Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Book Review:
Jurnalisme Investigasi:
Mengungkap Kejahatan Pedofilia dalam Lindungan Institusi Agama

Nurul

Nurul Fatin Afifah
Peneliti Populi Center


Poster Film
Judul Film : Spotlight
Genre:
Drama, Kriminal
Sutradara: Tom McCarthy
Tahun Rilis: 2015
Durasi: 129 Menit

Skor : 5/5





Pada tahun 1976 di Boston terjadi kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh seorang pastor katolik bernama Jhon Geoghan. Seorang asisten jaksa wilayah datang ke kantor polisi dan memastikan bahwa tidak ada media yang datang untuk meliput kejadian tersebut. Di dalam ruangan terdapat dua orang anak yang merupakan korban pelecahan seksual sedang didampingi ibunya. Ibu Korban berbincang dengan pimpinan tertinggi gereja di Kota Boston terkait kasus yang sedang menimpa dua anak dibawah umur ini. Pimpinan gereja tersebut memohon kepada sang ibu untuk menyelesaikan kasus tersebut mengingat sumbangsih gereja kepada kehidupan keluarganya sangatlah besar, dia meyakinkan bahwa akan memberhentikan pastor dari gereja. Secara hukum kasus tersebut ditutup dan pihak korban diminta untuk menerima kejadian menyakitkan yang menimpa anak-anaknya. Tidak ada sanksi yang seharusnya diterima pelaku atas kejahatannya. Keluarga korban hanya diberikan janji bahwa sang pastor mendapatkan sanksi pemberhentian tanpa ada jaminan kelak di kemudian hari tidak akan ada kasus serupa terjadi lagi.

Film Spotlight yang di sutradarai oleh Tom McCarthy menceritakan tentang investigasi jurnalis dalam mengungkap kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh pastor katolik di Kota Boston, Amerika Serikat. Film ini diangkat dari kisah nyata. Pada tahun 2001, investigasi ini dilakukan oleh surat kabar harian ternama yaitu The Boston Globe. Kisah ini bermula dari kedatangan editor harian yang baru, Marty Baron (Liev Screiber). Setelah Baron membaca kolom Globe tentang seorang pengacara, Mitchell Garabedian (Stanley Tucci) yang mengatakan bahwa dia memiliki cukup bukti bahwa Kardinal Bernard Law sebagai Uskup Agung Boston tahu bahwa pastor Jhon Geoghan melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak dan gereja tersebut memilih melindungi dan tidak melakukan apapun. Baron melalui editor tim, Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), meminta Tim Spotlight untuk menyelidiki. Tugas untuk menghubungi Garabedian diambil oleh Michael Rezendes (Mark Ruffalo), sementara rekan-rekannya, Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) dan Matt Caroll (Brian d‘Archy James) menelusuri kasus- kasus lain yang dinilai memiliki pola yang sama. Baron pun mengambil langkah hukum untuk membuka segel terhadap dokumen yang menyatakan bahwa Gereja Katolik mengetahui kasus pastor-pastor ini. Read More…

Book Review:
Islam dan Demokrasi
dalam Pandangan PKS dan HTI

foto-dimas

Dimas Ramadhan
Peneliti Populi Center

cover-pks-dan-hti-genealogi-dan-pemikiran-demokrasi

Judul Buku: PKS dan HTI : Genealogi Dan Pemikiran Demokrasi
Tahun terbit : 2006
Penulis: Arief Ihsan Rathomy
Penerbit : Research Center for Politics and Government (PolGov)
Jumlah halaman: 236

Skor : 3/5



Pada pertengahan tahun 2018, ketika persaingan politik jelang pemilu mulai memanas, muncul sebuah video yang berisi ajakan untuk mengganti presiden dan juga mengganti sistem. Suara takbir “Allahuakbar” yang muncul setelahnya seolah membawa pesan, bahwa ajakan tersebut merupakan misi mulia agama Islam yang penting untuk dilakukan. Ajakan tersebut disampaikan oleh Ismail Yusanto, jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Mardani Ali Sera, salah seorang pejabat teras PKS.

