Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Book Review:
Jalan Baru Memahami Populisme

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

what is populism

Judul Buku: What Is Populism?
Penulis: Jan- Werner Müller
Penerbit: University of Pennsylvania Press
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5



Satu dekade terakhir, istilah populisme, sekurang-kurangnya, tengah naik daun. Para sarjana, juga laporan media massa, kerap memberikan cap populis kepada politisi, partai politik, dan gerakan politik di berbagai negara. Menariknya, para politisi, juga pendukung mereka, tidak jarang saling serang dengan menggunakan terminologi tersebut. Di Amerika Serikat, misalnya, Donald Trump dan Bernie Sanders mendapat label populis dari suporter lawan politik mereka. Pada titik ini, populisme menampakkan diri hampir di seluruh aktor politik. Fenomena seperti itu memunculkan pertanyaan ini: Apakah aktor politik yang berkontestasi merebut kekuasaan secara otomatis menjadi populis? Lebih spesifik lagi, apa kriteria yang bisa digunakan untuk menilai apakah satu-dua, atau lebih, aktor politik merupakan populis atau bukan?

Serangkaian pertanyaan itu coba dijawab buku berjudul “What Is Populism?”. Karya Jan-Werner Müller itu dibuka dengan ketidaksepakatannya dengan literatur dominan yang membahas populisme. Profesor di Princeton University itu tidak mengikuti, bahkan menyoal, pendekatan umum dalam melihat populisme, yakni kualitas kebijakan yang diajukan oleh politisi atau partai politik, analisis sosiologis yang mengkaji dari sisi kelas, dan aspek sosial-psikologis yang fokus pada perasaan pemilih, seperti kemarahan dan ketakutan (h. 10; h. 14-18). Berangkat dari situ, Müller mengkaji populisme dari Read More…

Book Review:
Jaringan Kekerasan dalam Ruang Sosial

Nurul

Nurul Fatin Afifah
Peneliti Populi Center

IMG_3977

Judul Buku: Spiral Kekerasan
Penulis: Dom Helder Camara
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2005

Skor : 4/5



Kekerasan merupakan realitas multidimensi, tidak bisa dipisahkan keterkaitannya antara kekerasan yang satu dengan kekerasan lainnya. Terdapat satu benang merah yang menjadi akar utama dari serangkaian kekerasan yang muncul bertubi-tubi dalam masyarakat, Dom Helder Camara menyebutnya dengan spiral kekerasan. Teori spiral kekerasan bersifat personal, institusional, dan struktural. Beberapa faktor yang menjadi sumber terjadinya kekerasan yaitu ketidakadilan, kekerasan pemberontakan sipil dan represi negara. Ketiganya saling berkait satu sama lain, kemunculan kekerasan satu disusul dan menyebabkan kemunculan kekerasan lainnya.

Dari ketiga bentuk kekerasan itu yang paling mendasar dan menjadi sumber utama adalah ketidakadilan. Camara menyebut kekerasan jenis ini dengan kekerasan jenis 1. Karena sifatnya yang mendasar dan menjadi sumber dari kekerasan lainnya. Ketidakadilan itu terjadi sebagai akibat dari upaya kelompok elit nasional mempertahankan kepentingan mereka sehingga terpelihara sebuah struktur yang mendorong terbentuknya kondisi “sub human”, yaitu kondisi hidup di bawah standar layak untuk hidup sebagai manusia normal. Read More…

Book Review:
Politik Popular dan Institusionalisasi Demokrasi di Indonesia

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

dilemma of populist transactionalism

Judul Buku: Dilemmas of Populist Transactionalism
Penulis: Luky Djani & Olle Tornquist
Penerbit: PolGov
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 91 hlm.

Skor : 3,5/5



Gerakan populis di suatu negara, tidak dapat dilepaskan dari bagaimana latar belakang historis negara tersebut. Sebagai contoh, gerakan-gerakan populis di negara-negara utara (north countries) yang relatif merupakan negara-negara maju, berbeda dengan negara-negara selatan (south countries) yang kerap dinilai sebagai negara berkembang. Pemilahan antara negara utara dan selatan pun telah menjadi debat tersendiri bagi kalangan ilmuwan sosial. Hanya saja, apabila kita menggunakan gelombang demokratisasi yang dikemukakan oleh Samuel Huntington sebagai kerangka argumentasi, maka kategorisasi besar berupa negara utara dan negara selatan menjadi relevan untuk membaca perkembangan populisme.

