Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

September 2020

Book Review:
Pertemuan Tanpa Percakapan

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


Chairil Anwar Sebuah Pertemuan


<Judul Buku: Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan
Penulis: Arief Budiman
Penerbit: Best Publisher (Galang Press Group)
Tahun Terbit: 2018

Skor : 4/5




Dengan "Doa", Chairil berserah: "Tuhanku/ aku hilang bentuk/ remuk... Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling." Dengan sajak, Chairil mencemooh agama:

"Aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidadari beribu.

Namun, sajak berjudul "Sorga" itu tidak hanya berhenti di situ. Larik-larik terakhirnya berbunyi:

"Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidadari
suaranya berat menelan seperti Nina
punya kerlingnya Yati? "

Dari sajak-sajak Chairil yang menyoal agama, yang kerap dijadikan sandaran (terakhir) manusia, Arief Budiman (AB) dalam "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" menyatakan bahwa 'Si Binatang Jalang' lebih dari sekadar mencemooh agama. Bagi AB, ia bahkan menolak secara ekstrem agama. Sebab, ia tidak mau menukarkan, terlebih mengorbankan, apa yang dimilikinya dengan sesuatu yang tidak pasti di masa depan. "'Lagi siapa yang bisa mengatakan pasti di situ memang ada bidadari' yang sama cantik dan genitnya seperti Nina dan Yati," perempuan-perempuan yang hadir di kehidupannya (hal. 51). Dari pernyataan AB, kita tahu bahwa Chairil memilih yang pasti 'di sini' dan 'di hari ini' daripada yang tidak pasti 'di sana' dan 'di kemudian hari'. Read More…

Book Review:
What is A Bullshit Jobs?

anto
Hartanto Rosojati

Peneliti Populi Center


bullshit jobs


Judul Buku: Bullshit Jobs: A Theory
Penulis: David Graeber
Penerbit: Simon & Schuster (New York)
Tahun terbit: 2018
Jumlah hlm: 368

Skor : 4/5




Tanggal 12 Februari 1961 di Amerika lahirkah David Rolfe Graeber yang kemudian lebih dikenal dengan nama David Graeber. Ia adalah seorang profesor antropologi di London School of Economics. Sebagai seorang teoritikus sosial, beberapa karyanya cukup fenomenal, yang salah satunya akan saya ulas dalam tulisan lebih lanjut, yakni Bullshit Jobs (2018). Selain buku tersebut, beberapa buku yang pernah ia tulis adalah Debt: The First 5000 years (2011) dan The Utopia of Rules (2015).

Melalui Bullshit Jobs (2018), ia memberikan pandangan terkait dengan dunia kerja. Dalam bukunya tersebut, Graeber membagi pembahasan menjadi tujuh bagian yang diberi judul berupa pertanyaan, seakan menyasar para pembacanya untuk merefleksikan perdebatan apa yang ingin disampaikan oleh Graeber. Ketujuh chapter tersebut adalah: Pertama, What is bullshit job?, Kedua, What sorts of bullshit jobs are there?, Ketiga, Why do those in bullshit jos regularly report themselves unhappy?, Keempat, What is it like to have a bullshit job?, Kelima, Why are bullshit jobs proliferating?, Keenam, Why do we as a society not object to the growth of pointless employment?, dan Ketujuh, What are the political effect of bullshit jobs, and is there anyting that can be done about this situation. Read More…

Film Review:
Battle in Seattle

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


large_8A6j3skThiPIvdCJ5W5XJOEtWt9

Judul Film: Battle in Seattle
Sutradara: Stuart Townsend
Skenario: Stuart Townsend
Tahun Terbit: 2008
Durasi: 1 jam 38 menit

Skor : 4/5




Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi bagian dari sebuah organisasi mahasiswa ekstrakampus besar di negeri ini, yang tidak hanya paling lugas lambangnya – banteng ketaton –, tetapi juga pemikirannya, menurut saya. Itupun terjadi secara tidak sengaja, karena sebelumnya saya sudah ingin bergabung dengan organisasi kepemudaan dengan baju loreng oranye kebanggaannya. Entah kebetulan pula, setelah sekian lama bergabung dalam organisasi tersebut, secara tidak sengaja saya menemukan arsip-arsip “lawas” Eyang saya dan banyak di dalamnya mengulas ideologi yang sama. Ternyata darah “abangan” memang telah melekat secara biologis di dalam diri saya.

