Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Book Review:
Pembiayaan Perang dan Pembentukan Negara

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center


coersion, capital and european states
Judul Buku: Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990
Penulis: Charles Tilly
Penerbit: Basil Blackwell Publisher
Tahun Terbit: 1990
Jumlah Halaman: 278 hlm.

Skor : 4,5/5




Pembiayaan perang mempengaruhi pembentukan negara. Demikian thesis statement Charles Tilly (selanjutnya ditulis Tilly) di bukunya yang berjudul “Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990” dalam upaya menjelaskan bagaimana pembentukan negara di daratan Eropa. Di antara banyak hal yang berkembang dan berperan penting pada kurun waktu 990-1990, terdapat dua komponen penting pembentukan negara, yakni kapitalisme dan militer/instrumen paksaan. Keduanya bertemu dalam satu agenda bersama, yakni pembiayaan perang. Perang membutuhkan pembiayaan yang berasal dari perkembangan kapitalisme, pun demikian dengan kapitalisme yang membutuhkan perlindungan dari militer. Dalam buku ini, Tilly memberikan deskripsi menarik terkait bagaimana proses menjadi (menggunakan process tracing) sebuah negara. Utamanya dilihat dari bagaimana kekuasaan (power) dikonsolidasikan dan terkonsolidasikan.
Read More…

Book Review:
Sisi Lain Si Tukang Kritik Profesional

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

Arief Budiman (Soe Hok Djin) Melawan Tanpa Kebencian


Judul Buku: Arief Budiman (Soe Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian Penulis: KH. Mustofa Bisri, et al. Penerbit: New Merah Putih Tahun Terbit: 2018

Skor : 3/5

Arief Budiman (AB) adalah tukang kritik profesional. Jika ingatan saya tidak berkhianat, julukan itu diberikan oleh Goenawan Mohamad (GM) kepada sahabat karibnya itu di salah satu esai Catatan Pinggir (Caping). Dalam tulisan itu, GM menulis tentang sikap AB yang dulu dikenal dengan nama Soe Hok Djin dalam menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Rasa-rasanya, julukan itu ada benarnya. Dalam lintasan sejarah negeri ini, hampir semua presiden tidak pernah luput dari kritik keras kakak Soe Hok Gie (Gie) itu. Bahkan, Gus Dur, sahabat dekat AB, juga korban kritiknya.

Kendati dikenal banyak orang, baik itu sebagai seorang intelektual, oposan, tokoh gerakan, dan sastrawan, sisi lain kehidupan AB masih jarang terungkap. Buku berjudul “Arief Budiman (Soe Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian” mencoba untuk menghadirkan kehidupan, ide, dan proses pengembaraan intelektual AB kepada orang-orang, terutama generasi yang tidak sempat mengenalnya. Bagi mereka yang belum mengenal atau hanya mengenal AB dari karya-karyanya, sejumlah tulisan, memorabilia foto, dan komik tentang AB di buku ini sedikit banyak bisa lebih membantu untuk mengenal AB.
Read More…

Book Review:
Manusia dan Tanah Minahasa

Nurul

Nurul Fatin Afifah
Peneliti Populi Center


Cover Buku Minahasa
Judul Buku: Minahasa
Penulis: N. Graafland
Tahun Terbit: 1991
Penerbit: PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta
Review:
  • Bab I, Asal Usul Leluhur
  • Bab II, Masyarakat dan Pemerintahan
  • Bab III, Cakalele dan Masyarakat Cina
  • Bab IV, Mapalus
  • Bab V, Perkebunan Rakyat