Berbeda dengan kajian populisme yang ada, terutama dalam melihat perkembangan populisme, rata-rata kajian populisme melihat dilekatkan pada perkembangan konseptual serta studi kasus yang melekat dengan kajian-kajian sosialisme, terutama di kawasan Amerika Latin (Pappas, 2016, h.4-6). Buku ini memberikan penekanan yang berbeda dengan mengaitkan perkembangan populisme dengan gelombang demokratisasi. Dalam gelombang demokratisasi, hal yang patut diperhatikan adalah kontradiksi antar kelas yang terjadi selama periode demokratisasi tersebut. Di awal berdirinya Republik Indonesia, terdapat beberapa gerakan massa yang sangat kuat, salah satunya ada pada periode tahun 1960-an. Gerakan-gerakan budaya massa, terutama pada periode politik aliran (termasuk masa ketika pemilu 1955), berakhir ketika Orde Baru (Orba) berkuasa. Read More…

Book Review:
Quo Vadis Muslim Demokrat Indonesia

foto-dimas

Dimas Ramadhan
Peneliti Populi Center

Muslim_Demokrat
Judul Buku : Muslim Demokrat. Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik Di Indonesia Pasca Orde Baru
Penulis: Saiful Mujani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2007
Jumlah halaman: 365

Skor : 5/5



Pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, kita disuguhi dengan ekspresi keagamaan kelompok islam dalam proses elektoral yang belum pernah muncul sebelumnya : memusuhi, bahkan mengancam, figur yang berbeda agama, persekusi kepada orang per orang yang menjadi pendukung kubu lawan di tempat umum, hingga masifnya penggunaan masjid sebagai tempat kampanye dan agitasi politik. Suasana seperti ini tidak berhenti pada Pilkada DKI Jakarta saja, melainkan berlanjut pada perhelatan Pilkada 2018, terutama di Jawa Barat, hingga Pemilu tahun 2019. Dari rangkaian proses elektoral tersebut, muncul istilah Perang Badar meski pun sayup-sayup, seolah umat islam di Indonesia sedang dalam keadaan berperang dengan kelompok lain sebagaimana dialami Nabi Muhammad ratusan tahun yang lalu. Read More…

Book Review:
Perang Tagar: Semantik Ilmu Administrasi Negara?

foto_jefri

Jefri Adriansyah
Peneliti Populi Center


cover_the_new_public_service

Judul Buku: The New Public Service: Serving not Steering 4th Edition
Penulis: Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt
Penerbit: Routledge
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 266 hlm.

Skor: 4/5


Ini bukan tentang fenomena kampanye di tahun politik. Tidak pula tentang perebutan popularitas publik. Ini semua tentang perkembangan paradigma ilmu administrasi negara yang sangat dinamis dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir yang lekat dengan perang tagar.

Saling lempar tagar dalam ilmu administrasi negara dimulai dari terbitnya tulisan David Osborne dan Ted Gaebler yang berjudul “Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector” pada tahun 1991. Mereka menganggap bahwa sudah tidak jamannya lagi pemerintah atau negara memiliki peran dominan dalam penyediaan layanan publik kepada masyarakat. Pemerintah dianggap hanya cukup memberikan panduan dan arahan sebagai jaminan agar pelayanan publik dapat benar-benar dijalankan oleh sektor swasta. Semakin sedikit peran pemerintah, maka publik akan semakin mendapatkan pelayanan yang efisien. Hal ini karena sektor swasta dianggap memiliki keunggulan terkait mekanisme pasar persaingan sempurna yang dapat menghadirkan barang dan jasa berkualitas bagi konsumen. Oleh karenanya pemerintah hanya perlu berperan sebagai katalisator. Dari gagasan-gagasan tersebut kemudian muncul adanya jargon steering than rowing, enabling than providing serta delapan pokok gagasan lainnya mengenai New Public Management.
Read More…

Film Review:
Joshua Wong
dan Gerakan Sosial di Hong Kong

Darin

Darin Atiandina

Peneliti Populi Center

Joshua_ Teenager vs_ Superpower (2017) - Mobilized by teenage activist Joshua Wong, young citizens of Hong Kong take to the streets in a bid to preserve their history of autonomy from China

Judul Film: Joshua Wong. Teenager Vs. Superpower
Genre: Dokumenter
Sutradara: Joe Pistaclla
Tahun Rilis: 2017
Durasi: 78 menit

