Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Jefri Adriansyah

Film Review:
Battle in Seattle

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


large_8A6j3skThiPIvdCJ5W5XJOEtWt9

Judul Film: Battle in Seattle
Sutradara: Stuart Townsend
Skenario: Stuart Townsend
Tahun Terbit: 2008
Durasi: 1 jam 38 menit

Skor : 4/5




Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi bagian dari sebuah organisasi mahasiswa ekstrakampus besar di negeri ini, yang tidak hanya paling lugas lambangnya – banteng ketaton –, tetapi juga pemikirannya, menurut saya. Itupun terjadi secara tidak sengaja, karena sebelumnya saya sudah ingin bergabung dengan organisasi kepemudaan dengan baju loreng oranye kebanggaannya. Entah kebetulan pula, setelah sekian lama bergabung dalam organisasi tersebut, secara tidak sengaja saya menemukan arsip-arsip “lawas” Eyang saya dan banyak di dalamnya mengulas ideologi yang sama. Ternyata darah “abangan” memang telah melekat secara biologis di dalam diri saya.

Nostalgia masa itu, tidak lengkap rasanya jika tidak mengulas lumrahnya aksi turun kejalan. Terlebih ketika mengingat mahasiswa pernah berperan penting menumbangkan rezim Orde Baru di tahun 1998, kemudian aksi turun ke jalan seolah menjadi sebuah keharusan. “Dadi mahasiswa kok ora tau demo?, Dadi mahasiswa kok mung kupu-kupu, (kuliah pulang, kuliah pulang), la terus ngopo koe dadi mahasiswa?” begitulah kiranya lagak sok-sokan aktivis mahasiswa kala itu. Terbawa dalam romantisme gerakan tersebut, tak jarang membawa saya beberapa kali menjadi koordinator aksi. Hal pertama yang wajib dilakukan sebelum melakukan aksi salah sa Read More…

Book Chapter Review:
Merangkai Modal Sosial

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


fukuyama

Judul Bab yang ditinjau: Chapter 1. The Great Disruption
Penulis: Francis Fukuyama
Penerbit: Qalam
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 510 hlm (h.1-228)

Skor : 4/5



Eyang : Le, yuk nginep di rumah Eyang, nemenin Eyang
Cucu : Enggak ah, di rumah Eyang enggak ada wifinya
Eyang : Ya nanti Eyang beliin paket kuota kan bisa, mau ya?
Cucu : Iya, tapi janji ya
Eyang : Iya

Begitu kiranya perbincangan seorang Nenek dengan Cucunya yang baru saja masuk bangku sekolah dasar. Sebuah penggalan dialog yang sebenarnya tidak lazim dan tidak pernah terlintas di benak generasi baby boomers, generasi x maupun generasi y. Hal tersebut setidaknya mulai didapati pada generasi z. Dari penggalan dialog tersebut saya hanya ingin menunjukkan bahwa dunia kini telah mengalami sebuah fase transisi. Sebuah kondisi yang benar-benar nyata yang dahulu pernah George Gilder, Newt Gingrich, Al Gore, Nicholas Negroponte dan pasangan suami istri Alvin dan Heidi Toffler ulas jauh sebelumnya. Bagaimana informasi (yang kini bisa kita representasikan dengan kuota internet) benar-benar merasuk ke dalam relung-relung kehidupan manusia khususnya generasi z yang sejak lahir telah dihidangkan dengan era informasi tersebut.

Era yang juga dikenal sebagai era post-industrial, atau era gelombang ketiga kini benar-benar semakin jelas terlihat. Dalam era transisi memasuki era informasi, banyak hal yang harus mulai dipikirkan, karena faktanya apa yang didambakan para futurolog bahwa perubahan menuju masyarakat informasi akan menciptakan kesejahteraan dan kedewasaan demokrasi, tapi fakta yang muncul tidak selalu demikian. Fukuyama benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi tersebut dengan membayangkan dunia telah menuju era kehancurannya sendiri.
Read More…

Book Chapter Review:
Demokrasi Madisonian: Upaya Menentang Para Tiran

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


Cover Buku_dahl

Judul Buku: A Preface to Democracy Theory
Judul Artikel: Chapter 1. Madisonian Democracy dalam A Preface to Democratic Theory
Penulis: Robert A. Dahl
Penerbit: The University of Chicago Press
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 30 hlm (h.4-34)