Nostalgia masa itu, tidak lengkap rasanya jika tidak mengulas lumrahnya aksi turun kejalan. Terlebih ketika mengingat mahasiswa pernah berperan penting menumbangkan rezim Orde Baru di tahun 1998, kemudian aksi turun ke jalan seolah menjadi sebuah keharusan. “Dadi mahasiswa kok ora tau demo?, Dadi mahasiswa kok mung kupu-kupu, (kuliah pulang, kuliah pulang), la terus ngopo koe dadi mahasiswa?” begitulah kiranya lagak sok-sokan aktivis mahasiswa kala itu. Terbawa dalam romantisme gerakan tersebut, tak jarang membawa saya beberapa kali menjadi koordinator aksi. Hal pertama yang wajib dilakukan sebelum melakukan aksi salah sa Read More…

Book Chapter Review:
Cara Barat Memandang Timur: Orientalisme

Darin

Darin Atiandina
Peneliti Populi Center


Cover Orientalism


Judul Buku: Orientalism
Judul Bab yang Ditinjau: Chapter 1: The Scope of Orientalism
Penulis: Edward W. Said
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 2003
Jumlah Halaman: 396

Skor : 3/5



Sudah seperti kebiasaan bagi saya dan kedua orangtua saya untuk menghabiskan akhir pekan dengan menonton film di ruang tengah rumah kami. Kami biasanya tidak memilih film tertentu alias terima jadi dan menonton segala macam film yang sedang tayang di televisi. Sore itu kami menonton London Has Fallen (2016), sebuah film yang bercerita tentang misi sekelompok teroris untuk membunuh para pemimpin dunia yang menghadiri pemakaman Perdana Menteri Inggris di London serta aksi agen secret service, Mike Banning (diperankan oleh Gerrard Butler), untuk melindungi Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher dari serangan tersebut. Layaknya kebanyakan film produksi barat lainnya, yang diposisikan sebagai pihak penyerang dalam film ini adalah orang Timur Tengah, sang penjahat berasal dari Pakistan. Sementara itu, yang diposisikan sebagai pihak yang diserang serta berakhir menjadi pahlawan adalah orang Barat.

Komposisi film yang terdiri dari barat-pahlawan serta timur-penjahat mengingatkan saya pada salah satu karya Edward W. Said, yakni Orientalisme. Buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1978 itu kini telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam 36 bahasa. Buku dengan tebal 396 halaman tersebut terdiri dari tiga bagian utama, yakni the scope of orientalism, orientalist structures and restructures, orientalism now. Tulisan ini akan mengulas bab pertama dari buku Orientalisme: the scope of orientalism. Namun, sebelum itu ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan orientalisme. Read More…

Article Review:
Keberagaman dan Modal Sosial di Abad 21

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

jurnal



Judul Artikel: E Pluribus Unum: Diversity and Community in the Twenty-first Century
Penulis: Robert D. Putnam
Nama Jurnal: Scandinavian Political Studies
Penerbit: Nordic Political Association
Tahun Terbit: 2007
Jumlah Halaman: 38 hlm.

Skor : 4,5/5


E Pluribus Unum, sebuah prinsip untuk melambangkan keberagaman masyarakat Amerika Serikat. Dalam kedudukan yang kurang lebih sama, kita dapat menempatkan E Pluribus Unum setara dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sebuah prinsip yang menekan elemen pentingnya keberagaman. Artikel oleh Robert Putnam ini dibacakan ketika beliau menerima penghargaan Johan Skytte Prize di tahun 2006 dari Uppsala University.

Penghargaan ini diberikan oleh departemen ilmu politik di Uppsala University di setiap tahunnya, terutama kepada ilmuwan politik yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu politik. Di luar bahasan terkait selebrasi tersebut, artikel ini memiliki pengaruh yang besar pada diskusi mengenai modal sosial (social capital), terutama dalam konteks keberhasilan artikel ini mendorong kajian-kajian yang lebih serius mengenai modal sosial.
Read More…

Film Review:
Cerita Suram Dari Gotham

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

 Joker_RI
Judul Film: Joker
Sutradara: Todd Phillips
Skenario: Todd Phillips, Scott Silver
Tahun: 2019
Durasi: 2 jam 2 menit

Skor : 4,5/5


Pada sebuah jalan yang ramai di kota Gotham, seorang badut membawa papan iklan sambil berdansa ceria, riang, dan penuh semangat. Tidak lama kemudian datang anak-anak remaja yang lantas merampas papan iklan tersebut. Spontan sang badut mengejar si perampas. Papan iklan itu adalah penyambung hidupnya untuk mendapatkan upah. Dengan tergopoh-gopoh, si badut mengejar para remaja sampai di sebuah gang kecil. Ketika masuk ke dalam gang tersebut, ia dihajar oleh remaja-remaja perampas itu.

Pengeroyokan ini menjadi titik masuk pada bahasan yang konstruktif dan dalam batasan tertentu dekonstruktif terhadap apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk yang berada di sepanjang film ini. Relativitas terkait dengan hal baik dan buruk tersebut tentu mengingatkan kita pada filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche yang mempertanyakan kembali terkait dengan kebenaran. Sedikit berbeda darinya, film ini tidak sama sekali membahas terkait nihilisme, melainkan masuk pada antagonisme dan kontektualitas akan baik dan buruk tadi.
Read More…