahwa Chairil memilih yang pasti 'di sini' dan 'di hari ini' daripada yang tidak pasti 'di sana' dan 'di kemudian hari'. Read More…

Book Review:
What is A Bullshit Jobs?

anto
Hartanto Rosojati

Peneliti Populi Center


bullshit jobs


Judul Buku: Bullshit Jobs: A Theory
Penulis: David Graeber
Penerbit: Simon & Schuster (New York)
Tahun terbit: 2018
Jumlah hlm: 368

Skor : 4/5




Tanggal 12 Februari 1961 di Amerika lahirkah David Rolfe Graeber yang kemudian lebih dikenal dengan nama David Graeber. Ia adalah seorang profesor antropologi di London School of Economics. Sebagai seorang teoritikus sosial, beberapa karyanya cukup fenomenal, yang salah satunya akan saya ulas dalam tulisan lebih lanjut, yakni Bullshit Jobs (2018). Selain buku tersebut, beberapa buku yang pernah ia tulis adalah Debt: The First 5000 years (2011) dan The Utopia of Rules (2015).

Melalui Bullshit Jobs (2018), ia memberikan pandangan terkait dengan dunia kerja. Dalam bukunya tersebut, Graeber membagi pembahasan menjadi tujuh bagian yang diberi judul berupa pertanyaan, seakan menyasar para pembacanya untuk merefleksikan perdebatan apa yang ingin disampaikan oleh Graeber. Ketujuh chapter tersebut adalah: Pertama, What is bullshit job?, Kedua, What sorts of bullshit jobs are there?, Ketiga, Why do those in bullshit jos regularly report themselves unhappy?, Keempat, What is it like to have a bullshit job?, Kelima, Why are bullshit jobs proliferating?, Keenam, Why do we as a society not object to the growth of pointless employment?, dan Ketujuh, What are the political effect of bullshit jobs, and is there anyting that can be done about this situation. Read More…

Film Review:
Battle in Seattle

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


large_8A6j3skThiPIvdCJ5W5XJOEtWt9

Judul Film: Battle in Seattle
Sutradara: Stuart Townsend
Skenario: Stuart Townsend
Tahun Terbit: 2008
Durasi: 1 jam 38 menit

Skor : 4/5




Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi bagian dari sebuah organisasi mahasiswa ekstrakampus besar di negeri ini, yang tidak hanya paling lugas lambangnya – banteng ketaton –, tetapi juga pemikirannya, menurut saya. Itupun terjadi secara tidak sengaja, karena sebelumnya saya sudah ingin bergabung dengan organisasi kepemudaan dengan baju loreng oranye kebanggaannya. Entah kebetulan pula, setelah sekian lama bergabung dalam organisasi tersebut, secara tidak sengaja saya menemukan arsip-arsip “lawas” Eyang saya dan banyak di dalamnya mengulas ideologi yang sama. Ternyata darah “abangan” memang telah melekat secara biologis di dalam diri saya.

Nostalgia masa itu, tidak lengkap rasanya jika tidak mengulas lumrahnya aksi turun kejalan. Terlebih ketika mengingat mahasiswa pernah berperan penting menumbangkan rezim Orde Baru di tahun 1998, kemudian aksi turun ke jalan seolah menjadi sebuah keharusan. “Dadi mahasiswa kok ora tau demo?, Dadi mahasiswa kok mung kupu-kupu, (kuliah pulang, kuliah pulang), la terus ngopo koe dadi mahasiswa?” begitulah kiranya lagak sok-sokan aktivis mahasiswa kala itu. Terbawa dalam romantisme gerakan tersebut, tak jarang membawa saya beberapa kali menjadi koordinator aksi. Hal pertama yang wajib dilakukan sebelum melakukan aksi salah sa Read More…

Book Chapter Review:
Cara Barat Memandang Timur: Orientalisme

Darin

Darin Atiandina
Peneliti Populi Center


Cover Orientalism


Judul Buku: Orientalism
Judul Bab yang Ditinjau: Chapter 1: The Scope of Orientalism
Penulis: Edward W. Said
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 2003
Jumlah Halaman: 396

Skor : 3/5



Sudah seperti kebiasaan bagi saya dan kedua orangtua saya untuk menghabiskan akhir pekan dengan menonton film di ruang tengah rumah kami. Kami biasanya tidak memilih film tertentu alias terima jadi dan menonton segala macam film yang sedang tayang di televisi. Sore itu kami menonton London Has Fallen (2016), sebuah film yang bercerita tentang misi sekelompok teroris untuk membunuh para pemimpin dunia yang menghadiri pemakaman Perdana Menteri Inggris di London serta aksi agen secret service, Mike Banning (diperankan oleh Gerrard Butler), untuk melindungi Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher dari serangan tersebut. Layaknya kebanyakan film produksi barat lainnya, yang diposisikan sebagai pihak penyerang dalam film ini adalah orang Timur Tengah, sang penjahat berasal dari Pakistan. Sementara itu, yang diposisikan sebagai pihak yang diserang serta berakhir menjadi pahlawan adalah orang Barat.

Komposisi film yang terdiri dari barat-pahlawan serta timur-penjahat mengingatkan saya pada salah satu karya Edward W. Said, yakni Orientalisme. Buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1978 itu kini telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam 36 bahasa. Buku dengan tebal 396 halaman tersebut terdiri dari tiga bagian utama, yakni the scope of orientalism, orientalist structures and restructures, orientalism now. Tulisan ini akan mengulas bab pertama dari buku Orientalisme: the scope of orientalism. Namun, sebelum itu ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan orientalisme. Read More…

Article Review:
Keberagaman dan Modal Sosial di Abad 21

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

jurnal



Judul Artikel: E Pluribus Unum: Diversity and Community in the Twenty-first Century
Penulis: Robert D. Putnam
Nama Jurnal: Scandinavian Political Studies
Penerbit: Nordic Political Association
Tahun Terbit: 2007
Jumlah Halaman: 38 hlm.

Skor : 4,5/5


E Pluribus Unum, sebuah prinsip untuk melambangkan keberagaman masyarakat Amerika Serikat. Dalam kedudukan yang kurang lebih sama, kita dapat menempatkan E Pluribus Unum setara dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sebuah prinsip yang menekan elemen pentingnya keberagaman. Artikel oleh Robert Putnam ini dibacakan ketika beliau menerima penghargaan Johan Skytte Prize di tahun 2006 dari Uppsala University.

Penghargaan ini diberikan oleh departemen ilmu politik di Uppsala University di setiap tahunnya, terutama kepada ilmuwan politik yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu politik. Di luar bahasan terkait selebrasi tersebut, artikel ini memiliki pengaruh yang besar pada diskusi mengenai modal sosial (social capital), terutama dalam konteks keberhasilan artikel ini mendorong kajian-kajian yang lebih serius mengenai modal sosial.
Read More…

Film Review:
Cerita Suram Dari Gotham

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

 Joker_RI
Judul Film: Joker
Sutradara: Todd Phillips
Skenario: Todd Phillips, Scott Silver
Tahun: 2019
Durasi: 2 jam 2 menit

Skor : 4,5/5


Pada sebuah jalan yang ramai di kota Gotham, seorang badut membawa papan iklan sambil berdansa ceria, riang, dan penuh semangat. Tidak lama kemudian datang anak-anak remaja yang lantas merampas papan iklan tersebut. Spontan sang badut mengejar si perampas. Papan iklan itu adalah penyambung hidupnya untuk mendapatkan upah. Dengan tergopoh-gopoh, si badut mengejar para remaja sampai di sebuah gang kecil. Ketika masuk ke dalam gang tersebut, ia dihajar oleh remaja-remaja perampas itu.