Skor : 4/5





Jika bicara tentang Minahasa, kita dapat mengacu pada daerah geografis tertentu, kesatuan politik atau kelompok suku yang mendominasi wilayah tertentu. Secara geografis, wilayah Minahasa berada di ujung utara Pulau Sulawesi. Untuk tujuan politis dan administratif, Provinsi Sulawesi Utara selanjutnya dibagi menjadi kabupaten-kabupaten dan kotamadya. Buku Minahasa adalah catatan perjalanan yang dilakukan oleh N. Graafland ke pulau paling utara di Sulawesi pada pertengahan abad ke 19. Dalam pemaparannya, Graafland melukiskan alam Minahasa mulai dari jalan, pemukiman, penampilan penduduk pribumi, serta lingkungan geografis yang sebagian besar masih perawan. Hal yang paling menarik dari tulisan ini adalah terkait tata kehidupan sosial, bahasa, sistem kepercayaan, mitologi dan legenda, nilai-nilai yang hidup di tengah rakyat, serta persentuhan rakyat dengan perdaban dari luar, dalam hal ini dengan masyarakat Cina dan Eropa, termasuk dengan agama Islam dan Kristen. Read More…

Article Review:
Bahasan Teknis Implementasi Smart City di London

nona_evita_2

Nona Evita Wijanarko

Peneliti Populi Center


smart_city

Judul Artikel: Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities
Penulis: Claire Thorne dan Catherine Griffiths
Penerbit: Springer
Tahun Terbit: 2014
Jumlah halaman: 11

Skor : 4/5




Artikel yang berjudul Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities yang ditulis oleh Claire Thorne dan Catherine Griffiths membahas tentang upaya pemerintah Inggris yang seperti banyak pemerintah lainnya yang menempatkan implementasi sistem Kota Cerdas menjadi agenda prioritas. Artikel ini menjelaskan komponen-komponen yang dapat menjadikan suatu kota menjadi kota pintar dan memeriksa kebutuhan yang muncul untuk menciptakan kota London yang cerdas. “Kecerdasan” mungkin tidak sepenuhnya berasal dari solusi teknologi, tetapi dari mekanisme yang digunakan untuk melibatkan dan memberikan jenis kota baru.

Claire Thorne dan Catherine Griffiths membagi tulisan ini menjadi 7 bagian. Bagian pertama berisi paparan soal sejarah revolusi industri dari masa ke masa yang pada akhirnya membawa sampai ke titik di mana dunia dihadapkan pada big data dan open data yang mendorong adanya inovasi agar dapat memanfaatkan data tersebut. Teknologi yang membuat, mengumpulkan, mengelola data, dan memungkinkan untuk mengekstraksi nilai dari data, semuanya sedang dikembangkan dan diadopsi dengan cepat. Dari pengembang Read More…

BookReview:
Meminum Makanan A la Rote

anto

Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center

Gambar Sampul Panen Lontar

Judul Buku: Panen Lontar; Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu
Penulis: James J. Fox
Penerbit: Pustaka Sinar Harapan
Tahun terbit: 1996
Jumlah halaman: 351

Skor : 4/5




Pertama, saya akan menyampaikan terlebih dahulu alasan di balik pemilihan buku ini untuk direview. Kemudian ulasan terkait isi dari buku akan dijelaskan selanjutnya. Beberapa gambar di Pantai Nambrela menarik perhatian saya. Gambar ini saya temukan di laptop saya di sebuah folder perjalanan waktu saya ke Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Terlihat jernihnya laut di bagian selatan Pulau Rote, pun dengan kondisi pantai yang bersih dan tidak terlalu ramai. Suasana yang sangat tenang kembali saya ingat setelah melihat gambar-gambar tersebut. Namun ada pertanyaan besar yang kemudian muncul, lalu apa yang saya dapat dari sembilan jam saya di Pulau Rote? Apakah hanya pengalaman menghirup udara segar di pantai yang sebelumnya pernah didatangi Presiden Jokowi? Pertanyaan ini kemudian mengantarkan saya untuk mencari beberapa referensi bacaan tentang Rote. Hasilnya, sebuah buku dengan judul Panen Lontar menarik perhatian saya untuk saya baca.

