BookReview:
Meminum Makanan A la Rote

SHARE

anto

Hartanto Rosojati
Peneliti Populi Center

Gambar Sampul Panen Lontar

Judul Buku: Panen Lontar; Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu
Penulis: James J. Fox
Penerbit: Pustaka Sinar Harapan
Tahun terbit: 1996
Jumlah halaman: 351

Skor : 4/5




Pertama, saya akan menyampaikan terlebih dahulu alasan di balik pemilihan buku ini untuk direview. Kemudian ulasan terkait isi dari buku akan dijelaskan selanjutnya. Beberapa gambar di Pantai Nambrela menarik perhatian saya. Gambar ini saya temukan di laptop saya di sebuah folder perjalanan waktu saya ke Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Terlihat jernihnya laut di bagian selatan Pulau Rote, pun dengan kondisi pantai yang bersih dan tidak terlalu ramai. Suasana yang sangat tenang kembali saya ingat setelah melihat gambar-gambar tersebut. Namun ada pertanyaan besar yang kemudian muncul, lalu apa yang saya dapat dari sembilan jam saya di Pulau Rote? Apakah hanya pengalaman menghirup udara segar di pantai yang sebelumnya pernah didatangi Presiden Jokowi? Pertanyaan ini kemudian mengantarkan saya untuk mencari beberapa referensi bacaan tentang Rote. Hasilnya, sebuah buku dengan judul Panen Lontar menarik perhatian saya untuk saya baca.

Buku ini adalah karya James Fox, seorang guru besar dari Australian National University. Tentu judul Panen Lontar adalah hasil dari terjemahan dari karya aslinya yang berjudul Harvest of Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia (1977). Penelitiannya ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan tetap memperhatikan konteks historis dari Rote dan Sawu. Penelusuran dari referensi untuk penelitiannya tidak berjalan mudah, karena memang masih sulit menemukan hasil kajian tentang Rote dan Sawu. Selain caranya untuk mencari dokumen-dokumen pendukung dalam penelitiannya, teknik yang ia gunakan dalam penelitian ini pun juga terbilang menarik karena ia melakukan grounded research.

Pendekatan ini memungkinkannya untuk memperdalam mengenai informasi yang ia dapatkan, serta berusaha untuk mengeneralisasikan konteks kehidupan sosial, ekonomi yang ia tangkap. Penelitianya dimulai karena ketertarikannya dengan pohon lontar, meskipun tanah di Rote dan Sawu terbilang kering, namun pohon lontar tumbuh subur di daerah tersebut. Selain itu, keberadaan pohon lontar berpengaruh pada kehidupan sosial dan budaya di kedua pulau tersebut. Konteks ekologi dan historis sangat terlihat dalam karya yang dibuat James Fox pada buku ini. Pendekatan historis yang digunakan James Fox tidak lepas dari pengaruh Evan Pritchard dan juga pernyataan tegas dari Louis Dumont bahwa sejarah adalah gerakan dari suatu masyarakat untuk mengungkapkan dirinya dalam bentuk yang sesungguhnya (Dumont, 1937:21).

Untuk menjelaskan perubahan ekologi dalam kehidupan masyarakat di Pulau Rote dan Sawu, melalui karyanya James Fox membagi ketiga bagian sub bahasan. Pertama tentang ekologi dan ekonomi di Kepulauan Busur Luar. Istilah busur luar ini dipilih mengingat aktivitas ekonomi di pulau-pulau kecil seperti Rote dan Sawu tidak terlepas dari gugusan pulau yang lebih besar di sekelilingnya. Apabila dilihat, bentukan gugusan pulau di bagian selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini terlihat seperti busur, mulai dari Pulau Sumba di sebelah barat hingga Pulau Timor di sisi timur. Pada bagian tulisannya, James Fox menunjukkan konteks historis dari hubungan ekonomi dari Pulau Rote dan Sawu. Pelacakan antropo-historis ini coba ia rangkai dengan cukup rapi hingga dapat menjelaskan bagaimana kondisi sosial-ekonomi pada masa persekutuan dagang Hindia-Belanda. Pada bagian ketiga terkiat dengan perbandingan dalam perekonomian palem yang dijelaskan melalui penggunaan Borassus.

Pada bagian pertama, mulanya James Fox menjelaskan kondisi ekologis di beberapa wiayah di Kepulauan Busur Luar. Faktor utama yang mempengaruhi lingkungan di wilayah-wilayah tersebut adalah kondisi iklim yang kering dan kondisi tanah yang tandus. Namun semakin kering dan tandusnya wilayah-wilayah ini, khususnya di Pulau Timor, dipengaruhi dengan datangnya sapi-sapi ke wilayah tersebut. Mulanya kedatangan sapi ini adalah hadiah untuk raja-raja di Timor, beserta lantana camara, sejenis gulma yang dapat cepat tumbuh. Namun pada akhirnya pertumbuhan sapi menjadi pesat dan rumput-rumput menjadi habis dan kondisi semakin kering. Selain itu lantana yang berfungsi sebagai tanaman pagar yang dianggap tahan api ternyata malah berdampak pada peternakan yang di wilayah Timor. Kerbau dan sapi mulai kehilangan lahan makanan sehingga harus mengambil tindakan ekspor.