Pengeroyokan ini menjadi titik masuk pada bahasan yang konstruktif dan dalam batasan tertentu dekonstruktif terhadap apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk yang berada di sepanjang film ini. Relativitas terkait dengan hal baik dan buruk tersebut tentu mengingatkan kita pada filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche yang mempertanyakan kembali terkait dengan kebenaran. Sedikit berbeda darinya, film ini tidak sama sekali membahas terkait nihilisme, melainkan masuk pada antagonisme dan kontektualitas akan baik dan buruk tadi.
Read More…

Book Review:
Sekeping Mozaik Sjahrir Di Parapat

foto-dimas

Dimas Ramadhan
Peneliti Populi Center

Cover kaum intelektual dan perjuangan kemerdekaan

Judul Buku : Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan: Peranan Kelompok Sjahrir
Tahun terbit : 1993
Penulis : J.D Legge
Penerbit : Pustaka Utama Grafiti
Jumlah halaman : 280

Skor : 4/5



Dalam lawatan ke Sumatera Utara tempo hari, saya bersama dengan Erwinton dan Pak Ade melakukan napak tilas jejak Bung Karno saat diasingkan oleh Belanda: Mengunjungi Pesanggrahan Bung Karno. Kebetulan waktu itu bulan Agustus, bulan dimana seluruh rakyat Indonesia memperingati kemerdekaan. Pesanggrahan yang terletak di Parapat, Kabupaten Simalungun, tersebut merupakan rumah lama bergaya Eropa yang dominan berwarna putih, dan menghadap langsung ke Danau Toba. Sambil mencermati bangunan bersejarah itu, saya pun menelusuri cerita di balik pesanggrahan tersebut melalui gawai. Berdasarkan penelusuran, Sukarno ternyata tidak sendirian diasingkan di rumah tersebut pada 1949. 'Putra Sang Fajar' itu dibuang ke sana bersama Agus Salim dan Sutan Sjahrir.

Sebuah pertanyaan kemudian muncul dibenak saya: Mengapa tempat itu dinamakan sebagai Pesanggrahan Sukarno? Mengapa bukan Pesanggrahan Para Bapak Bangsa? Barangkali Mohammad Hatta, orang yang didaulat sebagai wakil presiden mendampingi Sukarno, tidak dibuang di tempat itu. Atau, seperti jawaban klise, alur sejarah ditentukan dan diceritakan oleh para pemenang. Dalam konteks ini, Agus Salim dan Sutan Sjahrir, suka atau tidak, bukanlah pemenang dalam sejarah Indonesia. Namun, saya rasa kita sudah sama-sama mengetahui bahwa Sukarno memang berbeda dengan kedua rekan pembuangannya tersebut. Ia dianggap sebagai pemimpin kelompok nasionalisme populis yang pandai berpidato membakar semangat massa. Sementara itu, Agus Salim merupakan mantan akitivis Syarikat Islam yang identik Read More…

Book Chapter Review:
Merangkai Modal Sosial

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


fukuyama

Judul Bab yang ditinjau: Chapter 1. The Great Disruption
Penulis: Francis Fukuyama
Penerbit: Qalam
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 510 hlm (h.1-228)

Skor : 4/5



Eyang : Le, yuk nginep di rumah Eyang, nemenin Eyang
Cucu : Enggak ah, di rumah Eyang enggak ada wifinya
Eyang : Ya nanti Eyang beliin paket kuota kan bisa, mau ya?
Cucu : Iya, tapi janji ya
Eyang : Iya

Begitu kiranya perbincangan seorang Nenek dengan Cucunya yang baru saja masuk bangku sekolah dasar. Sebuah penggalan dialog yang sebenarnya tidak lazim dan tidak pernah terlintas di benak generasi baby boomers, generasi x maupun generasi y. Hal tersebut setidaknya mulai didapati pada generasi z. Dari penggalan dialog tersebut saya hanya ingin menunjukkan bahwa dunia kini telah mengalami sebuah fase transisi. Sebuah kondisi yang benar-benar nyata yang dahulu pernah George Gilder, Newt Gingrich, Al Gore, Nicholas Negroponte dan pasangan suami istri Alvin dan Heidi Toffler ulas jauh sebelumnya. Bagaimana informasi (yang kini bisa kita representasikan dengan kuota internet) benar-benar merasuk ke dalam relung-relung kehidupan manusia khususnya generasi z yang sejak lahir telah dihidangkan dengan era informasi tersebut.

Era yang juga dikenal sebagai era post-industrial, atau era gelombang ketiga kini benar-benar semakin jelas terlihat. Dalam era transisi memasuki era informasi, banyak hal yang harus mulai dipikirkan, karena faktanya apa yang didambakan para futurolog bahwa perubahan menuju masyarakat informasi akan menciptakan kesejahteraan dan kedewasaan demokrasi, tapi fakta yang muncul tidak selalu demikian. Fukuyama benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi tersebut dengan membayangkan dunia telah menuju era kehancurannya sendiri.
Read More…

Book Review:
What makes us human?

anto

Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center

Human



Judul Film: HUMAN
Sutradara: Yann Arthus-Bertrand
Skenario: Yann Arthus-Bertrand
Tahun: 2015
Durasi: 4 jam 23 menit

Skor : 4/5




Wajah orang-orang dari berbagai belahan negara ditampilkan secara bergantian. Mulai dari Pape yang berasal dari Senegal, kemudian Samantha dari USA, Prasad dari India, Peter dari New Guinea dan masih banyak lagi. Orang-orang ini ditampilkan hanya sebatas wajahnya dengan latar berwarna hitam. Kemudian layar berubah menjadi bentangan luas dari padang gurun di Pakistan. Terlihat orang-orang sedang berjalan di gurun pasir secara beriringan dengan ditemani beberapa hewan ternak. Pemandangan yang diambil dari atas ini kemudian menjadi penanda bahwa film dengan judul “Human” akan dimulai. Film dokumenter yang dirilis pada 12 September 2015 ini diprakarsai oleh Yann Arthus-Bertrand, seorang peduli lingkungan asal Prancis, sekaligus jurnalis dan fotografer.

Love?

