Article Review:
Kenormalan Baru Hanya Sebatas “Click Bait”?

SHARE

foto_jefri

Jefri Adriansyah

Peneliti Populi Center


the_new_normal


Judul Artikel: The New Normal
Penulis: Amitai Etzioni
Penerbit: Sociological Forum
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 11 hlm.

Skor : 3/5



Sayup-sayup, kini mulai nyaring terdengar istilah New Normal dalam setiap pewartaan di media. Istilah yang mungkin tidak akan asing, namun bisa jadi kehilangan makna karena hanya sebatas tagar. Sejatinya, term tersebut hadir dan mulai dikenal semenjak peristiwa Global Financial Crisis (GFC) pada pertengahan 2007 hingga awal 2009.

Amitai Etzioni adalah salah seorang yang pertama kali mengulas mengenai kenormalan baru dalam artikelnya yang berjudul “The New Normal”. Ia menggambarkan hal tersebut dari bagaimana kebanyakan orang Amerika mengevaluasi kembali cara hidup mereka dan mulai memaknai kepuasan dari sumber non-konsumeris. Sebagai sebuah fenomena, kenormalan baru muncul atas respon masyarakat Amerika terhadap GFC dengan mulai menyederhanakan hidup mereka, mulai berfikir untuk lebih banyak menabung dan merenungkan jauh lebih kedepan atas keberlangsungan hidup mereka.

Tulisan Etzioni, mengulas new normal berdasar pada berbagai survei yang dilakukan pasca GFC. Mengawali diskusinya, ia menunjukkan bagaimana 54 persen warga Amerika kini merasa lebih cemas terhadap hidupnya dibanding beberapa tahun sebelumnya dan 57 persen memiliki kecemasan atas masa depan keluarganya lebih dari sebenarnya. Etzioni mencoba menanyakan apakah setelah GFC, orang akan mencari kembali gaya hidup lamanya dan tetap menjadikan konsumerisme sebagai sumber kepuasan hidup atau mereka mulai mencari sumber-sumber kepuasan baru dari penggalian makna atas sebuah hubungan, budaya dan spiritual yang kemudian disebut sebagai new normal?. Meski berkaca pada kejadian resesi sebelum GFC, yakni pada tahun 1990-1991 dan 2002, nampak sebagian besar orang Amerika tetap kembali pada gaya hidup normal mereka sebelum resesi terjadi dan tetap menjadikan konsumsi sebagai jalan kepuasan hidup mereka.

Pada rentang 2008 hingga 2010, jajak pendapat yang dilakukan oleh Newport (2009) dan Pew Research Center (2010) menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Amerika mulai mengurangi pengeluaran mereka, dengan membeli barang yang lebih murah atau meminimalisir konsumsi alokohol dan rokok, bahkan membatalkan atau memotong rencana liburan mereka. Begitu juga dengan hasil survei Corso (2010), pasca GFC, warga Amerika lebih jarang pergi ke salon untuk menata rambut mereka (38 persen) begitu juga dengan menggunakan dry cleaning (24 persen). Bahkan, sebagian warga mulai menggunakan botol air isi ulang, alih-alih membeli air minum dalam kemasan dan tak lagi berlangganan surat kabar atau majalah. Survei pada Agustus 2010 yang dilakukan oleh Rassmussen juga menunjukkan bahwa 44 persen orang dewasa lebih jarang keluar untuk sekedar mencari makan dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Tidak hanya tentang gaya hidup yang berubah, tetapi juga bagaimana pemaknaan atas kebahagiaan turut bergeser akibat GFC. Meski hasil jajak pendapat Euro RSCG Worldwide pada rentang Oktober-November 2009 menunjukkan adanya kekawatiran akan menurunnya kualitas hidup orang Amerika dengan 85 persen mengatakan masyarakat telah menjadi malas secara fisik. Namun, 67 persen rakyat Amerika meyakini bahwa resesi mengingatkan mereka pada apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sejumlah 48 persen responden mengatakan mereka secara aktif berusaha mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia. Bahkan menabung kemudian dirasa lebih nikmat dibanding membelanjakan uang (Survei Newport, 2009 dengan 59 persen dan Survei Euro RSCG Worldwide, 2010 dengan 87 persen). Nampak hidup sederhana juga lebih dihargai dengan menekankan pada utilitas dan bukan prestise. Setidaknya hal tersebut menunjukkan bahwa ada harapan besar untuk mengubah perilaku kehidupan mereka menjadi new normal.

