Rana Pus(t)aka

Rana Pus(t)aka


Sehari selembar lama-lama pintar

Rafif Pamenang Imawan

Article Review:
Keberagaman dan Modal Sosial di Abad 21

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

jurnal



Judul Artikel: E Pluribus Unum: Diversity and Community in the Twenty-first Century
Penulis: Robert D. Putnam
Nama Jurnal: Scandinavian Political Studies
Penerbit: Nordic Political Association
Tahun Terbit: 2007
Jumlah Halaman: 38 hlm.

Skor : 4,5/5


E Pluribus Unum, sebuah prinsip untuk melambangkan keberagaman masyarakat Amerika Serikat. Dalam kedudukan yang kurang lebih sama, kita dapat menempatkan E Pluribus Unum setara dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sebuah prinsip yang menekan elemen pentingnya keberagaman. Artikel oleh Robert Putnam ini dibacakan ketika beliau menerima penghargaan Johan Skytte Prize di tahun 2006 dari Uppsala University.

Penghargaan ini diberikan oleh departemen ilmu politik di Uppsala University di setiap tahunnya, terutama kepada ilmuwan politik yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu politik. Di luar bahasan terkait selebrasi tersebut, artikel ini memiliki pengaruh yang besar pada diskusi mengenai modal sosial (social capital), terutama dalam konteks keberhasilan artikel ini mendorong kajian-kajian yang lebih serius mengenai modal sosial.
Read More…

Film Review:
Cerita Suram Dari Gotham

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

 Joker_RI
Judul Film: Joker
Sutradara: Todd Phillips
Skenario: Todd Phillips, Scott Silver
Tahun: 2019
Durasi: 2 jam 2 menit

Skor : 4,5/5


Pada sebuah jalan yang ramai di kota Gotham, seorang badut membawa papan iklan sambil berdansa ceria, riang, dan penuh semangat. Tidak lama kemudian datang anak-anak remaja yang lantas merampas papan iklan tersebut. Spontan sang badut mengejar si perampas. Papan iklan itu adalah penyambung hidupnya untuk mendapatkan upah. Dengan tergopoh-gopoh, si badut mengejar para remaja sampai di sebuah gang kecil. Ketika masuk ke dalam gang tersebut, ia dihajar oleh remaja-remaja perampas itu.

Pengeroyokan ini menjadi titik masuk pada bahasan yang konstruktif dan dalam batasan tertentu dekonstruktif terhadap apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk yang berada di sepanjang film ini. Relativitas terkait dengan hal baik dan buruk tersebut tentu mengingatkan kita pada filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche yang mempertanyakan kembali terkait dengan kebenaran. Sedikit berbeda darinya, film ini tidak sama sekali membahas terkait nihilisme, melainkan masuk pada antagonisme dan kontektualitas akan baik dan buruk tadi.
Read More…

Book Review:
Menyoal Instrumen Kebijakan Publik

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

carrot_stick
Judul Buku: Carrots, Sticks & Sermons: Policy Instruments and Their Evaluation Penulis: Marie-Louise Bemelmans-Videc, Ray C. Rist, & Evert Vedung Penerbit : New Brunswick Tahun Terbit: 1998 Jumlah Halaman: 281 hlm.

Skor : 4/5


Apabila politik adalah otak, maka instrumen kebijakan adalah otot-ototnya. Illustrasi ini menunjukkan bagaimana peranan fundamental instrumen kebijakan dalam politik. Setiap kebijakan publik yang dirumuskan pada dasarnya adalah proses politik, pun sebaliknya, apapun keputusan politik selalu berujung pada perumusan kebijakan publik. Buku ini mencoba untuk membaca bagaimana instrumen kebijakan publik digunakan dan konsekuensinya. Dewasa ini kajian terkait dengan kebijakan publik berujung pada dua paradigma besar, meski saat ini sedikit usang, dua paradigma tersebut yakni government dan governance.

