Info: Halaman ini sudah tidak akan diperbaharui dengan artikel-artikel baru, dan tetap dipertahankan semata-mata sebagai arsip. Aktivitas peneliti Populi Center selama menjalankan phisical distancing melalui kebijakan Work from Home (WFH) sekarang beralih ke halaman RanaPus(t)aka.

Kronika Kerja Populi Center

Au Revoir

Minggu, 26 April 2020
Kata au revoir yang merupakan bahasa Prancis, justru saya kenali dari band Jepang pada dekade 1990-an, yakni Malice Mizer. Melalui lagu dengan judul tersebut, saya baru mengetahui bahwa au revoir memiliki arti selamat tinggal. Ini merupakan tulisan terakhir saya dalam kronika Populi Center. Memang tulisan-tulisan yang telah saya ketik bervariasi, ada yang membahas analisa tipis-tipis terkait kondisi terkini, ada yang membahas pengalaman pribadi, sedikit refleksi filosofis, namun secara umum saya menuliskan apa yang saya lalui di hari tersebut. Read More…

Ekonomi Lantas Ke Politik


Sabtu, 25 April 2020
Hari ini sahabat lama saya berulang tahun, Namanya David Ekstam, rekan karib di Swedia yang dipertemukan karena kami sama-sama menyukai Seri A. Hanya saja kami berbeda pilihan klub, saya pendukung Inter Milan, sedangkan David merupakan pendukung AS Roma. Kami memiliki group sendiri yang berisikan kami bersama pasangan kami. Kebetulan memang kami semua berasal dari disiplin ilmu yang sama, yakni Ilmu Sosial. Kami mendiskusikan situasi terkini, terutama terkait dengan penyebaran virus corona. Read More…

Pembelajaran dan Jalan Sunyi


Jum’at, 24 April 2020
Innaillahi wa innaillahi rojiun. Pesan singkat tersebut saya baca di grup Whatsapp rekan-rekan di grup whatsapp Pemikir Hukum. Telah berpulang Arief Budiman, seseorang yang semula saya kenal dari bacaan sewaktu kuliah strata satu di Universitas Gadjah Mada. Belakangan di akhir semester pertama, saya baru mengetahui bahwa beliau merupakan kakak dari Soe Hoe Gie, adapun ketika saya lulus, saya baru mengetahui bahwa mbak Santi yang merupakan istri dari Kuskrido Ambardi merupakan anak dari Arief Budiman. Nama beliau saya kenal dan kenang, mengingat tulisan beliau yang amat mudah dicerna. Bagi saya yang baru saja lulus dari SMA, bahasa beliau sangat mudah untuk dipahami. Sejak saat itu saya percaya bahwa orang cerdas adalah orang yang dapat menjelaskan hal yang rumit dengan mudah. Read More…

Mudik Vs. Pulang Kampung

Nurul Fatin Afifah


Presiden Jokowi resmi melarang masyarakat untuk mudik mulai tanggal 24 April 2020. Dalam wawancara bersama Najwa Shihab, Jokowi mengatakan bahwa yang dilarang oleh pemerintah adalah mudik, sedangkan pulang kampung diperbolehkan. Perbedaan dua bahasa tersebut memunculkan polemik baru bagi publik. Masyarakat menganggap bahwa tidak ada perbedaan antara mudik dan pulang kampung. Masyarakat akhirnya memilih menggunakan bahasa pulang kampung untuk pergi dari wilayah Jabodetabek karena hal ini dianggap diperbolehkan oleh Presiden. Read More…

Kritik Kartu Pra Kerja

Nurul Fatin Afifah


Pagi ini, ponakan saya memberi kabar bahwa dia lolos mendapatkan kartu pra kerja. Ponakan saya baru saja menikah sehingga terpaksa resign dari pekerjaan sebelumnya di Indramayu dan pindah ke Cikarang bersama suaminya. Awalnya saya cukup antusias ketika mendengar kartu pra kerja karena bisa menjadi harapan bagi masyarakat yang sedang kesulitan mencari pekerjaan dan harus mondar-mandir selama proses mencari pekerjaan. Ditambah dengan adanya wabah corona, tentu kartu pra kerja menjadi harapan bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Read More…

Vokal di Media Sosial

Erwinton Simatupang

Kota adalah saksi bisu perlawanan. Di jalanan atau alun-alun kota, para demonstran menyuarakan aspirasi, bahkan menjatuhkan, rejim pemerintah. Kota di seluruh dunia merekam aksi para demonstran itu dari zaman ke zaman.

Hari-hari ini, kota adalah zona terlarang. Pasalnya, angka korban terinfeksi positif virus Corona paling tinggi di kota. Tidaklah mengherankan jika banyak orang bersembunyi di rumah, bahkan berlarian dari kota menuju kampung halaman untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman. Kota pun pada akhirnya kehilangan para demonstran. Hampir tak ada lagi kerumunan yang menyuarakan aspirasi, terlebih perlawanan, secara lantang.
Yang ada saat ini adalah perlawanan, juga protes, yang berpindah ke media sosial dan pertemuan virtual. Di Barat, misalnya, aktivis lingkungan menggalakkan isu lingkungan secara online. Di Indonesia, aksi Kamisan juga dilakukan di media sosial guna menekan penyebaran virus Corona. Read More…

Seandainya Internet Tidak Ada

Erwinton Simatupang

Seandainya internet tidak ada, saya tidak akan bisa membaca tiga tulisan Mas Dimas Ramadhan yang berjudul “Monthly Test”. Di situ, Mas Dimas Ramadhan mengisahkan pengalaman Gavin dalam mengikuti ujian bulanan sekolah secara online.

Seandainya internet tidak ada, saya tidak akan tahu kalau pemerintah negeri ini sudah berupaya untuk menekan ketimpangan digital di pelbagai wilayah, khususnya kawasan timur. Pada 2019, misalnya, pemerintah meresmikan “Palapa Ring” untuk menjawab kebutuhan internet di seluruh Indonesia. Dari sini, penduduk di daerah pedalaman diharapkan bisa terhubung dengan dunia luar, dan mamanfaatkan internet dalam mendorong perekonomian lokal.
Seandainya internet tidak ada, saya tidak akan paham jika siswa SD di Desa Aran Sina, Kecamatan Tanjung Bunga, Nusa Tenggara Timur, harus berjuang setiap hari menaiki bukit selama satu jam untuk mencari sinyal agar tidak ketinggalan pelajaran di tengah ancaman virus Corona. Di sana, mereka menggunakan payung agar tidak terkena panas matahari dan hujan. Ketiadaan menara seluler adalah penyebab anak-anak itu melakukan tindakan tersebut. Begitulah laporan Media Indonesia dalam artikel “Berharap Sinyal Mencrang di Luar Sekolah”. Read More…

Teori Konspirasi

Erwinton Simatupang

Sekitar tahun 2012, seorang teman menggebu-gebu menyatakan ini: Ahmad Dhani adalah kaki tangan Yahudi. Ia tiba pada kesimpulan itu setelah memperhatikan simbol-simbol Yahudi dalam pelbagai sampul album, video, dan lirik lagu Dewa (19). Dengan menunjukkan simbol-simbol itu, juga silsilah keluarga Ahmad Dhani, ia mencoba meyakinkan saya dan teman-teman lain kalau Ahmad Dhani merupakan antek-antek Yahudi. Dalam jangka panjang, lanjutnya, Ahmad Dhani bersama orang-orang Yahudi lainnya akan mengendalikan umat manusia.

Belakangan, teman yang menyatakan Ahmad Dhani sebagai kaki tangan Yahudi itu mengalami gangguan mental. Saya tak tahu apakah ia sudah terkena gangguan mental ketika menyampaikan soal itu kepada saya dan teman-teman lain. Saya juga tak tahu apakah informasi itu yang menyebabkannya mengalami gangguan mental. Sekali lagi, yang pasti: ia mengalami gangguan mental. Read More…

Pelaku Kejahatan (Baru)

Erwinton Simatupang

Pandemi ini telah membuat umat manusia menghadapi dilema. Pemimpin di banyak negara, misalnya, harus memilih nyawa rakyat atau ekonomi. Pengusaha dihadapkan pada pilihan melanjutkan atau menutup usaha. Sementara itu, kelas menengah ke bawah berhadapan dengan pilihan mencari nafkah, yang berarti mempertaruhkan nyawa, atau bersembunyi di rumah.

Salah satu pilihan sulit yang akhirnya diambil pemerintah negeri ini akibat ancaman virus Corona adalah pembebasan narapidana atau napi. Dengan pembebasan itu, penyebaran virus itu diharapkan bisa dicegah di dalam lapas. Namun, langkah itu menuai kritik keras dari banyak kalangan. Tompi, misalnya, menyebutkan, pembebasan tersebut justru membuat napi potensial tertular virus itu ketika berinteraksi di luar lapas jika dibandingkan di dalam lapas. Yang seharusnya dilakukan pemerintah, lanjutnya, adalah mencegah kontak dari luar ke dalam lapas. Read More…

Puasa Pertama

Jumat, 24 April 2020
Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari saat teriakkan ‘sahuuur, sahuur’ plus alunan gendang membangunkan tidur saya. Suara gendang yang cukup kencang membuat saya hanya butuh 5 detik untuk mengumpulkan nyawa. Saya cukup heran, di masa karantina virus corona seperti ini masih saja ada sekumpulan remaja masjid yang berteriak dengan semangat membangunkan seluruh penghuni kompleks untuk sahur.

Saya lalu membangunkan adik saya, lalu menuju dapur. Di dapur ternyata sudah ada pasukan rumah lengkap: orangtua saya, kakak saya beserta suaminya, dan juga keponakan saya yang berjumlah enam orang. Tidak seperti kebanyakan orang yang sahur hari pertamanya serba mewah, menu sahur hari pertama saya dan keluarga adalah sisa makan malam kemarin; kari ayam yang sudah dihangatkan. Read More…

Kebiasaan Baru

Jumat, 24 April 2020
Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari saat teriakkan ‘sahuuur, sahuur’ plus alunan gendang membangunkan tidur saya. Suara gendang yang cukup kencang membuat saya hanya butuh 5 detik untuk mengumpulkan nyawa. Saya cukup heran, di masa karantina virus corona seperti ini masih saja ada sekumpulan remaja masjid yang berteriak dengan semangat membangunkan seluruh penghuni kompleks untuk sahur.

Saya lalu membangunkan adik saya, lalu menuju dapur. Di dapur ternyata sudah ada pasukan rumah lengkap: orangtua saya, kakak saya beserta suaminya, dan juga keponakan saya yang berjumlah enam orang. Tidak seperti kebanyakan orang yang sahur hari pertamanya serba mewah, menu sahur hari pertama saya dan keluarga adalah sisa makan malam kemarin; kari ayam yang sudah dihangatkan. Read More…

Tentang Kronika


Hari ke-39: PENUTUP
Meskipun akan ditutup dua hari lagi, atau tepatnya di hari minggu, saya memutuskan untuk mengakhiri catatan-catatan singkat saya di Kronika Kerja Populi. Sama seperti yang dikatakan Pak Direktur Eksekutif bahwa kini saatnya untuk melompat lebih jauh. Namun apakah selama perjalanan panjang menulis singkat yang hanya satu halaman ini tidak bermanfaat? Tidak juga! Ini sangat bermanfaat, terutama bagi saya yang masih jarang untuk menulis. Meskipun tulisan saya hanya sekedar tulisan receh dan mungkin dianggap sebagian orang hanya remeh temeh, namun itu adalah cara saya untuk mencoba memperbaiki bahasa dan tulisan.

Bagi para pembaca, mungkin bisa dilihat bagaimana pola tulisan saya coba saya perbaiki di tiap satu halaman yang saya kirim, di tiap harinya. Ya setiap hari, ini memacu saya untuk setidaknya jari-jemari dan logika bisa bekerja bersamaan. Tak akan lengkap rasanya jika semua hanya dipikirkan, namun tidak dituliskan. Itulah mengapa dalam perjalanan puluhan hari ini, tulisan yang saya kirim selalu mencoba untuk lebih reflektif. Awalnya memang hanya seputar keseharian saya, namun itu saja nampaknya tidak cukup. Read More…

Senjata Orang-Orang Ndableg

Kamis, 23 April 2020
Hari ini saya memiliki rutinitas baru, yakni berlatih kemampuan bahasa asing. Hal ini rutin saya lakukan agar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa asing milik saya. Tujuannya sederhana, agar dapat melihat dunia lebih luas lagi. Saya hampir terlupa jika esok sudah masuk bulan Ramadhan. Terlalu lama di rumah tanpa aktivitas di luar rumah, nampaknya membuat saya lupa akan hari. Mungkin perasaan inilah yang ada di benak para narapidana di lapas-lapas. Pagi hari setelah saya berlatih, terdapat sambungan video dari ibu saya di Yogyakarta. Beliau menanyakan apakah perlu untuk nyekar ke makam almarhum ayah, mengingat ini sudah akan masuk bulan Ramadhan. Saya mengatakan bahwa untuk saat ini tidak perlu, mengingat situasi yang masih cukup berbahaya. Read More…

Corona Sontoloyo


Rabu, 22 April 2020
Hari ini kompleks kami dikejutkan dengan adanya warga dari kompleks sebelah yang positif terkena virus corona. Warga tersebut diketahui memiliki virus corona, setelah meninggal dunia. Setelah diusut, ternyata warga tersebut menyewa rumah di kompleks tersebut, serta warga yang meninggal adalah ibu kandung dari istri kepala keluarga tersebut. Persoalannya ternyata cukup kompleks, almarhumah merupakan warga grogol yang oleh anaknya dibawa ke Jatisampurna untuk dirawat. Ketika memeriksakan diri di grogol, almarhumah sudah dideteksi terkena virus corona. Meski demikian, dikarenakan tidak ada rumah sakit yang memadai di daerah Bekasi, maka almarhumah di tolak dari rumah sakit ke rumah sakit. Pengakuan dari kepala keluarga dari rumah tersebut tersebar di internet, hanya beberapa jam setelah kejadian (https://youtu.be/YpYEUgIODbU). Read More…

Ayah Sedang Keluar Kota


Selasa, 21 April 2020
Pertama, saya akan menjelaskan aktivitas saya selama satu hari ini. Pagi hari saya lalui dengan berolahraga, berlari kecil di treadmill selama 30 menit, dilanjutkan sarapan sembari latihan bahasa inggris mandiri. Siang menjelang sore, saya berlatih berbincang dalam bahasa inggris dengan istri saya. Sore hari, saya melakukan aktivitas rutin untuk kursus online. Malam hari, kami memesan es buah dengan gula yang sedikit, kami ingin cheating dari pola hidup sehat yang direkomendasikan dokter. Hal ini diperbolehkan oleh dokter kami, supaya kami tetap berada di jalur yang tepat. Menarik bukan, untuk dapat tetap berada di jalur yang tepat, terkadang kita harus mengambil jalur yang menyimpang.
Read More…

Di Antara Tiga Platform


Senin, 20 April 2020
Hari ini terdapat pertemuan riset Jakarta. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan biasanya, kali ini kami mencoba untuk menggunakan aplikasi google meet. Aplikasi ini merupakan aplikasi teleconference yang tidak jauh berbeda dengan Skype maupun Zoom. Kantor kami biasa menggunakan Skype, terlebih terdapat banyak sekali keluhan terkait dengan privasi di aplikasi Zoom. Setelah kami mencoba menggunakan aplikasi google meet, kami merasakan celah yang sangat besar antara google meet dan dua kompetitornya. Aplikasi google meet tidak berjalan lancar dan harus ada akun berbayar untuk dapat membuat rapat. Atas berbagai pertimbangan tersebut, kami kembali menggunakan skype. Diskusi berjalan lancar, setelah diskusi selesai, saya beralih ke aplikasi Zoom untuk mengikuti kelas online saya. Read More…

Aneka Rasa Jelang PSBB Tahap 2


Mulai besok, PSBB tahap kedua akan diberlakukan di Jakarta. Gubernur Anies sudah mengumumkan bahwa tahap pertama sifatnya lebih ke teguran dan himbauan. Di tahap kedua ini Gubernur Anies menyebut akan ada sanksi bagi yang melanggar. Saya cukup senang mendengar pernyataan tersebut. Saya tidak tahu bagaimana kondisi jalan Ibukota ini. Sudah sebulan lebih saya tidak keluar wilayah rumah. Saya hanya bisa melihat langit biru Jakarta hingga terlihat Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak dari sosial media. Aktivitas saya hanya sampai di batas portal yang dipasang Papa saja. Read More…

Tarawih di Rumah, Why Not?

Hampir seluruh masjid dipenuhi jama’ah. Senandung lantunan ayat suci al-Qur’an bersahutan menghiasi malam-malam penuh berkah. Ifthor Jam’i yang lebih akrab disebut “Bukber” oleh kaum milenial selalu menjadi rutinitas jelang terbenam matahari. Tidak hanya itu, pusat perbelanjaan baik tradisional pun ikut ramai dikunjungi masyarakat terlebih pada hari-hari terakhir untuk menyambut hari raya. “Pedagang dadakan” yang menjajakan menu khas berbuka puasa seperti aneka hidangan kolak, es kelapa muda, lontong, gorengan dan kurma begitu mudah didapatkan sepanjang jalan. Sahur on the road menjadi tradisi kaum milenial selepas tengah malam. Begitulah gambaran Bulan Ramadhan yang selalu dirayakan umat Islam khususnya di Indonesia. Sebuah cerita tahunan yang akan selalu meninggalkan kesan indah bagi setiap individu yang memaknai bulan suci ini sebagai bulan berkah. Read More…

Ramadhan dan Kehangatan Keluarga

Sikap husnudzon (berprasangka baik) merupakan salah satu karakteristik seorang muslim. Sikap ini merupakan prespektif untuk selalu mengambil sisi positif dari setiap kejadian, baik yang menimpa dirinya maupun lingkungannya sekaligus sikap optimis dalam menghadapi warna-warni kehidupan. Ramadhan tahun ini yang berbarengan dengan masih mewabahnya covid-19 menuntut jernih pemahaman kita akan makna husnudzon. Berkeluh kesah atas keadaan yang tidak kita inginkan tidaklah menyelesaikan persoalan bahkan semakin menambah beban permasalahan. Read More…

Pulang Kampung Vs. Mudik


Hari ke-38 Semalam ternyata ada acaranya Mata Najwa yang menghadirkan Jokowi. Saya tak sengaja melihat sekilas perbincangan mereka, antara Mbak Nana dan Pak Jokowi. Ini karena teman saya tiba-tiba membuka channel trans 7 yang menampilkan mereka. Ada sebuah peristiwa yang menjelaskan bahwa pulang kampung berbeda dengan mudik? Saya sedikit heran juga mendengar itu. Namun tidak kemudian reaktif, mencoba mencerna apa yang sebenarnya menjadi maksud Jokowi. Di saat Mbak Nana dan Pak Jokowi sedang asyik berbincang, saya juga berdiskusi dengan teman saya bahwa ini nanti pasti bakal ramai di dunia maya. Netizen pasti bakal mencemooh apa yang diucapkan Jokowi semalam, tentang pulang kampung dan mudik. Read More…

Ramadhan dan Dimensi Sosial

Bulan Ramadhan selalu dinantikan oleh Umat Islam diseluruh penjuru dunia tidak terkecuali di Indonesia. Menjelang detik-detik menyambut bulan suci tahun ini, umat Islam di Indonesia menanti pengumuman resmi Pemerintah berkaitan dengan awal mulainya Bulan Ramadhan melalui sidang isbath Kementerian Agama RI yang rencananya dimulai sore ini (23/04). Pelaksanaan Ibadah Ramadhan sejatinya memililki dua dimensi yang tidak terpisahkan satu sama lain. Sebagai ibadah mahdhah (murni) dia memiliki keistimewaan tersendiri dibanding ibadah lainnya. Sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dalam sebuah hadits qudsi: Read More…

Hampir Terusir

Nurul Fatin Afifah


Siang ini saya kaget menerima telfon dari ibu kost. Dalam benak saya, tumben sekali ibu kost telfon. Beliau menanyakan apakah benar saya sakit dan meminta kepastian apakah sakitnya itu adalah Covid 19 atau bukan. Ibu kost terdengar seperti khawatir, bahwasannya ada salah satu anak kost lain yang mengadu bahwa saya sakit dan takut ketularan. Mendengar hal tersebut saya kesal dan emosi. Saat ini kondisi saya sudah sehat. Saya juga tidak berada di kostan. Atas dasar apa teman saya itu ketakutan. Ibu kost meminta supaya saya tidak kembali ke kostan terlebih dahulu sampai kondisi benar-benar fit. Saya mencoba meyakinkan bahwa saya sakit pencernaan dan sudah ditangani oleh dokter. Masa-masa kritis saya sudah lewat, sangat terlambat jika hari ini beliau baru menanyakan keadaan saya. Read More…

Lebaran Tanpa Mudik

Nurul Fatin Afifah


Pada selasa 21 April 2020, pemerintah resmi melarang mudik lebaran 2020. Kebijakan ini diambil untuk menindaklanjuti naiknya angka pasien positif corona khusunya di DKI Jakarta. Larangan mudik berlaku bagi daerah-daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Jalur transportasi tidak akan ditutup, namun bagi kendaraan pribadi yang melintas akan dilakukan pengecakan di beberapa titik keluar masuk wilayah. Kebijakan ini mulai diterapkan pada jumat 24 April 2020.