Proses adaptif masyarakat setempat dengan berbagai cara digambarkan James Fox dengan cukup runut hingga pada akhirnya istilah lapar biasa adalah agenda satu-dua bulan yang biasa dialami oleh masyarakat Timor. Kondisi di Timor sangat berbeda dengan kondisi di Sumba. Wilayah ini dipenuhi dataran berumput yang membuat sebagian besar masyarakatnya bercocok tanam ladang, meskipun iklim di daratan Sumba terbilang kering. Namun yang mendukung perekonomian di sumba adalah perdagangan kuda. Bahkan perdagangan ini sudah terlebih dilakukan masyarakat setempat sebelum masa penjajahan Belanda. Meskipun demikian kesulitan Sumba adalah terkait dengan transportasi eksport hasil peternakan. Sisi lain, di Sumba tidak terjadi adanya siklus lapar biasa seperti halnya yang terjadi di Pulau Timor.

Di antara kedua pulau besar tersebut, terdapat pulau-pulau kecil lain yang juga memiliki dinamika lain terkait dengan kondisi alam, sosila, dan ekonominya. Pulau Rote dan Sawu, dua daerah ini memiliki kondisi yang lebih gundul dibanding pulau Sumba dan Timor. Terlebih lagi kondisi tanah yang berkapur dan terdiri dari tanah liat sulit untuk memungkinkan lahan pertanian di sana. Di sini James Fox juga menampilkan catatan sejarah Belanda tentang curah hujan di Rote dan Sawu yang terbilang sangat rendah. Bahkan data curah hujan hanya di dapat di Baa, sebuah kota kecil di Rote yang menjadi pusat pemerintahan, bahkan saat ini Baa menjadi ibukota dari Kabupaten Rote. Di Sawu bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan Rote.

Wijngaarden (1890) sebagaimana yang dikutip James Fox dalam tulisannya bahkan menjelaskan bahwa Sawu tidak memiliki daun-daun yang hijau atau tanaman. Sawu adalah bongkahan batu besar yang berada di tengah lautan. Kemudian penjelasan yang sama juga ditunjukkan James Fox bahwa curah hujan di Sawu juga sangat rendah. Yang menarik perhatian James adalah jika dibandingkan dengan pulau-pulau besar seperti Timor dan Sumba, kepadatan penduduk di Rote dan Sawu terbilang cukup padat jika dihitung per kilometernya. Kepadatannya bisa mencapai 60 hingga 70 orang, yang pada kala itu hitung-hitungan tersebut terlalu tinggi untuk tipologi lahan pertanian. Bahkan di Ndao, sebuah pulau kecil di bagian barat laut Rote memiliki kepadatan mencapai 232 orang tiap kilometer perseginya di tahun 1971.

Beberapa model pilihan alternatif ekonomi yang diambil dengan kondisi lingkungan yang berbeda menjadikan model kehidupan yang berbeda pula. Di Pulau Sumba dan Timor perekonomiannya tergantung pada perladangan, sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya. Namun untuk mendukung perekonomian, kebijakan yang diambil adalah untuk memelihara hewan eksport. Kuda di Pulau Sumba mulai pada awal abad ke-19, dan sapi di Pulau Timor pada awal abad kedua puluh. Akan tetapi kondisi ini sebenarnya yang membebani sektor pertanian. Berbeda dengan Rote dan Sawu. Kedua pulau ini memiliki lahan yang lebih kering namun tersedia pohon palem yang cukup melimpah. Langkah yang diambil adalah dengan memaksimalkan pohon palem yang efeknya memunculkan perekonomian campuran seperti pengolahan sawah, perkebunan, peternakan dan berbagai kegiatan meramu.

Peternakan memang sangat penting, namun secara khusus mereka tidak dipelihara oleh masyarakat Rote dan Sawu, melainkan dibiarkan saja berkeliaran begitu saja, karena lahan pertanian masyarakat Rote atau Sawu biasanya sudah terlindungi oleh tanaman-tanaman berpagar sehingga tidak dapat merusak lahan pertanian dan perkebunan. Hewan yang umum dijumpai di kawasan pulau-pulau kecil tersebut adalah kerbau dan babi, kerbau karena memang untuk mendukung lahan pertanian dan perkebunan, sedangkan babi karena hewan tersebut dapat diberi makan dengan limbah dari pohon lontar. Proyek untuk mendatangkan sapi ke kawasan tersebut telah terbukti gagal.

