Article Review:
Bahasan Teknis Implementasi Smart City di London

SHARE


nona_evita_2

Nona Evita Wijanarko

Peneliti Populi Center


smart_city

Judul Artikel: Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities
Penulis: Claire Thorne dan Catherine Griffiths
Penerbit: Springer
Tahun Terbit: 2014
Jumlah halaman: 11

Skor : 4/5




Artikel yang berjudul Smart, Smarter, Smartest: Redefining Our Cities yang ditulis oleh Claire Thorne dan Catherine Griffiths membahas tentang upaya pemerintah Inggris yang seperti banyak pemerintah lainnya yang menempatkan implementasi sistem Kota Cerdas menjadi agenda prioritas. Artikel ini menjelaskan komponen-komponen yang dapat menjadikan suatu kota menjadi kota pintar dan memeriksa kebutuhan yang muncul untuk menciptakan kota London yang cerdas. “Kecerdasan” mungkin tidak sepenuhnya berasal dari solusi teknologi, tetapi dari mekanisme yang digunakan untuk melibatkan dan memberikan jenis kota baru.

Claire Thorne dan Catherine Griffiths membagi tulisan ini menjadi 7 bagian. Bagian pertama berisi paparan soal sejarah revolusi industri dari masa ke masa yang pada akhirnya membawa sampai ke titik di mana dunia dihadapkan pada big data dan open data yang mendorong adanya inovasi agar dapat memanfaatkan data tersebut. Teknologi yang membuat, mengumpulkan, mengelola data, dan memungkinkan untuk mengekstraksi nilai dari data, semuanya sedang dikembangkan dan diadopsi dengan cepat. Dari pengembangan ini, kemudian ada platform baru, segala hal yang berkaitan dengan internet (Internet of Things), media sosial, konektivitas seluler yang hampir ada di mana-mana.

Alasan terciptanya Kota Cerdas adalah adanya prediksi peningkatan populasi perkotaan. Terjadinya penambahan jumlah penduduk perkotaan akan berdampak pada peningkatan beban pada logistik, sumber daya, dan infrastruktur. Kondisi ini dapat dilihat menjadi tantangan bagaimana membuat sistem lama bekerja dengan mudah dengan teknologi baru, sambil merancang kota yang dapat menawarkan peningkatan kualitas kehidupan bagi warga. Harapan ini yang ditawarkan oleh revolusi digital di mana tercipta kota masa depan yang lebih besar, lebih cepat, lebih mudah dan dapat terwujud dengan integrasi platform, produk, dan proses digital dengan infrastruktur kota dan ruang kota. Lewat sistem-sistem yang terkoordinasi, harapannya semua warga akan mendapatkan manfaat.

Bagian kedua membahas integrasi pervasif. Kata cerdas saat ini sudah seperti merek global. Namun masih banyak yang menyalahartikan implementasi dari penyematan kata-kata smart. Sebagai contoh guru yang mengajar anak-anak dengan menggunakan papan tulis mutakhir (next generation blackboard) disebut mengajar dengan smart boards. Kemudian kendaraan kecil yang ada di jalan disebut smart cars. Kata-kata smart menjadi akrab di telinga kita dan semakin banyak digunakan oleh pejabat publik dan konsultan untuk membangun kredibilitas mereka. Justifikasi kecerdasan adalah apa yang dibutuhkan oleh kehidupan nyata, di mana kunci dari kecerdasan adalah keterlibatan (engagement) dan bahasa yang digunakan. Dalam konteks kecanggihan teknologi yang membutuhkan konektivitas, kategori yang tepat adalah digital bukan kecerdasan. Kategori cerdas lebih ke arah interkonektivitas dan interaktivitas yang berjalan lancar (dari dan ke perangkat lain atau antar sistem), responsif terhadap peristiwa.

Claire Thorne dan Catherine Griffiths juga mengkritik soal 6 elemen kota cerdas: smart economy, smart mobility, smart environment, smart living, smart governance, dan smart people. Dalam tulisannya, 6 elemen ini hanya mendeskripsikan siapa dan apa, namun kerangka ini tidak menggambarkan bagaimana. Di bagian ketiga, artikel ini membahas soal bagaimana membuat suatu kota menjadi cerdas.

figur_smart_city



Figur di atas adalah kerangka yang ditawarkan Claire dan Catherine dalam artikel ini sebagai upaya menjawab bagaimana mewujudkan kota cerdas. Kerangka ini terdiri dari 5 deskriptor yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut:
Need : dorongan pertumbuhan pusat kota dan inovasi teknis.
Enablers, yang terdiri dari 3 hal, yaitu:

Skills – membina kumpulan orang yang memiliki keterampilan khusus

Appetite – kesiapan dan kesediaan warga untuk mengadopsi teknologi baru dan intervensi cerdas dengan cara membuat populasi memiliki literasi digital yang baik dan saling terlibat satu sama lain.

Data – informasi yang disesuaikan dan dipersonalisasi, dapat diakses oleh individu, bisnis, dan pemerintah secara real-time


Implementation environment (infrastructure, economy, governance)
Approach (engagement, implementation/deployment, adoption)
Outputs sebagai prinsip inti yang pada dasarnya memberikan fasilitas kualitas layanan, kualitas hidup, dan keterlibatan. Di dalamnya ada smart living, smart mobility, smart economy.

Di Inggris saat ini kondisinya baru sampai pada tahap inisiatif cerdas (smart initiatives). Ada kemungkinan smart city menjadi gagal karena tidak adanya definisi jelas mengenai visi dan strategi serta tujuan bersama. Bagian keempat dari artikel ini membahas soal karakteristik kota-kota di Inggris berbeda-beda. Meski karakteristik masing-masing kota berbeda-beda, namun ada benang merah yang dapat ditarik yaitu aspirasi sebagai solusi standar dari masalah perkotaan.