Skor: 4/5



Tubuhnya kurus, tidak terlalu tinggi, berkacamata tebal, serta hobinya adalah bermain video game. Sekilas, Joshua Wong nampak seperti kebanyakan pelajar di Hong Kong. Tetapi, nyatanya ia tak sama. Yang membuat pria dengan nama asli Wong Chi-Fung ini berbeda adalah keberanian yang dimilikinya. Joshua Wong, sejak usia 14 tahun sudah menunjukkan ketangguhannya untuk menentang kekuasaan Beijing di Hong Kong. Ketika remaja lain seusianya sibuk menghabiskan libur musim panas dengan bermain, Joshua memilih untuk memimpin Scholarism, sebuah gerakan sosial yang memprotes rencana pemerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral (NME). Read More…

Film Review:
Potret Sisi Lain Pilpres 2014

nona_evita_2

Nona Evita Wijanarko

Peneliti Populi Center


yang ketujuh

Judul Film: Yang Ketu7uh
Genre: Dokumenter
Sutradara: Dhandy Dwi Laksono
Ko-sutradara: Hellena Y. Suisa
Produksi: Watchdoc
Tahun Rilis: 2014
Durasi: 1 jam 15 menit

Skor: 4/5




Awal saya melihat judul film dokumenter ini, saya berpikir kalau film ini akan membahas soal kontroversi Pemilihan Presiden tahun 2014. Dari judul film, terlihat jelas bahwa di tahun tersebut, Indonesia memang sedang menanti Presiden yang ketujuh. Masih hangat di benak masyarakat Indonesia soal perbedaan hasil hitung cepat antara pasangan calon Presiden nomor urut 1 (Prabowo Subianto-Hatta Rajasa) dan pasangan calon Presiden nomor urut 2 (Joko Widodo-Jusuf Kalla). Media sukses membelah suara masyarakat. Terbukti sampai sekarang masih saja ada sebutan Kampret dan Cebong untuk pendukung Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Padahal sudah hampir 6 (enam) tahun lamanya Pemilihan 2014 berlangsung, bahkan sudah ada Pemilihan Presiden terbaru yaitu tahun 2019. Namun tetap saja, sebutan ini masih terus ada.
Read More…

Book Review:
Dominasi Elit dan Penyalahgunaanya

Photo Ade Ghozaly

Ade Ghazali

Peneliti Populi Center



Cover Buku

Judul Buku: Habib Palsu Tersandung Cinta
Penerbit: Pinus Book Publisher, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2010
Jumlah Halaman: 234 Halaman
Penulis : Ubay Baequni


Secara fitrah (alamiah) sifat dasar manusia adalah egois bertindak sesuai dengan keinginannnya (free will) dan selalu melakukan upaya dominasi terhadap di luar dirinya. Namun sebagai mahluk sosial, keinginan-keinginan tersebut dibatasi oleh konsensus untuk hidup bersama. Dengan kata lain kebebasan diri manusia dibatasi oleh hak orang lain. Meskipun demikian, faktor kepentingan pribadi dan kelompok menjadikan beberapa individu untuk membentuk ikatan tertentu dalam upaya untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan, pengakuan dan dukungan sosial untuk mempengaruhi dan mendominasi diluar diri dan kelompoknya.

Read More…

Book Chapter Review:
Materialisme dalam Ekologi Budaya

anto
Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center


693346435

Judul Buku : Engaging Anthropological Theory. A Social Science and Political History
Penulis : Mark Moberg
Tahun Terbit : 2013
Penerbit : Routledge, New York
Review :
  • Chapter 11, Ecological and Neo-evolutionary approaches (p.238)
  • Chapter 12, Contamporary materialist and ecological approaches (p.259)



Mana yang lebih dulu ada? Manusia atau bumi? Ini bukan perkara sulit seperti halnya ayam dan telur. Riwayatnya memang banyak, namun yang jelas secara garis besar manusia kemudian diturunkan ke bumi untuk melanjutnya fungsinya sebagai manusia, tentu dari berbagai macam versi. Apakah Adam, manusia purba, dan lainnya, semua mempunyai fungsinya masing-masing. Seiring dengan perkembangannya, manusia dan alam jelas memiliki ketergantungan. Manusia menggantungkan hidupnya dari alam, pun begitu pula dengan alam, ia tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya sentuhan manusia. Ada hubungan timbal balik yang saling melekat. Ini tidak sedang melihat mana yang lebih dulu, namun lebih kepada kaitan kedua unsur tersebut. Read More…