Adapun sanksi bagi siapa saja yang melanggar seperti yang sudah diatur dalam undang-undang yaitu, "Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sehingga menyebabkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)". Sanksi ini mulai diterapkan mulai tanggal 7 mei 2020. Itu artinya untuk masa percobaan masyarakat tidak akan dikenakan sanksi tapi masyarakat yang melalui check point akan diminta pulang kembali. Read More…

Monthly Test (3)

Dimas Ramadhan

Selasa, 22 April 2020
Hari ini merupakan hari terakhir Gavin menjalani Monthly Test. Berdasarkan jadwal, hanya ada satu sesi mata pelajaran yaitu Matematika. Mata pelajaran ini dibagi menjadi dua sub tema, pertama ialah perkalian dan pembagian dasar, serta hitungan bilangan 1 hingga 100. Sementara sub tema kedua ialah perbandingan berat dan panjang benda-benda. Seperti biasa, saya bertindak sebagai tim teknis dalam mengurusi perangkat dan, terutama jaringan. Maklum jaringan internet yang dipakai selama ini digunakan belum dedicated untuk urusan sekolah dan tes online, masih numpang dengan internet hp saya. Secara keseluruhan hampir tidak ada masalah bagi Gavin untuk mengerjakan test. Mungkin karena malamnya dia di tatar habis-habisan oleh ibunya. Read More…

Masjid Harus Tetap Hidup !

Nurul Fatin Afifah


Ustadz Kurniawan, apakah Masjid Baitul Hasanah tetap melaksanakan shalat jumat berjamaah?

Pertanyaan tersebut sudah lebih dari lima kali diucapkan oleh Ustadz Hanif yang merupakan salah satu pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Asyifa. Malam ini, Ustad Hanif datang ke rumah kakak saya yang merupakan Ketua DKM Baitul Hasanah. Masjid Asyifa dan Baitul Hasanah itu terletak di satu kelurahan namun beda RW. Kebetulan wilayah kami termasuk zona merah. Ditengah pandemi seperti ini, banyak masjid yang menutup kegiatan shalat jumat berjamaah, menyikapi hal tersebut pengurus Masjid Asyifa meminta pendapat dari salah satu pengurus Masjid Baitul Hasanah yang kebetulan merupakan masjid yang lebih besar dan lebih banyak jamaahnya. Read More…

Waspada Maling


Wabah Corona menyebabkan banyak orang diberhentikan dan dirumahkan dari pekerjaan. Hal ini terjadi karena banyak perusahaan ingin efisiensi karena tidak mau besar pasak daripada tiang. Meski pemerintah pusat meluncurkan kartu Prakerja dan pemerintah daerah memberikan skema bantuan di wilayahnya masing-masing, tetap saja kriminalitas masih saja terjadi. Peningkatan ini bisa saja terjadi karena banyak masyarakat yang membutuhkan, yang belum menerima bantuan tersebut. Read More…

Membuat Literature Review

Rabu, 22 April 2020
Hari ini saya berkesempatan untuk belajar dan mengingat kembali bagaimana menulis literature review. Sepanjang yang saya ingat, dosen saya waktu kuliah memberi gambaran singkat bahwa literature review adalah sub bab dari penulisan yang berisi tentang penelitian-penelitian terdahulu dengan topik yang sama. Secara garis besar, literature review adalah ringkasan. Ringkasan tersebut berisi tentang inti pokok dari buku atau jurnal yang akan dijadikan bahan literature review. Selain itu, literature review juga memuat tentang hal-hal apa saja yang sekiranya bermanfaat untuk penelitian. Literature review juga berguna untuk mencari celah atau hal-hal apa yang belum dilakukan penelitian sebelumya yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk penelitian selanjutnya. Read More…

Bumi Sedang Memperbaiki Diri


Hari Ke-37
Seorang teman kost saya di lantai tiga terpaksa harus pulang ke Makassar. Bukannya tidak mau mengikuti aturan pemerintah untuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), melainkan ia memang benar-benar harus pulang karena tak lagi punya pemasukan. Ia menjadi salah satu orang yang harus kehilangan pekerjaan di tengah pandemi ini. Tak tahu pasti ia bekerja di bidang apa, namun mungkin saja tempat ia bekerja sudah berhenti berproduksi, maka pemutusan hubungan kerja adalah hal yang harus dilakukan tempatnya mencari nafkah. Bersama dengan dua juta pekerja lain ia harus rela dirumahkan. Kini sudah tak banyak pula pabrik-pabrik yang mengepulkan asapnya. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat ada sekitar lebih dari seratus ribu perusahaaan yang terdampak corona (CNBCIndonesia, 19/04/20). Read More…

Guratan Minda (30): Gelombang Kedua!


21 April 2020
Hari ini kabar di media sosial diwarnai dengan curhatan beberapa teman yang tidak bisa mendaftar kartu pra-kerja karena kuota telah habis. Ketika saya mencoba mencari tahu, ternyata di hari ini pula akan dibuka pendaftaran gelombang kedua kartu pra-kerja. Program yang ditujukan untuk para pencari kerja khususnya, dalam praktiknya akan dibuka dalam beberapa gelombang pendaftaran. Bagi yang tidak mendapatkan kesempatan pada gelombang pertama, tentu masih memiliki kesempatan untuk mendaftar di gelombang-gelombang berikutnya. Read More…

Guratan Minda

Erwinton Simatupang


Siapa Minda? Pertanyaan itu muncul setelah beberapa kali membaca artikel dengan judul “Guratan Minda” yang ditulis oleh Mas Jefri Adriansyah. Karena terus-menerus dijadikan judul tulisan, saya pun sempat beranggapan, Minda adalah nama lain, atau nama pena, Mas Jefri Adriansyah. Saya tiba pada anggapan itu karena sejumlah penulis tidak menggunakan nama asli dalam karya-karya mereka.

Dalam artikel berjudul “Guratan Minda (14): Cerita Tentang Guratan Minda!”, Mas Jefri Adriansyah menyebutkan bahwa “Guratan Minda” pada awalnya adalah nama blognya. Sejak ditugaskan oleh Pak Hikmat Budiman untuk menulis soal kronika kerja, ia menggunakan nama blognya itu, yang sudah ada sejak lima tahun lalu, dalam setiap judul tulisannya. Setelah membaca artikel itu, pertanyaan ‘Siapa Minda?’ ternyata masih belum terjawab. Read More…

Curahan Hati dan Survei

Erwinton Simatupang


Orang-orang kini tampaknya memerlukan saluran untuk berkeluh kesah. Ancaman virus Corona telah memaksa orang-orang bersembunyi di rumah. Di sini, ada yang merasa kesepian, dan sebagian mengalami pertengkaran hebat dengan keluarga. Lebih menyedihkan, virus itu telah menyebabkan sebagian orang kehilangan pekerjaan, juga orang-orang terdekat. Read More…

Deja Flu

Erwinton Simatupang


Pemerintah melempar sebuah optimisme: pariwisata akan kembali bergeliat secepatnya. Pariwisata Bali, misalnya, diprediksi sudah bisa berjalan pada Juni ini. Guna mengangkat pariwisata yang terpukul, pemerintah bahkan berencana mengundang blogger, influencer, dan dubes dari beberapa negara. Ancaman virus Corona, di benak pejabat tinggi negeri ini, berarti tidak lama lagi akan mereda – jika tidak ingin mengatakan berakhir.

Mendapati kabar itu, saya teringat kebijakan pemerintah pada awal tahun ini. Ketika lembaga internasional dan peneliti asing sudah mengingatkan kemungkinan ancaman virus Corona tiba di Indonesia, pemerintah justru mengeluarkan kebijakan kontraproduktif. Bahkan, penerbangan langsung dari Wuhan ke Bali juga terlambat dilarang mengudara. Padahal, semenjak virus Corona menyerang Wuhan, jutaan penduduk kota itu meninggalkan China. Tak lama, kasus positif virus Corona benar-benar terjadi, bahkan memukul negeri ini. Read More…

Monthly Test (2)

Dimas Ramadhan

Selasa, 21 April 2020
Seperti hari kemarin, sebelum ujian gurunya mengabsen para murid, sembari mengingatkan tema pelajaran yang akan di tes hari ini. Sesi pertama ialah bahasa Inggris, meliputi nama-nama hari dalam seminggu, serta nama-nama bulan dalam setahun dalam bahasa Inggris, beserta pemahaman tentang konsep kemarin dan esok, juga tentang jenis cuaca, dan comparative- superlative adjectives. Kemudian sesi kedua ialah sains, membahas tentang magnet, mulai dari bahan dasar, sifat tarik-menarik dan menolak antar kutub, serta benda-benda yang dapat menempel dan yang tidak. Sebenarnya saya agak kaget juga karena seingat saya hal seperti ini belum saya dapatkan dulu ketika duduk di kelas 1 SD. Entah sejak kapan materi seperti ini ada dalam kurikulum SD. Read More…

Dalam Kematian, Hidup Tak Pernah Hilang

Erwinton Simatupang


Setelah membaca tulisan berjudul “Angin Timur Berhembus Pergi, Bakkara”, saya langsung mengirimkan pesan kepada Hartanto Rosojati untuk memastikan apakah Bang Bakkara telah wafat. Tak lama, Hartato Rosojati membalasnya, dan menyatakan bahwa abang itu benar-benar sudah pergi untuk selamanya.

Saya memberitahu kabar duka itu kepada beberapa orang yang mengenal Bang Bakkara. Sebagian dari mereka sudah ada yan Read More…

Guratan Minda (29): Membayangkan Ramadhan!


20 April 2020
Hari-hari dengan rutinitas yang itu-itu saja, tak ada kegiatan baru yang praktis saya lakukan di hari ini. Berharap hiburan dari televisi pun tak punya. Hanya gawai dan komputer jinjing yang menjadi kawan setia. Beberapa hari lagi Ramadhan tiba, namun rasanya, kali ini Ramadhan tidak semeriah biasanya.

Ramadhan tiba, tentu banyak acara-acara guyonan menjelang imsak yang ditunggu-tunggu. Namun, nampaknya esok kita tak akan dapat menikmatinya lagi. Tak ada lagi sorak-sorak alay dari para penontonya, begitupula goyangan alay dengan latar musik kereta malam seperti tahun-tahun lalu. Social distancing saat Covid-19 tak memungkinkan semua itu terselenggara. Televisi akan lebih banyak diisi oleh hiburan-hiburan melalui tayangan box office pastinya. Tak ada lagi acara talkshow dengan banyak penonton yang sering memeriahkan suasana. Kalau ada mungkin hanya tayangan ulang. Read More…

Hand Job

Dimas Ramadhan

Jumat, 17 April 2020
Seperti hari-hari lainnya, jam 9 pagi hingga jam 1 siang adalah waktu bagi saya untuk mendampingi Gavin sekolah online lewat aplikasi Zoom. Kegiatan belajar mengajar selalu diawali dengan contact time dengan guru kelasnya selama lima belas menit, untuk mengabsen kehadiran para murid. Setelah itu room diputus sejenak dan dibuka kembali sekitar lima hingga sepuluh menit kemudian untuk memulai materi pertama. Maklum, Zoom gratisan memiliki keterbatasan waktu, yaitu 40 menit. Materi pertama biasanya diampu langsung oleh guru kelasnya, namun tidak jarang diampu oleh guru lain, tergantung mata pelajarannya. Jika diampu oleh guru lain, kita perlu masuk ke room milik guru tersebut. Ada pun channel room dan kata sandi tiap pelajaran diumumkan pada jam 7 pagi oleh guru kelas. Read More…

Monthly Test (1)

Dimas Ramadhan

Senin, 20 April 2020
Setelah kurang lebih tiga minggu sekolah online via Zoom, kini tiba saatnya Gavin untuk Ujian Bulanan atau Monthly Test, yang akan dilakukan selama tiga hari hingga Rabu (23/4). Sepertinya ini semacam ulangan tatkala dulu saya masih sekolah. Seperti biasa, proses belajar mengajar diawali dengan contact time dengan guru kelasnya pada jam 9 pagi untuk mengabsen para murid sebelumljelas dimulai. Karena ini merupakan pertama kalinya para murid melakukan Monthly Test secara online, sang guru menjelaskan dengan sedetail mungkin tata cara dan peraturannya. Ternyata tes dilakukan dengan menggunakan Google Form. Para murid diwajibkan mengisi sendiri soal-soal yang diberikan dalam form tanpa memutus aplikasi Zoom sehingga guru dapat mengetahui apakah soal dikerjakan sendiri atau dibantu. Read More…

Mengenang Hillsborough

Dimas Ramadhan
Rabu, 15 April 2020
“Bang, tumben ga pernah nge-tweet lagi,” tanya Rijal ketika kami saling menyapa via WA. Rijal adalah salah satu TPD Populi Center. Ia menjadi satu dari sedikit follower saya yang cukup rajin menanggapi cuitan saya.

“Mau nge-tweet apaan gue, ga ada bola,” jawabku. Tidak lama setelah kasus Covid-19 diketahui menjangkiti beberapa pemain dan pelatih di Liga Italia, nyaris seluruh kompetisi sepakbola di Eropa menghentikan kompetisinya. Saat ini hanya Belarussia saja yang tetap menjalankan kompetisi ditengah pandemic. Sekitar 80% cuitan saya memang soal sepak bola, 15% soal sosial politik, 5% sisanya tweet recehan. Dengan berhentinya kompetisi sepak bola, maka menurun pulalah aktifitas saya di Twitter. Lini masa kini banyak dipenuhi soal perkembangan Covid-19, mulai dari angka penyeberan, kebijakan PSBB, hingga tingkah polah stafsus milenial yang berwatak kolonial. Read More…

Keana’s Day


Pagi ini saya bangun pukul 8 pagi seperti biasa. Saya merasa lelah karena seharian kemarin dari pukul 8 hingga 5 sore, saya nonstop berada di depan layar laptop. Mayoritas saya berbicara dengan layar sehingga rasanya sangat letih. Hari ini saya mau sedikit relaks setelah melewati hari Senin yang begitu panjang dan melelahkan. Kemarin saya sibuk seharian dan tidak ada waktu main untuk Keana. Jadi hari ini saya putuskan untuk menyisihkan sedikit waktu untuk bermain bersama Keana.

Read More…

In Memoriam

Hari Ke-36
Beberapa teman meminta saya untuk membuat video terkait dengan Bakkara, saudara saya yang beberapa waktu lalu dipanggil sang Bapa. Bahan-bahan untuk dibuatkan video sudah dikirimkan ke saya, dan beberapa lagi masih menunggu untuk ditransfer agar segera bisa dibuatkan video tentangnya. Terlebih ini juga adalah permintaan orang tua Bakkara yang berpesan melalui salah seorang teman saya. Orang tuanya berpesan, “jika pada akhirnya Bakkara meninggal, minta anak-anak Setra mengabadikannya”. Pesan itu sebenarnya tak perlu diingatkan ke kami, karena namanya akan selalu abadi, dibenak para pendaki, dan sang pecinta alam. Namun, saya tahu perasaan itu karena orang tuanya tak bisa menyaksikan Bakkara dikebumikan. Orang tuanya dipaksa tegar di tengah duka karena tak pernah melihat lagi anaknya, anak yang sangat bisa diandalkan, anak yang bisa survive dalam segala kondisi, anak yang sopan, dan anak yang tidak pernah mengeluh. Read More…

Kehabisan Bahan


Hari Ke-35 WFH
Pandemi Covid-19 memang sangat mengkhawatirkan. Entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir juga masih menjadi tanda tanya. Meskipun demikian ada secercah harapan karena pasien yang sembuh semakin meningkat. Tapi ada satu hal yang menjadi masalah selain Covid-19, yaitu jika kita kehabisan bahan. Bahan apa saja. Negara dalam menghadapi kasus ini sejatinya tidakboleh kehabisan bahan. Banyak bahan yang menjadi pertimbangan tentang mana yang harus diprioritaskan, dan bisa jadi akan membuat kebijakan satu dengan yang lain berpengaruh pada ketersediaan bahan. Read More…

Drama Korea dan Perselingkuhan

Senin, 20 April 2020
Hampir sebagian besar penikmat drama korea di Indonesia saat ini tengah dibuat tergila-gila dengan drama berjudul The World of The Married. Baru merilis 8 episode, drama ini suskses mengalahkan rating drama terbaru keluaran Netflix berjudul Itaewon Class. Singkatnya, The World of The Married bercerita tentang kehidupan pernikahan sepasang suami istri bernama Sun Woo dan Tae Oh. Keduanya diceritakan tinggal di kota kecil bernama Gosan bersama dengan seorang anak laki-laki. Kehidupan pernikahan mereka cukup harmonis sampai akhirnya harus berakhir dramatis lantaran sang suami berselingkuh dengan perempuan yang usianya jauh lebih muda. Read More…

Guratan Minda (28): Battle Royale!


19 April 2020
Pagi ini, kabar media sosial diramaikan dengan tantangan atau undangan debat terbuka yang dilayangkan oleh Bhima Yudhistira, ekonom INDEF (Institute For Development of Economics and Finance) kepada Belva Devara staff khusus (stafsus) Presiden yang juga CEO Ruangguru. Surat terbuka tersebut menuliskan tema debat yang berkisar masalah kartu pra kerja, konflik kepentingan, oligarki milenial serta permasalahan bangsa lainnya di tengah Covid-19. Bhima menyatakan bahwa debat ini ditujukan agar publik dapat memahami peran milenial khususnya staf khusus milenial dalam perekonomian Indonesia. Read More…

Tonseng


Hari Ke-34
Setelah Klodangan diterjang badai, bahkan seng rumah saya berterbangan dan membuat bocor di beberapa sudut rumah. Orang-orang rumah kemudian bahu-membahu membersihkan rumah. Tak terkecuali ibu saya, padahal sudah diperingatkan untuk berdiam diri saja. Namun tetap ngeyel, ia malah ngepel dengan berlama-lama bermain air. HIngga pada akhirnya ia merasa sedikit pusing dan kelelahan, mungkin hampir pingsan kalau menurut kakak saya. Itulah ibu saya yang selalu ngeyel. Kakak saya selalu mengupdate apa yang terjadi di rumah termasuk kondisi ibu yang ngeyel. Read More…

Guratan Minda (27): Besok Ibu Kirim Rendang!