Air mata tiba-tiba keluar, seperti tidak bisa lagi dibendung oleh Leonard. Pria berkulit hitam asal Amerika ini menceritakan sering menyakiti orang lain atas dasar love, sebuah pesan yang ia salah artikan selama ini. Bahkan dengan tindakannya tersebut, ia harus masuk penjara. Namun, suatu ketika ia bertemu Agnes yang merubah hidupnya. Agnes adalah ibu sekaligus nenek dari Patricia dan Chris. Apa yang membuat Leonard menangis adalah kenyataan bahwa Agnes sama sekali tidak membencinya, pasalnya, Leonard sudah membunuh Patricia dan Chris. Bagi Agnes, itu sudah menjadi masa lalu. Ini yang membuat Leonard sadar bahwa rasa cinta bukan ditunjukkan dengan cara menyakiti. Read More…

Book Review:
Membatalkan Yang Tunggal di Tanah Batak

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


Perempuan Bernama Arjuna 4 Batakologi dalam FiksiJudul Buku: Perempuan Bernama Arjuna 4: Batakologi dalam Fiksi
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5




O Tano Batak
Sai naeng hu tatap
Dapotnohonku tano hagodangan hi
(O Tano Batak)

Didampingi Gegana Matondang, saya dan Dimas Ramadhan mengelilingi (sebagian besar) Tanah Batak: Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola—minus Karo. Bagi saya, perjalanan tersebut seperti menelusuri jejak kenangan di masa lalu. Beberapa tahun sebelum saya kembali ke tempat dengan nostalgia yang paling dalam tersebut, ada tertulis: Arjuna dan Jean-Claude van Damme, yang ditemani Washington Nadeak, menjelajahi Tanah Batak. Bagi Arjuna, perempuan yang sama sekali tidak mempunyai masa lalu dengan Tanah Batak itu, kunjungan tersebut layaknya menancapkan jejak kenangan untuk masa depan.

Dari Jakarta, sebagaimana Arjuna, saya pergi ke Tanah Batak dengan menaiki pesawat. Ketika mendarat di Bandara Kualanamu, kami bertiga berbicang-bincang sesaat, dan kemudian menuju Medan dengan mengendarai mobil. Dari ibu kota Sumatera Utara itu, kami melanjutkan perjalanan ke Padangsidimpuan. Selama melintasi sebagian besar Tanah Batak, kami membicarakan banyak hal: dari sejarah orang Batak sampai agama di Tanah Batak; dari silsilah Batak hingga kisah tempat-tempat di Tanah Batak. Tidak ketinggalan, sepanjang perjalanan menuju kota di mana Iwan Simatupang—seorang sastrawan yang kental dengan pandangan eksistensialisme—menghabiskan sebagian masa remajanya itu, kami singgah di sejumlah tempat unik atau bersejarah.
Read More…

Book Review:
Membaca (Kembali) On Political Equality

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


6688._UY475_SS475_Judul Buku: On Political Equality
Penulis: Robert A. Dahl
Penerbit: Yale University Press
Tahun Terbit: 2006

Skor : 3,5/5



Menjelang akhir 1990-an, salah satu koran ternama Jepang bertanya kepada Amartya Sen. Jika diringkas dalam sebuah kalimat, pertanyaan itu kurang lebih seperti ini: Apa kejadian paling penting di abad ke-20? Peraih nobel ekonomi pada 1998 itu tanpa kesulitan memberikan jawaban: kebangkitan demokrasi (Sen, 1999:3). Kitab sejarah menuturkan, demokrasi memang tidaklah diterima begitu saja, baik sebagai gagasan maupun sistem politik di seluruh dunia. Ia bermula dari ide pinggiran, dan seiring dengan cita-cita mewujudkan kebebasan dan kesetaraan—yang diraih dengan tumpahan keringat, darah, dan air mata—berhasil menjadi ide dominan, dan direalisasikan di banyak negara.

Belakangan ini, demokrasi mengalami kemunduran, atau istilah lainnya resesi, di berbagai negara. Sejumlah lembaga internasional melaporkan bahwa kemunduran tersebut tidak lepas dari efek globalisasi, krisis 2008, dan kemunculan populisme di level global. Setelah pandemi korona muncul, pemerintah di sejumlah negara, seperti Hungaria, malahan menggunakan pandemi itu sebagai alasan untuk memperlemah institusi demokrasi (Edgell et al., 2020). Di tengah kemunduran demokrasi tersebut, saya membagikan hasil pembacaan saya, juga sejumlah catatan, atas karya Robert Dahl berjudul "On Political Equality". Membaca (kembali) teks politik itu setidaknya terasa krusial hari-hari ini, sebab kesetaraan politik merupakan topik penting dalam perbincangan demokrasi. Bahkan, tanpa kesetaraan politik, demokrasi boleh dikatakan tidaklah ada. Read More…

Book Review:
Jurnalisme Investigasi:
Mengungkap Kejahatan Pedofilia dalam Lindungan Institusi Agama

Nurul

Nurul Fatin Afifah
Peneliti Populi Center


Poster Film
Judul Film : Spotlight
Genre:
Drama, Kriminal
Sutradara: Tom McCarthy
Tahun Rilis: 2015
Durasi: 129 Menit

Skor : 5/5





Pada tahun 1976 di Boston terjadi kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh seorang pastor katolik bernama Jhon Geoghan. Seorang asisten jaksa wilayah datang ke kantor polisi dan memastikan bahwa tidak ada media yang datang untuk meliput kejadian tersebut. Di dalam ruangan terdapat dua orang anak yang merupakan korban pelecahan seksual sedang didampingi ibunya. Ibu Korban berbincang dengan pimpinan tertinggi gereja di Kota Boston terkait kasus yang sedang menimpa dua anak dibawah umur ini. Pimpinan gereja tersebut memohon kepada sang ibu untuk menyelesaikan kasus tersebut mengingat sumbangsih gereja kepada kehidupan keluarganya sangatlah besar, dia meyakinkan bahwa akan memberhentikan pastor dari gereja. Secara hukum kasus tersebut ditutup dan pihak korban diminta untuk menerima kejadian menyakitkan yang menimpa anak-anaknya. Tidak ada sanksi yang seharusnya diterima pelaku atas kejahatannya. Keluarga korban hanya diberikan janji bahwa sang pastor mendapatkan sanksi pemberhentian tanpa ada jaminan kelak di kemudian hari tidak akan ada kasus serupa terjadi lagi.

Film Spotlight yang di sutradarai oleh Tom McCarthy menceritakan tentang investigasi jurnalis dalam mengungkap kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh pastor katolik di Kota Boston, Amerika Serikat. Film ini diangkat dari kisah nyata. Pada tahun 2001, investigasi ini dilakukan oleh surat kabar harian ternama yaitu The Boston Globe. Kisah ini bermula dari kedatangan editor harian yang baru, Marty Baron (Liev Screiber). Setelah Baron membaca kolom Globe tentang seorang pengacara, Mitchell Garabedian (Stanley Tucci) yang mengatakan bahwa dia memiliki cukup bukti bahwa Kardinal Bernard Law sebagai Uskup Agung Boston tahu bahwa pastor Jhon Geoghan melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak dan gereja tersebut memilih melindungi dan tidak melakukan apapun. Baron melalui editor tim, Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), meminta Tim Spotlight untuk menyelidiki. Tugas untuk menghubungi Garabedian diambil oleh Michael Rezendes (Mark Ruffalo), sementara rekan-rekannya, Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) dan Matt Caroll (Brian d‘Archy James) menelusuri kasus- kasus lain yang dinilai memiliki pola yang sama. Baron pun mengambil langkah hukum untuk membuka segel terhadap dokumen yang menyatakan bahwa Gereja Katolik mengetahui kasus pastor-pastor ini. Read More…

