Film Review:
Joshua Wong
dan Gerakan Sosial di Hong Kong


Darin

Darin Atiandina

Peneliti Populi Center

Joshua_ Teenager vs_ Superpower (2017) - Mobilized by teenage activist Joshua Wong, young citizens of Hong Kong take to the streets in a bid to preserve their history of autonomy from China
Judul Film: Joshua Wong. Teenager Vs. Superpower
Genre: Dokumenter
Sutradara: Joe Pistaclla
Tahun Rilis: 2017
Durasi: 78 menit

Skor : 4/5



Tubuhnya kurus, tidak terlalu tinggi, berkacamata tebal, serta hobinya adalah bermain video game. Sekilas, Joshua Wong nampak seperti kebanyakan pelajar di Hong Kong. Tetapi, nyatanya ia tak sama. Yang membuat pria dengan nama asli Wong Chi-Fung ini berbeda adalah keberanian yang dimilikinya. Joshua Wong, sejak usia 14 tahun sudah menunjukkan ketangguhannya untuk menentang kekuasaan Beijing di Hong Kong. Ketika remaja lain seusianya sibuk menghabiskan libur musim panas dengan bermain, Joshua memilih untuk memimpin Scholarism, sebuah gerakan sosial yang memprotes rencana pemerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral (NME).

Kisah Joshua menjadi pencetus sekaligus pemimpin Scholarism, kemudian keterlibatan pemuda itu dalam serangkaian aksi protes lainnya di Hong Kong diceritakan dengan apik oleh sutradara Joe Piscatella lewat film dokumenter berjudul ‘Joshua Wong: Teenager vs. Superpower’. Film keluaran Netflix yang diluncurkan pada 2017 ini sekaligus memberikan gambaran kepada penonton soal awal mula perkembangan gerakan sosial di Hong Kong. Bisa dikatakan, gerakan sosial di Hong Kong perkembangannya tidak akan semasif saat ini tanpa kehadiran Joshua.

Ada dua gerakan sosial besar yang disorot dalam film ini, yakni Scholarism dan Umbrella Movement. Scholarism adalah sebuah gerakan sosial yang diinisiasi Joshua pada 2012. Lewat gerakan ini, Joshua mengajak para pelajar di Hong Kong menentang rencana pemerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral. Program tersebut pada intinya mewajibkan setiap sekolah mengajarkan nasionalisme dan kepatuhan terhadap Partai Komunis China. Program ini diluncurkan karena pemerintah menilai generasi muda Hong Kong tidak memiliki sikap patriotik dan juga tidak loyal. Bagi Joshua, program tersebut sama saja seperti mencuci otak generasi muda Hong Kong.

Film ini menceritakan bagaimana Joshua mengajak satu persatu pelajar untuk ikut bergabung dengan cara yang paling oldskul; kampanye di jalan, hingga memanfaatkan teknologi internet. Dalam waktu kurang lebih 6 bulan Joshua bisa mengumpulkan massa dari jumlahnya puluhan, ratusan, hingga ribuan. Puncak aksi scholarism terjadi beberapa hari menjelang program cuci otak itu diterapkan. Ribuan massa berunjuk rasa dengan mendirikan tenda dan menginap di halaman timur kantor pemerintah pusat atau yang lebih dikenal dengan civic square. Mereka berteriak meminta pemerintah untuk menghentikan program tersebut. Akhirnya, setelah beberapa hari memenuhi civic square, Pemimpin Eksekutif Hong Kong CY Leung memutuskan untuk mengabulkan permintaan para demonstran dan program pendidikan nasional akan dibicarakan ulang.

Scholarism jadi gerakan sosial pertama di Hong Kong yang berhasil menekan pemerintah Beijing sejak 1997, tepatnya setelah Inggris menyerahkan kekuasaan atas Hong Kong kembali China. Di bawah kekuasaan China, Hong Kong diberi kewenangan untuk menerapkan sistem pemerintahan one country, two systems. Yang artinya, Hong Kong tetap diperkenankan untuk mengatur negaranya sendiri meski tetap berada di satu atap pemerintahan bersama China. Konsep satu negara, dua sistem hampir mirip dengan otonomi daerah di Indonesia, Hong Kong diberi wewenang memerintah di tiga teritori, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Akan tetapi, kontrol pemerintahan untuk kebijakan luar negeri dan pertahanan berada di bawah kekuasaan China.

Oleh karenanya, meski Hong Kong dan China adalah satu negara, keduanya memiliki sistem yang berbeda. Hong Kong memiliki kepala negara dan parlemennya sendiri. Hong Kong juga memiliki bendera, mata uang, dan paspor yang berbeda dengan China. Warga Hong Kong juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh warga China, yakni kebebasan berpendapat dan berunjuk rasa.

Kebijakan satu negara, dua sistem yang dijanjikan China akan berlaku selama 50 tahun sejak 1997. Artinya, Hong Kong baru menjadi kekuasaan China seutuhnya pada 2047. Seakan tidak tepat janji, pemerintah China semakin hari justru semakin memperlihatkan kekuasaannya di Hong Kong. Contohnya, sejak 1997 Hong Kong tidak pernah menyelenggarakan pemilu. Pemimpin di Hong Kong ditentukan berdasarkan pilihan dari pemerintah China.