Di bagian kelima artikel ini adalah bagian krusial karena membahas satu per satu studi kasus penerapan Smart City di kota London dalam indikator-indikator yang sudah dipaparkan di bagian ketiga. Namun dari 5 indikator, Claire dan Catherine hanya membahas 2 indikator saja yaitu enablers dan implementation environment. Dari sudut pandang enablers, secara keahlian, kota London berusaha menciptakan lingkungan cerdas, bekerjasama dengan institusi pendidikan tinggi merespon kebutuhan dengan digital dan penawaran pendidikan dan penelitian cerdas. Ada peluang untuk Inggris untuk mengambil pembelajaran tersebut dan menerapkannya dalam skala besar di seluruh kota di Inggris. Secara appetite, masih ada anggapan bahwa kota cerdas hanya sebatas imaji dan membuang dana publik karena penerapannya belum disampaikan secara efektif. Ini yang menjadi tantangan kedepan untuk melatih pemasaran untuk memberi informasi kepada publik tentang integrasi dan manfaat masa depan kota London yang lebih cerdas.

Berdasarkan data, tantangan yang dihadapi adalah dalam membuat ekosistem yang sama di domain swasta. Bagaimana dataset publik dan pribadi apabila digabungkan. Claire dan Catherine tidak membahas lebih jauh mengenai dampak dari penggabungan data publik dan pribadi. Padahal ada sejumlah hal yang dapat dibahas dari konsekuensi penggabungan ini seperti masalah kepemilikan, regulasi, IP, kompetisi, undang-undang, keamanan, privasi dan nilai dataset tersebut. Dari skup lingkungan implementasi secara singkat Claire dan Catherine membahas soal infrastruktur, ekonomi dan pemerintahan. Secara infrastruktur, tidak semua rumah tangga dan individu di kota-kota Inggris mampu atau ingin terhubung secara digital dan masih banyak yang belum terjangkau akses internet. Secara ekonomi, ada bukti bahwa Inggris melihat peluang revolusi digital baru dan mendukung aktivitas industri dengan membuat beberapa daerah menjadi terintegrasi. Secara pemerintahan, sudah ada inisiasi-inisiasi yang dilakukan pemerintah seperti Smart London Board, The Digital, dan The Government Digital Strategy. Namun yang masih menjadi permasalahan adalah kepemilikan dan nilai dari data.

Bagian 6 dan bagian 7 berisi contoh nyata sistem yang sedang dibangun di London dan kesimpulan. Research Councils UK mendanai proyek penelitian interdisipliner bernama The Digital City Exchange. Proyek penelitian ini fokus kepada integrasi dan adaptasi real-time, lintas sektoral (transportasi, dataset kota energi, air dan limbah) untuk memungkinkan inovasi model bisnis dan mengubah perencanaan, manajemen, penggunaan layanan dan sumber daya kota. Proyek ini adalah platform baru yang mendukung individual dan organisasi untuk menggabungkan, memperjualbelikan, dan bertukar dataset suatu kota. Dengan menghubungkan warga, sektor bisnis, dan pemerintahan kepada kecerdasan real-time dan pengambilan keputusan cerdas, diharapkan proyek ini dapat memonitor dan mengontrol pelayanan publik menjadi lebih baik, meningkatkan pelayanan kesehatan, meningkatkan produktivitas dan kualitas layanan publik, memunculkan model bisnis baru, pemusatan data satu pintu, dan tentu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Artikel sejumlah 11 halaman tersebut memaparkan dengan jelas perkembangan kota cerdas di kota London secara teknis. Claire dan Catherine berhasil keluar dari bahasan soal konsep smart city yang sampai saat ini masih belum didefinisikan secara jelas. Dameri dan Sabroux (2014) dan Cocchia (2014) mengkonfirmasi argumen ini dengan menyebut bahwa hingga saat ini tidak ada definisi pakem dari kota cerdas dan hingga saat ini sulit sekali untuk mendefinisikan smart city. Hingga saat ini ada pertentangan besar dalam melihat smart city dari pandangan akademis dan pandangan empiris. Cocchia (2014) menilai bahwa secara akademis penekanan smart city ada pada kultur masyarakat dan level pendidikan. Sementara itu, dalam pandangan empiris, komponen utama smart city adalah teknologi. Perdebatan ini tidak ada di dalam tulisan ini dan menurut saya dengan tidak adanya perdebatan tersebut, tulisan ini menjadi komprehensif dan aplikatif untuk dibaca oleh pengambil kebijakan untuk selanjutnya dipelajari lebih lanjut bagaimana pemerintah Inggris khususnya pemerintah kota London menerapkan kota cerdas.

Secara keseluruhan, artikel ini layak direkomendasikan untuk pemangku kebijakan maupun pembaca yang sedang menulis kajian tentang smart city karena artikel ini juga mengungkap potensi-potensi kegagalan smart city di Inggris, di mana potensi ini juga mungkin terjadi di Indonesia. Potensi tersebut adalah masih banyak asumsi masyarakat yang menganggap bahwa kata-kata smart city hanya branding dan tidak ada manfaat apa-apa untuk masyarakat. Di sini tantangan yang harus dihadapi berbagai para stakeholders untuk membuat pemasaran smart city menjadi lebih mudah dicerna semua kalangan, tidak hanya berkutat pada tataran konsep semata.

Rujukan:

Cocchia, Annalisa. "Smart and Digital City: A Systematic Literature Review" in Progress in IS (2014): 13-44 Dameri, R.P dan Sabroux, C.R. “Smart City and Value Creation” in progress in IS (2014): 1-12