Book Review:
Islam dan Demokrasi
dalam Pandangan PKS dan HTI

foto-dimas

Dimas Ramadhan
Peneliti Populi Center

cover-pks-dan-hti-genealogi-dan-pemikiran-demokrasi

Judul Buku: PKS dan HTI : Genealogi Dan Pemikiran Demokrasi
Tahun terbit : 2006
Penulis: Arief Ihsan Rathomy
Penerbit : Research Center for Politics and Government (PolGov)
Jumlah halaman: 236

Skor : 3/5



Pada pertengahan tahun 2018, ketika persaingan politik jelang pemilu mulai memanas, muncul sebuah video yang berisi ajakan untuk mengganti presiden dan juga mengganti sistem. Suara takbir “Allahuakbar” yang muncul setelahnya seolah membawa pesan, bahwa ajakan tersebut merupakan misi mulia agama Islam yang penting untuk dilakukan. Ajakan tersebut disampaikan oleh Ismail Yusanto, jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Mardani Ali Sera, salah seorang pejabat teras PKS.

Saya tidak hendak membahas aspek hukum dari ajakan yang diduga makar tersebut. Pun tidak ingin mendiskusikan eksploitasi agama di ruang publik, termasuk dalam ranah politik elektoral. Hanya saja kebersamaan Mardani Ali Sera dengan Ismail Yusanto, yang dalam video tersebut tampak sangat akrab, rasanya sulit dibayangkan terjadi pada masa-masa sebelumnya, terutama pada medio tahun 2000-an. Meski pun sama-sama berpijak pada gerakan islam, keduanya memiliki kecenderungan yang berseberangan. Perbenturan kepentingan PKS dan HTI terasa jelang pemilihan umum; ketika PKS berjuang menjaring sebanyak-banyaknya pemilih muslim, terutama di perkotaan dan kampus-kampus, HTI mengkampanyekan agar umat islam Indonesia menolak demokrasi, termasuk pemilu. Perang dingin di antara mereka pernah penulis rasakan sewaktu aktif di HMI pada masa kuliah dulu. Di tingkat kampus, organisasi mantel PKS dan HTI, yakni KAMMI dan Gema Pembebasan, seringkali berseteru ketika pertemuan antar-ormas mahasiswa terutama ketika menyikapi isu-isu yang bersinggungan dengan agenda ke-islaman. Tidak jarang, kehadiran yang satu menjadi penyebab ketidakhadiran yang lain dalam rapat aliansi mahasiswa.
Read More…

Film Review:
Menghapus Mitos Menstruasi Lewat Film Pad Man

Darin

Darin Atiandina
Peneliti Populi Center


Pad Man Poster

Judul Film: Pad Man
Genre: Drama-Comedy
Sutradara: R. Balki
Tahun Rilis: 2018
Durasi: 140 menit

Skor : 4/5



“Jika hati bersih, semua akan bersih,” begitu kata Gayatri ketika suaminya, Lakshmikant Chauhan, memarahi dirinya yang menggunakan kain kotor saat menstruasi. Lakshmi merasa begitu kesal sekaligus sedih saat mengetahui istri yang teramat ia cintai itu menggunakan kain kotor sebagai ganti dari pembalut. Saking kotornya kain tersebut, Lakshmi bahkan enggan menggunakannya untuk sekedar mencuci sepeda. Sebagian besar perempuan di India bernasib sama dengan Gayatri. Penelitian mengungkapkan 89% perempuan di India masih menggunakan kain ketika menstruasi, sisanya sebanyak 2% menggunakan kapas (2%), 7% menggunakan pembalut, dan 2% menggunakan abu ketika menstruasi (Pallapothu, 2018). Bukan masalah jika kain yang dipergunakan adalah kain bersih. Namun, akan jadi masalah ketika kain yang digunakan adalah kain kotor yang dicuci ala kadarnya kemudian dijemur tanpa terkena sinar matahari langsung. Mitos, kesalahpahaman, serta stigma di India akan menstruasi yang membutakan kesehatan perempuan adalah isu yang coba diangkat dalam film Pad Man.

Pad Man adalah sebuah film yang terinspirasi dari kehidupan Arunachalam Muruganatham. Dia adalah seorang aktitivis sosial dari sebuah desa kecil di Tamil Nadu yang memperkenalkan pembalut berbiaya murah untuk perempuan di India. Ide pembalut murah tersebut berawal dari keprihatinan Muruga terhadap istrinya yang menggunakan kain kotor saat menstruasi. Oleh sutradara R. Balki kisah hidup Muruga dan sang istri diadaptasi menjadi kisah pasangan Lakhsmi dan Gayatri. Kehidupan pernikahan keduanya mulai diuji ketika sang suami mulai mempersoalkan praktik menstruasi yang tidak sehat yang dilakukan oleh sang istri. Read More…

Book Chapter Review:
Demokrasi Madisonian: Upaya Menentang Para Tiran

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


Cover Buku_dahl

Judul Buku: A Preface to Democracy Theory
Judul Artikel: Chapter 1. Madisonian Democracy dalam A Preface to Democratic Theory
Penulis: Robert A. Dahl
Penerbit: The University of Chicago Press
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 30 hlm (h.4-34)

Skor : 4/5



Demokrasi secara prosedural selalu lekat dengan sistem voting. Pemegang tampuk kekuasaan ialah yang dipilih oleh suara mayoritas, sebaliknya, minoritas sering muncul sebagai efek samping proses demokratisasi. Ia selalu menghasilkan winner and looser. Meski begitu, banyak pihak menganggap demokrasi sebagai sistem kontestasi yang paling manusiawi karena kemampuan komprominya dengan hal-hal antagonistik dan kemampuan menghindarinya dari kemungkinan pertarungan fisik yang dapat menimbulkan kucuran darah layaknya suksesi kepemimpinan dimasa kerajaan. Dilihat dari sejarah kehadirannya, demokrasi hadir salah satunya sebagai bentuk perlawanan terhadap tirani yang sering menimbulkan kesewenang-wenangan atas kuasa yang dimiliki.

Lantas, bagaimana demokrasi benar-benar dapat menjadi ramuan mujarab penangkal tirani dan wujud kompromi antara kekuatan mayoritas dan minoritas?. Robert A. Dahl mengulas bagaimana James Madison (Presiden ke-empat Amerika Serikat) meletakkan dasar-dasar demokrasi yang sangat menjunjung tinggi hak-hak individu serta menjadi peletak dasar tatanan sistem pemerintahan di negeri Paman Sam yang kemudian lebih dikenal dengan teori demokrasi “Madisonian”. Dahl sangat mahir dalam menjelaskan bagaimana cara kerja teori kompromi yang pada beberapa sisi juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Read More…

Book Review:
Mirah dari Banda

anto

Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center

Sampul Mirah dari Banda


Judul Novel: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit: 2010
Jmlh halaman: 388

Skor : 4/5





Kita diajak tenggelam dalam romantisme sejarah dan cerita tentang Banda, begitulah gambaran yang ingin diperlihatkan Hanna Rambe dalam tulisannya kali ini. Banyak cerita menggembirakan, yang membuat kita seakan ingin mengunjungi setting lokasi yang diceritakan, namun di sisi lain, ada pula kegetiran yang diperlihatkan Rambe. Bukan untuk membuat Banda seakan menyeramkan, namun ada sebuah cerita yang ingin digambarkan Rambe bahwa di balik keindahan yang dinikmati dari tokoh-tokoh yang dimasukkan ke dalam tulisan, ada pula cerita pilu di balik keindahan tersebut. Dalam penulisannya, Rambe membagi ke dalam 10 (sepuluh) bagian.