18 April 2020
Pagi hari, seperti biasa ibu di rumah selalu menanyakan kabar anak laki-lakinya ini sebelum ia terbangun. Tak hanya itu, ia tengah memasak rendang buat anaknya yang terancam tak bisa mudik saat lebaran ini. Ia bertutur kalau nanti tiap minggu ibu kirim lauk biar tidak usah berpergian buat cari makan. Meski sebenarnya, para penjual makanan di dekat indekos tak ada yang menutup lapaknya meski di tengah pemberlakuan Pembatasan Sipil Berskala Besar (PSBB) di Jakarta. Read More…

Negara dan Batasnya


Minggu, 19 April 2020
Pagi hari ini saya bangun agak siang, semalam saya menonton beberapa film dari studio Gibli di Netflix. Saya baru memahami kenapa banyak orang menyukai Netflix. Terdapat banyak film-film yang bagus, terutama film-film yang baru saja di rilis beberapa bulan yang lalu. Di Netflix terdapat film-film horor yang belum sempat kami tonton, selain itu terdapat pula beberapa serial film yang dibuat oleh Netflix. Konten-konten dari Netflix menunjukkan bahwa swasta dapat lebih mengakomodasi hiburan yang memadai dibandingkan pemerintah. Read More…

Jaga Kewarasan (4)


Sore ini, Mama terlihat sangat lelah. Papa seperti biasa energinya tidak ada habisnya. Berkebun terus panas-panasan seharian. Masuk ke rumah hanya kalau makan siang saja atau mau minum. Selebihnya di kebun. Saya pun berinisiatif untuk membuat Dalgona Coffee atau mungkin lebih terkenal dengan sebutan es kopi Dalgona TikTok.
Ini adalah kali ketiga saya mencoba membuat Dalgona. Percobaan pertama gagal total karena saya memakai kopi Kapal Api. Meski takaran sama namun tetap tidak bisa mengental dan mengembang. Percobaan kedua saya memakai hand mixer dan pakai Nescafe seperti yang dianjurkan di resepnya. Lumayan berhasil namun belum terlalu mengembang. Percobaan ketiga adalah yang saya buat hari ini. Saya memakai saringan besi dan adonan kopi saya taruh di piring. Hasilnya pun mengejutkan. Ternyata adonannya lebih mengembang kalau diaduk pakai saringan dibanding pakai hand mixer. Read More…

Anti Corona Checks


Mungkin bagi pembaca milenial yang aktif di media sosial khususnya TikTok, sepertinya video mengenai Anti Corona Checks sudah tidak asing lagi. Saya pribadi bukan penggemar TikTok. Tapi selama WFH, saya jadi menemukan banyak ide-ide kreatif dari TikTok khususnya ide membuat cemilan dan masakan. Sederet resep masakan populer sudah beredar di saat WFH ini. Sederet resep hits tersebut diantaranya Dalgona Coffee, Dalgona Milo, Pudding Oreo Blebek-Blebek, Pudding Roti Keju, Pie Susu TikTok, Churros Tiktok, dan masih banyak lagi dupe resep dari restoran-restoran ternama. Read More…

18:16


Sabtu, 18 April 2020
Hari ini merupakan hari ketiga saya merekam intermittent fasting. Pada dasarnya ini merupakan metode menurunkan berat badan, dengan cara membatasi waktu memakan makanan dalam satu waktu. Terdapat banyak variasi dari perubahan pola makan ini, mulai dari 16 : 8 hingga 18 : 6 , yang berarti bahwa 16 jam atau 18 jam menjadi waktu puasa, sedangkan 8 jam atau 6 jam waktu untuk makan. Selama kita berpuasa, kita masih boleh meminum air putih, maupun meminum minuman berwarna, seperti kopi dan teh tanpa gula. Perubahan pola makan ini tidak hanya mempengaruhi berat badan, melainkan juga mempengaruhi metabolisme tubuh kita. Terus terang setelah saya menerapkan pola makan yang bersih dan teratur, tubuh saya terasa lebih enak. Read More…

Hukum Besi Pertemanan


Jum’at, 17 April 2020
Hidup menyimpan banyak misteri. Di antara pelbagai misteri tersebut, terdapat satu hukum alam yang dipercaya oleh penghuni semestanya. Salah satunya, selalu akan ada pertemuan di setiap perpisahan. Kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan bertemu dengan orang yang kita kenal. Berpulangnya mas Djaduk, mas Radjimo, hingga Glenn Fredly, hanya menyisakan ingatan yang menjadi harta masing-masing pemiliknya. Bertemu dengan orang-orang baru dapat melalui banyak medium, salah satunya adalah jaringan pertemanan, hingga arena tempat bertemu. Jalan hidup memang menyimpan misteri, salah satunya adalah ketika saya bertemu dengan istri saya, kami bertemu di tempat kursus bahasa Inggris di Yogyakarta. Arena dan perjumpaan, selalu menyimpan misterinya sendiri-sendiri. Read More…

Klondangan, Sendangtirto


Hari Ke-33
Sendangtirto, sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Berbah mendadak terkenal. Bukan karena ada seorang anak yang menjuarai ajang pencarian bakat, atau putra daerah yang menjadi Bupati, melainkan terkenal karena kemarin terjadi badai di kawasan ini. Sekitar pukul 14.00 WIB, cuaca langit Sendangtirto berubah, mendadak gelap serta hujan deras yang disertai angin kencang. Beberapa dusun di Sendangtirto terkena imbasnya, salah satu yang cukup mengalami kerusakan parah adalah Dusun Sekarsuli yang lokasinya berada di sepanjang Jalan Wonosari. Hujan dengan disertai angin kencang ini menerbangkan beberapa atap rumah, bahkan pohon-pohon juga banyak yang berjatuhan karena akarnya tak mampu menahan terpaan angin yang begitu dahsyat. Jalan-jalan aspal beberapa tidak dapat dilalui karena pohon yang tumbang menutupinya. Banyak kendaraan yang berputar arah, mengambil jalan pintas lain di tengah hujan yang masih deras, begitu salah satu video yang dikirimkan kakak saya tergambar. Read More…

101 Parenting (Part 1)


Pagi ini saya bangun pukul 8 pagi. Itupun dibangunkan oleh anak saya, Keana. Hari ini saya ada pelatihan dari pukul 9 hingga 12 siang. Saya pun bermain dulu bersama dengan Keana selama 45 menit. Pagi ini berbeda dengan biasanya karena saya 45 menit tanpa gadget dengan Keana. Tidak ada televisi menyala dan saya tidak langsung pegang laptop. Handphone pun saya taruh agak jauh meski terpaksa sebentar saya ambil untuk mengabadikan momen quality time kami berdua. Pagi ini Keana senang sekali. Dia tersenyum terus karena dia tidak harus berteriak-teriak memanggil Mommynya. Biasanya, dia selalu teriak-teriak Mommy…Mommy… mungkin dia ingin Mommynya dekat selalu dengannya atau minimal quality time dengannya tanpa ada gangguan apapun. Read More…

Garda Pertahanan Terakhir

Nurul Fatin Afifah

Pagi ini saya mengawali hari dengan sarapan bersama keluarga. Setelah sarapan, kakak saya bercerita tentang aktivitasnya sebagai tenaga medis di rumah sakit. Dalam penanganan pandemi Covid 19 pemerintah dan masyarakat merupakan garda pertahanan terdepan, sedangkan tenaga medis adalah garda pertahanan terakhir. Sejak jumlah pasien semakin meningkat di Indonesia, tantangan yang dihadapi sangat banyak. Tenaga medis sangat rentan terinfeksi virus karena mereka merupakan orang-orang yang berhadapan langsung dengan pasien yang sudah terpapar virus corona. Read More…

Jaga Kewarasan (3)


Ternyata bukan hanya rumah ini saja yang sudah bergejolak. Di Ciputat pun juga bergejolak. Hari ini Mama Mertua saya mengunjungi suami saya di rumah kami di Ciputat. Suami saya masih bertahan di Ciputat dengan driver kami bernama Udin. Mama Mertua kebetulan drop sejumlah belanjaan untuk Keana. Dia tidak datang ke rumah kami karena rumah kami di portal dan kurir hanya diperbolehkan sampai batas portal. Kalau ada yang berani masuk, pasti diteriaki oleh Papa saya karena setelah portal adalah area steril. Mas Dul pun kalau ambil barang dari kurir juga memakai sarung tangan dan face shield. Read More…

Jaga Kewarasan (2)


Aku mau karantina selesai juga
Agar hidup lahir batin lebih lega
Aku pilih belajar di sekolah saja
Aman dari monster di karantina
Maafkan aku ayah ibu

Itu adalah sepenggal unggahan salah satu psikolog yang juga teman saya yaitu Toge Aprilianto. Saya memanggilnya dengan sebutan Om Ge. Om Ge saat ini memang berperan menjadi juru bicara anak-anak. Saya tergabung di banyak grup whatsapp. Beberapa grup tersebut adalah grup dengan ibu-ibu. Di grup tersebut setiap harinya saya melihat ada saja ibu-ibu yang mengeluh karena tidak sabar mengajar anaknya. Saya yang merasa diri saya sudah sangat amat sabar, tetap saja adik angkat saya sesekali bilang kangen dengan guru di sekolah. Adik angkat saya bernama Dipa. Dipa sudah sebulan lebih juga tidak pulang ke rumahnya, tidak bertemu ibu bapaknya. Dia juga di karantina di rumah Mama saya. Read More…

Jaga Kewarasan


WFH ini membuat kami para ibu-ibu butuh menjaga kewarasan. Saya dan Mama saya mempunyai kewajiban berbeda selama WFH ini. Mama saya penuh waktu bertugas menjadi koki di dapur untuk memenuhi kebutuhan pangan kami. Saya paruh waktu mengurus anak saya dan membimbing adik saya untuk home learning mengingat hanya saya yang bisa karena seisi rumah ini tidak bisa menggunakan laptop. Papa saya bisa, hanya tidak bisa sabar. Saya pun sebetulnya tidak sabar, tetapi kembali lagi anggap saja anak sendiri yang saya ajarkan jadi mau tidak mau harus terlatih sabar. Read More…

Guratan Minda (26): Politik Itu Berat, Mending Bisnis saja!


17 April 2020
Langkah Jokowi dalam menunjuk Staf Khusus (stafsus) Presiden Milenial, sedikit menggelitik. Sebagai Presiden yang tidak memiliki beban elektoral karena sudah terpilih untuk kedua kalinya, tentu ia tak lagi butuh elektabilitas dari kalangan milenial. Terlebih milenial yang ditunjuk pun beberapa diantaranya adalah para pebisnis muda. Memang, sebagai individu, tidak ada yang sedikitpun meragukan kualitas pribadi masing-masing stafsus tersebut. Beberapa memang lulusan ternama universitas luar negeri. Adamas Belva Syah Devara (CEO ruang guru) dan Andi Taufan Garuda Putra (CEO Amartha) sama-sama lulusan Harvard University. Read More…

Manusia dan Hewan, Sama!


Hari Ke-32
Domba-domba berlarian ke sana ke mari. Mencari makanan di tengah kota yang sedang sepi. Tak hanya itu, bahkan babi hutan, dan kuda juga berkeliaran. Seakan menunjukkan sedang ada pesta di kota ini. Bebas taka da yang melarang, apa yang bisa dimakan, makan saja. Mungkin begitu pikir para hewan-hewan ini. Pemandangan tak lazim ini terlihat di Italia, negara yang menerapkan lockdown. Penjarahan pun terjadi juga di Jepang. Wisatawan yang anjlok, jalanan kota yang sepi menjadi kesempatan bagi rusa-rusa untuk berkeliaran di kota untuk mencari sesuatu untuk dikunyah. Read More…

Mengatur Pola Hidup Sehat Selama WFH

Nurul Fatin Afifah

Pagi ini (16/04/2020) setelah shalat subuh, saya sarapan dengan roti bakar dan air putih hangat. Setelah perut terisi, saya pergi ke pasar untuk membeli ayam dan sayuran. Saya berencana memasak ayam goreng krispi dan sayur bening untuk makan siang. Suasana di pasar dekat rumah kakak saya masih sangat ramai dan banyak orang yang belum mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Masyarakat masih banyak yang keluar rumah tanpa menggunakan masker. Himbauan dari pemerintah belum benar-benar diterapkan, inilah yang menjadi penyebab mengapa angka positif Covid 19 terus meningkat. Read More…

5.516 Kasus


Kamis, 16 April 2020
Hari ini, ibu saya ulang tahun yang ke 61 tahun. Pagi hari semenjak hari berganti, saya lekas-lekas telepon ibu saya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Sedih rasanya saya tidak dapat ikut merayakan secara langsung, terlebih saya tidak dapat mudik kali ini. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun, saya segera berlari di treadmill, sudah agak lama rasanya sejak saya berlari di treadmill. Hari ini saya cukup gembira, mengingat berat badan saya sudah berada di angka 79 kg, sebelumnya di tanggal 3 Januari 2020, berat badan saya ada di angka 92 kg. Dengan kata lain, saya sudah turun 13 kg dalam kurun waktu 3,5 bulan. Bagaimana saya melakukan tersebut? Hal ini sudah saya tuliskan dalam tulisan singkat saya dengan judul “Komitmen Hidup Sehat”. Read More…

Ketika Politik Mengambil Panggung


Rabu, 15 April 2020
Berita hari ini sedikit membuat saya terkejut. Donald Trump menghentikan bantuan dana bagi WHO, dengan argumentasi bahwa WHO tidak secara transparan memberitahukan apa perkembangan penyebaran virus corona di China lebih dini. WHO dinilai oleh Trump, bias kepada kepentingan dari China, sedangkan di sisi lain memang terdapat banyak bentuk dan ideologi sebuah negara, dengan bentuk negaranya, China memang tidak dapat memberikan informasi secara terbuka. Di sisi lain, terdapat kedaulatan sebuah negara yang harus dipertahankan. Memang persoalan tata kelola ke pemerintahan saat ini sangat rumit, dalam terminologi politik, bahasan terkait dengan hal ini disebut dengan Multilevel Governance. Read More…

Buka Warung


Hari Ke-31 (1)
Pagi ini diawali kabar duka yang datang melalui pesan whatsapp. Bakkara, seorang senior di Setrajana berpulang. Buakan karena Covid-19. Tak pernah ada kabar ia sakit seirus, namun memang Tuhan sudah ingin ditemaninya untuk berdiskusi. Sugeng tindak Bang Bak.

Bosan dengan makanan yang itu-itu saja, atau kalau tidak gofood atau grabfood, namun tetap monoton yang dipesan. Sepertinya harus memasak hari ini. Tidak punya bahan-bahan, pergilah saya untuk mencari tukang sayur keliling. Pagi ini saya sempat mendengarnya lewat depan kos, namun saya abaikan. Kabar duka pagi ini membuat saya lemas, bahkan sejenak tak ingin beranjak pergi ke mana-mana. Namun sepertinya juga tak boleh berlarut, sayua harus bergerak, sebagaimana almarhum mengajari saya untuk terus bergerak, menjadi orang yang tangguh dan tak kenal lelah. Read More…

Melawan Tradisi


Selasa, 14 April 2020
Mudik bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi, meski sebenarnya tidak ada yang harus dipertahankan dari satu tradisi tersebut. Menurut saya, tradisi ada dikarenakan pengulangan, sebuah aktivitas yang dilakukan pada waktu ke waktu dengan nilai tertentu yang melekat dalam aktivitas tersebut. Pembandingnya barangkali seperti ini, bagi kebanyakan orang Indonesia, rasanya sebuah hari tidak akan lengkap apabila belum menyantap nasi sebagai hidangan utama. Sama halnya dengan mudik, nampaknya tidak akan lengkap apabila tidak ada acara kembali ke kampung halaman, di setiap aktivitas akhir bulan Ramadhan. Saat ini, kondisi memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat melakukan tradisi tersebut. Read More…

Angin Timur Berhembus Pergi, Bakkara


Mata sulit sekali terpejam malam ini. Membaca jurnal pun tak masuk-masuk juga di kepala. Bahkan nonton film pun tak fokus. Hingga tiba waktunya masjid-masjid sedang bersiap mengumandangkan adzan subuh, saya malah memaksa untuk terlelap. Meskipun saya belum mengantuk sama sekali pada akhirnya mata ini terpejam setelah saya paksa. Berhasil, tertidur pulas, namun jam tujuh pagi malah sudah terbangun. Tak seperti biasanya. Jika tidur telat, bangun pun telat, namun kali ini tidak. Read More…

War from Home


Hari Ke-31 (2)
Dor..dorrrr.dorrrrr….suara tembakan begitu nyaring terdengar. Sejumlah pasukan elit ternyata sedang bertarung untuk saling mengalahkan. Sekitar seratus orang diterjunkan di sebuah arena yang luas. Mereka terbagi ke dalam 25 (dua puluh lima) tim, sehingga satu tim terdiri dari empat pasukan elit. Para pasukan elit ini mengenakan armor yang berbeda-beda. Ada yang berkacamata, ada yang memakai topi, hodie, helm, dan masih banyak penampilan nyentrik dari para pasukan. Pasukan elit ini diterjunkan tanpa dilengkapi persenjataan. Mereka harus mencari senjata mereka sendiri untuk melawan puluhan tim lainnya. Read More…

Aji Mumpung Saat Wabah Merebak


Sudah beberapa hari ini, whatsapp group saya dipenuhi oleh informasi seputar Andi Taufan Garuda Putra. Lelaki ini sepertinya lebih terkenal beberapa hari terakhir dibanding Pangeran Mateen yang juga ramai dibicarakan di media sosial. Tetapi sangat disayangkan, Andi Taufan Garuda Putra lebih populer dengan sentimen negatif dibanding Pangeran Mateen yang populer dengan sentimen positif. Andi Taufan adalah salah satu staff khusus Presiden Joko Widodo yang juga seorang pendiri lembaga peer to peer lending bernama Amartha. Dia terkenal karena sepucuk surat berkop Kementerian Sekretariat Negara RI yang ditujukan ke seluruh camat di Indonesia. Read More…

Doa untuk Ayah Mbak Mi

Kamis, 16 April 2020
Pekan ini kami sekeluarga dirundung duka. Pada Selasa (14/4) sekitar pukul delapan pagi, ibu saya menerima panggilan dari keluarganya di kampung. Mereka memberikan kabar bahwa ayah dari Mbak Mi---pembantu ibu di rumah— meninggal dunia. Ayah mbak Mi meninggal setelah kondisinya memburuk akibat penyakit diabetes yang telah dideritanya sejak lama. Read More…

Guratan Minda (25): Kita Pasti Bisa!