Saya tidak hendak membahas aspek hukum dari ajakan yang diduga makar tersebut. Pun tidak ingin mendiskusikan eksploitasi agama di ruang publik, termasuk dalam ranah politik elektoral. Hanya saja kebersamaan Mardani Ali Sera dengan Ismail Yusanto, yang dalam video tersebut tampak sangat akrab, rasanya sulit dibayangkan terjadi pada masa-masa sebelumnya, terutama pada medio tahun 2000-an. Meski pun sama-sama berpijak pada gerakan islam, keduanya memiliki kecenderungan yang berseberangan. Perbenturan kepentingan PKS dan HTI terasa jelang pemilihan umum; ketika PKS berjuang menjaring sebanyak-banyaknya pemilih muslim, terutama di perkotaan dan kampus-kampus, HTI mengkampanyekan agar umat islam Indonesia menolak demokrasi, termasuk pemilu. Perang dingin di antara mereka pernah penulis rasakan sewaktu aktif di HMI pada masa kuliah dulu. Di tingkat kampus, organisasi mantel PKS dan HTI, yakni KAMMI dan Gema Pembebasan, seringkali berseteru ketika pertemuan antar-ormas mahasiswa terutama ketika menyikapi isu-isu yang bersinggungan dengan agenda ke-islaman. Tidak jarang, kehadiran yang satu menjadi penyebab ketidakhadiran yang lain dalam rapat aliansi mahasiswa.
Read More…

Film Review:
Menghapus Mitos Menstruasi Lewat Film Pad Man

Darin

Darin Atiandina
Peneliti Populi Center


Pad Man Poster

Judul Film: Pad Man
Genre: Drama-Comedy
Sutradara: R. Balki
Tahun Rilis: 2018
Durasi: 140 menit

Skor : 4/5



“Jika hati bersih, semua akan bersih,” begitu kata Gayatri ketika suaminya, Lakshmikant Chauhan, memarahi dirinya yang menggunakan kain kotor saat menstruasi. Lakshmi merasa begitu kesal sekaligus sedih saat mengetahui istri yang teramat ia cintai itu menggunakan kain kotor sebagai ganti dari pembalut. Saking kotornya kain tersebut, Lakshmi bahkan enggan menggunakannya untuk sekedar mencuci sepeda. Sebagian besar perempuan di India bernasib sama dengan Gayatri. Penelitian mengungkapkan 89% perempuan di India masih menggunakan kain ketika menstruasi, sisanya sebanyak 2% menggunakan kapas (2%), 7% menggunakan pembalut, dan 2% menggunakan abu ketika menstruasi (Pallapothu, 2018). Bukan masalah jika kain yang dipergunakan adalah kain bersih. Namun, akan jadi masalah ketika kain yang digunakan adalah kain kotor yang dicuci ala kadarnya kemudian dijemur tanpa terkena sinar matahari langsung. Mitos, kesalahpahaman, serta stigma di India akan menstruasi yang membutakan kesehatan perempuan adalah isu yang coba diangkat dalam film Pad Man.

Pad Man adalah sebuah film yang terinspirasi dari kehidupan Arunachalam Muruganatham. Dia adalah seorang aktitivis sosial dari sebuah desa kecil di Tamil Nadu yang memperkenalkan pembalut berbiaya murah untuk perempuan di India. Ide pembalut murah tersebut berawal dari keprihatinan Muruga terhadap istrinya yang menggunakan kain kotor saat menstruasi. Oleh sutradara R. Balki kisah hidup Muruga dan sang istri diadaptasi menjadi kisah pasangan Lakhsmi dan Gayatri. Kehidupan pernikahan keduanya mulai diuji ketika sang suami mulai mempersoalkan praktik menstruasi yang tidak sehat yang dilakukan oleh sang istri. Read More…

Book Chapter Review:
Demokrasi Madisonian: Upaya Menentang Para Tiran

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


Cover Buku_dahl

Judul Buku: A Preface to Democracy Theory
Judul Artikel: Chapter 1. Madisonian Democracy dalam A Preface to Democratic Theory
Penulis: Robert A. Dahl
Penerbit: The University of Chicago Press
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 30 hlm (h.4-34)

Skor : 4/5



Demokrasi secara prosedural selalu lekat dengan sistem voting. Pemegang tampuk kekuasaan ialah yang dipilih oleh suara mayoritas, sebaliknya, minoritas sering muncul sebagai efek samping proses demokratisasi. Ia selalu menghasilkan winner and looser. Meski begitu, banyak pihak menganggap demokrasi sebagai sistem kontestasi yang paling manusiawi karena kemampuan komprominya dengan hal-hal antagonistik dan kemampuan menghindarinya dari kemungkinan pertarungan fisik yang dapat menimbulkan kucuran darah layaknya suksesi kepemimpinan dimasa kerajaan. Dilihat dari sejarah kehadirannya, demokrasi hadir salah satunya sebagai bentuk perlawanan terhadap tirani yang sering menimbulkan kesewenang-wenangan atas kuasa yang dimiliki.