Cerita berawal dari kedatangan Wendy (Rowenna Higgins), Matthew Morgan (Matt), Diah, Ratna, Muhammad Zakaria (Jack) ke Kepulauan Banda. Wendy dan Matthew adalah pasangan suami-istri, begitu juga dengan Jack-Ratna. Sudah lebih dari dua tahun, Wendy dan suaminya berada di Indonesia, tepatnya di tanah Sumatra karena Matt bekerja di salah satu perusahaan tambang di sana. Ketertarikan terhadap Banda dimulai dari kisah yang selalu di ceritakan Jack. Ia adalah putra asli tanah Maluku. Meskipun tidak lahir di Banda, namun di Ambon, ia memiliki keluarga besar dari ibunya di Banda. Bahkan, masa kecilnya banyak ia habiskan di Banda. Oleh karena itu, cerita tentang Banda cukup ia kuasai untuk membuat pasangan suami tersebut begitu tertarik mengunjungi Banda. Read More…

Book Review:
Menyoal Instrumen Kebijakan Publik

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

carrot_stick
Judul Buku: Carrots, Sticks & Sermons: Policy Instruments and Their Evaluation Penulis: Marie-Louise Bemelmans-Videc, Ray C. Rist, & Evert Vedung Penerbit : New Brunswick Tahun Terbit: 1998 Jumlah Halaman: 281 hlm.

Skor : 4/5


Apabila politik adalah otak, maka instrumen kebijakan adalah otot-ototnya. Illustrasi ini menunjukkan bagaimana peranan fundamental instrumen kebijakan dalam politik. Setiap kebijakan publik yang dirumuskan pada dasarnya adalah proses politik, pun sebaliknya, apapun keputusan politik selalu berujung pada perumusan kebijakan publik. Buku ini mencoba untuk membaca bagaimana instrumen kebijakan publik digunakan dan konsekuensinya. Dewasa ini kajian terkait dengan kebijakan publik berujung pada dua paradigma besar, meski saat ini sedikit usang, dua paradigma tersebut yakni government dan governance.

Kedua cara pandang ini memiliki perbedaan yang fundamental. Paradigma government melihat bahwa negara merupakan aktor yang paling menentukan dalam proses pembuatan kebijakan publik, sebaliknya paradigma governance menekankan pada bekerjanya jejaring (multi aktor) dalam proses pembuatan kebijakan. Meski keduanya sedikit berbeda, keduanya berdiri pada kesepahaman bahwa diperlukan instrumen kebijakan. Buku ini memberikan satu gambaran baru. Apabila persoalan kebijakan publik sering dilekatkan dengan bagaimana struktur kebijakan dalam klasifikasi Etzioni yang membagi kebijakan dalam tiga kategori besar yakni coercive, remunerative, dan normative. Maka klasifikasi kebijakan dalam buku ini dimodifikasi dengan melihat dimensi legitimasinya (dukungan rakyat pada pemerintahan yang terbentuk/melakukan kebijakan).
Read More…

Book Review:
Pembiayaan Perang dan Pembentukan Negara

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center


coersion, capital and european states
Judul Buku: Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990
Penulis: Charles Tilly
Penerbit: Basil Blackwell Publisher
Tahun Terbit: 1990
Jumlah Halaman: 278 hlm.

Skor : 4,5/5




Pembiayaan perang mempengaruhi pembentukan negara. Demikian thesis statement Charles Tilly (selanjutnya ditulis Tilly) di bukunya yang berjudul “Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990” dalam upaya menjelaskan bagaimana pembentukan negara di daratan Eropa. Di antara banyak hal yang berkembang dan berperan penting pada kurun waktu 990-1990, terdapat dua komponen penting pembentukan negara, yakni kapitalisme dan militer/instrumen paksaan. Keduanya bertemu dalam satu agenda bersama, yakni pembiayaan perang. Perang membutuhkan pembiayaan yang berasal dari perkembangan kapitalisme, pun demikian dengan kapitalisme yang membutuhkan perlindungan dari militer. Dalam buku ini, Tilly memberikan deskripsi menarik terkait bagaimana proses menjadi (menggunakan process tracing) sebuah negara. Utamanya dilihat dari bagaimana kekuasaan (power) dikonsolidasikan dan terkonsolidasikan.
Read More…

Book Review:
Sisi Lain Si Tukang Kritik Profesional

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

Arief Budiman (Soe Hok Djin) Melawan Tanpa Kebencian


Judul Buku: Arief Budiman (Soe Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian Penulis: KH. Mustofa Bisri, et al. Penerbit: New Merah Putih Tahun Terbit: 2018

Skor : 3/5

Arief Budiman (AB) adalah tukang kritik profesional. Jika ingatan saya tidak berkhianat, julukan itu diberikan oleh Goenawan Mohamad (GM) kepada sahabat karibnya itu di salah satu esai Catatan Pinggir (Caping). Dalam tulisan itu, GM menulis tentang sikap AB yang dulu dikenal dengan nama Soe Hok Djin dalam menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Rasa-rasanya, julukan itu ada benarnya. Dalam lintasan sejarah negeri ini, hampir semua presiden tidak pernah luput dari kritik keras kakak Soe Hok Gie (Gie) itu. Bahkan, Gus Dur, sahabat dekat AB, juga korban kritiknya.

Kendati dikenal banyak orang, baik itu sebagai seorang intelektual, oposan, tokoh gerakan, dan sastrawan, sisi lain kehidupan AB masih jarang terungkap. Buku berjudul “Arief Budiman (Soe Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian” mencoba untuk menghadirkan kehidupan, ide, dan proses pengembaraan intelektual AB kepada orang-orang, terutama generasi yang tidak sempat mengenalnya. Bagi mereka yang belum mengenal atau hanya mengenal AB dari karya-karyanya, sejumlah tulisan, memorabilia foto, dan komik tentang AB di buku ini sedikit banyak bisa lebih membantu untuk mengenal AB.
Read More…

Book Review:
Manusia dan Tanah Minahasa

Nurul

Nurul Fatin Afifah
Peneliti Populi Center


Cover Buku Minahasa
Judul Buku: Minahasa
Penulis: N. Graafland
Tahun Terbit: 1991
Penerbit: PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta
Review:
  • Bab I, Asal Usul Leluhur
  • Bab II, Masyarakat dan Pemerintahan
  • Bab III, Cakalele dan Masyarakat Cina
  • Bab IV, Mapalus
  • Bab V, Perkebunan Rakyat