16 April 2020
Ada secercah harapan positif dari perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia pada hari ini. Kekhawatiran saya terkait dengan statistik jumlah pasien yang sembuh dari Covid-19 sebelumnya, sedikit terobati dengan adanya kabar bahwa hari ini 102 pasien dinyatakan bebas dari virus tersebut. Mungkin ini statistik tertinggi terkait penambahan jumlah pasien sembuh, dan semoga kedepannya angka pasien yang sembuh tersebut terus mengalami kenaikan. Pemerintah pun diharapkan terus mengevaluasi cara-cara penanganan pasien yang positif Covid-19. Terlebih kini semua Provinsi di Indonesia telah terjangkiti oleh virus tersebut. Read More…

Kesempatan dalam Kesempitan

Dimas Ramadhan

Selasa, 14 April 2020
Hari ini, salah satu Staf Khusus Presiden Andi Taufan tengah menjadi sorotan karena beberapa hari yang lalu mengirimkan surat kepada seluruh Kecamatan menggunakan Kop Surat Seskab yang ditandatanganinya sendiri. Surat tersebut merupakan pemberitahuan kepada jajaran Kecamatan agar mendukung kerja relawan PT. Amartha dalam melawan Covid-19 di pedesaan yang merupakan program kerja sama dengan Kementerian Pedesaan, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Sekilas surat tersebut nampak baik-baik saja karena bertujuan mulia, yaitu mengedukasi masyarakat serta mendata ketersediaan Alat Pelindung Diri di Puskesmas tingkat desa. Read More…

Jastip dan Covid-19

Dimas Ramadhan

Senin, 13 April 2020
Sejak kurang lebih setahun lalu, istri saya cukup rajin nge-jastip, alias jasa titip, jenis usaha yang mulai tumbuh sekitar empat atau lima tahun lalu berkat kemajuan teknologi dan semakin kemudahan melakukan pengiriman barang karena menjamurnya jasa pengiriman logistik. Pelaku usaha jenis ini sebenarnya tergolong dalam aktifitas ekonomi bayangan karena pemilik usaha tidak terdaftar secara formal atau pun tergabung dalam sebuah asosiasi, dan karenanya pelaku jastip tidak terbebani pajak dari keuntungan yang dihasilkannya. Read More…

Penghargaan untuk Garda Terdepan


Hari ini saya pelatihan dari pukul 9 sampai 5 sore via Zoom. Saya tidak perlu memaparkan pelatihan apa kepada para pembaca. Doakan saja ya semoga hasil pelatihan ini bermanfaat. Sehari sebelumnya, buku sudah dikirim lewat ekspedisi dan file juga sudah dikirim via email. Banyak sekali file yang dikirimkan via email jadi untuk memastikan pelatihan besok berjalan dengan lancar, saya cek satu per satu isi file tersebut. Selain itu, saya juga sambil memahami isi materi yang akan diberikan hari ini dan saya sudah menulis pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan saat pelatihan besok.

Read More…

Nobody’s Perfect

Nurul Fatin Afifah

"Nurul, bangun shalat subuh!"

Selama tinggal di Bandung, saya tidak membutuhkan lagi alarm untuk bangun tidur. Setiap hari, jam 04.40 WIB, kakak saya tidak pernah absen untuk membangunkan shalat subuh berjamaah di rumah. Kakak saya memiliki dua orang anak. Anak pertama bernama Annida, dia adalah mahasiswi semester 2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anak kedua bernama Zaky, dia adalah siswa kelas 2 di SMAN 12 Bandung. Saya sangat akrab dengan dua keponakan saya ini, sejak mereka TK dan SD kita sering belajar bersama untuk mengerjakan PR masing-masing. Saat itu, saya masih SMA. Setelah saya kuliah dan bekerja, kita hanya bertemu saat libur sekolah atau lebaran di Indramayu. Read More…

Millenial Gagap Birokrasi

Nurul Fatin Afifah

Pada Desember 2019, Presiden Jokowi mengumumkan 7 Staf Khusus (Stafsus) Presiden milenial. Terpilihnya anak-anak muda tersebut memberi harapan besar bagi masyarakat indonesia. Stafsus tersebut diyakini memiliki prestasi dan karya yang bisa memberi solusi bagi permasalahan bangsa. Kehadiran generasi muda tersebut diharapkan bisa memberikan ide-ide segar untuk Presiden dalam membuat kebijakan. Stafsus milenal juga memilki latar belakang sebagai influencer atau orang-orang berpengaruh di sosial media, sehingga mereka bisa menjadi mediator bagi pemerintah dalam mengkomunikasikan kebijakan sesuai dengan zaman tekhnologi yang berlaku di masa sekarang. Read More…

Zonk


Hari Ketiga puluh WFH
Sesaat sedang makan malam, terdengar bunyi air menetes. Saya lihat di kamar mandi ternyata tidak ada apa-apa. Namun suara tak lagi terdengar, mungkin di luar sedang gerimis. Kemudian setelah beberapa saat terdengar lagi, saya lihat di luar ternyata tidak gerimis juga. Bahkan air mata saya juga tidak sedang berjatuhan. Entahlah itu apa. Setelah makanan saya habis, saya kembali ke kasur dengan menghadap laptop. Tiba-tiba cipratan air mengenai lengan saya. Dan ternyata AC bocor, sumber suara yang dari tadi membuat saya bingung ternyata berasal dari sini. Ia berhasil membasahi selimut, tas, dan barang lain, untung bukan barang-barang elektronik. Wolhaa..menehi gawean tengah wengi. Read More…

Guratan Minda (24): Kembalinya Wibawa si Pocong

15 April 2020
Hari ini data pertambahan jumlah orang positif Covid-19 di Indonesia masih cukup tinggi tetapi stagnan direntang kurang lebih 300 orang. Hanya ada sedikit kekhawatiran karena jumlah pasien yang sembuh dan meninggal dunia pun tidak jauh berbeda. Meski selisihnya sedikit, tetapi jumlah pasien sembuh masih selalu di bawah jumlah pasien yang meninggal dunia. Hal ini membuat angka 9 persen tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia tidak bisa menggambarkan kondisi sebenarnya, karena bisa jadi angka sebenarnya justru diatas 30 persen. Terlebih jika merujuk pada masa inkubasi virus Covid-19 selama 14 hari, maka data tingkat kesembuhan dan kematian harus disandingkan dengan data pertambahan kasus Covid-19 pada beberapa hari sebelumnya. Read More…

Guratan Minda (23): Tetap Jaga Jarak

14 April 2020
Kabar hari ini badan masih prima sama seperti sejak awal work from home di terapkan oleh kantor. Alhamdulillah, tidak pernah satu hari pun badan terasa kurang sehat, begitu pun kedepan yang saya harapkan. Cerita hari ini diawali dari keliling mencari sarapan setelah menjalani perkuliahan di pagi hari.

Masa PSBB hari ini telah memasuki hari keempat. Tidak ada perbedaan yang berarti pada aktifitas hilir mudik masyarakat di Jakarta. Meski masih lengang, tapi sama halnya dengan masa-masa darurat Covid-19 sebelum penerapan PSBB. Dalam perjalanan kali ini mencari sarapan terlihat, kini masyarakat lebih peduli himbauan PSBB dengan semakin banyak yang menggunakan masker. Para pedagang dan penjual makanan juga mulai banyak yang menghimbau para pembelinya untuk menikmati hidangan yang dibeli di rumah. Read More…

Guratan Minda (22): Teman Setia hingga Terpejam

13 April 2020
Pukul 04.00 WIB, mata langsung terjaga dan begitupula dengan komputer jinjing saya. Ialah teman yang paling setia di tengah kebosanan hari-hari monotan di masa Work From Home ini. Selalu terjaga ketika saya bangun dan turut terlelap hingga saya memejamkan mata. Seolah tanpa sadar setiap pertama kali menyentuhnya, safari selalu menjadi aplikasi pertama yang wajib dibuka begitu pula dengan youtube dan memutar daftar lagu yang telah tersusun berdasarkan preferensi video yang saya sering putar. Setelahnya, kembali merebahkan badan, memegang gawai, membuka setiap media sosial, melihat apakah ada informasi baru tentang aktivitas keseharian yang harus dijalani. Read More…

Sebuah Siasat

Erwinton Simatupang

“Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ucap Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa hari lalu. Guna menekan penyebaran virus Corona di negeri ini, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengajak kita semua untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

Kini, rumah adalah segalanya, dan tempat hanyalah sebuah konstruksi. Sekolah atau kampus, misalnya, tidak lagi sebagaimana kita persepsikan selama ini, seperti jejeran kursi dan meja, papan tulis di depan kelas, dan lainnya. Saat ini, sekolah atau kampus, juga kantor dan tempat berolahraga, berada di rumah. Bagi anak kos, kamar sebesar peti mati adalah segalanya. Read More…

Dari Mulut Harimau ke Mulut Buaya

Erwinton Simatupang

Bumi bisa bernapas lebih rileks seiring dengan merebaknya virus Corona. Seperti kita tahu, kegiatan industri berhenti sementara waktu di sebagian besar negara. Laju kenderaan semakin berkurang di jalan raya. Langit akhirnya terlihat lebih biru, udara semakin segar, dan kicau burung terdengar merdu. Begitulah laporan media massa perihal kondisi lingkungan hari-hari ini. Dalam bencana, ternyata masih ada kabar gembira.

Seminggu terakhir ini, kos tempat tinggal saya juga mendadak ‘hijau’. Pasalnya, seorang teman kos memanfaatkan waktu kerja dari rumah (work from home) dengan menanam kangkung dan bayam. Tidak seperti teknik konvensional, ia justru bercocok tanam dengan menggunakan media air: hidroponik. Ketika pertama kali melihatnya, saya sempat memandangi dan mengangkat tanaman itu dari air untuk melihat akar-akarnya. Sebab, ini merupakan pengalaman pertama saya melihat langsung teknik menanam seperti itu. Read More…

Where There’s A Will, There’s A Way


Entah mengapa kegiatan saya selama WFH ini semakin sibuk. Lebih banyak waktu luang saat tidak WFH dibanding saat WFH. Kalau hari biasa, saya ada waktu ekstra tidur di mobil saat perjalanan dari rumah ke kantor, saat WFH tidak ada. Sebegitu padatnya hari-hari saya sehingga tidak terasa waktu begitu sangat cepat. Hari ini, judul pekerjaan saya adalah cek sana cek sini. Saya memulai hari dengan menonton TVRI pukul 8-9 pagi. Mulai Senin tanggal 13 April kemarin, Mas Menteri Nadiem Makarim memberikan fasilitas belajar kepada semua anak-anak mulai dari PAUD hingga SMA. Anak saya pun saya ikutkan untuk belajar materi PAUD pukul 8 hingga 8.30 pagi dan adik angkat saya ikut belajar kelas 1-3 pukul 8.30 hingga 9 pagi. Read More…

Serba Gaduh


Hari Kedua puluh sembilan
Rutinitas hampir monoton setiap hari, meskipun begitu tetap harus menikmati keheningan ini di tengah kegaduhan. Gaduh akan berita covid-19 yang tak kunjung menampakkan penurunan, pun gaduh karena sebuah kebijakan dan cangkem warganet.

Kondisi ini memang serba tidak menentu dan perlu tindakan yang cepat, namun juga tepat. Alasan kemanusiaan adalah hal yang terpenting saat ini, akan tetapi memang perlu berhati-hati bagi para pemangku kebijakan, karena cangkem warganet ini tidak bisa dikontrol. Read More…

Genteng Bocor

Dimas Ramadhan

Sabtu, 11 April 2020
Dari dulu saya selalu merasa jika satu bagian rumah mulai bermasalah, bagian lain akan menyusul dan kemudian bagian lainnya, dan seterusnya. Sepertinya ini berlaku juga untuk rumah lainnya yang berdekatan terutama rumah yang berada dalam satu lingkungan atau komplek, karena rumah-rumah tersebut dibangun oleh tukang yang sama dan dalam waktu yang kurang lebih juga bersamaan. Sebelum work from home diberlakukan, tetangga depan rumah saya membetulkan bagian atap rumahnya. Kemudian minggu lalu, tetangga kiri saya mengganti seluruh plafon rumahnya karena sudah jamuran, yang berarti plafon tersebut tergenang air ketika hujan. Tidak berapa lama rumah lain yang berada disamping lapangan juga sama. Ia bahkan mengganti gentengnya sekalian karena merasa kesal waktu tidur tiba-tiba kamarnya basah dan plafon hampir ambruk. Dan sekarang sepertinya giliran rumah saya. Read More…

25m2

Dimas Ramadhan

Jumat, 10 April 2020
“Coba lebih sering video call dengan Dania ya, kasian itu anak-anaknya, ngerasa bosan karena ga bisa kemana-mana”, begitu kata Ibu saat menelepon saya tadi siang. Dania adalah adik perempuan saya. Sebelumnya ia tinggal di Bandung bersama Suaminya, Ikhsan, dan dua anaknya bernama Kael dan Dhira. Namun pertengahan tahun lalu, tidak lama setelah ia melahirkan anak ke tiga, Ikhsan pindah kerja, dan kini tinggal di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Apartemen tersebut adalah milik ibu, yang dibeli untuk saya tempati sebelum saya menikah. Selama kurang lebih dua tahun saya dan istri pernah tinggal disana, sekitar 2013 hingga 2015, sampai kemudian saya menempati rumah yang sekarang. Sejak saat itu hingga 2019, apartemen milik Ibu disewakan ke saudara-saudara baik dari keluarga Bapak mau pun Ibu. Read More…

Misteri 106 Di Balik Covid-19


“Kejadian ini sebenarnya bukan kali pertama. Setali tiga uang, belum genap setahun lalu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam catatan saya pernah membuat kesalahan serupa”.

Sepintas tidak ada masalah dengan Surat Edaran 443/1799 tertanggal 6 April 2020 Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat. Surat ini secara khusus mengajak perusahaan dan organisasi kemasayarakatan di Jawa Barat untuk berpartisipasi aktif dalam penanggulangan Covid-19. Meskipun demikian, nomor urut 106 dalam lampiran surat tersebut membuat heboh publik. Kesalahan ini tidak sesederhana selesai dengan permohonan maaf, lebih jauh publik menduga bahwa nama pada urut 106 itu masih eksis diakui atau jangan-jangan ini adalah kesalahan yang disengaja? Kecurigaan publik akan hal ini bukan tanpa alasan mengingat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) secara idiologi dan konstitusi merupakan organisasi terlarang dan illegal di Indonesia sejak keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017, status badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia telah dicabut dan pembubaran HTI oleh Pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2017 (Perppu Ormas). Read More…

Badai Sudah Berlalu

Nurul Fatin Afifah

Pada tanggal 1 April 2020, merupakan salah satu hari terberat yang paling saya ingat. Sore itu, berdasarkan hasil cek darah dan urine, dokter mendiagnosa saya terkena infeksi pencernaan. Dokter menjelaskan bahwa infeksi tersebut tidak bersifat tunggal. Ada tiga penyakit infeksi yang saya alami. Melihat kondisi saya yang mengalami nyeri perut secara terus menerus dan lemas seharusnya saya dilakukan opname, namun saat ini seluruh rumah sakit sedang fokus menangani Covid 19. Pergi ke rumah sakit justru dikahwatirkan hanya akan memasukkan virus kedalam tubuh karena mengingat kondisi saya sedang drop. Sebelum pulang, saya mencoba memastikan kepada dokter bahwa penyakit yang saya derita bukanlah Covid 19. Dokter menjelaskan secara medis bahwa dari hasil lab tidak ditemukan kelainan sel-sel yang mengarah kepada corona. Hasil lab menunjukkan adanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Read More…

Meeting Marathon


Hari ini setelah saya menyelesaikan kegiatan belajar mengajar, saya meeting dengan tim Populi Center selama 3,5 jam lamanya. Beda memang meeting secara online dan meeting bertemu fisik. Di kantor, saya betah-betah saja berlama-lama meeting secara fisik. Tapi saat kegiatan meeting ini harus bergeser ke meeting online, rasanya lama sekali waktu 3,5 jam itu. Mungkin saya sudah memulai hari kelas online yang konsepnya sama dengan meeting mulai pukul 8 pagi hingga 2 siang, jadi saat meeting online dengan tim Populi Center, mata saya sudah lelah. Read More…

Lucunya Negeriku


Hari Kedua puluh depalan

Hujan deras mengguyur Tebet, membuat suara para presenter dan komentator tak terdengar sempurna, ditambah posisi kamar yang kurang maksimal untuk menangkap sinyal seluler. Wifi yang menjadi andalan kini sendlap-sendlup juga setelah pemilik kost menerapkan sistem kuota terbatas pada layanannya.

Kian hari kian tak heran jika kasus covid-19 di Indonesia tak kunjung turun. Anjuran untuk tidak bepergian atau tamasya juga tidak ditaati saat penerapan PSBB. Saya berdiskusi dengan teman saya, ini mungkin karena kita sudah tak peduli, menganggap diri kita kebal peluru sehingga banyak yang masih kluyuran. Mereka sudah bosan dengan kondisi dan lagian tak ada gejala apa-apa, sehingga mereka masih saja memilih memelihara kebodohan untuk tidak peduli.

Read More…

Kuliah Online Minggu Ketiga


Selama satu semester ini, saya selalu memulai awal minggu dengan jadwal yang padat merayap. Jadwal hari Senin saya seperti lalu lintas Jakarta sebelum Covid-19 yang super sibuk. Pagi ini, saya memulai hari pukul 7 pagi. Saya langsung bergegas siap-siap untuk mengajar tepat pukul 8 pagi. Ini adalah minggu ketiga saya mengajar lewat Zoom. Kalau kalian baca tulisan saya minggu lalu, saya sempat menulis soal mental yang harus adaptif saat menggeser kegiatan dari kegiatan tatap muka secara fisik menjadi tatap muka secara online.

Read More…

Belajar Menulis

Senin, 13 April 2020
Manusia ditakdirkan untuk menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang terus belajar sepanjang hidupnya. Karena saya manusia, maka premis itu berlaku pula untuk saya. Hari ini, saya diberi kesempatan untuk belajar banyak. Tulisan pertama saya mendapat banyak sekali masukan dari rekan-rekan peneliti. Catatan kronika hari ini akan saya manfaatkan untuk merangkum semua masukan yang diberikan kepada saya. Read More…

Kemen-Luhut


Senin, 13 April 2020
Sekali lagi pemerintah pusat menunjukkan inkonsistensi kebijakan. Setelah sebelumnya kementerian kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 9 tahun 2020 tentang PSBB menyebutkan jika ojek online (ojol) hanya boleh mengangkut barang. Peraturan ini segera direspons oleh para aplikator ojek online dengan tidak memberikan ijin bagi ojol untuk menarik penumpang. Menariknya, kemarin Kementerian Perhubungan yang saat ini untuk sementara dipegang oleh Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Inti dari peraturan tersebut adalah memberikan ruang kepada ojol untuk dapat mengambil penumpang. Terdapat dua Menteri yang mengeluarkan kebijakan yang kontraproduktif. Read More…

Gagap Antisipasi


Minggu, 12 April 2020
Di samping persoalan mewabahnya virus Corona, terdapat ancaman lain yang tidak kalah mengintai, yakni Demam Berdarah. Telah ada satu tetangga kami yang berada di depan kompleks yang terkena demam berdarah. Atas kejadian ini, masyarakat sekitar meminta pengurus RT untuk melakukan fogging di lingkungan sekitar, tidak terkecuali lingkungan kami. Rencana fogging akan dilakukan pada pagi hari, setelah ditunggu-tunggu, ternyata fogging baru dilakukan pada siang hari. Sasaran utamanya adalah bagian depan rumah, terutama bagian selokan. Read More…

Wajan



Hari Kedua puluh tujuh
Terlihat seorang tua dengan mengenakan baju berwarna oranye dan memakai topi, tanpa masker. Ia hanya terduduk lesu, tak banyak uang yang terlihat di tangannya karena kendaraan yang terparkir di Pasar Tebet Barat tidaklah banyak, mungkin hanya sekitar 10 kendaraan bermotor, tak terlihat ada mobil terparkir juga di sana. Ya, sepuluh kendaraan bermotor saja untuk pasar yang cukup luas ini. Read More…

Haec Dies!

Paskah yang tidak seperti Paskah. Begitulah kesan saya terhadap Paskah tahun ini. Paskah yang sunyi senyap, penuh dengan air mata. Saya dan anak saya harus terpisah dengan suami selama 3 minggu karena alasan keamanan. Orang-orang yang satu per satu menghubungi Mama saya untuk minta bantuan karena terkena pemutusan hubungan kerja dari tempat mereka bekerja. Dan pasti keluarga yang ditinggal oleh orang-orang kesayangan, baik karena penyakit Covid-19 maupun tidak. Jadi memang tahun ini Paskah penuh air mata, perasaan ketakutan dan kekawatiran. Read More…

Teknologi dan Pengawasan

Erwinton Simatupang

HP saya berdering kemarin malam (11/04/2020). Seorang teman di Yogyakarta ternyata menelpon, dan menanyai kabar saya. Selama berbincang, ia juga mengisahkan, adiknya di Malang sempat mengabaikan ancaman virus Corona. Pasalnya, adiknya keluyuran ke sana-sini tanpa memperdulikan dirinya sendiri, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Informasi itu didapatkan teman saya dari teman-teman adiknya. “Kalau dia kena Corona, itu seperti kiamat bagi keluargaku,” begitu kurang lebih ucap teman saya.