Lantas, bagaimana demokrasi benar-benar dapat menjadi ramuan mujarab penangkal tirani dan wujud kompromi antara kekuatan mayoritas dan minoritas?. Robert A. Dahl mengulas bagaimana James Madison (Presiden ke-empat Amerika Serikat) meletakkan dasar-dasar demokrasi yang sangat menjunjung tinggi hak-hak individu serta menjadi peletak dasar tatanan sistem pemerintahan di negeri Paman Sam yang kemudian lebih dikenal dengan teori demokrasi “Madisonian”. Dahl sangat mahir dalam menjelaskan bagaimana cara kerja teori kompromi yang pada beberapa sisi juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Read More…

Book Review:
Mirah dari Banda

anto

Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center

Sampul Mirah dari Banda


Judul Novel: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit: 2010
Jmlh halaman: 388

Skor : 4/5





Kita diajak tenggelam dalam romantisme sejarah dan cerita tentang Banda, begitulah gambaran yang ingin diperlihatkan Hanna Rambe dalam tulisannya kali ini. Banyak cerita menggembirakan, yang membuat kita seakan ingin mengunjungi setting lokasi yang diceritakan, namun di sisi lain, ada pula kegetiran yang diperlihatkan Rambe. Bukan untuk membuat Banda seakan menyeramkan, namun ada sebuah cerita yang ingin digambarkan Rambe bahwa di balik keindahan yang dinikmati dari tokoh-tokoh yang dimasukkan ke dalam tulisan, ada pula cerita pilu di balik keindahan tersebut. Dalam penulisannya, Rambe membagi ke dalam 10 (sepuluh) bagian.

Cerita berawal dari kedatangan Wendy (Rowenna Higgins), Matthew Morgan (Matt), Diah, Ratna, Muhammad Zakaria (Jack) ke Kepulauan Banda. Wendy dan Matthew adalah pasangan suami-istri, begitu juga dengan Jack-Ratna. Sudah lebih dari dua tahun, Wendy dan suaminya berada di Indonesia, tepatnya di tanah Sumatra karena Matt bekerja di salah satu perusahaan tambang di sana. Ketertarikan terhadap Banda dimulai dari kisah yang selalu di ceritakan Jack. Ia adalah putra asli tanah Maluku. Meskipun tidak lahir di Banda, namun di Ambon, ia memiliki keluarga besar dari ibunya di Banda. Bahkan, masa kecilnya banyak ia habiskan di Banda. Oleh karena itu, cerita tentang Banda cukup ia kuasai untuk membuat pasangan suami tersebut begitu tertarik mengunjungi Banda. Read More…

Book Review:
Menyoal Instrumen Kebijakan Publik

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

carrot_stick
Judul Buku: Carrots, Sticks & Sermons: Policy Instruments and Their Evaluation Penulis: Marie-Louise Bemelmans-Videc, Ray C. Rist, & Evert Vedung Penerbit : New Brunswick Tahun Terbit: 1998 Jumlah Halaman: 281 hlm.

Skor : 4/5


Apabila politik adalah otak, maka instrumen kebijakan adalah otot-ototnya. Illustrasi ini menunjukkan bagaimana peranan fundamental instrumen kebijakan dalam politik. Setiap kebijakan publik yang dirumuskan pada dasarnya adalah proses politik, pun sebaliknya, apapun keputusan politik selalu berujung pada perumusan kebijakan publik. Buku ini mencoba untuk membaca bagaimana instrumen kebijakan publik digunakan dan konsekuensinya. Dewasa ini kajian terkait dengan kebijakan publik berujung pada dua paradigma besar, meski saat ini sedikit usang, dua paradigma tersebut yakni government dan governance.

Kedua cara pandang ini memiliki perbedaan yang fundamental. Paradigma government melihat bahwa negara merupakan aktor yang paling menentukan dalam proses pembuatan kebijakan publik, sebaliknya paradigma governance menekankan pada bekerjanya jejaring (multi aktor) dalam proses pembuatan kebijakan. Meski keduanya sedikit berbeda, keduanya berdiri pada kesepahaman bahwa diperlukan instrumen kebijakan. Buku ini memberikan satu gambaran baru. Apabila persoalan kebijakan publik sering dilekatkan dengan bagaimana struktur kebijakan dalam klasifikasi Etzioni yang membagi kebijakan dalam tiga kategori besar yakni coercive, remunerative, dan normative. Maka klasifikasi kebijakan dalam buku ini dimodifikasi dengan melihat dimensi legitimasinya (dukungan rakyat pada pemerintahan yang terbentuk/melakukan kebijakan).
Read More…