Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Erwinton Simatupang

Book Review:
Sabda dari Surga

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


hata ni debata


Judul Buku: Hata Ni Debata: Etnografi Kebudayaan Spiritual-Musikal Parmalim Batak Toba
Penulis: Irwansyah Harahap
Penerbit: Semai
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5




Beberapa dekade selepas Nommensen mengabarkan Injil di Tanah Batak, Sitor Situmorang menulis cerpen "Ibu Pergi ke Sorga". Di dalamnya, kita bersua dengan satu keluarga Batak Kristen, akan tetapi memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama itu: seorang anak lelaki yang sudah enggan bersentuhan dengan agama; ibu yang rutin ke gereja dan mengikuti kegiatan agama; dan bapak yang tampaknya belum beranjak dari praktik Parmalim, sekalipun sudah dibaptis menjadi seorang Kristen.

Jika Sitor Situmorang secara terang benderang menggambarkan sikap si anak dan ibu terhadap agama, ia justru secara samar-samar, atau tidak terlalu gamblang, mengilustrasikan keyakinan si bapak. Dalam benak orang Batak (Toba), khususnya mereka yang sudah berafiliasi dengan agama di luar Parmalim, (penganut) agama Parmalim acap kali digambarkan dengan takhayul, mantra, dan makan sirih. Read More…

Book Review:
Pertemuan Tanpa Percakapan

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


Chairil Anwar Sebuah Pertemuan


<Judul Buku: Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan
Penulis: Arief Budiman
Penerbit: Best Publisher (Galang Press Group)
Tahun Terbit: 2018

Skor : 4/5




Dengan "Doa", Chairil berserah: "Tuhanku/ aku hilang bentuk/ remuk... Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling." Dengan sajak, Chairil mencemooh agama:

"Aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidadari beribu.

Namun, sajak berjudul "Sorga" itu tidak hanya berhenti di situ. Larik-larik terakhirnya berbunyi:

"Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidadari
suaranya berat menelan seperti Nina
punya kerlingnya Yati? "

Dari sajak-sajak Chairil yang menyoal agama, yang kerap dijadikan sandaran (terakhir) manusia, Arief Budiman (AB) dalam "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" menyatakan bahwa 'Si Binatang Jalang' lebih dari sekadar mencemooh agama. Bagi AB, ia bahkan menolak secara ekstrem agama. Sebab, ia tidak mau menukarkan, terlebih mengorbankan, apa yang dimilikinya dengan sesuatu yang tidak pasti di masa depan. "'Lagi siapa yang bisa mengatakan pasti di situ memang ada bidadari' yang sama cantik dan genitnya seperti Nina dan Yati," perempuan-perempuan yang hadir di kehidupannya (hal. 51). Dari pernyataan AB, kita tahu bahwa Chairil memilih yang pasti 'di sini' dan 'di hari ini' daripada yang tidak pasti 'di sana' dan 'di kemudian hari'. Read More…

Book Review:
Membatalkan Yang Tunggal di Tanah Batak

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


Perempuan Bernama Arjuna 4 Batakologi dalam FiksiJudul Buku: Perempuan Bernama Arjuna 4: Batakologi dalam Fiksi
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5




O Tano Batak
Sai naeng hu tatap
Dapotnohonku tano hagodangan hi
(O Tano Batak)

Didampingi Gegana Matondang, saya dan Dimas Ramadhan mengelilingi (sebagian besar) Tanah Batak: Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola—minus Karo. Bagi saya, perjalanan tersebut seperti menelusuri jejak kenangan di masa lalu. Beberapa tahun sebelum saya kembali ke tempat dengan nostalgia yang paling dalam tersebut, ada tertulis: Arjuna dan Jean-Claude van Damme, yang ditemani Washington Nadeak, menjelajahi Tanah Batak. Bagi Arjuna, perempuan yang sama sekali tidak mempunyai masa lalu dengan Tanah Batak itu, kunjungan tersebut layaknya menancapkan jejak kenangan untuk masa depan.

Dari Jakarta, sebagaimana Arjuna, saya pergi ke Tanah Batak dengan menaiki pesawat. Ketika mendarat di Bandara Kualanamu, kami bertiga berbicang-bincang sesaat, dan kemudian menuju Medan dengan mengendarai mobil. Dari ibu kota Sumatera Utara itu, kami melanjutkan perjalanan ke Padangsidimpuan. Selama melintasi sebagian besar Tanah Batak, kami membicarakan banyak hal: dari sejarah orang Batak sampai agama di Tanah Batak; dari silsilah Batak hingga kisah tempat-tempat di Tanah Batak. Tidak ketinggalan, sepanjang perjalanan menuju kota di mana Iwan Simatupang—seorang sastrawan yang kental dengan pandangan eksistensialisme—menghabiskan sebagian masa remajanya itu, kami singgah di sejumlah tempat unik atau bersejarah.
Read More…

Book Review:
Membaca (Kembali) On Political Equality

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center


6688._UY475_SS475_Judul Buku: On Political Equality
Penulis: Robert A. Dahl
Penerbit: Yale University Press
Tahun Terbit: 2006

Skor : 3,5/5



Menjelang akhir 1990-an, salah satu koran ternama Jepang bertanya kepada Amartya Sen. Jika diringkas dalam sebuah kalimat, pertanyaan itu kurang lebih seperti ini: Apa kejadian paling penting di abad ke-20? Peraih nobel ekonomi pada 1998 itu tanpa kesulitan memberikan jawaban: kebangkitan demokrasi (Sen, 1999:3). Kitab sejarah menuturkan, demokrasi memang tidaklah diterima begitu saja, baik sebagai gagasan maupun sistem politik di seluruh dunia. Ia bermula dari ide pinggiran, dan seiring dengan cita-cita mewujudkan kebebasan dan kesetaraan—yang diraih dengan tumpahan keringat, darah, dan air mata—berhasil menjadi ide dominan, dan direalisasikan di banyak negara.

