Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Book Review:
Sekeping Mozaik Sjahrir Di Parapat

foto-dimas

Dimas Ramadhan
Peneliti Populi Center

Cover kaum intelektual dan perjuangan kemerdekaan

Judul Buku : Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan: Peranan Kelompok Sjahrir
Tahun terbit : 1993
Penulis : J.D Legge
Penerbit : Pustaka Utama Grafiti
Jumlah halaman : 280

Skor : 4/5



Dalam lawatan ke Sumatera Utara tempo hari, saya bersama dengan Erwinton dan Pak Ade melakukan napak tilas jejak Bung Karno saat diasingkan oleh Belanda: Mengunjungi Pesanggrahan Bung Karno. Kebetulan waktu itu bulan Agustus, bulan dimana seluruh rakyat Indonesia memperingati kemerdekaan. Pesanggrahan yang terletak di Parapat, Kabupaten Simalungun, tersebut merupakan rumah lama bergaya Eropa yang dominan berwarna putih, dan menghadap langsung ke Danau Toba. Sambil mencermati bangunan bersejarah itu, saya pun menelusuri cerita di balik pesanggrahan tersebut melalui gawai. Berdasarkan penelusuran, Sukarno ternyata tidak sendirian diasingkan di rumah tersebut pada 1949. 'Putra Sang Fajar' itu dibuang ke sana bersama Agus Salim dan Sutan Sjahrir.

Sebuah pertanyaan kemudian muncul dibenak saya: Mengapa tempat itu dinamakan sebagai Pesanggrahan Sukarno? Mengapa bukan Pesanggrahan Para Bapak Bangsa? Barangkali Mohammad Hatta, orang yang didaulat sebagai wakil presiden mendampingi Sukarno, tidak dibuang di tempat itu. Atau, seperti jawaban klise, alur sejarah ditentukan dan diceritakan oleh para pemenang. Dalam konteks ini, Agus Salim dan Sutan Sjahrir, suka atau tidak, bukanlah pemenang dalam sejarah Indonesia. Namun, saya rasa kita sudah sama-sama mengetahui bahwa Sukarno memang berbeda dengan kedua rekan pembuangannya tersebut. Ia dianggap sebagai pemimpin kelompok nasionalisme populis yang pandai berpidato membakar semangat massa. Sementara itu, Agus Salim merupakan mantan akitivis Syarikat Islam yang identik Read More…

Book Chapter Review:
Merangkai Modal Sosial

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


fukuyama

Judul Bab yang ditinjau: Chapter 1. The Great Disruption
Penulis: Francis Fukuyama
Penerbit: Qalam
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 510 hlm (h.1-228)

Skor : 4/5



Eyang : Le, yuk nginep di rumah Eyang, nemenin Eyang
Cucu : Enggak ah, di rumah Eyang enggak ada wifinya
Eyang : Ya nanti Eyang beliin paket kuota kan bisa, mau ya?
Cucu : Iya, tapi janji ya
Eyang : Iya

Begitu kiranya perbincangan seorang Nenek dengan Cucunya yang baru saja masuk bangku sekolah dasar. Sebuah penggalan dialog yang sebenarnya tidak lazim dan tidak pernah terlintas di benak generasi baby boomers, generasi x maupun generasi y. Hal tersebut setidaknya mulai didapati pada generasi z. Dari penggalan dialog tersebut saya hanya ingin menunjukkan bahwa dunia kini telah mengalami sebuah fase transisi. Sebuah kondisi yang benar-benar nyata yang dahulu pernah George Gilder, Newt Gingrich, Al Gore, Nicholas Negroponte dan pasangan suami istri Alvin dan Heidi Toffler ulas jauh sebelumnya. Bagaimana informasi (yang kini bisa kita representasikan dengan kuota internet) benar-benar merasuk ke dalam relung-relung kehidupan manusia khususnya generasi z yang sejak lahir telah dihidangkan dengan era informasi tersebut.

Era yang juga dikenal sebagai era post-industrial, atau era gelombang ketiga kini benar-benar semakin jelas terlihat. Dalam era transisi memasuki era informasi, banyak hal yang harus mulai dipikirkan, karena faktanya apa yang didambakan para futurolog bahwa perubahan menuju masyarakat informasi akan menciptakan kesejahteraan dan kedewasaan demokrasi, tapi fakta yang muncul tidak selalu demikian. Fukuyama benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi tersebut dengan membayangkan dunia telah menuju era kehancurannya sendiri.
Read More…

Book Review:
What makes us human?

anto

Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center

Human



Judul Film: HUMAN
Sutradara: Yann Arthus-Bertrand
Skenario: Yann Arthus-Bertrand
Tahun: 2015
Durasi: 4 jam 23 menit

Skor : 4/5




Wajah orang-orang dari berbagai belahan negara ditampilkan secara bergantian. Mulai dari Pape yang berasal dari Senegal, kemudian Samantha dari USA, Prasad dari India, Peter dari New Guinea dan masih banyak lagi. Orang-orang ini ditampilkan hanya sebatas wajahnya dengan latar berwarna hitam. Kemudian layar berubah menjadi bentangan luas dari padang gurun di Pakistan. Terlihat orang-orang sedang berjalan di gurun pasir secara beriringan dengan ditemani beberapa hewan ternak. Pemandangan yang diambil dari atas ini kemudian menjadi penanda bahwa film dengan judul “Human” akan dimulai. Film dokumenter yang dirilis pada 12 September 2015 ini diprakarsai oleh Yann Arthus-Bertrand, seorang peduli lingkungan asal Prancis, sekaligus jurnalis dan fotografer.