Singkatnya, sebagian besar orang Amerika mulai menyadari adanya gaya hidup yang berbeda dari pola konsumerisme yang sebelumnya sangat kental dan ada upaya untuk mendefinisikan kembali apa yang membuat hidup menjadi baik. Bahkan, Etzioni menunjukkan tidak ada korelasi positif antara status sosial ekonomi dan kebahagiaan. Faktanya, seringkali tingkat kebahagiaan ditemukan memiliki derajat yang cenderung sama pada kelas ekonomi yang berbeda, terkecuali orang yang sangat miskin dengan kecenderungan kurang bahagia yang lebih besar dibandingkan dengan kelas ekonomi lainnya. Meskipun pertumbuhan ekonomi telah melambat sejak pertengahan 1970-an, kebahagiaan orang Amerika dilaporkan juga cenderung sangat stabil baik pada periode pertumbuhan tinggi dan pertumbuhan rendah.

Richard Easterlin (1974) dalam studinya melaporkan sebuah fenomena yang sejak itu diberi label "Paradoks Easterlin" yang mengatakan bahwa meskipun pada titik waktu tertentu, pendapatan yang lebih tinggi menghasilkan lebih banyak kebahagiaan, namun dalam jangka panjang (10 tahun atau lebih) meningkatnya pendapatan suatu negara tidak menjamin kebahagiaan warganya turut meningkat. Jepang adalah contoh paradoks Easterlin yang sering dikutip. Antara 1962 dan 1987, ekonomi Jepang tumbuh pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, lebih dari tiga kali lipat GNP per kapita-nya. Namun kebahagiaan Jepang secara keseluruhan tetap konstan selama periode itu (Easterlin, 2005). Amartya Sen juga menyatakan bahwa orang yang hidup di negara miskin sering memiliki kualitas hidup yang lebih baik daripada mereka yang hidup di negara yang lebih makmur (Sen, 1999). Meski begitu bukan berarti kita kemudian mengabaikan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan kaum miskin sebagai hal yang tidak berkontribusi terhadap kebahagiaan mereka.

Beberapa indikator kebahagiaan yang bersifat non-material lainnya yang diungkapkan oleh Etzioni adalah kehidupan keluarga seperti pengalaman liburan bersama keluarga. Konsumsi pengalaman dianggap lebih bermakna dibandingkan konsumsi benda fisik. Hubungan manusia pada akhirnya memiliki peran penting pada kebahagian, sebaliknya, orang yang secara sosial terisolasi cenderung kurang bahagia dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, suasana hati yang negatif, kesedihan, permusuhan, ketakutan akan evaluasi negatif, dan persepsi stres. Selain itu, tingkat optimisme, kebahagiaan, dan kepuasan hidup mereka juga lebih rendah dibandingkan orang yang memiliki hubungan sosial kuat.

Sumber kebahagian lain yang bersifat imateriil adalah tingkat religiusitas seseorang. Bahwa dengan partisipasi dalam kegiatan agama yang memiliki makna mendalam bagi individu sangat erat kaitannya dengan kebahagiaan. Kegiatan seni seperti melukis, menari, musik, dan bercerita dalam beberapa studi juga dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis dan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah.

Amitai Etzioni menekankan bahwa selama ini mencari kebahagiaan dalam pola konsumerisme bisa jadi adalah sebuah hal semu, karena hal tersebut tidak akan pernah menemui titik akhirnya, dalam makna akan selalui ada yang yang lebih kaya ketika kamu mengejar kekayaan itu. Meski begitu, telah lama sebagian orang Amerika berusaha untuk lepas dari belenggu konsumerisme dan memilih hidup dalam kesederhanaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Resesi Hebat (GFC) telah memaksa banyak orang Amerika untuk menghadapi pertanyaan apakah mereka dapat beradaptasi dengan kehidupan yang lebih keras dan apakah mereka dapat menemukan sumber kepuasan lainnya. Dari berbagai hasil survei menunjukkan bahwa proses menuju era new normal mungkin terjadi meski secara jangka panjang perlu pembuktian lebih mendalam yang turut disertai promosi untuk menahan laju konsumerisme tersebut, sebagai pembuktian bahwa tidak ada upaya kembali pada kebiasaan lama old normal.