Sejak mendapatkan informasi itu, teman saya mulai menerapkan pengawasan intens kepada adiknya. Mendengar itu, saya semula mengira jika ia menggunakan video call di Whatsapp untuk memonitor adiknya. Tidak seperti dugaan saya, ia ternyata ‘hanya’ menggunakan aplikasi bernama GPS Maps Kamera, sebuah aplikasi untuk kamera HP. Read More…

Corona Si Buah Bibir

Erwinton Simatupang

Di Gereja Basilika Santo Petrus, Vatikan, Paus Fransiskus menemui sepi. Di sana, tidak ada lagi kerumunan seperti perayaan Paskah tahun-tahun sebelumnya. Di Kabah, Mekkah, sepi, bukan kerumunan, yang datang menghampiri. Tembok Ratapan di Yerusalem juga mendapati sepi yang sama, yang tanpa kerumunan itu. Belakangan ini, begitulah media massa secara cukup intens memberitakan tempat-tempat suci umat beragama. Read More…

Guratan Minda (21): Membunuh Rasa Bosan!


12 April 2020
Pagi ini, terbangun dari rebahan yang tak benar-benar membuat mata terpejam. Sudah terbayang pagi ini apa yang akan saya tuju untuk mengisi kekosongan perut. Membasuh muka, sambal mengambil kunci, perlahan langkah kaki langsung menuju si Ducati. Tak lagi bubur ayam, kini nasi uduk seberang lapangan bola Wijaya Kusuma, Anggrek Garuda nampak lebih menggoda. Dengan lauk kering tempe, bihun, bakwan, tahu bacem dan tahu krecek, nasi uduk yang penuh minyak tersebut nampak menggoda. Sedikit menggelitik pemandangan, dengan perlahan memacu si Ducati, ternyata masih nampak banyak warga berlari pagi di sekitar lapangan. Sebagian besar memang mengenakan penutup hidung, namun apa juga sebagian yang tidak. Fajar nampak masih menjadi waktu terbaik untuk berolahraga, meski kini Jakarta sedang dalam masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Bagi mereka yang mencari udara segar tentu sama saja karena harus mengenakan penutup wajah. Mungkin kebosanan di dalam rumah menjadi salah satu alasan utama. Read More…

Guratan Minda (20): Ctrl+A+Del


11 April 2020
Tercatat kini dunia tengah mengalami tiga krisis sekaligus, yakni krisis minyak, krisis kesehatan dan krisis perang dagang China-Amerika. Kondisi yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Bahasan mengenai makro ekonomi pun kedepan akan kembali bergeliat, setelah beberapa tahun terakhir mulai terabaikan. Terlebih, kondisi indikator makro ekonomi Indonesia yang mulai stabil sebelum tiga rudal krisis menyerang dunia.

Ketidakpastian adalah musuh terbesar ekonomi. Mungkin kondisi krisis kali ini sedikit membawa angin segar bagi kaum environmentalis. Dunia tengah istirahat dari geliat ekonomi yang sering menimbulkan eksternalitas negatif bagi lingkungan. Namun, mereka tak bisa menikmati segarnya udara Jakarta jua. Ada krisis Covid-19 yang masih membayangi setiap orang di dunia. Pertanyaan selanjutnya, kapan krisis kesehatan ini khususnya akan berakhir? tak pernah ada yang tahu kapan pastinya hingga penawarnya benar-benar hadir untuk meredakannya. Read More…

PSBB Di Swalayan Naga Ciracas


Hari ini persediaan bahan pokok dirumah sudah menipis. Beras terakhir sudah kami tanak kemarin. Begitupun telor, nuget dan sosis sudah habis dua hari lalu. Praktis di lemari es kami hanya terpajang botol-botol air dingin dan beberapa ikat sayuran. Tanggal 10 besok adalah penerapan PSBB di Jakarta setidaknya kita harus berbelanja kebutuhan pokok untuk tiga hari kedepan. Demikian saya hasil diskusi singkat saya dan istri sore itu. Bergegas mengeluarkan “Si Hitam” dari halaman rumah. Tidak seperti biasanya kali ini saya memanaskan mesin cukup lama, maklum sudah beberapa hari ini kendaraan kesayanganku tak pernah digunakan. Sayapun yang biasa mengajak anak istri untuk sekedar membeli keperluan diluar tidak dengan hari ini saya berangkat sendirian. Pilihan ini dilakukan mengingat untuk kepentingan bersama kita mentaati kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sudah ditetapkan Pemerintah. Read More…

Menjadi Teroris Nirteror


Sabtu, 11 April 2020
Kami melakukan gotong royong di hari ini. Beberapa bapak-bapak di kompleks, kumpul pada jam 9 pagi untuk memasang disinfektan bagi kendaraan yang keluar dan masuk kompleks. Pada akhirnya diberlakukan kontrol ini, walau sebelumnya sudah diusulkan beberapa kali. Kami melakukan kerja bakti dari jam 9 pagi hingga jam 12 siang. Terdapat sedikit perdebatan, apakah akan menggunakan semprotan manual, atau menggunakan kompresor. Mengingat sesepuh kompleks sudah membelikan kompresor, maka suka tidak suka kami menggunakannya. Ini bukan hal yang baru, mengingat beberapa kompleks di kawasan Kranggan juga sudah memberlakukan hal yang sama. Read More…

Jaya Narasi Pinggir


Jum’at, 10 April 2020

Di beberapa grup whatsapp, terbangun narasi bahwa dengan adanya penyebaran wabah Corona, maka bumi dengan sendirinya sedang membersihkan diri. Narasi ini tidak hanya berada di grup whatsapp, tapi juga sangat banyak berada di ranah media sosial, seperti Instagram. Persoalannya apakah kehadiran manusia merupakan petaka bagi alam semesta? Bagi pembaca yang berkutat dengan filsafat, terutama dengan filsafat ilmu. Terdapat beberapa hubungan yang sekuensial antara agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Saya akan membahasnya sedikit.

Read More…

Hilangnya Kang Sayur


Sudah tiga hari ini tidak kulihat lagi keberadaanya. Terakhir Rabu (8/4) dia sempat melintas di depan rumah kecil kami. Sayurrr..sayurrr..teriakan yang akrab saya dengar sejak awal saya Work From Home (WFH). Kendaraan roda dua yang dimodifikasi dengan gerobak didepan dipenuhi sayur mayur dan kerupuk yang digantung sekeliling menjadi ciri khas tukang sayur langganan kami. Biasanya antara pukul 08.00 – 09.00 WIB dia melewati rumah kami sambal memekikan teriakan khasnya. Namun tidak dalam beberapa hari ini teriakan itu tidak lagi kudengar. Saya sendiri terbiasa untuk urusan belanja seperti ini sementara istri lah yang mengeksekusi “perburuan” sayur mayur saya. Read More…

Corona dan Nasib Pendidikan Kita


“Kalo tidak ada UN, terus syarat kelulusan dan penerimaan sekolah anak kita bagaimana?”. Setidaknya pertanyaan itu yang sering ditanyakan dalam grup Komite dan Guru di sekolah anak kami. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Kebijakan Pemerintah yang memperpanjang home learning bagi peserta didik dan keputusan peniadaan Ujian Nasional (UN) tahun ini menjadi alasan kuat atas kekhawatiran tersebut. Tidak hanya orang tua peserta didik, pihak sekolah seperti ditempat anak kami belajar belum sepenuhnya mampu menjelaskan secara detail persoalan tersebut kapada kami. “Masih menunggu tehnis lebih lanjut”. Demikian jawaban diplomatis yang sering kami dengar. Read More…

Reinkarnasi Budaya dan Keterpaksaan


”Baka garep manjing umah, wesuh dikit tangan sikile ning padusan!”. Perintahku pada dua anak kami yang baru saja membantu membuang sampah. “Ayah ngomong apa sih, kita gak ngerti ya De”. Sang kakak tampak bingung dengan kalimat yang baru saja saya ucapkan. “Jika mau masuk rumah cuci kaki dan tangan dulu”. Jelasku. “Oh iya, aku tau. Itu kaya bahasa jawa waktu kita pulang dulu kan Yah?!”. Sergah si bungsu. “Kepriben…kepriben” Sang kakak menimpali sambal disambut tawa kami berempat.

Read More…

Amplop Khatib dan Corona


”Assalamu’alaikum Bro, Jum’at ini ada jadwal khutbah dimana?!”. Seorang kawan menyapa diujung telepon. “Di Istiqlal”. Jawabku sekenanya. Terdengar suara terkekeh khas kawan yang satu ini. Lebih lanjut dia menceritakan dengan blak-blakan bahwa sejak ada wabah Corona dan dikeluarkannya Fatwa MUI terkait pembatasan kegiatan keagamaan termasuk Shalat Jum’at dirinya sudah 3 kali absen dari jadwal “manggung” jum’atan. Istilah manggung memang sering kami gunakan untuk sekedar berbagi informasi siapa dan mengisi da’wah (khutbah, pengajian, ceramah dll). Kami memang memiliki komunitas Da’i yang sebagian merupakan lulusan satu almamater baik dulu saat di Pesantren maupun saat kuliah dulu. Tidak hanya itu, dia bercerita jadwal 4 jum’at kedepan sudah dikonfirmasi oleh pengurus masjidnya ditiadakan. Read More…

Nalar Manusia


Hari Kedua puluh enam
Pagi ini bangun lebih pagi, bukan karena ingin, namun suara paku yang ditancapkan ke tembok memaksa saya terbangun lebih pagi. Ternyata itu adalah ulah Mas Ari, sang penjaga kost yang rutin setiap pagi atau bahkan siang mendatangi kosan. Kali ini ia datang bersama satu tukang bangunan lain yang sedang asyik merapikan kamar-kamar yang sudah tak berpenghuni, yang salah satunya adalah kamar korban keganasan Covid-19 karena harus di PHK dan langsung pulang ke tanah kelahirannya di Makassar.

Suara dentuman, jagat media pagi ini dihebohkan dengan suara dentumen misterius. Saya sendiri tidak mendengar, dan entah itu suara dari mana semua ini misteri namun logika dan nalar manusia sudah jauh melampaui logika ilmu pengetahuan. Begitulah yang kita lakukan saat terjadi sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Kemampuan kita dalam mencocokologi ini jelas mengalahkan prinsip-prinsip penalaran dari orang-orang barat yang sudah diselimuti oleh pola-pola pikir yang didukung teknologi tinggi, tertutup oleh sistem pendidikan formal mereka, sehingga disitulah logika primitif orang Barat sudah tertutup. Read More…

Sabtu Suci


Sudah hampir empat minggu kami dikarantina di rumah masing-masing. Minggu depan sudah mau pertengahan bulan April. Sampai kapan kira-kira wabah ini akan berakhir? Saya rasa hanya Tuhan yang tahu kapan bencana ini reda. Hari ini umat Nasrani memperingati Sabtu Suci.

Sering kali orang Nasrani melupakan hari Sabtu Suci sebagai rangkaian Tri Hari Suci menjelang Paskah yang jatuh pada hari Minggu. Padahal seingat saya saat hari Sabtu Suci, kami membarui janji Baptis kami. Pembaruan janji baptis seolah mengajak kami terlahir kembali karena lewat Baptis, Tuhan menghapus dosa asal manusia dan mengajak manusia untuk bersatu dengan Yesus Kristus. Read More…

Glenn Fredly dan Purwokerto

Dimas Ramadhan


Rabu, 8 April 2020

Pagi itu tidak seperti biasanya. Dalam keadaan setengah sadar dari tidurku, aku bisa merasakan bahwa pagi hariku kali ini berbeda dibanding hari-hari lainnya. Ada semacam perasaan sedang dirundungi awan kelabu, meskipun aku tahu matahari pagi dibalik jendela kamar cukup cerah. Tidak pula ku dengar kicauan burung tetangga yang kadang ku kutuki karena kerap mengganggu tidurku. Perasaan muram seperti ini makin menjadi ketika sayup-sayup aku mendengar suara seorang perempuan bersenandung mengikuti lagu dengan lirihnya. “Perpisahan.. kali ini untukku akan menjadi kisah sedih yang tak berujung”.

Read More…

Tok, DKI PSBB!

Dimas Ramadhan

Selasa, 7 April 2020

Tidak lama setelah Keputusan Direks Populi Center yang disampaikan Senin (6/4) kemarin tentang penambahan masa distancing, Kementerian Kesehatan mengumumkan ditetapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di wilayah DKI Jakarta. Hal itu diputuskan pada Senin malam oleh Menteri Terawan, dan diumumkan secara luas pada hari ini. Jika melihat ketentuan peraturan tentang pemberlakuan PSBB, maka penjarakkan sosial secara fisik ini akan berlaku sedikitnya 14 hari sejak ditetapkannya status tersebut. Dengan demikian selama rentang waktu tersebut berbagai aktifitas akan dikurangi secara signifikan, kecuali pekerjaan dengan bidang-bidang tertentu yang bersifat strategis atau menyangkut kebutuhan dasar sehari-hari.

Read More…

Red Alert!

Dimas Ramadhan


Kamis, 9 April 2020
Sekitar jam 1 siang saya pergi ke toko peratalatan sekolah, karena pagi tadi gurunya berpesan kalua besok para siswa akan belajar melipat origami dengan berbagai bentuk. Selain kertas origami, saya juga membeli lem kertas dan buku gambar, yang semuanya bisa saya dapatkan di tempat fotokopi tidak jauh dari rumah. Sebelum kembali ke rumah saya menyempatkan diri menengok bengkel sepeda yang posisinya berlawanan dengan tempat fotokopi. Saya tidak terlalu sering keluar rumah, namun sepertinya setiap kali lewat bengkel tersebut tidak buka. Entah jam bukanya yang terbatas, atau memang tidak buka selama penjarakkan sosial seperti ini. Sudah hampir dua bulan rasanya sepeda milik si sulung teronggok karena ada masalah dengan ban belakang dan pengeremannya. Awalnya ketika saya mengisi angin karena terlihat kempes, Gavin mengeluh karena sepeda menjadi lebih berat untuk dikayuh. Saat saya perhatikan lagi, ternyata rem nya menjepit terlalu rekat dengan ban. Read More…

Perpanjangan Waktu

Senin, 6 April 2020
Sekitar tengah hari, tidak lama setelah mendampingi Gavin selesai sekolah online dengan guru dan teman-temannya, saya menerima panggilan Skype dari Rafif. Rupanya ia sedang mengetes pengunaan aplikasi ini untuk pertemuan jarak jauh siang nanti. Pertemuan ini sengaja diagendakan sebagai rapat awal bulan yang rutin dilakukan Populi Center, meskipun kini semuanya sedang menjalani work from home dalam rangka pembatasan fisik. Sekitar jam 2 siang rapat awal bulan pun diadakan. Pertemuan diawali dengan mengabsen orang-orang yang e-hadir. Dari keseluruhan staf, hanya Nurul saja yang tidak hadir tanpa kabar. Mudah-mudahan perempuan asal Indramayu itu sehat, karena sebelumnya ia pernah merasakan gejala Corona. Selain Nurul, beberapa kru juga tidak hadir, diantaranya ialah Kang Teten yang sebelum work from home dimulai sedang menjalani masa penyembuhan di Garut, serta duet Edwin-Aji yang sampai sekarang setia menjaga kantor. Senang rasanya bisa berinteraksi dengan rekan-rekan kerja walaupun sebatas video dan suara. Read More…

Guratan Minda (19): Sore Bersama Bapak

09 April 2020
Klotak klotak klotak, terdengar bunyi kala sore itu saya sedang bermain bulutangkis berdua dengan Bapak di Balai Kampung, tempat orang-orang di sekitar rumah biasa menepak bulu angsa. Tentu suara tersebut bukan suara tepakan bulu angsa, melainkan suara lemparan batu ke arah genting Balai. Mungkin kala itu ada orang sedang jail, terlebih saat sehabis maghrib tersebut kita hanya berdua di dalam Balai tersebut.

Sempat bersikap acuh, kita tetap lanjut bermain bulutangkis. Bapak memang badminton holic, tiap hari nampak tak ada hari tanpa menepak bulu angsa. Banyak pula piagam kejuaraan bulutangkis tingkat kabupaten yang kala itu ia dapat, sebelum kini ia beralih menggeluti hobi sepeda hingga ke gunung meski beberapa tahun lagi ia akan pensiun. Anak laki-lakinya ini pun sempat bergabung di klub PB Wiratama, klub bulu tangkis yang hingga kini masih sering mendominasi kejuaraan bulutangkis di Magelang dan sekitarnya, gegara dulu waktu kecil sering diajak bapak nonton ia bermain bulutangkis dengan rekan-rekannya. Read More…

Puasa Sepak Bola

Erwinton Simatupang

Hari ini (10/04/2020), saya menyaksikan hujan yang mengguyur Kota Jakarta dari jendela kamar saya. Ketika melihat antena parabola berukuran besar di salah satu rumah, saya teringat sepak bola.

Kita tahu, virus Corona telah menghentikan hampir seluruh aktivitas sepak bola di sebagian besar negara. Liga-liga top Eropa, misalnya, menunda perhelatan kompetisi sepak bola. Beberapa pemain, jajaran pengurus klub, dan pelatih bahkan dikabarkan positif terinfeksi virus tersebut. Publik sepak bola, termasuk di Indonesia, mau tidak mau harus menerima kenyataan itu. Jika dulu penikmat sepak bola setidaknya masih bisa menyaksikan tim jagoan atau pemain idola mereka bertanding sekali dalam seminggu, kini mereka terpaksa puasa sepak bola sampai waktu yang tidak menentu.
Orang-orang kelas atas, terutama yang tinggal di kota-kota besar, di negeri ini baru kali ini tidak bisa menikmati liga papan atas sepak bola Eropa secara langsung dari layar kaca. Namun, orang-orang di pelosok-pelosok negeri ini sudah terbiasa menghadapi kenyataan seperti itu.



Read More…

Pohon Kehidupan Lewat MengASIhi


Semenjak kebijakan WFH, Keana semakin dekat dengan saya. Mungkin dia treasure WFH moment, selalu ingin bersama dengan Mommynya. Saya juga bersyukur hingga saat ini masih diberikan Tuhan ASI yang lancar dan kesabaran untuk mengASIhi Keana. Sebentar lagi, Keana berusia 2 tahun. Tapi saya belum berencana untuk menyapihnya. Saya ingin sekali menyapih alami. Keana tahu kapan dia harus berhenti dengan sendirinya. Dari kecil saya terapkan Keana memilih yang terbaik untuknya sendiri. Bahkan sampai nama pun Keana pilih sendiri saat masih dalam kandungan. Terdengar lucu memang. Kok bisa anak kecil pilih nama sendiri. Tapi jangan salah. Anak ini bisa diajak berbicara sejak dalam perut. Sebetulnya saya ingin menamakan anak saya dengan nama Harlow Rose. Tapi anak ini tidak suka dengan nama tersebut. Saya selalu komunikasi dengannya saat masih dalam kandungan. Saya sebutkan nama yang saya siapkan saat itu (Harlow Rose) dan meminta anak ini melakukan gerakan apabila setuju, namun dia tidak merespon. Saya tanya mau nama Keana tidak, dia malah menendang perut saya dari dalam. Layaknya survei, saya tanya lagi berkali kali memastikan konsistensi jawabannya, dia senang dengan nama Keana.

Read More…

Agama dan Negara


Hari Kedua puluh lima
Untuk kondisi hari ini alhamdulillah masih sehat dan bregas waras. Hanya berita duka saja dari salah satu penghuni kos yang terpaksa harus pulang kampung karena di PHK. Hari ini tidak ke mana-mana. Bahkan proses rekaman saya selalu gagal karena suara derasnya hujan masuk ke saringan microphone saya.