Love?

Air mata tiba-tiba keluar, seperti tidak bisa lagi dibendung oleh Leonard. Pria berkulit hitam asal Amerika ini menceritakan sering menyakiti orang lain atas dasar love, sebuah pesan yang ia salah artikan selama ini. Bahkan dengan tindakannya tersebut, ia harus masuk penjara. Namun, suatu ketika ia bertemu Agnes yang merubah hidupnya. Agnes adalah ibu sekaligus nenek dari Patricia dan Chris. Apa yang membuat Leonard menangis adalah kenyataan bahwa Agnes sama sekali tidak membencinya, pasalnya, Leonard sudah membunuh Patricia dan Chris. Bagi Agnes, itu sudah menjadi masa lalu. Ini yang membuat Leonard sadar bahwa rasa cinta bukan ditunjukkan dengan cara menyakiti. Read More…

Book Review:
Membatalkan Yang Tunggal di Tanah Batak

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


Perempuan Bernama Arjuna 4 Batakologi dalam FiksiJudul Buku: Perempuan Bernama Arjuna 4: Batakologi dalam Fiksi
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5




O Tano Batak
Sai naeng hu tatap
Dapotnohonku tano hagodangan hi
(O Tano Batak)

Didampingi Gegana Matondang, saya dan Dimas Ramadhan mengelilingi (sebagian besar) Tanah Batak: Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola—minus Karo. Bagi saya, perjalanan tersebut seperti menelusuri jejak kenangan di masa lalu. Beberapa tahun sebelum saya kembali ke tempat dengan nostalgia yang paling dalam tersebut, ada tertulis: Arjuna dan Jean-Claude van Damme, yang ditemani Washington Nadeak, menjelajahi Tanah Batak. Bagi Arjuna, perempuan yang sama sekali tidak mempunyai masa lalu dengan Tanah Batak itu, kunjungan tersebut layaknya menancapkan jejak kenangan untuk masa depan.

Dari Jakarta, sebagaimana Arjuna, saya pergi ke Tanah Batak dengan menaiki pesawat. Ketika mendarat di Bandara Kualanamu, kami bertiga berbicang-bincang sesaat, dan kemudian menuju Medan dengan mengendarai mobil. Dari ibu kota Sumatera Utara itu, kami melanjutkan perjalanan ke Padangsidimpuan. Selama melintasi sebagian besar Tanah Batak, kami membicarakan banyak hal: dari sejarah orang Batak sampai agama di Tanah Batak; dari silsilah Batak hingga kisah tempat-tempat di Tanah Batak. Tidak ketinggalan, sepanjang perjalanan menuju kota di mana Iwan Simatupang—seorang sastrawan yang kental dengan pandangan eksistensialisme—menghabiskan sebagian masa remajanya itu, kami singgah di sejumlah tempat unik atau bersejarah.
Read More…

Book Review:
Membaca (Kembali) On Political Equality

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


6688._UY475_SS475_Judul Buku: On Political Equality
Penulis: Robert A. Dahl
Penerbit: Yale University Press
Tahun Terbit: 2006

Skor : 3,5/5



Menjelang akhir 1990-an, salah satu koran ternama Jepang bertanya kepada Amartya Sen. Jika diringkas dalam sebuah kalimat, pertanyaan itu kurang lebih seperti ini: Apa kejadian paling penting di abad ke-20? Peraih nobel ekonomi pada 1998 itu tanpa kesulitan memberikan jawaban: kebangkitan demokrasi (Sen, 1999:3). Kitab sejarah menuturkan, demokrasi memang tidaklah diterima begitu saja, baik sebagai gagasan maupun sistem politik di seluruh dunia. Ia bermula dari ide pinggiran, dan seiring dengan cita-cita mewujudkan kebebasan dan kesetaraan—yang diraih dengan tumpahan keringat, darah, dan air mata—berhasil menjadi ide dominan, dan direalisasikan di banyak negara.

Belakangan ini, demokrasi mengalami kemunduran, atau istilah lainnya resesi, di berbagai negara. Sejumlah lembaga internasional melaporkan bahwa kemunduran tersebut tidak lepas dari efek globalisasi, krisis 2008, dan kemunculan populisme di level global. Setelah pandemi korona muncul, pemerintah di sejumlah negara, seperti Hungaria, malahan menggunakan pandemi itu sebagai alasan untuk memperlemah institusi demokrasi (Edgell et al., 2020). Di tengah kemunduran demokrasi tersebut, saya membagikan hasil pembacaan saya, juga sejumlah catatan, atas karya Robert Dahl berjudul "On Political Equality". Membaca (kembali) teks politik itu setidaknya terasa krusial hari-hari ini, sebab kesetaraan politik merupakan topik penting dalam perbincangan demokrasi. Bahkan, tanpa kesetaraan politik, demokrasi boleh dikatakan tidaklah ada. Read More…