Belakangan ini, demokrasi mengalami kemunduran, atau istilah lainnya resesi, di berbagai negara. Sejumlah lembaga internasional melaporkan bahwa kemunduran tersebut tidak lepas dari efek globalisasi, krisis 2008, dan kemunculan populisme di level global. Setelah pandemi korona muncul, pemerintah di sejumlah negara, seperti Hungaria, malahan menggunakan pandemi itu sebagai alasan untuk memperlemah institusi demokrasi (Edgell et al., 2020). Di tengah kemunduran demokrasi tersebut, saya membagikan hasil pembacaan saya, juga sejumlah catatan, atas karya Robert Dahl berjudul "On Political Equality". Membaca (kembali) teks politik itu setidaknya terasa krusial hari-hari ini, sebab kesetaraan politik merupakan topik penting dalam perbincangan demokrasi. Bahkan, tanpa kesetaraan politik, demokrasi boleh dikatakan tidaklah ada. Read More…

Book Review:
Sisi Lain Si Tukang Kritik Profesional

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

Arief Budiman (Soe Hok Djin) Melawan Tanpa Kebencian


Judul Buku: Arief Budiman (Soe Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian Penulis: KH. Mustofa Bisri, et al. Penerbit: New Merah Putih Tahun Terbit: 2018

Skor : 3/5

Arief Budiman (AB) adalah tukang kritik profesional. Jika ingatan saya tidak berkhianat, julukan itu diberikan oleh Goenawan Mohamad (GM) kepada sahabat karibnya itu di salah satu esai Catatan Pinggir (Caping). Dalam tulisan itu, GM menulis tentang sikap AB yang dulu dikenal dengan nama Soe Hok Djin dalam menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Rasa-rasanya, julukan itu ada benarnya. Dalam lintasan sejarah negeri ini, hampir semua presiden tidak pernah luput dari kritik keras kakak Soe Hok Gie (Gie) itu. Bahkan, Gus Dur, sahabat dekat AB, juga korban kritiknya.

Kendati dikenal banyak orang, baik itu sebagai seorang intelektual, oposan, tokoh gerakan, dan sastrawan, sisi lain kehidupan AB masih jarang terungkap. Buku berjudul “Arief Budiman (Soe Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian” mencoba untuk menghadirkan kehidupan, ide, dan proses pengembaraan intelektual AB kepada orang-orang, terutama generasi yang tidak sempat mengenalnya. Bagi mereka yang belum mengenal atau hanya mengenal AB dari karya-karyanya, sejumlah tulisan, memorabilia foto, dan komik tentang AB di buku ini sedikit banyak bisa lebih membantu untuk mengenal AB.
Read More…

Book Review:
Jalan Baru Memahami Populisme

erwinton

Erwinton Simatupang
Peneliti Populi Center

what is populism

Judul Buku: What Is Populism?
Penulis: Jan- Werner Müller
Penerbit: University of Pennsylvania Press
Tahun Terbit: 2016

Skor : 4/5



Satu dekade terakhir, istilah populisme, sekurang-kurangnya, tengah naik daun. Para sarjana, juga laporan media massa, kerap memberikan cap populis kepada politisi, partai politik, dan gerakan politik di berbagai negara. Menariknya, para politisi, juga pendukung mereka, tidak jarang saling serang dengan menggunakan terminologi tersebut. Di Amerika Serikat, misalnya, Donald Trump dan Bernie Sanders mendapat label populis dari suporter lawan politik mereka. Pada titik ini, populisme menampakkan diri hampir di seluruh aktor politik. Fenomena seperti itu memunculkan pertanyaan ini: Apakah aktor politik yang berkontestasi merebut kekuasaan secara otomatis menjadi populis? Lebih spesifik lagi, apa kriteria yang bisa digunakan untuk menilai apakah satu-dua, atau lebih, aktor politik merupakan populis atau bukan?

Serangkaian pertanyaan itu coba dijawab buku berjudul “What Is Populism?”. Karya Jan-Werner Müller itu dibuka dengan ketidaksepakatannya dengan literatur dominan yang membahas populisme. Profesor di Princeton University itu tidak mengikuti, bahkan menyoal, pendekatan umum dalam melihat populisme, yakni kualitas kebijakan yang diajukan oleh politisi atau partai politik, analisis sosiologis yang mengkaji dari sisi kelas, dan aspek sosial-psikologis yang fokus pada perasaan pemilih, seperti kemarahan dan ketakutan (h. 10; h. 14-18). Berangkat dari situ, Müller mengkaji populisme dari Read More…