Ada dua aspek penting yang diperlihatkan dari beberapa temuan yang dijelaskan oleh James Fox. Pertama ada ketergantungan dengan pohon lontar. Kemudian keterampilan penduduk setempat untuk adaptif dengan kondisi lingkungannya. Keberagaman aktivitas ekonomi pada akhirnya menimbulkan spesialisasi dari berbagai bidang. Dari lontar, para penduduk memiliki keahlian yang berbeda, ada yang spesialis menyadap, mengolah hasil sadapan, serta memanfaatkan bagian lain dari pohon lontar agar bernilai ekonomis.

Dari sini, terlihat bagaimana James Fox berusaha menjelaskan bahwa apa yang terjadi di pulau-pulau besar tersebut juga dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Eropa yang memiliki model perekonomiannya sendiri. Berbeda dengan pulau-pulau kecil yang ada di tenagh kepualau busur tersebut. Rote misalnya, karena kemandiriannya terhadap pengolahan pohon lontar dan sistem pengorganisasian masyarakat dalam aktivitas ekonomi, pada akhirnya masyarakat Rote memiliki cara hitungan kerja yang patut dicontoh oleh beberapa daerah. Apabila di Timor masih sering kita jumpai orang kelaparan, di Rote kondisi tersebut hampir tidak pernah terjadi. Makanan tidak putus, istilah tersebut sering digunakan sebagai pola berpikir masyarakat Rote seperti halnya yang dijelaskan James bahwa bukan berarti panen akan selalu berhasil, melainkan masyarakat selalu menghitung kegagalan dalam setiap aktivitas ekonominya. Masyarakat Rote tidak berpikir akan panen berapa kali dalam setahun, namun lebih memikirkan kira-kira akan terjadi kegagalan berapa kali. Manajemen resiko seperti ini memang perlu diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sosial. Inilah yang kemudian melandasi bagaimana mekanisme kerja ekonomis di balik pohon lontar di Rote berbeda dengan para pemanen lontar di Madura, atau di India selatan seperti halnya yang dijelaskan James Fox pada bagian akhir.

Mengambil contoh di Rote, pada kunjungan sembilan jam saya di Rote memang sangat terlihat bahwa hewan-hewan seperti kerbau dan babi dibiarkan begitu saja, namun di sepanjang jalan yang terlihat ada aktivitas pertanian, terlihat pula tanaman-tanaman berpagar untuk melindungi dari hewan-hewan berkeliaran. Satu hal lain yang juga menarik adalah cukup sulit untuk mencari sarapan pagi pada waktu itu, bukan tidak ada, melainkan masih banyak yang belum buka, atau mungkin mereka tidak biasa makan? Dalam catatan James Fox, saya menemukan bahwa masyarakat Rote meminum makanannya. Nira dari pohon lontar adalah makanan pokok dari masyarakat Rote. Tidak seperti wilayah lain yang menjadi tergantung pada nasi, sagu, jagung, ataupun singkong.

Namun apakah masyarakat Rote tidak memakan nasi? Jika dilihat di era-era saat ini dan juga berdasarkan pengalaman kedatangan saya di Rote, jelas menunjukkan bahwa masyarakat setempat masih memakan nasi. Meskipun demikian, dari Rote sebenarnya masyarakat dapat mempelajari bahwa pada masa tersebut, ketergantungan masyarakat terhadap lontar yang sangat tinggi menjadikan hidup mereka sangat ramah lingkungan. Semua bagian dari pohon lontar dapat dimanfaatkan, bahkan untuk alas makan pun daun-daun lontar dapat dijadikan alas. Tidak hanya sebagai alas makan, melainkan dapat digunakan sebagai atap rumah, atau saat ini dapat kita lihat daun lontar dijadikan kerajian tangan. Rote menjadi potret bahwa kehidupan masyarakat tidak selalu tergantung dengan pihak luar, dalam ahl ini campur tangan Belanda. Selain itu kelestarian lingkungan di Rote menjadi salah satu model yang perlu diterapkan di beberapa wilayah pertanian dan perkebunan di Indonesia.

Dari ulasan singkat yang saya temukan dari karya James Fox, yang paling menarik bagi saya adalah tentu pertama kali hasil dari temuan lapangannya. Selain itu bagaimana James Fox menerapkan studi literature yang sangat ketat. Pada akhirnya konteks historis dari bukunya sangat kental dari setiap penjelasan yang coba ia bagikan kepada para pembaca. Buku Panen Lontar ini adalah karya pertama James Fox di Indonesia timur. Hingga pada akhirnya ketertarikannya terhadap Indonesia Timur khusunya Pulau Rote membuat James menerbitkan karya lainnya tentang Rote, yakni Bahasa, Sastra, dan Sejarah: Kumpulan Karangan Mengenai Masyarakat Pulau Roti (1986).

Daftar Pustaka

Fox, James. Panen Lontar: Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan (1996).