Skor : 4/5





Jika bicara tentang Minahasa, kita dapat mengacu pada daerah geografis tertentu, kesatuan politik atau kelompok suku yang mendominasi wilayah tertentu. Secara geografis, wilayah Minahasa berada di ujung utara Pulau Sulawesi. Untuk tujuan politis dan administratif, Provinsi Sulawesi Utara selanjutnya dibagi menjadi kabupaten-kabupaten dan kotamadya. Buku Minahasa adalah catatan perjalanan yang dilakukan oleh N. Graafland ke pulau paling utara di Sulawesi pada pertengahan abad ke 19. Dalam pemaparannya, Graafland melukiskan alam Minahasa mulai dari jalan, pemukiman, penampilan penduduk pribumi, serta lingkungan geografis yang sebagian besar masih perawan. Hal yang paling menarik dari tulisan ini adalah terkait tata kehidupan sosial, bahasa, sistem kepercayaan, mitologi dan legenda, nilai-nilai yang hidup di tengah rakyat, serta persentuhan rakyat dengan perdaban dari luar, dalam hal ini dengan masyarakat Cina dan Eropa, termasuk dengan agama Islam dan Kristen. Read More…

Article Review:
Bahasan Teknis Implementasi Smart City di London

nona_evita_2

Nona Evita Wijanarko

Peneliti Populi Center


smart_city

Judul Artikel: Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities
Penulis: Claire Thorne dan Catherine Griffiths
Penerbit: Springer
Tahun Terbit: 2014
Jumlah halaman: 11

Skor : 4/5




Artikel yang berjudul Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities yang ditulis oleh Claire Thorne dan Catherine Griffiths membahas tentang upaya pemerintah Inggris yang seperti banyak pemerintah lainnya yang menempatkan implementasi sistem Kota Cerdas menjadi agenda prioritas. Artikel ini menjelaskan komponen-komponen yang dapat menjadikan suatu kota menjadi kota pintar dan memeriksa kebutuhan yang muncul untuk menciptakan kota London yang cerdas. “Kecerdasan” mungkin tidak sepenuhnya berasal dari solusi teknologi, tetapi dari mekanisme yang digunakan untuk melibatkan dan memberikan jenis kota baru.

Claire Thorne dan Catherine Griffiths membagi tulisan ini menjadi 7 bagian. Bagian pertama berisi paparan soal sejarah revolusi industri dari masa ke masa yang pada akhirnya membawa sampai ke titik di mana dunia dihadapkan pada big data dan open data yang mendorong adanya inovasi agar dapat memanfaatkan data tersebut. Teknologi yang membuat, mengumpulkan, mengelola data, dan memungkinkan untuk mengekstraksi nilai dari data, semuanya sedang dikembangkan dan diadopsi dengan cepat. Dari pengembang Read More…

BookReview:
Meminum Makanan A la Rote

anto

Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center

Gambar Sampul Panen Lontar

Judul Buku: Panen Lontar; Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu
Penulis: James J. Fox
Penerbit: Pustaka Sinar Harapan
Tahun terbit: 1996
Jumlah halaman: 351

Skor : 4/5




Pertama, saya akan menyampaikan terlebih dahulu alasan di balik pemilihan buku ini untuk direview. Kemudian ulasan terkait isi dari buku akan dijelaskan selanjutnya. Beberapa gambar di Pantai Nambrela menarik perhatian saya. Gambar ini saya temukan di laptop saya di sebuah folder perjalanan waktu saya ke Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Terlihat jernihnya laut di bagian selatan Pulau Rote, pun dengan kondisi pantai yang bersih dan tidak terlalu ramai. Suasana yang sangat tenang kembali saya ingat setelah melihat gambar-gambar tersebut. Namun ada pertanyaan besar yang kemudian muncul, lalu apa yang saya dapat dari sembilan jam saya di Pulau Rote? Apakah hanya pengalaman menghirup udara segar di pantai yang sebelumnya pernah didatangi Presiden Jokowi? Pertanyaan ini kemudian mengantarkan saya untuk mencari beberapa referensi bacaan tentang Rote. Hasilnya, sebuah buku dengan judul Panen Lontar menarik perhatian saya untuk saya baca.

Buku ini adalah karya James Fox, seorang guru besar dari Australian National University. Tentu judul Panen Lontar adalah hasil dari terjemahan dari karya aslinya yang berjudul Harvest of Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia (1977). Penelitiannya ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan tetap memperhatikan konteks historis dari Rote dan Sawu. Penelusuran dari referensi untuk penelitiannya tidak berjalan mudah, karena memang masih sulit menemukan hasil kajian tentang Rote dan Sawu. Selain caranya untuk mencari dokumen-dokumen pendukung dalam penelitiannya, teknik yang ia gunakan dalam penelitian ini pun juga terbilang menarik karena ia melakukan grounded research. Read More…

Article Review:
Kenormalan Baru Hanya Sebatas “Click Bait”?

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


the_new_normal


Judul Artikel: The New Normal
Penulis: Amitai Etzioni
Penerbit: Sociological Forum
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 11 hlm.

Skor : 3/5



Sayup-sayup, kini mulai nyaring terdengar istilah New Normal dalam setiap pewartaan di media. Istilah yang mungkin tidak akan asing, namun bisa jadi kehilangan makna karena hanya sebatas tagar. Sejatinya, term tersebut hadir dan mulai dikenal semenjak peristiwa Global Financial Crisis (GFC) pada pertengahan 2007 hingga awal 2009.

Amitai Etzioni adalah salah seorang yang pertama kali mengulas mengenai kenormalan baru dalam artikelnya yang berjudul “The New Normal”. Ia menggambarkan hal tersebut dari bagaimana kebanyakan orang Amerika mengevaluasi kembali cara hidup mereka dan mulai memaknai kepuasan dari sumber non-konsumeris. Sebagai sebuah fenomena, kenormalan baru muncul atas respon masyarakat Amerika terhadap GFC dengan mulai menyederhanakan hidup mereka, mulai berfikir untuk lebih banyak menabung dan merenungkan jauh lebih kedepan atas keberlangsungan hidup mereka. Read More…

Article Review:
The Tragedy of the Commons

Darin

Darin Atiandina
Peneliti Populi Center


f363c-illustration-public-domain-tragedy-e1547452760913
Sumber ilustrasi: fritsahlefeldt.com

Judul Artikel: The Tragedy of the Commons
Penulis: Garret Hardin
Tahun Terbit: 1968
Penerbit: American Association for the Advancement of Science
Jumlah Halaman: 6

Skor : 4/5



Artikel berjudul The Tragedy of Commons yang ditulis oleh Garret Hardin secara garis besar berbicara mengenai fenomena populasi manusia yang semakin hari terus mengalami peningkatan, akan tetapi, tidak berbanding lurus dengan sumber daya yang ada di dunia untuk memenuhi kebutuhan populasi tersebut. Seperti apa yang dikatakan Thomas Malthus, Hardin mengibaratkan pertumbuhan penduduk seperti deret ukur (1,2,4,8…), sementara pertumbuhan sumber daya sama seperti deret hitung (1,2,3,4,5…). Yang artinya, jumlah manusia yang hidup di bumi terus bertambah di tengah pertumbuhan sumber daya yang terbatas.