Joel Best dalam artikelnya What’s New? What’s Normal? sebagai respon atas artikel Amitai Etzioni (The New Normal) tidak begitu sepaham bahwa hasil survei yang digunakan dalam bangunan argumentasi Etzioni betul-betul mencerminkan bahwa masyarakat Amerika telah menuju new normal pasca GFC. Keraguan Best karena ia menganggap hasil yang ada sebagai temuan yang standar. Kedangkalan Etzioni dalam memaknai hasil survei secara lebih komprehensif semakin nampak ketika Best mengatakan bahwa tidak terlalu mengejutkan untuk mengetahui bahwa sebagian besar responden survei memandang standar hidup mereka memuaskan. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Pew Center pada Juni 2008 menemukan 36 persen responden sangat puas dengan standar hidup mereka, dan 43 persen lainnya menyatakan diri agak puas. Hal tersebut sedikit lebih baik dari jajak pendapat Desember 1996 yang masing-masing menunjukkan angka 35 persen dan 40 persen terkait tanggapan sangat puas dan agak puas (Pew Research Center, 2011). Best juga mengkritik sangat mudahnya Etzioni menyatakan bahwa konsumerisme sebagai sumber utama kepuasan warga Amerika namun tidak menunjukkan jejak pendapat mana yang mendukung argumentasi identitas materialisme tersebut ketika sebaliknya ia mencatat bahwa survei secara konsisten menunjukkan bahwa kebanyakan orang mengatakan mereka menghargai keluarga, komunitas, dan agama.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Best, memang bangunan argumentasi yang disampaikan Etzioni sangatlah dangkal jika ingin menjawab pertanyaan yang ia tetapkan dalam artikelnya tentang new normal, bahwa ada pencarian sumber kepuasan baru diluar identitas materialisme. Setidaknya secara statistik, analisis berbasis seri waktu atau time series dibutuhkan untuk menjawab apakah memang terjadi perubahan gaya hidup dalam memaknai kebahagiaan dengan membandingkan ex-GFC dan post-GFC (difference in difference). Dengan sajian deskriptif statistik melalui berbagai survei tersebut, Etzioni sama sekali tidak bisa menyebut bahwa fenomena yang terjadi merupakan new normal. Terlalu jauh apabila Etzioni pada akhirnya juga menyimpulkan jika sebagian besar orang Amerika mulai menyadari adanya gaya hidup yang berbeda dari pola konsumerisme yang sebelumnya sangat kental dan ada upaya untuk mendefinisikan kembali apa yang membuat hidup menjadi baik.

Pada akhirnya, tanpa disadari kini new normal yang terlanjur semakin popular sebagai istilah untuk menggambarkan perubahan perilaku sebagai respon terhadap suatu kondisi tertentu (krisis) telah kehilangan maknanya. Seperti artikel Joel Best dengan judulnya yang sangat perlu diresapi betul sebenarnya apa yang baru? dan apa yang normal?. Karena bagi saya pribadi proses adaptasi yang terjadi atas kondisi krisis sebagai hal yang wajar, dan itu ditunjukkan dari argumentasi Best yang sebenarnya dalam data rentang waktu, tidak bisa dipastikan bahwa penggalian sumber kepuasan hidup yang tadinya bersifat material menuju hal yang lebih imateriil yakni ikatan hubungan antar personal, budaya dan spiritual adalah akibat dari adanya GFC.

Sedikit mengkontekskan pada krisis COVID-19 yang tengah terjadi saat ini dan mulai digemborkannya new normal sebagai sebuah hal yang harus dilakukan masyarakat, tentu hanya sebagai sebuah pemaknaan semu. Karena sejatinya ketika new normal diletakkan pada keharusan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, bukankah dari dulu ketika ada wabah atau kondisi kesehatan yang tidak baik, kita memang sudah dituntut untuk lebih menjaga kesehatan seperti anjuran para dokter atau mantri? lalu apa yang baru dari protokol kesehatan yang saat ini dilakukan? apakah masyarakat baru mengenal cuci tangan sebelum makan pada abad ke 21 ini? tentu tidak. Lantas kemudian apa yang disebut old normal ketika muncul istilah new normal pada kondisi pandemi kali ini? itu pun masih tidak jelas. Alhasil seperti yang saya katakan diawal, istilah new normal hanya menjadi sebatas tagar tanpa makna yang jelas. Begitulah kiranya ketika kini dunia telah memasuki era media sosial yang butuh hashtag, jargon, dan caption sebagai “click bait”. Terkadang makna sebuah frasa tidak begitu utama, yang penting adalah keren.

Daftar Pustaka

Best, Joel. 2011. What's New? What’s Normal?, dalam Sociological Forum, Vol. 26, No. 4, December 2011, DOI: 10.1111/j.1573-7861.2011.01283.x, h.790-795.
Easterlin, Richard. 1974. ‘‘Does Economic Growth Improve the Human Lot? Some Empirical Evidence,’’ dalam Paul A. David and Melvin W. Reder (eds.), Nations and Households in Economic Growth: Essays in Honor of Moses Abramovitz, h. 35–47. New York: Academic Press, Inc.
Easterlin, Richard. 2005. Diminishing Marginal Utility of Income? Caveat Emptor, dalam Social Indicators Research 70(3), h.243-255.
Etzioni, Amitai. 2011. The New Normal, dalam Sociological Forum, Vol. 26, No. 4, December 2011, DOI: 10.1111/j.1573-7861.2011.01282.x, h.779-789.
Sen, Amartya. 1999. Development as Freedom. New York: Knopf.