Kedua cara pandang ini memiliki perbedaan yang fundamental. Paradigma government melihat bahwa negara merupakan aktor yang paling menentukan dalam proses pembuatan kebijakan publik, sebaliknya paradigma governance menekankan pada bekerjanya jejaring (multi aktor) dalam proses pembuatan kebijakan. Meski keduanya sedikit berbeda, keduanya berdiri pada kesepahaman bahwa diperlukan instrumen kebijakan. Buku ini memberikan satu gambaran baru. Apabila persoalan kebijakan publik sering dilekatkan dengan bagaimana struktur kebijakan dalam klasifikasi Etzioni yang membagi kebijakan dalam tiga kategori besar yakni coercive, remunerative, dan normative. Maka klasifikasi kebijakan dalam buku ini dimodifikasi dengan melihat dimensi legitimasinya (dukungan rakyat pada pemerintahan yang terbentuk/melakukan kebijakan).
Read More…

Book Review:
Pembiayaan Perang dan Pembentukan Negara

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center


coersion, capital and european states
Judul Buku: Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990
Penulis: Charles Tilly
Penerbit: Basil Blackwell Publisher
Tahun Terbit: 1990
Jumlah Halaman: 278 hlm.

Skor : 4,5/5




Pembiayaan perang mempengaruhi pembentukan negara. Demikian thesis statement Charles Tilly (selanjutnya ditulis Tilly) di bukunya yang berjudul “Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990” dalam upaya menjelaskan bagaimana pembentukan negara di daratan Eropa. Di antara banyak hal yang berkembang dan berperan penting pada kurun waktu 990-1990, terdapat dua komponen penting pembentukan negara, yakni kapitalisme dan militer/instrumen paksaan. Keduanya bertemu dalam satu agenda bersama, yakni pembiayaan perang. Perang membutuhkan pembiayaan yang berasal dari perkembangan kapitalisme, pun demikian dengan kapitalisme yang membutuhkan perlindungan dari militer. Dalam buku ini, Tilly memberikan deskripsi menarik terkait bagaimana proses menjadi (menggunakan process tracing) sebuah negara. Utamanya dilihat dari bagaimana kekuasaan (power) dikonsolidasikan dan terkonsolidasikan.
Read More…

Book Review:
Politik Popular dan Institusionalisasi Demokrasi di Indonesia

Foto Diri

Rafif Pamenang Imawan
Peneliti Populi Center

dilemma of populist transactionalism

Judul Buku: Dilemmas of Populist Transactionalism
Penulis: Luky Djani & Olle Tornquist
Penerbit: PolGov
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 91 hlm.

Skor : 3,5/5



Gerakan populis di suatu negara, tidak dapat dilepaskan dari bagaimana latar belakang historis negara tersebut. Sebagai contoh, gerakan-gerakan populis di negara-negara utara (north countries) yang relatif merupakan negara-negara maju, berbeda dengan negara-negara selatan (south countries) yang kerap dinilai sebagai negara berkembang. Pemilahan antara negara utara dan selatan pun telah menjadi debat tersendiri bagi kalangan ilmuwan sosial. Hanya saja, apabila kita menggunakan gelombang demokratisasi yang dikemukakan oleh Samuel Huntington sebagai kerangka argumentasi, maka kategorisasi besar berupa negara utara dan negara selatan menjadi relevan untuk membaca perkembangan populisme.

Berbeda dengan kajian populisme yang ada, terutama dalam melihat perkembangan populisme, rata-rata kajian populisme melihat dilekatkan pada perkembangan konseptual serta studi kasus yang melekat dengan kajian-kajian sosialisme, terutama di kawasan Amerika Latin (Pappas, 2016, h.4-6). Buku ini memberikan penekanan yang berbeda dengan mengaitkan perkembangan populisme dengan gelombang demokratisasi. Dalam gelombang demokratisasi, hal yang patut diperhatikan adalah kontradiksi antar kelas yang terjadi selama periode demokratisasi tersebut. Di awal berdirinya Republik Indonesia, terdapat beberapa gerakan massa yang sangat kuat, salah satunya ada pada periode tahun 1960-an. Gerakan-gerakan budaya massa, terutama pada periode politik aliran (termasuk masa ketika pemilu 1955), berakhir ketika Orde Baru (Orba) berkuasa. Read More…