Sama seperti judul artikel yang ditulisnya, tragedy, menurut Hardin seluruh sumber daya di dunia akan berakhir dengan tragedi. Hardin memberi contoh dengan meminta pembacanya membayangkan sebuah padang rumput terbuka. Padang rumput ini yang disebut Hardin sebagai sumber daya bersama atau commons. Hardin mengatakan tragedi akan terjadi begitu para penggembala mengetahui hewan ternak mereka bisa secara bebas memakan rumput di padang tersebut. Para penggembala akan mulai berdatangan membawa ternak pula. Keesokan harinya, para penggembala itu datang lagi dengan jumlah ternak yang lebih banyak. Kedatangan penggembala dan ternak akan terus berulang dan jumlahnya akan terus bertambah sampai akhirnya rumput di padang itu habis, berakhir punah karena tidak sanggup lagi menanggung beban populasi ternak.

Read More…

Book Review:
Jalan Baru Memahami Populisme

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

what is populism

Judul Buku: What Is Populism?
Penulis: Jan- Werner Müller
Penerbit: University of Pennsylvania Press
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5



Satu dekade terakhir, istilah populisme, sekurang-kurangnya, tengah naik daun. Para sarjana, juga laporan media massa, kerap memberikan cap populis kepada politisi, partai politik, dan gerakan politik di berbagai negara. Menariknya, para politisi, juga pendukung mereka, tidak jarang saling serang dengan menggunakan terminologi tersebut. Di Amerika Serikat, misalnya, Donald Trump dan Bernie Sanders mendapat label populis dari suporter lawan politik mereka. Pada titik ini, populisme menampakkan diri hampir di seluruh aktor politik. Fenomena seperti itu memunculkan pertanyaan ini: Apakah aktor politik yang berkontestasi merebut kekuasaan secara otomatis menjadi populis? Lebih spesifik lagi, apa kriteria yang bisa digunakan untuk menilai apakah satu-dua, atau lebih, aktor politik merupakan populis atau bukan?

Serangkaian pertanyaan itu coba dijawab buku berjudul “What Is Populism?”. Karya Jan-Werner Müller itu dibuka dengan ketidaksepakatannya dengan literatur dominan yang membahas populisme. Profesor di Princeton University itu tidak mengikuti, bahkan menyoal, pendekatan umum dalam melihat populisme, yakni kualitas kebijakan yang diajukan oleh politisi atau partai politik, analisis sosiologis yang mengkaji dari sisi kelas, dan aspek sosial-psikologis yang fokus pada perasaan pemilih, seperti kemarahan dan ketakutan (h. 10; h. 14-18). Berangkat dari situ, Müller mengkaji populisme dari Read More…

Book Review:
Jaringan Kekerasan dalam Ruang Sosial

Nurul

Nurul Fatin Afifah
Peneliti Populi Center

IMG_3977

Judul Buku: Spiral Kekerasan
Penulis: Dom Helder Camara
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2005

Skor : 4/5



Kekerasan merupakan realitas multidimensi, tidak bisa dipisahkan keterkaitannya antara kekerasan yang satu dengan kekerasan lainnya. Terdapat satu benang merah yang menjadi akar utama dari serangkaian kekerasan yang muncul bertubi-tubi dalam masyarakat, Dom Helder Camara menyebutnya dengan spiral kekerasan. Teori spiral kekerasan bersifat personal, institusional, dan struktural. Beberapa faktor yang menjadi sumber terjadinya kekerasan yaitu ketidakadilan, kekerasan pemberontakan sipil dan represi negara. Ketiganya saling berkait satu sama lain, kemunculan kekerasan satu disusul dan menyebabkan kemunculan kekerasan lainnya.

Dari ketiga bentuk kekerasan itu yang paling mendasar dan menjadi sumber utama adalah ketidakadilan. Camara menyebut kekerasan jenis ini dengan kekerasan jenis 1. Karena sifatnya yang mendasar dan menjadi sumber dari kekerasan lainnya. Ketidakadilan itu terjadi sebagai akibat dari upaya kelompok elit nasional mempertahankan kepentingan mereka sehingga terpelihara sebuah struktur yang mendorong terbentuknya kondisi “sub human”, yaitu kondisi hidup di bawah standar layak untuk hidup sebagai manusia normal. Read More…

Book Review:
Politik Popular dan Institusionalisasi Demokrasi di Indonesia

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

dilemma of populist transactionalism

Judul Buku: Dilemmas of Populist Transactionalism
Penulis: Luky Djani & Olle Tornquist
Penerbit: PolGov
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 91 hlm.

Skor : 3,5/5



Gerakan populis di suatu negara, tidak dapat dilepaskan dari bagaimana latar belakang historis negara tersebut. Sebagai contoh, gerakan-gerakan populis di negara-negara utara (north countries) yang relatif merupakan negara-negara maju, berbeda dengan negara-negara selatan (south countries) yang kerap dinilai sebagai negara berkembang. Pemilahan antara negara utara dan selatan pun telah menjadi debat tersendiri bagi kalangan ilmuwan sosial. Hanya saja, apabila kita menggunakan gelombang demokratisasi yang dikemukakan oleh Samuel Huntington sebagai kerangka argumentasi, maka kategorisasi besar berupa negara utara dan negara selatan menjadi relevan untuk membaca perkembangan populisme.

Berbeda dengan kajian populisme yang ada, terutama dalam melihat perkembangan populisme, rata-rata kajian populisme melihat dilekatkan pada perkembangan konseptual serta studi kasus yang melekat dengan kajian-kajian sosialisme, terutama di kawasan Amerika Latin (Pappas, 2016, h.4-6). Buku ini memberikan penekanan yang berbeda dengan mengaitkan perkembangan populisme dengan gelombang demokratisasi. Dalam gelombang demokratisasi, hal yang patut diperhatikan adalah kontradiksi antar kelas yang terjadi selama periode demokratisasi tersebut. Di awal berdirinya Republik Indonesia, terdapat beberapa gerakan massa yang sangat kuat, salah satunya ada pada periode tahun 1960-an. Gerakan-gerakan budaya massa, terutama pada periode politik aliran (termasuk masa ketika pemilu 1955), berakhir ketika Orde Baru (Orba) berkuasa. Read More…

Book Review:
Quo Vadis Muslim Demokrat Indonesia

foto-dimas

Dimas Ramadhan
Peneliti Populi Center

Muslim_Demokrat
Judul Buku : Muslim Demokrat. Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik Di Indonesia Pasca Orde Baru
Penulis: Saiful Mujani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2007
Jumlah halaman: 365

Skor : 5/5



Pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, kita disuguhi dengan ekspresi keagamaan kelompok islam dalam proses elektoral yang belum pernah muncul sebelumnya : memusuhi, bahkan mengancam, figur yang berbeda agama, persekusi kepada orang per orang yang menjadi pendukung kubu lawan di tempat umum, hingga masifnya penggunaan masjid sebagai tempat kampanye dan agitasi politik. Suasana seperti ini tidak berhenti pada Pilkada DKI Jakarta saja, melainkan berlanjut pada perhelatan Pilkada 2018, terutama di Jawa Barat, hingga Pemilu tahun 2019. Dari rangkaian proses elektoral tersebut, muncul istilah Perang Badar meski pun sayup-sayup, seolah umat islam di Indonesia sedang dalam keadaan berperang dengan kelompok lain sebagaimana dialami Nabi Muhammad ratusan tahun yang lalu. Read More…

Book Review:
Perang Tagar: Semantik Ilmu Administrasi Negara?

foto_jefri

Jefri Adriansyah
Peneliti Populi Center


cover_the_new_public_service

Judul Buku: The New Public Service: Serving not Steering 4th Edition
Penulis: Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt
Penerbit: Routledge
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 266 hlm.