Buku ini adalah karya James Fox, seorang guru besar dari Australian National University. Tentu judul Panen Lontar adalah hasil dari terjemahan dari karya aslinya yang berjudul Harvest of Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia (1977). Penelitiannya ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan tetap memperhatikan konteks historis dari Rote dan Sawu. Penelusuran dari referensi untuk penelitiannya tidak berjalan mudah, karena memang masih sulit menemukan hasil kajian tentang Rote dan Sawu. Selain caranya untuk mencari dokumen-dokumen pendukung dalam penelitiannya, teknik yang ia gunakan dalam penelitian ini pun juga terbilang menarik karena ia melakukan grounded research. Read More…

Article Review:
Kenormalan Baru Hanya Sebatas “Click Bait”?

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


the_new_normal


Judul Artikel: The New Normal
Penulis: Amitai Etzioni
Penerbit: Sociological Forum
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 11 hlm.

Skor : 3/5



Sayup-sayup, kini mulai nyaring terdengar istilah New Normal dalam setiap pewartaan di media. Istilah yang mungkin tidak akan asing, namun bisa jadi kehilangan makna karena hanya sebatas tagar. Sejatinya, term tersebut hadir dan mulai dikenal semenjak peristiwa Global Financial Crisis (GFC) pada pertengahan 2007 hingga awal 2009.

Amitai Etzioni adalah salah seorang yang pertama kali mengulas mengenai kenormalan baru dalam artikelnya yang berjudul “The New Normal”. Ia menggambarkan hal tersebut dari bagaimana kebanyakan orang Amerika mengevaluasi kembali cara hidup mereka dan mulai memaknai kepuasan dari sumber non-konsumeris. Sebagai sebuah fenomena, kenormalan baru muncul atas respon masyarakat Amerika terhadap GFC dengan mulai menyederhanakan hidup mereka, mulai berfikir untuk lebih banyak menabung dan merenungkan jauh lebih kedepan atas keberlangsungan hidup mereka. Read More…

Article Review:
The Tragedy of the Commons

Darin

Darin Atiandina
Peneliti Populi Center


f363c-illustration-public-domain-tragedy-e1547452760913
Sumber ilustrasi: fritsahlefeldt.com

Judul Artikel: The Tragedy of the Commons
Penulis: Garret Hardin
Tahun Terbit: 1968
Penerbit: American Association for the Advancement of Science
Jumlah Halaman: 6

Skor : 4/5



Artikel berjudul The Tragedy of Commons yang ditulis oleh Garret Hardin secara garis besar berbicara mengenai fenomena populasi manusia yang semakin hari terus mengalami peningkatan, akan tetapi, tidak berbanding lurus dengan sumber daya yang ada di dunia untuk memenuhi kebutuhan populasi tersebut. Seperti apa yang dikatakan Thomas Malthus, Hardin mengibaratkan pertumbuhan penduduk seperti deret ukur (1,2,4,8…), sementara pertumbuhan sumber daya sama seperti deret hitung (1,2,3,4,5…). Yang artinya, jumlah manusia yang hidup di bumi terus bertambah di tengah pertumbuhan sumber daya yang terbatas.

Sama seperti judul artikel yang ditulisnya, tragedy, menurut Hardin seluruh sumber daya di dunia akan berakhir dengan tragedi. Hardin memberi contoh dengan meminta pembacanya membayangkan sebuah padang rumput terbuka. Padang rumput ini yang disebut Hardin sebagai sumber daya bersama atau commons. Hardin mengatakan tragedi akan terjadi begitu para penggembala mengetahui hewan ternak mereka bisa secara bebas memakan rumput di padang tersebut. Para penggembala akan mulai berdatangan membawa ternak pula. Keesokan harinya, para penggembala itu datang lagi dengan jumlah ternak yang lebih banyak. Kedatangan penggembala dan ternak akan terus berulang dan jumlahnya akan terus bertambah sampai akhirnya rumput di padang itu habis, berakhir punah karena tidak sanggup lagi menanggung beban populasi ternak.

Read More…