Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Nona Evita Wijanarko

Article Review:
Bahasan Teknis Implementasi Smart City di London

nona_evita_2

Nona Evita Wijanarko

Peneliti Populi Center


smart_city

Judul Artikel: Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities
Penulis: Claire Thorne dan Catherine Griffiths
Penerbit: Springer
Tahun Terbit: 2014
Jumlah halaman: 11

Skor : 4/5




Artikel yang berjudul Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities yang ditulis oleh Claire Thorne dan Catherine Griffiths membahas tentang upaya pemerintah Inggris yang seperti banyak pemerintah lainnya yang menempatkan implementasi sistem Kota Cerdas menjadi agenda prioritas. Artikel ini menjelaskan komponen-komponen yang dapat menjadikan suatu kota menjadi kota pintar dan memeriksa kebutuhan yang muncul untuk menciptakan kota London yang cerdas. “Kecerdasan” mungkin tidak sepenuhnya berasal dari solusi teknologi, tetapi dari mekanisme yang digunakan untuk melibatkan dan memberikan jenis kota baru.

Claire Thorne dan Catherine Griffiths membagi tulisan ini menjadi 7 bagian. Bagian pertama berisi paparan soal sejarah revolusi industri dari masa ke masa yang pada akhirnya membawa sampai ke titik di mana dunia dihadapkan pada big data dan open data yang mendorong adanya inovasi agar dapat memanfaatkan data tersebut. Teknologi yang membuat, mengumpulkan, mengelola data, dan memungkinkan untuk mengekstraksi nilai dari data, semuanya sedang dikembangkan dan diadopsi dengan cepat. Dari pengembang Read More…

Film Review:
Potret Sisi Lain Pilpres 2014

nona_evita_2

Nona Evita Wijanarko

Peneliti Populi Center


yang ketujuh

Judul Film: Yang Ketu7uh
Genre: Dokumenter
Sutradara: Dhandy Dwi Laksono
Ko-sutradara: Hellena Y. Suisa
Produksi: Watchdoc
Tahun Rilis: 2014
Durasi: 1 jam 15 menit

Skor: 4/5




Awal saya melihat judul film dokumenter ini, saya berpikir kalau film ini akan membahas soal kontroversi Pemilihan Presiden tahun 2014. Dari judul film, terlihat jelas bahwa di tahun tersebut, Indonesia memang sedang menanti Presiden yang ketujuh. Masih hangat di benak masyarakat Indonesia soal perbedaan hasil hitung cepat antara pasangan calon Presiden nomor urut 1 (Prabowo Subianto-Hatta Rajasa) dan pasangan calon Presiden nomor urut 2 (Joko Widodo-Jusuf Kalla). Media sukses membelah suara masyarakat. Terbukti sampai sekarang masih saja ada sebutan Kampret dan Cebong untuk pendukung Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Padahal sudah hampir 6 (enam) tahun lamanya Pemilihan 2014 berlangsung, bahkan sudah ada Pemilihan Presiden terbaru yaitu tahun 2019. Namun tetap saja, sebutan ini masih terus ada.
Read More…