Skor: 4/5


Ini bukan tentang fenomena kampanye di tahun politik. Tidak pula tentang perebutan popularitas publik. Ini semua tentang perkembangan paradigma ilmu administrasi negara yang sangat dinamis dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir yang lekat dengan perang tagar.

Saling lempar tagar dalam ilmu administrasi negara dimulai dari terbitnya tulisan David Osborne dan Ted Gaebler yang berjudul “Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector” pada tahun 1991. Mereka menganggap bahwa sudah tidak jamannya lagi pemerintah atau negara memiliki peran dominan dalam penyediaan layanan publik kepada masyarakat. Pemerintah dianggap hanya cukup memberikan panduan dan arahan sebagai jaminan agar pelayanan publik dapat benar-benar dijalankan oleh sektor swasta. Semakin sedikit peran pemerintah, maka publik akan semakin mendapatkan pelayanan yang efisien. Hal ini karena sektor swasta dianggap memiliki keunggulan terkait mekanisme pasar persaingan sempurna yang dapat menghadirkan barang dan jasa berkualitas bagi konsumen. Oleh karenanya pemerintah hanya perlu berperan sebagai katalisator. Dari gagasan-gagasan tersebut kemudian muncul adanya jargon steering than rowing, enabling than providing serta delapan pokok gagasan lainnya mengenai New Public Management.
Read More…

Film Review:
Joshua Wong
dan Gerakan Sosial di Hong Kong

Darin

Darin Atiandina

Peneliti Populi Center

Joshua_ Teenager vs_ Superpower (2017) - Mobilized by teenage activist Joshua Wong, young citizens of Hong Kong take to the streets in a bid to preserve their history of autonomy from China

Judul Film: Joshua Wong. Teenager Vs. Superpower
Genre: Dokumenter
Sutradara: Joe Pistaclla
Tahun Rilis: 2017
Durasi: 78 menit

Skor: 4/5



Tubuhnya kurus, tidak terlalu tinggi, berkacamata tebal, serta hobinya adalah bermain video game. Sekilas, Joshua Wong nampak seperti kebanyakan pelajar di Hong Kong. Tetapi, nyatanya ia tak sama. Yang membuat pria dengan nama asli Wong Chi-Fung ini berbeda adalah keberanian yang dimilikinya. Joshua Wong, sejak usia 14 tahun sudah menunjukkan ketangguhannya untuk menentang kekuasaan Beijing di Hong Kong. Ketika remaja lain seusianya sibuk menghabiskan libur musim panas dengan bermain, Joshua memilih untuk memimpin Scholarism, sebuah gerakan sosial yang memprotes rencana pemerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral (NME). Read More…

Film Review:
Potret Sisi Lain Pilpres 2014

nona_evita_2

Nona Evita Wijanarko

Peneliti Populi Center


yang ketujuh

Judul Film: Yang Ketu7uh
Genre: Dokumenter
Sutradara: Dhandy Dwi Laksono
Ko-sutradara: Hellena Y. Suisa
Produksi: Watchdoc
Tahun Rilis: 2014
Durasi: 1 jam 15 menit

Skor: 4/5




Awal saya melihat judul film dokumenter ini, saya berpikir kalau film ini akan membahas soal kontroversi Pemilihan Presiden tahun 2014. Dari judul film, terlihat jelas bahwa di tahun tersebut, Indonesia memang sedang menanti Presiden yang ketujuh. Masih hangat di benak masyarakat Indonesia soal perbedaan hasil hitung cepat antara pasangan calon Presiden nomor urut 1 (Prabowo Subianto-Hatta Rajasa) dan pasangan calon Presiden nomor urut 2 (Joko Widodo-Jusuf Kalla). Media sukses membelah suara masyarakat. Terbukti sampai sekarang masih saja ada sebutan Kampret dan Cebong untuk pendukung Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Padahal sudah hampir 6 (enam) tahun lamanya Pemilihan 2014 berlangsung, bahkan sudah ada Pemilihan Presiden terbaru yaitu tahun 2019. Namun tetap saja, sebutan ini masih terus ada.
Read More…

Book Review:
Dominasi Elit dan Penyalahgunaanya

Photo Ade Ghozaly

Ade Ghazali

Peneliti Populi Center



Cover Buku

Judul Buku: Habib Palsu Tersandung Cinta
Penerbit: Pinus Book Publisher, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2010
Jumlah Halaman: 234 Halaman
Penulis : Ubay Baequni


Secara fitrah (alamiah) sifat dasar manusia adalah egois bertindak sesuai dengan keinginannnya (free will) dan selalu melakukan upaya dominasi terhadap di luar dirinya. Namun sebagai mahluk sosial, keinginan-keinginan tersebut dibatasi oleh konsensus untuk hidup bersama. Dengan kata lain kebebasan diri manusia dibatasi oleh hak orang lain. Meskipun demikian, faktor kepentingan pribadi dan kelompok menjadikan beberapa individu untuk membentuk ikatan tertentu dalam upaya untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan, pengakuan dan dukungan sosial untuk mempengaruhi dan mendominasi diluar diri dan kelompoknya.

Read More…

Book Chapter Review:
Materialisme dalam Ekologi Budaya

anto
Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center


693346435

Judul Buku : Engaging Anthropological Theory. A Social Science and Political History
Penulis : Mark Moberg
Tahun Terbit : 2013
Penerbit : Routledge, New York
Review :
  • Chapter 11, Ecological and Neo-evolutionary approaches (p.238)
  • Chapter 12, Contamporary materialist and ecological approaches (p.259)



Mana yang lebih dulu ada? Manusia atau bumi? Ini bukan perkara sulit seperti halnya ayam dan telur. Riwayatnya memang banyak, namun yang jelas secara garis besar manusia kemudian diturunkan ke bumi untuk melanjutnya fungsinya sebagai manusia, tentu dari berbagai macam versi. Apakah Adam, manusia purba, dan lainnya, semua mempunyai fungsinya masing-masing. Seiring dengan perkembangannya, manusia dan alam jelas memiliki ketergantungan. Manusia menggantungkan hidupnya dari alam, pun begitu pula dengan alam, ia tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya sentuhan manusia. Ada hubungan timbal balik yang saling melekat. Ini tidak sedang melihat mana yang lebih dulu, namun lebih kepada kaitan kedua unsur tersebut. Read More…