Tidak terasa sudah ketemu hari Jumat lagi, sholat Jumat semestinya, namun sudah 4 kali berturut-turut saya tidak sholat Jumat. Kafirkah? Tidak! Ada memang hadist yang menyebutkan jika tidak sholat Jumat selama tiga kali berturut-turut dengan sengaja dan tanpa alasan yang jelas, maka kita kafir. Begitu kata Quraish Shihab dalam akun Instagram Najwa Shihab. Akan tetapi dalam kondisi pandemi ini, bisa saja kita tidak pergi sholat Jumat, bukan sedang mencari alasan, karena kondisi ini juga tidak kita inginkan. Bukankah seperti jaman Nabi, sesaat ingin sholat Jumat, hujan deras pun datang, membuat jalanan sangat becek yang menghambat perjalanan kita ke Masjid. Kita tidak sedang mencari-cari alasan. Bahkan saat Nyepi lalu, pawai ogoh-ogoh dibatasi, bahkan ada yang tidak memakai pawai tersebut. pemandangan hari ini pun sama, di saat umat Khatolik merayakan Jumat Agung banyak dari mereka yang harus beribadah di rumah. Doa-doa dari gereja disiarkan secara live streaming. Pesan bahwa ada pengharapan ke depan dalam kondisi saat ini diserukan oleh Ketua PGI Gumar Gultom.

Read More…

Jumat Agung


Shalom Aleichem!
Begitu kira-kira salam dalam bahasa Ibrani yang artinya damai kiranya menyertaimu. Hampir mirip ya kedengarannya seperti salam kawan-kawan Muslim yaitu Assalamu’alaikum. Mungkin artinya pun juga mirip mirip seperti bunyinya. Hari ini, seperti biasanya sekitar setengah 4 sore pasti selalu hujan atau paling tidak mendung saat Jumat Agung. Saya mulai sadar setiap Jumat Agung hujan, sejak di SMA. Mungkin langit ikut berduka mengingat peristiwa 2000an tahun yang lalu Yesus wafat di kayu salib.

Biasanya hujan terjadi saat pembacaan kisah keagungan kasih Tuhan Yesus saat ibadah Jumat Agung.



Read More…

Guratan Minda (18): Mitos Kosmologis


09 April 2020
Beberapa waktu lalu, jagad dunia maya tengah dihebohkan dengan Kulkul (Kentongan) di Puri Agung Klungkung Bali yang berbunyi dengan sendirinya. Masyarakat Bali meyakini hal tersebut sebagai pertanda akan hadirnya mara bahaya. Begitu juga hebohnya erupsi Gunung Merapi tanggal 27 Maret 2020 yang memunculkan awan panas dengan bentuk kepala semar, yang diyakini sebagai pertanda pagebluk yang sedang mewabah akan segera berakhir. Read More…

Kamis Putih


Minggu ini tidak terasa umat Nasrani memasuki Pekan Suci. Pekan Suci tersebut dimulai dari hari Kamis dan berakhir hari Minggu. Hari ini, umat Nasrani menjalani ibadah Kamis Putih. Ibadah ini dirayakan untuk memperingati Perjamuan Malam Terakhir antara Yesus dan dua belas muridNya.

Saya dibesarkan di keluarga yang multi-agama sebetulnya. Namun saat usia berusia 8 tahun, Mama saya pindah agama dari Hindu ke Katolik. Saya dididik agama Katolik dari kecil hingga saat ini saya menikah dengan orang Kristen Protestan, saya tidak pindah, saya masih tetap Katolik. Dulu sebelum saya ke Inggris, setiap Minggu keluarga saya ke Gereja layaknya umat Katolik lain yang wajib ke Gereja setiap minggunya. Saat saya di Inggris, Mama Papa tidak rutin setiap minggu ke Gereja. Hingga saat saya kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai jurnalis yang mengharuskan saya untuk masuk setiap akhir pekan, Mama Papa jadi tidak ke Gereja karena saya tidak ada.



Read More…

Monolog


Hari Kedua puluh empat
Celana dalam, kaos, baju, dan jenis-jenis lain berterbangan di roof top. Entah ini milik siapa, mungkin semalam angin berhembus sangat kencang, hingga jemuran tak mampu bertahan dari terpaan. Tak hanya itu, pancaran sinar matahari sehabis keramas pun entah terbang ke mana? Pagi ini ia tidak menyapa dengan hangat. Meskipun demikian, tak surut rutinitas saya untuk berjemur dan olahraga, menjaga jiwa dan raga, agar tetap prima, karena sebentar lagi puasa, yang mungkin hanya di kosan saja, tak ke mana-mana, makan seadanya, dan mungkin sampai lebaran tiba.

Total ada delapan kamar di lantai dua, termasuk kamar saya. Hari-hari biasa, bahkan beberapa hari yang lalu, pasti selalu berisik, namun kali ini berbeda, mulai sekitar dua hari yang lalu tepatnya. Hanya tersisa empat kamar yang masih terlihat batang hidungnya, entah yang lain ke mana, atau mudikkah? Kondisi semakin sepi, dan benar-benar seperti dikurung kali ini, untung masih ada teman saya PNS yang juga sama-sama terkurung. Tak bisa pulang, karena mendapat perintah untuk tidak mudik, bahkan tugasnya menjadi semakin banyak.

Read More…

Vaksin dan Resolusi yang Terus Dituliskan

Erwinton Simatupang

Jika Anda menuliskan sejumlah resolusi di awal tahun ini, maka tambahkanlah yang satu ini di antara resolusi itu: terhindar dari serangan virus Corona. Apabila Anda seseorang yang religius, tak ada salahnya resolusi itu Anda bawa ke dalam doa sesering mungkin.

Saya menganjurkan seperti itu karena saya, Anda, atau kita belum tentu masih bisa bertahan ketika pandemi ini berakhir di masa depan. Sejarah mencatat, manusia memang selalu berhasil selamat dari sejumlah gelombang keganasan pandemi. Namun, selama belum ada vaksin yang terbukti terhadap virus Corona, tak ada jaminan jika kita atau orang-orang yang kita kenal dan kasihi masih tetap bernafas ketika pandemi ini berakhir. Selama itu pula, dengan demikian, kita mau tidak mau masih akan seperti ini: bersembunyi di rumah, menjaga jarak, mencuci tangan sesering mungkin, dan lainnya.
Dalam konteks Indonesia, keberadaan vaksin virus Corona tampaknya adalah skenario yang paling memungkinkan untuk mengakhiri mimpi buruk dari pandemi ini. Sebab, negeri ini tidak menerapkan lockdown seperti sejumlah negara lain. Secara bersamaan, imbauan untuk menjaga jarak juga tidak dipatuhi oleh sebagian, atau mungkin banyak, orang. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah berapa lama kita harus menunggu vaksin itu bisa diciptakan dan didistribusikan kepada orang-orang di negeri ini? Read More…

Kematian

Erwinton Simatupang

Kematian hari-hari ini terasa sangat dekat dengan kita. Setiap hari kita mendengar laporan pemerintah terkait jumlah pasien kasus positif virus Corona yang meninggal dunia. Pengumuman terakhir (09/04/2020) mengungkapkan jumlah kematian akibat virus itu di negeri ini sudah mencapai 240 orang.

Dari ratusan orang itu, Prof Iwan Dwiprahasto adalah orang yang saya kenal, meski tidak dekat. Selama di Yogyakarta, saya beberapa kali secara tidak sengaja berpapasan dengan beliau. Yang saya tahu, beliau adalah orang yang ramah. Tidak jarang, beliau lebih dulu menyapa orang lain, walaupun beliau tidak mengenal orang tersebut secara personal. Seorang teman beberapa tahun lalu bahkan menuturkan, Prof Iwan Dwiprahasto sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan tidak enggan mengajak mahasiswa bertemu di rumah beliau. Tidak banyak dosen, terlebih pejabat kampus, yang melakukan tindakan seperti itu.

Read More…

Kematian Milik Masing-masing


Kamis, 9 April 2020
Berbeda dengan hari biasanya, kali ini saya mengirimkan log of activity saya lebih dini. Biasanya saya menuliskan log of activity di akhir hari, hanya saja dikarenakan dua alasan utama, saya menuliskannya di siang hari ini. Pertama, saya sudah merencanakan hari saya akan berjalan seperti apa hingga malam. Hari-hari saya akan diisi dengan membaca dan mengikuti beberapa kelas online hingga malam. Kedua, dari semalam saya merenungkan beberapa hal terkait dengan kematian. Semua bermula dari kemarin sore, ketika saya mendapatkan kabar bahwa Glenn Fredly berpulang, akibat dari penyakit meningitis yang dideritanya. Saya tidak kenal personal dengannya, hanya saja kebaikan-kebaikannya dalam dunia kemanusiaan, membuat saya mengenalnya melalui reputasinya.

Paling tidak terdapat dua impresi yang baik mengenai Glenn Fredly. Pertama, beliau merupakan salah satu tokoh yang mendukung persoalan penegakan HAM di Indonesia. Saya memiliki rekan bernama Dian Paramita, kami bertemu ketika sama-sama menjadi asisten dosen dari ibu Sri Adiningsih. Dian Paramita merupakan sarjana ekonomi FEB UGM, namun berbeda dengan sarjana ekonomi pada umumnya, Mimit (panggilan akrab Dian) menempuh jalan sosial dengan menjadi salah satu orang yang vokal menyuarakan HAM. Salah satu momen paling mengena bagi saya adalah ketika Mimit berdebat dengan Bambang Soesatyo terkait dengan bailout Bank Century. Kiprahnya tersebut membuat Mimit bersinggungan dalam satu isu yang sama, yakni isu HAM dengan Glenn Fredly. Ketika Glenn mengisi acara di FEB UGM, keduanya bertukar kontak. Di sana saya baru menyadari bahwa Glenn bukan hanya seorang musisi.

Read More…

Rest in Love Bung


Rabu 8 April 2020 adalah hari duka untuk Indonesia. Salah satu sosok tersohor di dunia musik tanah air, Glenn Fredly, berpulang ke rumah Bapa. Saya pun kaget saat membaca notifikasi di Line Today dengan judul [BREAKING Glenn Fredly Meninggal Dunia]. Almarhum tutup usia di umur yang ke-44. Ya, terlalu muda. Namun umur adalah misteri Ilahi. Tidak ada yang tahu kapan kita berpulang ke pangkuanNya.
Seperti netizen emak-emak lainnya, saya pun ikut menelusuri informasi tentang Glenn. Dalam hal lacak melacak, kemampuan wanita +62 jangan diragukan. Saya jadi teringat beberapa teman peneliti perempuan yang sudah jadi alumni Padepokan Populi Center. Suatu hari, di ruangan kami yang isinya perempuan semua, apabila ada berita terbaru, kami semua sama-sama melacak. Hasil lacakan di ruangan perempuan di kantor Populi Center selalu ciamik. Terlebih satu alumni peneliti perempuan ini.

Read More…

Guratan Minda (17): Hari Ini Tidak Akan Sama dengan Esok


08 April 2020
Tidak ada yang baru dari rutinitas keseharian saya hari ini. Kuliah, membaca, menulis dan perang (game). Jika dilihat dari aktivitas keseharian memang akan membuat hari-hari semakin bosan. Terlebih ditambah membayangkan PSBB yang mulai diterapkan esok hari. Sebenarnya semua tergantung dari sisi mana kita memandang aktivitas keseharian yang kita jalani. Tentu hidup bukan sebuah piringan hitam dengan runtutan nada yang sama, meski dimainkan berulang-ulang. Oleh karenanya, hari ini tidak akan pernah sama dengan hari esok.

Akan selalu ada hal baru di setiap rutinitas keseharian kita. Itulah yang hari ini mencoba saya gali dari rutinitas keseharian yang saya jalani. Hari ini hal baru saya dapat dari cerita teman-teman kuliah dengan presentasi kelompok yang dipaparkan. Kita berbicara dan mendiskusikan bagaimana sebuah kota itu hadir. Cerita diawali dari daerah Kalisari, Surabaya. Layaknya Molenvliet di era Batavia, Kalisari menjadi saksi perkembangan perekonomian di Kota Surabaya.

Read More…

The Heart of the Rose

Rabu, 8 April 2020
Empat minggu terakhir saya rasa intensitas mengeluh warga Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini saya sadari karena hampir di setiap saya mengakses Instagram, Twitter, atau bahkan kolom komentar di berita online pasti ada saja oknum yang mengirimkan keluhan.

Pada intinya mereka semua mengeluhkan hal yang sama; sudah jenuh lantaran harus bekerja di rumah selama wabah corona masih merebah.

Pada awalnya saya tak ambil pusing, jelas itu hak setiap individu untuk mengeluhkan kondisinya. Tetapi, makin rajin saya membaca keluhan negatif orang-orang, lama-lama kok saya jadi ikutan down. Yang tadinya merasa betah saja diam di home sweet home, berubah mendadak panik. Saya mulai bertanya-tanya kapan masa work from home dan tentunya virus corona ini akan selesai.

Read More…

Akhirnya Luluh


Rabu, 8 April 2020
Agenda hari ini saya akan memasang internet. Akhirnya saya luluh juga, setelah menghabiskan beberapa ratus ribu untuk membeli paket internet selama periode WFH. Aktivitas modern yang tidak dapat dipisahkan dari sisi konektivitas, membuat saya harus selalu menyediakan data internet dengan kuota yang besar. Masalahnya, kuota besar tidak juga murah. Sebagai contoh, untuk paket data dengan besaran 27 gb, saya harus merogoh kocek sebesar 150 ribu rupiah. Celakanya, paket 27 gb hanya cukup untuk browsing internet selama kurang lebih sepuluh hari, dengan intensitas penggunaan internet yang tinggi. Belum lagi konsumsi internet istri saya, termasuk bagaimana kami menggunakan internet untuk mendukung aktivitas kami, seperti memasak sembari memutar video tutorial di Youtube.

Read More…

Nishfu Sya'ban di Rumah


Menjelang sore, Handphone yang sedari siang saya letakkan diatas rak televisi berdering cukup nyaring. Seorang kawan lama rupanya. Gumamku saat menggeser tombol. Setelah kami berbasa-basi dia mulai nyerecos berdiskusi soal kondisi bangsa saat ini. Pada akhir pembicaraan dia menanyakan apakah di musholah tempat tinggalku nanti malam ada kegiatan Nishfu Sya’ban. “Tidak ada Bro, pembacaan yasin dan do’a di rumah masing-masing.” Jawabku. Nishfu Sya’ban sendiri merupakan salah satu malam yang penuh berkah bagi umat Islam yang dilaksananakan pada malam ke-15 Bulan Sya’ban yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 8 April 2020. Kegiatan tersebut diisi dengan pembacaan surah Yasin sebanyak tiga kali selepas maghrib dan ditutup dengan permohonan khusus: Umur panjang yang bermanfaat, perolehan rezeki yang halal, dan wafat membawa iman.

Read More…

Pengantin


Hari Kedua puluh tiga (2)

Tahun 1621, berpesta di hari panen pada musim gugur, itulah yang dilakukan Koloni Plymouth dari Inggris dan orang Indian Wampanoag. Merayakan di tanah baru yang kita kenal Amerika, pesta Thanksgiving namanya kini. Berkumpul, berpesta, makan besar sembari mengucap rasa syukur yang kemudian membudaya ke berbagai daerah.

Mulih ke udik, mulih ndhisik, menjadi sebuah tradisi bangsa ini. Tak ada salahnya karena kita sedang bersyukur atas nikmat, berbagi ke orang terkasih. Presiden Jokowi yang tak melarang mudik, pun juga Sultan Hamengku Buwono X sebagai contoh, bahwa mereka sedang dalam menyampaikan kepada masyarakat yang sejatinya berbagi kasih dengan orang tercinta di kampung tidaklah dilarang. Silahkan saja. Itulah cara kita mengucap syukur. Namun tepatkah?

Read More…

Mimpi di Siang Bolong


Hari Kedua Puluh tiga (1)
Masih SEMANGAT, SEMANGAT, SEMANGAT, begitu kondisi hari ini.

Aktivitas saya ini hampir bisa disebut monoton sepenuhnya. Pagi hingga siang adalah bersih-bersih dan berjemur, sisanya bermain dan belajar hingga entah jam berapa, tergantung situasi dan kondisi, serta kedatangan tahu bulat. Sore sesekali belanja ke minimarket, dan kebetulan sore ini ada barang yang harus dibeli, tentunya harus dilengkapi dengan full body armor.

Beberapa hari ini energi saya berlebih, bahkan tidur pun selalu di atas jam dua belas malam. Mungkin karena ada kesenangan baru, memahami tangga nada dan langit tebet. Semalam tidur baru bisa tidur jam 4 dan jam 7 sudah bangun. Bahkan, sesaat bangun sebelum beraktivitas pagi seperti biasa , saya menyempatkan mengotak-atik Adobe Audition, membaca esai tentang manusianya Ernst Casirer yang malah membuat pusing, di sana ketemu Plato dan lagi lagi Socratesssssss.

Read More…

Mendadak Kreatif!


Kebijakan physical distancing yang sudah berlaku selama 3 minggu di kantor Populi Center, membuat para peneliti menjadi semakin kreatif. Mulai dari Rafif yang membuat Youtube channel dan membuat kopi kekinian Dalgona Coffee, Dimas yang selalu mengiblat ke Rafif juga dalam hal kreativitas mengikuti resep sang panutan. Saya yang sudah lupa bagaimana cara menjahit, kemudian memberanikan diri mengeluarkan mesin jahit dari tempat persembunyiannya dan memulai belajar dari nol hingga berhasil membuat DIY masker dari kain alas Keana

Di keluarga saya, suami, papa, dan mama saya juga ikut-ikutan mendadak kreatif. Suami saya nampaknya mau mengikuti jejak para pemimpin dengan menjajal main kayu. Mulai dari pemimpin umat (Tuhan Yesus), pemimpin negeri ini (Bapak Presiden Joko Widodo), dan pemimpin kantor istrinya (Bapak Hikmat Budiman). Nampak aneh memang, mengapa semua pemimpin senang main kayu? Suatu waktu akan saya telusuri. Adapun Papa saya saat ini produktif dalam memproduksi anyaman topi. Semua anggota keluarga mendapat topi, bahkan ada sisa. Jadi bagi yang mau, boleh silahkan kontak saya. Mama saya pun tertular kreatif. Mama yang selalu takut dan takut gemuk dan melarang kami semua menyimpan dessert, di kebijakan tahanan rumah ini malah membuat dessert kekinian. Mungkin mau mengikuti jejak Rafif juga membuat sesuatu yang sedang viral.

Read More…

Memulai Kembali


7 April 2020

Hari ini cukup berbeda dengan hari-hari sebelumnya selama 4 minggu terakhir. Pagi ini, untuk pertama kalinya saya bangun lebih pagi. Saya mengisi perut dengan minum susu lalu ikut kedua orangtua saya untuk berjemur di teras depan rumah.

Bapak dan Ibu cukup kaget melihat saya keluar rumah, karena biasanya saya selalu menolak ajakan mereka untuk berjemur.

“Tumben mau ikutan, sudah takut corona ya,” kata Bapak menggoda saya.

Berjemur matahari jadi suatu pencapaian tersendiri untuk saya yang selalu sebisa mungkin menghindari matahari. Selain karena kulit saya mudah gosong, berkeringat jadi alasan saya kurang suka dengan matahari.

Read More…

Villeggiatura

Erwinton Simatupang

Kepanikan, juga ketakutan, pecah berhamburan di Florence. Pada abad ke-14 itu, sebuah pandemi mematikan, kita kini mengenalnya dengan sebutan Black Death (Maut Hitam), telah membuat semua orang lari terbirit-birit menyelamatkan diri sendiri.