Skor : 4/5



Demokrasi secara prosedural selalu lekat dengan sistem voting. Pemegang tampuk kekuasaan ialah yang dipilih oleh suara mayoritas, sebaliknya, minoritas sering muncul sebagai efek samping proses demokratisasi. Ia selalu menghasilkan winner and looser. Meski begitu, banyak pihak menganggap demokrasi sebagai sistem kontestasi yang paling manusiawi karena kemampuan komprominya dengan hal-hal antagonistik dan kemampuan menghindarinya dari kemungkinan pertarungan fisik yang dapat menimbulkan kucuran darah layaknya suksesi kepemimpinan dimasa kerajaan. Dilihat dari sejarah kehadirannya, demokrasi hadir salah satunya sebagai bentuk perlawanan terhadap tirani yang sering menimbulkan kesewenang-wenangan atas kuasa yang dimiliki.

Lantas, bagaimana demokrasi benar-benar dapat menjadi ramuan mujarab penangkal tirani dan wujud kompromi antara kekuatan mayoritas dan minoritas?. Robert A. Dahl mengulas bagaimana James Madison (Presiden ke-empat Amerika Serikat) meletakkan dasar-dasar demokrasi yang sangat menjunjung tinggi hak-hak individu serta menjadi peletak dasar tatanan sistem pemerintahan di negeri Paman Sam yang kemudian lebih dikenal dengan teori demokrasi “Madisonian”. Dahl sangat mahir dalam menjelaskan bagaimana cara kerja teori kompromi yang pada beberapa sisi juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Read More…

Article Review:
Kenormalan Baru Hanya Sebatas “Click Bait”?

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


the_new_normal


Judul Artikel: The New Normal
Penulis: Amitai Etzioni
Penerbit: Sociological Forum
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 11 hlm.

Skor : 3/5



Sayup-sayup, kini mulai nyaring terdengar istilah New Normal dalam setiap pewartaan di media. Istilah yang mungkin tidak akan asing, namun bisa jadi kehilangan makna karena hanya sebatas tagar. Sejatinya, term tersebut hadir dan mulai dikenal semenjak peristiwa Global Financial Crisis (GFC) pada pertengahan 2007 hingga awal 2009.

Amitai Etzioni adalah salah seorang yang pertama kali mengulas mengenai kenormalan baru dalam artikelnya yang berjudul “The New Normal”. Ia menggambarkan hal tersebut dari bagaimana kebanyakan orang Amerika mengevaluasi kembali cara hidup mereka dan mulai memaknai kepuasan dari sumber non-konsumeris. Sebagai sebuah fenomena, kenormalan baru muncul atas respon masyarakat Amerika terhadap GFC dengan mulai menyederhanakan hidup mereka, mulai berfikir untuk lebih banyak menabung dan merenungkan jauh lebih kedepan atas keberlangsungan hidup mereka. Read More…

Book Review:
Perang Tagar: Semantik Ilmu Administrasi Negara?

foto_jefri

Jefri Adriansyah
Peneliti Populi Center


cover_the_new_public_service

Judul Buku: The New Public Service: Serving not Steering 4th Edition
Penulis: Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt
Penerbit: Routledge
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 266 hlm.

Skor: 4/5


Ini bukan tentang fenomena kampanye di tahun politik. Tidak pula tentang perebutan popularitas publik. Ini semua tentang perkembangan paradigma ilmu administrasi negara yang sangat dinamis dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir yang lekat dengan perang tagar.

Saling lempar tagar dalam ilmu administrasi negara dimulai dari terbitnya tulisan David Osborne dan Ted Gaebler yang berjudul “Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector” pada tahun 1991. Mereka menganggap bahwa sudah tidak jamannya lagi pemerintah atau negara memiliki peran dominan dalam penyediaan layanan publik kepada masyarakat. Pemerintah dianggap hanya cukup memberikan panduan dan arahan sebagai jaminan agar pelayanan publik dapat benar-benar dijalankan oleh sektor swasta. Semakin sedikit peran pemerintah, maka publik akan semakin mendapatkan pelayanan yang efisien. Hal ini karena sektor swasta dianggap memiliki keunggulan terkait mekanisme pasar persaingan sempurna yang dapat menghadirkan barang dan jasa berkualitas bagi konsumen. Oleh karenanya pemerintah hanya perlu berperan sebagai katalisator. Dari gagasan-gagasan tersebut kemudian muncul adanya jargon steering than rowing, enabling than providing serta delapan pokok gagasan lainnya mengenai New Public Management.
Read More…