Keberhasilan scholarism seakan menginspirasi dan membangkitkan semangat gerakan pro-demokrasi di Hong Kong. Pada 2014 muncul gerakan sosial kedua yang diceritakan di film ini, yakni Umbrella Movement atau gerakan payung. Gerakan ini diinisiasi oleh pebisnis Hong Kong, Benny Tai. Benny kemudian menggandeng Joshua yang turut serta membawa massa ratusan pelajar yang tergabung dalam Scholarism. Unjuk rasa disebut sebagai umbrella movement karena pengunjuk rasa menggunakan payung untuk melindungi diri dari gas air mata yang ditembak oleh aparat keamanan. Gerakan payung menutut pemerintah agar memberikan hak pilih, yakni kesempatan untuk warga Hong Kong menentukan pemimpinnya sendiri lewat pemilu.

Umbrella movement berunjuk rasa dengan cara menginap di tiga jalan utama di pusat kota. Demonstrasi yang diikuti oleh ribuan peserta dan dilakukan secara terus menerus ini berhasil membuat perekonomian Hong Kong lesu. Sebab, banyak pusat perbelanjaan yang tidak dapat beroperasi karena jalanan dipadati demonstran. Sayangnya, aksi yang berlangsung selama 79 hari berturut-turut itu tidak membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginan. Pemerintah Hong Kong tidak memberikan hak pilih secara penuh seperti apa yang diminta, tetapi pemerintah memberikan hak yang sifatnya terbatas. Warga Hong Kong diperkenankan memilih sendiri pemimpinnya dalam pemilu, namun calon pemimpin yang berhak untuk ikut berkontestasi harus berdasarkan pilihan pemerintah Beijing.

Kegagalan umbrella movement menjadi salah satu contoh bagaimana people power tidak selalu bekerja untuk menekan pemerintah. Victoria Hui (2015) menilai aksi menginap di ruas-ruas jalan di pusat kota yang dilakukan massa umbrella movement tidak efektif untuk menekan pemerintah Hong Kong. Cara ini hanya akan mengganggu aktivitas sehari-hari di pusat perbelanjaan dan perekonomian, bukan koalisi yang menguasai pemerintahan Hong Kong. Menurutnya, cara ini justru menguntungkan pemerintah karena para elit pebisnis yang cukup memainkan peran dalam politik Hong Kong akan mendukung pemerintah untuk menghentikan aksi demonstran.

Terlepas dari kegagalan umbrella movement, gerakan sosial di Hong Kong patut diacungi jempol. Sholarism, umbrella movement, dan gerakan pro-demokrasi yang saat ini berlangsung massif di Hong Kong terkenal sebagai gerakan sosial yang sangat disiplin dan tertib. Demonstran yang ikut unjuk rasa semua berpartisipasi sesuai dengan kapabilitasnya, misalnya demonstran yang berprofesi sebagai dokter dan perawat akan bertugas sebagai tim pertolongan pertama, guru dan professor akan membuka sesi belajar-mengajar, mahasiswa akan membantu siswa sekolah menegah mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya. Para demonstran juga selalu siap sedia dengan membawa payung, masker, helm, tenda, hingga makanan sendiri. Kemandirian ini membuat gerakan sosial di Hong Kong disebut sebagai self-organizing civil society.

Film sendiri diakhiri dengan keputusan Joshua untuk membubarkan scholarism pada 2016. Ia bersama kedua temannya, Nathan Law dan Agnes Chow, memutuskan untuk mendirikan Partai Demosisto. Mereka tersadar untuk menghadirkan demokrasi di Hong Kong tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan cara ‘jalanan’, melainkan harus masuk ke dalam sistem. Di tahun itu pula, Nathan Law selaku aktivis antiChina berhasil memenangkan suara untuk masuk ke dalam parlemen.

Ada satu pesan penting yang ingin disampaikan dalam film ini, yakni pemuda memiliki peran penting dalam menentukan proses demokrasi di satu negara. Film ini berupaya membuat generasi muda lain tersadar bahwa suara serta aksi mereka mampu menghasilkan perubahan yang signifikan. Apa yang dilakukan Joshua beserta ratusan pelajar lain di Hong Kong sekaligus mematahkan stigma bahwa generasi muda saat ini adalah generasi yang apatis dan juga pemalas.

Saya pun termasuk salah satu orang yang terinspirasi oleh Joshua. Masih ingat pertengahan tahun 2019 lalu, saya berkesempatan untuk mewawancarai Joshua via telepon dan bertanya langsung kepadanya apakah dia tidak takut melawan pemerintah China. Saat itu, Joshua dan ratusan warga Hong Kong lainnya tengah gencar berunjuk rasa memprotes rencana pemerintah menerapkan UU Ekstradisi di Hong Kong. RUU ini memperkenankan pelaku tindak kriminal di Hong Kong untuk dihukum di China. Hampir setiap pekan, Joshua dan ratusan massa pro demokrasi lainnya menggelar unjuk rasa untuk menentang rencana tersebut .

Joshua menjawab pertanyaan saya tadi dengan santai, suaranya cenderung datar. Dia mengatakan tidak takut sama sekali dan akan melanjutkan perlawanannya sampai keinginannya terwujud, yakni Hong Kong menjadi negara yang bebas menentukan masa depannya sendiri. Joshua juga menyampaikan kepada saya kalimat yang sama persis seperti yang dia katakana dalam film, “Anak muda harus menyadari meskipun kalian Cuma seorang pelajar, belum lulus sekolah atau perguruan tinggi, jika anda mau, maka anda dapat membuat perubahan di masyarakat.”


Rujukan

Hui, Victoria Tin-bor. 2015. “Hong Kong’s Umbrella Movement: The Protest and Beyond”. Journal of Democracy, Volume 26, Number 2, April 2015. John Hopkins University Press.