Kitab sejarah menuturkan, Black Death telah merenggut lebih dari 75 juta nyawa atau setengah penduduk Eropa. Walaupun memakan banyak korban jiwa, tidak sedikit orang yang berhasil selamat dari keganasan pandemi itu. Apa yang bisa kita petik dari orang-orang yang bisa bertahan hidup di salah satu tragedi kelam dalam lintasan sejarat umat manusia itu? Read More…

Menjaga Komitmen


Selasa, 7 April 2020.
Sudah beberapa hari terakhir saya tidak olah raga, nampaknya hari ini pun demikian. Pagi hari ini saya hanya sarapan seadanya, makan satu potong ayam sisa kemarin. Pagi hari, kami mendapatkan jus sayuran dari mbak Ivo. Jus sayuran ini bagus juga untuk menjaga imunitas tubuh. Menjelang jam 9 pagi, saya mendapatkan video call dari Hartanto. Kami berbincang beberapa saat, sebelum saya akhirnya berangkat keluar ke notaris. Syukurlah, SHM yang sudah diproses selama beberapa waktu pada akhirnya keluar. Hal yang merepotkan adalah bahwa kami harus membayar biaya notaris dengan menggunakan uang cash. Alhasil, kami menuju ke toko daging Nusantara yang berada tidak jauh dari rumah. Menariknya, ternyata toko daging Nusantara menyediakan stan dimana driver online dapat mengambil pesanan yang telah dipesan konsumen menggunakan aplikasi tokopedia atau shopee. Penyebaran virus Covid-19 telah mengubah banyak hal, termasuk interaksi kita. Read More…

Menyesatkan


Senin, 5 April 2020
Hari ini saya melakukan beberapa hal. Pertama, menyelesaikan kajian yang harus segera diselesaikan. Menjelang siang hari, kajian telah selesai dilakukan. Kedua, menyiapkan rapat bulanan perdana dengan menggunakan aplikasi Skype. Tadinya saya hendak menggunakan aplikasi Zoom, hanya saja ternyata terdapat isu yang krusial dalam aplikasi zoom, terutama menyangkut privasi data. Dengan banyak pertimbangan, pada akhirnya kita menggunakan aplikasi Skype. Untungnya terdapat fitur yang kurang lebih sama untuk Skype, yakni fitur Meet. Fungsinya sama dengan aplikasi zoom yang mengumpulkan banyak orang. Read More…

Human Understanding


Hari Kedua puluh dua (2)

Pecah konflik politik di The Black Country. Dianggap pengkhianat Raja. Menjadi buronan kepolisian Belanda, dan kemudian lahirlah “An Essay Concerning Human Understanding”. Jalan panjang John Locke untuk membantah monarki absolut, menggoyahkan keyakinan seseorang terhadap agama dengan kritis terhadap gereja katholik Roma. Seolah-olah yang mempunyai pengetahuan adalah agama, padahal tidak, karena ide tentang Tuhan bukan bersifat bawaan.

Read More…

Harus Kompak


Hari Kedua puluh dua (1)

Seperti Pak Minijir, semangat, semangat, semangat, begitulah kondisi hari ini.

Rutinitas pagi hari seperti biasa terlaksana, tak bangun kesiangan, namun malah kepagian. Menunggu rendaman molto meresap ke pakaian alangkah baiknya sambil melakukan aktivitas lain, yaitu berkomunikasi virtual. Korban kali ini adalah para petinggi, mengganggu mereka di kala waktu yang sangat sibuk karena harus bekerja dari rumah. Guyonan, wejangan, dan tentunya garap-garapan nampaknya sudah lama tidak dilakukan. Ini yang harus tetap di semai, di saat rupa berjarak. Read More…

Guratan Minda (16)



07 April 2020
Membawa Ducati ke Salon!

Beberapa hari yang lalu saya sudah janji kepada si Ducati, motor kesayangan untuk membawanya ke Salon. Meski sedikit was-was karena wabah Covid-19 masih deras-derasnya menerjang Jakarta, tetapi kali ini janji tersebut nampaknya tidak dapat lagi saya tunda.

Akhirnya setelah bangun saya langsung membawa si Ducati kesayangan menuju Salon yang ingin saya tuju setelah sebelumnya mencoba mencari-cari di internet mengenai Salon yang bagus agar si Ducati lebih bertenaga. Maklum, dua salon khusus untuk si Ducati yang dekat dengan indekos sudah ada dua yang tutup toko. Sehingga saya harus mencari Salon khusus lainnya buat si Ducati dan yang dekat dengan indekos. Jatuhlah tujuan saya untuk membuat si Ducati agar semakin ganteng kepada salah satu Salon di daerah Jalan Panjang, Kebon Jeruk. Dengan wearpack balap langsung tancap gas menuju Kebon Jeruk.

Read More…

Adaptasi Mental

Hari ini, untuk kedua kalinya saya mengadakan kelas online di tempat saya mengajar. Sebetulnya untuk kegiatan belajar mengajar di tempat saya mengajar, tidak ada bedanya baik sebelum dan setelah kebijakan physical distancing ini. Kelas tetap berjalan seperti biasa, di hari dan jam yang sama. Materi yang diajarkan pun sama. Yang membedakan hanya mediumnya saja. Saat ini kami memakai zoom untuk kegiatan belajar mengajar. Di zoom pun mahasiswa juga bisa berdiskusi dan presentasi lewat fitur-fitur yang ada di dalamnya.

Sudah dua minggu ini, saya melihat perubahan pada anak-anak murid saya. Di pertemuan pertama yang berlangsung Senin lalu, saya melihat mayoritas anak-anak sudah siap seperti perkuliahan biasa. Mereka online tepat jam 8 pagi. Banyak dari mereka yang terlihat belum mandi dan belum sarapan. Ada yang kuliah sambil sarapan. Minggu lalu saya beri waktu mereka hingga 8.15 untuk sarapan bagi yang belum sambil saya absen mereka satu per satu.

Read More…

Siapa Takut?!


Hari Kedua puluh Satu
Penuh gairah, begitulah kondisi hari ini.
Terlampau siang, terbangun lebih dari jam biasanya akibat semalam masih berkutat dengan pelajaran mixing dan mastering. Akhirnya rutinitas berjemur pun gagal dilakukan. Semalam berdiskusi dengan teman saya yang sudah ahli, ia menganjurkan untuk proses mixing menggunakan Pro Tools 12, kemudian masteringnya dengan wavelab. Dua perangkat ini adalah yang utama sebagai digital audio workstationnya. Perlu menambahkan plugin dari Universal Audio sebagai software processing-nya. Niatnya kemarin hanya merekam dengan recorder, namun lama-lama menjadi tanggung. WFH, rasanya harus menjadi manusia yang lebih produktif lagi, tak hanya sekedar kronika kerja, meskipun kronika kerja sangat membantu saya untuk terus melatih jemari dan bahasa. Kalau Pak Hikmat nyerut kayu, saya coba nyerut audio. Read More…

Belajar Menulis

Erwinton Simatupang


Tak lama setelah AC Milan merengkuh juara Eropa pada awal 2000-an, saya menuliskan puisi terkait klub sepak bola Italia itu pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya lupa persis isinya. Yang saya ingat, semua kata pada akhir setiap baris puisi itu berakhiran huruf i, seperti Milanisti, I Rossoneri, dan Paolo Maldini.

Saat itu, saya mendukung AC Milan, bahkan sempat punya cita-cita menjadi Andriy Shevchenko, juru gedor klub itu dari 1999 sampai 2006. Hampir setiap sore, saya mengandaikan diri saya sebagai pemain asal Ukraina itu ketika bermain bola di halaman masjid depan rumah saya. Saya juga memangkas sendiri rambut saya agar mirip seperti pemain yang dijuluki Sheva itu, dan memakai nomor punggung tujuh, sebagaimana nomor punggung Shevchenko di AC Milan dan tim nasional Ukraina, di klub amatir di sekitar tempat tinggal saya. Tidak hanya penampilan, saya juga mengumpulkan uang jajan setiap hari untuk membeli tabloid Soccer kira-kira seharga Rp. 3.500 setiap minggu untuk mengetahui perkembangan sepak bola secara umum, dan tentu saja AC Milan dan Shevchenko secara khusus. Read More…

Unbelievable

Senin, 6 April 2020
Saya termasuk kelompok manusia yang memanfaatkan waktu senggang ketika Work From Home (WFH) dengan menonton series. Selama dua hari terakhir, saya mencoba untuk menyelesaikan serial kriminal pemerkosaan di Netflix berjudul Unbelievable.

Sepanjang film saya selalu teringat kata-kata Mba Chusnul Mar’iyah, dosen saya sewaktu kuliah. Saat itu beliau tengah mengajar mata kuliah perempuan dan politik.

Saya tidak begitu ingat kalimat persisnya, tapi kurang lebih Mba Chusnul mengatakan “Sampai kapan pun, polisi laki-laki tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah perempuan (konteksnya pada saat itu kekerasan seksual pada perempuan).” Read More…

Make Children Great Again

Erwinton Simatupang

Kabar suka cita berembus dari Jakarta: vokalis Children siap kembali ke dunia musik. Secara terang benderang, sang vokalis menuliskan soal itu di artikel berjudul “Kembali Jadi Vokalis”.

Saya belum mengetahui secara pasti hendak ke mana arah sang vokalis bermanuver. Apakah Children ditargetkan masuk perusahaan label musik nasional? Apakah Children punya cita-cita go internasional seperti Agnez Mo? Atau apakah pernyataan ‘kembali jadi vokalis’ hanya sekadar pelampiasan kebosanan di tengah ancaman virus Corona? Sejauh ini, jawaban dari sejumlah pertanyaan tersebut masih belum menemui titik terang.
Read More…

Guratan Minda (15)


06 April 2020
Urip Sak Madyo lan Prasojo!
Hari ini terbangun pukul 07.30 akibat alarm yang memekakkan telinga. Setelah itu, saya langsung beranjak menuju kamar mandi dan ternyata alarm di gawai saya masih sangat nyaring terdengar. Mungkin, tetangga indekos yang lain juga sangat terganggu dengan suara alarm saya. Sengaja memang saya memilih lagu-lagu cadas dari As I Lay Dying hingga Asking Alexandria. Intronya sangat pas untuk bikin jantung langsung terpacu dengan keras. Read More…

Guratan Minda (14): Cerita tentang Guratan Minda!


06 April 2020
Tugas dari Pak Hikmat, Direktur Eksekutif Populi Center, tentang kronika kerja, mengembalikan kembali semangat saya untuk menulis. Sebenarnya pak Hikmat tidak menuntut setiap peneliti untuk membuat tulisan yang serius setiap harinya. Ia hanya menginstruksikan agar kita menulis apapun mengenai aktivitas keseharian yang dilakukan selama masa-masa Work From Home ini.

Sejak awal mendapatkan tugas tersebut, tak berfikir panjang saya langsung menggunakan “Guratan Minda” sebagai judul setiap tulisan kronika kerja saya. Sebenarnya nama tersebut adalah nama web log saya yang telah ada sejak 5 tahun yang lalu. Yah awal mula Guratan Minda memang sejatinya ingin saya gunakan untuk menuangkan segala pikiran yang ada di kepala saya mengenai hal apapun. Saya tidak terlalu membatasi apa yang ingin saya tuangkan dalam Guratan Minda. Read More…

Anies dan Kehati-hatian Istana


Sejak diumumkannya kasus pertama dan kedua positif Covid-19 oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret, kini jumlahnya sudah mencapai ribuan. Menurut data per 1 April 2020 yang dilansir dari situs resmi pemerintah www.covid19.go.id terdapat 1.677 orang terinfeksi virus ini dan tersebar pada 32 Provinsi di Indonesia. Provinsi Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang sampai hari ini belum ditemukan kasus positif Covid-19. Kondisi ini tak ayal membuat Pemerintah terus bergerak cepat guna meminimalisir dampak dan penyebaran virus tersebut. Dari data tersebut DKI Jakarta merupakan jumlah positif terbesar dengan 808 orang sekaligus menjadi epicentrum Covid-19.

Read More…

Guratan Minda (13)


05 April 2020
Pelampiasan!
Hari ini adalah waktunya “ngebo” buat saya. Setelah satu minggu tidak hanya dihantam ancaman serangan Covid-19 tetapi juga serangan ujian tengah semester yang bertubi-tubi menghantam. Satu minggu terakhir, ritme tidur saya sangat berantakan. Tidur setelah adzan subuh, kemudian bangun pukul 10.00 WIB, namun hari ini setelah menyelesaikan tanggungan paper ujian sehabis subuh, rasanya tubuh ini ingin hiatus sejenak dari muka bumi.

Hari ini saya tidur dari pukul 05.00 WIB hingga 13.30 WIB kemudian tertidur lagi pukul 18.00 WIB hingga 22.30 WIB. Saya sangat paham bahwa sebenarnya tidak ada konsep hutang tidur. Kurang jam tidur di hari sebelumnya tidak bisa dilunasi dengan waktu tidur yang lebih panjang di hari berikutnya. Akan tetapi hari ini, saya hanya ingin merasakan tidur tanpa harus dibangunkan oleh beban tanggung jawab pekerjaan atau tugas yang harus diselesaikan.
Read More…

Social Distancing di RSUD Budhi Asih


Senin (6/3) adalah kali kedua saya berkunjung ke RSUD Budhi Asih Jakarta Timur sejak maraknya penyebaran Covid-19. Saya rutin berkunjung ke tempat ini melakukan pengobatan rawat jalan untuk istri tercinta setidaknya satu minggu sekali dalam 3 tahun terakhir. Jika sebelumnya saya hanya menemani Istri berobat, namun untuk ketiga kali ini pula berturut-turut saya berangkat sendiri mewakili Istri untuk meminta resep dokter. Sengaja saya tidak mengajak Istri demi menjaga jarak interaksi dengan banyak orang. Pengobatan istri hari ini sebenarnya dijadwalkan pukul. 08.00 WIB dengan nomor antrian 005. Namun jam 09.05 saya baru bisa meluncur ke RSUD setalah sebelumnya membantu istri melaksanakan tugas Study from Home (SFH) untuk dua anak kami.

Perjalanan dari kawasan Ciracas menuju RSUD Budhi Asih di bilangan Cawang Jakarta Timur yang berjarak sekitar 11 KM sangat lancar ditempuh kurang dari 20 menit. Tentu kondisi ini tidak biasa bagi Kota Jakarta yang sebelumnya selalu akrab dengan kemacetan. Tiga kali kami melewati “lampu merah” pun tampak lengang. Lampu merah menyala saya pun memelankan kendaraan untuk berhenti begitupun beberapa kendaraan yang tepat dibelakang saya. Beberapa pengendara terlihat tidak sabar dengan menerobos lampu tanda berhenti. Saya menduga ketiksabaran mereka bukan perkara terburu-buru namun lebih kepada “gatal” tancap gas melihat kondisi trafict light yang tak biasa. Lebih dari 60 detik kami berhenti sementara diseberang jalan (lampu hijau) tak satupun kendaraan yang melintas. Read More…

Mengelola Berbagi


Minggu, 5 April 2020
Pagi ini saya keluar rumah sebentar, untuk membeli beberapa sayuran dan bahan makanan lainnya, terutama untuk seminggu ke depan. Saya membeli beberapa bahan makanan, seperti labu siam, daun bawang, tempe, cabai hijau, kacang panjang, dan kerupuk dua bungkus. Rencananya saya akan membuat sayur lodeh untuk makan di siang hari ini.

Kebetulan saya membeli satu produk baru dari Tropicana Slm, produk tersebut adalah santan rendah lemak. Komposisinya adalah bubuk krim dengan ekstrak kelapa sebesar 30%. Jika melihat produk ini, nampaknya ini bukanlah produk baru, hanya saya saja yang baru mengetahui terdapat produk ini. Di samping santan, Tropicana Slim juga mengeluarkan produk madu rendah gula, serta gula Jawa rendah gula.
Read More…

Lawan Bersama


Hari Kedua puluh
Trengginas, begitulah kondisi hari ini.

Dari luar suara keras Toa membangunkan saya pagi ini. Terdengar bahwa semua penduduk tidak diperbolehkan keluar dulu karena akan dilakukan penyemprotan disinfektan. Entah dari siapa yang melakukan inisiasi tersebut tapi untunglah ada upaya untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Karena tidak boleh keluar, lanjutlah saya rebahan. Hari ini seperti biasa, berjemur dengan ditemani secangkir Sariwangi dicampur Madurasa. Kegiatan dilanjutkan dengan agenda yang kemarin, persoalan tentang editing suara. Kembali take vocal dan tetap saja masih sumbang. Setelah dianalisa, ternyata perangkat voice recorder kurang mumpuni karena tidak dapat menyaring kuman-kuman. Maka belilah saya sebuah barang yang mungkin besok baru datang untuk memperhalus pitch control saya.
Read More…

Salah Alamat

Erwinton Simatupang

Saya menganyunkan langkah kaki lebih cepat dari biasanya kemarin malam (04/04/2020). Ingin rasanya saya tiba di kamar sesegera mungkin untuk melahap nasi bungkus di tangan kiri saya.

Saat melintasi Jalan Kemanggisan Raya, saya melihat arus lalu lintas cukup renggang. Padahal, kepadatan kenderaan baik roda dua maupun roda empat di jalan satu arah itu biasanya sangat tinggi. Laju kenderaan roda dua, misalnya, kerap berjalan lambat seperti siput di sebelah kiri jalan, dan sangat kecil kemungkinan bisa menyalip roda empat dari sebelah kanan jalan. Namun, kini roda dua terlihat lincah bermanuver di jalan yang tidak jarang jadi lokasi baku hantam geng anak muda tersebut.
Read More…

The More You Give, The More You Get


Sabtu, 4 April 2020
Kondisi saat ini serba sulit. Pilihan terbaik untuk mengatasi wabah corona ini adalah dengan mengikuti anjuran pemerintah, sembari kita sebagai elemen dari masyarakat sipil, berusaha untuk saling membantu sesama. Ada banyak hal yang memang perlu kita kritik ke pemerintah, hanya saja saat ini hal yang paling penting adalah bagaimana kemanusiaan menjadi kunci nomor satu. Saya teringat dengan satu kata bijak terkenal, the more you give, the more you get. Kebaikan dan memberi kepada sesama, tidak akan membuat kita menjadi kekurangan. Dalam kajian akademik, prinsip ini masuk pada prinsip timbal balik dalam konsepsi modal sosial.

Pagi hari ini tidak ada yang spesial, kami bersama beberapa rekan di Jakarta, sedang berusaha untuk menggalang bantuan kepada para pekerja yang ter dampak akibat wabah corona ini. Di grup-grup Whatsapp, sudah banyak juga inisiasi-inisiasi untuk memberikan bantuan-bantuan kepada masyarakat. Banyaknya inisiasi-inisiasi ini semakin meyakinkan saya, bahwa masyarakat sipil memang elemen terpenting dari bangsa Indonesia. Kita wajib mengingat bahwa komitmen bernegara ini, muncul dari komitmen masyarakat yang telah tergabung dalam banyak suku bangsa.
Read More…

Guratan Minda (12)


03 April 2020
Esuk Dele, Sore Tempe!
Hari ini kawan dekat dari Malang bercerita bagaimana serangan si Coro Coro dan Cona Cona mengancam keselamatan warga Desanya. Ia bercerita bahwa ada tetangganya yang kerja di Pasar Induk Kramatjati sepulang dari Jakarta kondisi tubuhnya tiba-tiba panas. “Iki tonggoku bali teko Jakarta awake panas I rujuk nang puskesmas langsung dikirim neng RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar Malang) rujukan Korona, dadi PDP, hasil e positif tenan” ujarnya. Tetapi ada hal lain yang membuatnya sangat geram dengan kondisi tersebut.

Ia kembali berujar “Lha kok mau bengi mulih tonggo-tonggo liyane do tilik rame-rame dikabarke gur loro demam berdarah”. Ia heran kenapa orang dengan status PDP diperbolehkan pulang, sedangkan di Vietnam, nampak pemerintahnya lebih tegas dan hingga melakukan karantina masal bagi seluruh warga yang terindikasi Covid-19. Hasilnya, kini Vietnam masih tercatat nihil korban jiwa akibat Covid-19. Kawan saya tersebut kemudian menyampaikan bahwa Bapaknya yang dapat laporan dari dokter puskesmas atas kejadian tersebut langsung menghubungi Camat dan Polsek agar segera memaksa pihak RSSA untuk menjemput kembali dan dikarantina di rumah sakit. Read More…

Hasrat Terlarang


Jum’at, 3 April 2020
Terhitung sudah tiga tahun saya hijrah ke ibukota. Tepatnya sejak tahun 2017 di akhir bulan Februari. Bagi saya, ibukota Jakarta merupakan kota yang sangat kejam, sangat berbeda dengan kota dimana saya dibesarkan, yakni di Yogyakarta. Menurut pandangan saya, orang-orang di Jakarta dapat menghalalkan segala cara untuk bersaing, termasuk untuk cara-cara yang tidak etis. Saya banyak melihat orang-orang yang menjadi tebal muka, putus urat malu, demi mempertahankan kehidupan yang dijalaninya. Hal lain yang cukup berbeda di bandingkan dengan daerah lain adalah hasrat terhadap uang. Rasa-rasanya, semua hal dapat dilakukan selama melibatkan uang didalamnya. Hal ini berbeda dengan pengalaman saya selama hidup di Yogyakarta, tidak semua dapat dibeli dengan uang, bahkan sering kali orang membantu tanpa pamrih dengan motif sebagai saudara se-daerah.


Read More…

Kembali Jadi Vokalis


Hari Kesembilan belas
Alhamdulillah, masih segar seperti secangkir es batu dicampur anggur merah. Begitulah kondisi hari ini.
Mata berdengung, telinga berkunang-kunang. Seharian hanya di depan laptop sembari mengenakan headphone. Lagu Noah dengan suara seraknya Ariel, Dewa 19 dengan lengkingan Once Mekel, Ari Lasso, serta aransemen musik yang luar biasa dari Ahmad Dhani menjadi pemicu kenapa mata dan telinga saya bekerja keras hari ini, termasuk pita suara yang sedang melilit kerongkongan.

Sejak kelas 3 SMA, saya mendapat tantangan untuk bernyanyi dengan band buatan sendiri. Kegiatan ini untuk perpisahan kelulusan, termasuk saya juga yang lulus waktu itu, alhamdulillah. Pertama kali bernyanyi di depan ratusan umat manusia membuat saya merinding. Dua lagu pertama adalah lagu dari Greenday dengan judul American Idiot dan Boulevard of Broken Dream. Lagu ini tidak saya nyanyikan sendiri, duet dengan teman saya. Respon cukup baik hingga tiba di lagu ketiga respon penonton mulai meninggi. Lagu D-Masiv dengan judul “Di Antara Kalian” menjadi penutup penampilan waktu itu, dan saya nyanyikan sendiri. Waktu itu saya merasa seperti vokalis papan tengah. Read More…

Journey of Birthday Celebration

Beberapa orang merayakan ulang tahun berbeda di setiap fasenya, salah satunya termasuk saya. Selama saya hidup, saya membagi fase kehidupan menjadi beberapa fase. Pertama adalah fase anak-anak. Di fase ini perayaan ulang tahun meriah. Banyak orang yang datang, mulai dari tetangga, saudara, hingga orang yang tidak dikenal pun ikut datang. Betapa meriahnya ulang tahun saat saya masih anak-anak. Saya ingat dulu orang tua saya panggil badut ke rumah untuk meramaikan rangkaian acara ulang tahun. Kemudian jelang tamu-tamu akan pulang/ acara hampir selesai, saya seperti sinterklas bagi-bagi bingkisan ke tamu-tamu tersebut.

Fase kedua adalah fase remaja. Anak-anak remaja perempuan di Jakarta, bahkan hingga saat ini merayakan ulang tahun yang ke-17 dengan sangat special. Biasanya ulang tahun yang ke-17 dinamakan sweet seventeen karena memang akan memberikan kenangan manis. Saat saya duduk di bangku SMA, saya merayakan ulang tahun yang ke-17 dengan hangat bersama dengan teman-teman dan keluarga inti di Pulau Dua Restoran. Seingat saya, orang-orang yang merayakan ulang tahun bersama saya lebih sedikit dibanding saat saya anak-anak. Read More…

Guratan Minda (11)

03 April 2020

Akhir Kisah Mie Ayam Pak Wiyono!
Hari ini kabar mengejutkan datang dari Jogja. Beberapa thread bertebaran di twitter memberi kabar jikalau salah satu mie ayam legend di Jogja kini sudah tak lagi dapat dinikmati para pelanggan setianya. Bagi mereka yang pernah merasakan bangku ruang kuliah Sekip UGM pasti tak asing dengan Mie Ayam Sendowo Pak Wiyono. Nek koe ora ngerti, berarti dolanmu kurang adoh dab!

Lapak mie ayam legend ini sebenarnya tidak begitu mewah. Mungkin hanya seluas ruangan 3 x 3 meter dan terletak di area perkampungan di daerah Sendowo, yang sebenarnya sudah masuk Kabupaten Sleman. Kampus Sekip UGM memang membelah Sleman dan Jogja karena letaknya tepat di tengah-tengah perbatasan kedua daerah tersebut. Read More…

Mengawasi Dana Corona

Beberapa hari lalu, Joko Widodo sempat menyebut di media mainstream bahwa tahun ini pemerintah akan gelontorkan dana 405 triliun rupiah untuk mengatasi Corona. Presiden Jokowi pun meminta para kepala daerah untuk memangkas rencana belanja yang tidak prioritas di APBN dan APBD. Kebijakan ini pun ditindaklanjuti oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian dengan membuat regulasi terkait realokasi anggaran pemerintah daerah untuk penanganan virus Corona. Hal ini ditujukan supaya pemerintah daerah menyusun ulang anggarannya.

Dari informasi yang saya dapat dari beberapa media online, masing-masing pemerintah daerah mengeluarkan dana yang proporsional sesuai dengan APBD. Pemprov Jabar menyiapkan 500 miliar rupiah dari APBD sebesar 46,09 triliun rupiah. Pemprov Jateng menyiapkan 1,4 triliun dari APBD 28,3 triliun. Pemprov Jatim menyiapkan 264 miliar rupiah dari APBD 35 triliun. Pemprov DKI menyiap Read More…

Khawatir di Tengah Rindu

Erwinton Simatupang

Sesuatu yang tak biasa terjadi kemarin malam (03/04/2020): ibu saya menelpon pukul 23.00 WIB. Selama ini, ibu saya selalu mengontak saya sekitar pukul 19.00 atau 20.00 WIB. Oleh sebab itu, saya pun merasa was-was, dan bertanya: Ada apa?

Setelah saya angkat, ibu saya mengabarkan bahwa virus Corona telah tiba di Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Informasi itu didapat ibu saya dari teman ibu saya yang anaknya bekerja sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit setempat. Seorang pedagang pakaian, lanjut ibu saya, divonis terjangkit virus tersebut setelah melakukan perjalanan dari Jakarta. Sebelum divonis oleh dokter, pedagang tersebut masih sempat berinteraksi dengan pegawai dan keluarganya. Oleh sebab itu, ibu saya merasa khawatir jika virus itu akan menyebar ke seantero kota itu dari pegawai dan keluarga pedagang tersebut. Kekhawatiran ibu saya memang sangat beralasan, sebab korban virus tersebut di Indonesia bermula dari angka dua, dan kini sudah mencapai ribuan. Read More…

Guratan Minda (10)

02 April 2020
Dari Happy Asmara hingga Dream Theater!
Hari-hari terakhir ini daftar lagu dalam perangkat jemala saya diisi oleh lagu-lagu koplo dari Happy Asmara hingga band jadul Dream Theater. Entah kenapa selera musik saya sedikit diluar kewajaran. Entah kenapa juga saya tidak begitu suka musik Jazz atau Pop. Sebenarnya saya bukan orang yang terlalu pemilih dalam hal genre musik.

Hal diluar kewajaran dalam mendengarkan musik lainnya dari diri saya adalah hampir tidak pernah ingat judul dari daftar lagu yang ada pada gawai saya. Bahkan seringkali liriknya pun saya tak hafal. Ditengah orang lain yang sering menghafalkan lagu favorit mereka, namun hal tersebut tidak untuk saya. Saya hanya penikmat musik, lagu yang menurut saya nadanya asik untuk didengarkan itulah yang akan saya mainkan setiap harinya. Menghafalkan lagu bahka Read More…

Si Bubble Boy

Erwinton Simatupang

Tahu film Bubble Boy? Film yang diproduksi tahun 2001 itu menceritakan kisah Jimmy Livingston, yang diperankan oleh Jake Gyllenhaal, seorang anak yang lahir tanpa sistem kekebalan tubuh. Karena itu, sejak kecil hingga remaja, ia harus hidup dalam kubah gelembung di dalam kamarnya. Tanpa pelindung tersebut, satu virus saja bisa menghabisi nyawanya. Sekali lagi, hanya satu virus!

Saya teringat film itu seiring dengan larangan keluar rumah akibat virus Corona. Seperti Jimmy Livingston, belakangan ini saya menghabiskan waktu setiap hari di dalam kamar. Bedanya, jika Jimmy Livingston hidup dalam kubah gelembung yang pasti steril dari virus di dalam kamarnya, kamar saya justru harus dibersihkan sesering mungkin untuk mencegah serangan COVID-19. Pasalnya, dalam satu hari, saya mesti keluar kamar satu-dua kali untuk membeli kebutuhan hidup.
Read More…

Jakarta Masih Sakit

Hari Kedelapan belas
Bugar seperti Ade Rai. Begitu kondisi hari ini.
Ada pesan whatsapp yang berpesan bahwa minum teh hijau dapat mencegah corona. Saya lihat di beberapa artikel, ternyata belum ada penelitian pasti, namun bahwa teh dapat menjaga imunitas tubuh adalah iya. Berjemurlah saya sembari menikmati secangkir teh, bukan hijau melainkan SARIWANGI.

Beberapa hari yang lalu, di awal pengetatan aparat untuk menertibkan kerumunan, saya melewati daerah Tebet Dalam dan menjumpai aparat kepolisian sedang mencoba menertibkan kegiatan di masjid, namun saya melenggang begitu saja, tidak kemudian ikut berkerumun. Setelahnya saya sempat bercerita berbelanja di Alfamidi serta membeli makanan, dan kegiatan itu pasti melewati masjid yang ditertibkan tadi. Selama itu, memang masjid terlihat lebih sepi, bahkan tidak terlihat motor-motor terparkirkan sepanjang saya lewat di malam hari ketika berbelanja. Read More…

Mencukur Rambut Bapak

Jumat, 3 April 2020
Bapak itu orangnya tidak bisa diam. Kalau kata ibu, “Bapakmu itu habis pensiun hobinya berubah jadi berantakin rumah setiap hari.” Pasti ada saja hal-hal yang dikerjakan bapak — dan selalu, kerjaan baru bapak ini sukses bikin ibu darah tinggi.

Bapak pernah tiba-tiba beli seperangkat alat pembuat roti. Seminggu berturut-turut, ibu saya dikasih makan roti. Alat itu juga bisa digunakan untuk bikin yoghurt. Keponakan saya yang disuruh menghabiskan dan untungnya mereka doyan. Yang paling absurd, bapak pernah buat jus perpaduan pare dan ketimun. Kali ini, saya tidak tahu siapa korbannya.

Awalnya saya tidak ambil pusing sama tingkah bapak. Sampai akhirnya, penyebaran virus corona membuat saya bekerja dari rumah alias Work From Home (WFH). Selama WFH, saya dikasih banyak pekerjaan dari bapak. Mulai dari mendigitalisasi pengeluaran bapak, disuruh masak bakso keto (bakso tanpa tepung), sampai hari ini, saya disuruh mencukur rambut bapak.
Read More…

Gairah tak Kunjung Surut


Kamis, 2 April 2020
Saya tidak sedang membahas obat kuat atau membuat judul film dewasa. Judul tulisan ini merefleksikan denyut nadi kota Jakarta yang tidak pernah surut. Pagi hari ini agak berjalan lebih dini untuk saya, dan untuk pertama kalinya, pagi ini saya ke kantor Populi Center untuk menyelesaikan beberapa urusan. Di sepanjang perjalanan dari Bekasi menuju ke Populi Center, jalanan tampak masih banyak dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan. Hal ini tentu sedikit mengejutkan saya, tadinya saya piker jalanan akan sepi, namun ternyata masih banyak orang yang berada di luar.

Sesampainya di kantor, saya bertemu dengan Toni Malakian, rekan saya yang sedang menyusun annual report. Saya ingin tahu bagaimana perkembangan pengerjaan annual report tersebut, ternyata annual report sudah dijalankan dengan baik. Memang proses kreatif tidak dapat dipaksakan. Ada kalanya pikiran buntu dan tidak ada ide untuk membuat desain. Setelah berbincang, saya mengambil beberapa buku dari ruang kerja saya. Terdapat beberapa buku yang masih tertinggal di kantor, buku tersebut hendak saya baca di rumah. Saya juga bertemu dengan Jefri Adriansyah, beliau sedang menghadapi ujian akhir semester. Menariknya, peserta ujian akan menerima soal dan tetap mengerjakan ujian di kertas polio. Kertas tersebut kemudian discan, untuk dikirimkan ke dosen pengampu perkuliahan. Read More…

Beda Negara, Beda Acara

Rabu, 1 April 2020
Pagi hari ini saya isi dengan mengikuti diskusi online ANU Indonesia Project dengan topik bahasan terkait dengan Corona. Diskusi dilakukan selama dua jam dengan fokus pada bagaimana pengalaman negara-negara dalam menangani persoalan corona. Pada diskusi kali ini, terdapat empat kasus negara yang dijadikan topik bahasan, yakni pengalaman dari Australia, Amerika Serikat, Filipina, dan Indonesia. Keempat negara tersebut memiliki cara dan fokus penanganan penyebaran virus corona yang berbeda-beda.

Pada pengalaman negara Australia, pada pekan-pekan awal di bulan Maret, pemerintah Australia merespons penyebaran virus corona dengan mendorong informasi penyebaran melalui satu pintu. Fokus penanganan virus corona di Australia menekankan pada stimulus ekonomi. Telah ada tiga kebijakan stimulus ekonomi yang diambil oleh pemerintah. Kebijakan pemerintah Australia berfokus pada bagaimana menyelamatkan ekonomi negaranya, sembari menekan angka penyebaran pasien corona. Adapun pemerintah Australia menekankan pada kebijakan social distancing untuk menghambat penyebaran virus. Hanya saja, memang masyarakat di Australia tidak sepenuhnya mengikuti anjuran untuk melakukan social distancing tersebut. Read More…

Problematik Data di Tengah Wabah

Tiga hari yang lalu, saya berjanji akan memberi ulasan tentang diskusi online yang diselenggarakan atas kerjasama Knowledge Sector Initiative (KSI) dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Sebetulnya saya ingin menulis soal ini kemarin, tetapi saat saya menulis sudah setengah jalan, saya ada tugas “urgent” yang harus dikerjakan. Apa itu tugas urgentnya tidak perlu saya jabarkan di sini, yang penting tugas itu sudah selesai dan saya bisa meneruskan tulisan ini.

Pagi hari di hari Selasa, saya mendapatkan informasi di grup Populi Kerja, grup sementara yang dibuat selama WFH ini. Informasi tersebut adalah diskusi online yang diselenggarakan oleh KSI dan CSIS. Beberapa peneliti mengikuti diskusi tersebut, suami saya pun juga ikut bergabung dalam diskusi tersebut. Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut memuat berbagai macam informasi seputar penanganan Covid-19, mulai dari tidak adanya transparansi data, tidak adanya protokol multibencana, dan belum adanya evidence-based policy. Namun satu hal yang saya ingin bahas adalah soal tidak adanya transparansi data. Read More…

Mati Rasa


Hari Ketujuhbelas
Alhamdulillah masih bugar, hanya sempat kepanasan akibat “dede” terlalu lama.

Nyapu, ngelap buku, mindah meja, ngosek WC, serta yang lainnya dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kepala mendadak ngelu. Setelah diisi nasi telur ternyata kengeluan sirna. Jebul mung ngelih.

Dari lantai dua, terdengar suara pagar dipukul dengan kerasnya. “Teng, teng, teng”, mungkin begitu bunyinya. Saya kira itu adalah anak iseng. Setelah beberapa saat suara tersebut masih terdengar sembari berteriak “Paketttt”. Karena mendengar suara tersebut saya keluar. Kasihan jika harus berteriak di tengah terik melanda. Dalam hati berkata, apakah tidak ada yang dengar? Atau yang ngirim paket tidak punya nomor HP pemesan? Ah entahlah. Read More…

See My Cupang

Erwinton Simatupang

Beberapa hari lalu, seorang pegawai klinik perempuan bertanya, “Namanya siapa, Pak?” Saya pun menjawab dengan suara yang jelas, “Erwinton Simatupang.” Tak lama, ia pun memberikan hasil ketikannya. Di situ, saya melihat nama saya tertulis seperti ini: Tn. ER. Winton S.

Hari ini (02/04/2020), saya melakukan tes cepat (rapid test) virus Corona di Puskesmas Kecamatan Palmerah. Di sana, seorang petugas kesehatan perempuan meminta KTP saya. Setelah itu, ia menuliskan nama saya di surat keterangan, dan memberikannya kepada saya. Di situ, saya melihat nama saya tertulis seperti ini: Erwington Simatupang. Padahal, nama saya yang tertera di KTP adalah Erwinton Simatupang. Read More…

Tes Cepat

Erwinton Simatupang


Setelah membaca tulisan Mas Jefri Adriansyah berjudul “Guratan Minda (9),” saya pun membulatkan tekad untuk melakukan tes cepat (rapid test) virus Corona. Di artikel itu, kita tahu, ia menyebutkan, Pak Kawier sudah melakukan tes cepat, dan hasilnya negatif.

Hari ini (02/04/2020), saya mengontak Pak Kawier untuk menanyakan kabar dan lokasi beliau melakukan tes cepat. Tak lama, beliau membalas pesan saya, dan menjelaskan kondisi kesehatan beliau baik-baik saja. Juga, beliau menyebutkan, lokasi tes beliau berada di DPR RI.
Read More…

Di Luar Skenario

Hari Keenambelas
Otot kawat balung wesi, kuat seperti Gatot, rapuh seperti Kaca.
TAI KUCING, nampak jelas berada di atas sofa sesaat saya membuka pintu kamar. Agenda berjemur tertunda karena harus membersihkannya. Pertanda apakah hari ini?

Tak ada mainan, membeli speaker untuk memberikan suara-suara mantap sepertinya memang pilihan yang tepat. Berselancar ke berbagai situs jual beli dan menemukan barang yang sesuai dengan kriteria dan tentunya sesuai dengan anggaran pendapatan dan belanja. Diskusi dengan penjual pun berjalan lancar. Barang ready dan siap dikirim. Proses pembayaran berjalan lancar, tinggal menunggu barang dikirim. Tak berapa lama ada notifikasi dari aplikasi jual beli bahwa stok barang habis. Wolhadalaaa..tadi si penjual berkata kalo barang ada, ini setelah dibayar malah ada notifikasi barang tidak tersedia. Wolha gendeng. Dasar tai kucing. Untung uang saya kembali! Read More…

Otoritarian vs Demokrasi

Dimas Ramadhan


Rabu, 1 April 2020
Hari ini saya menerima resume diskusi ANU Indonesia Project Global Web Seminar dengan Tema “Reading the Corona: from gloom to boom, are we doing the right thing?” yang dilakukan via aplikasi zoom. Resume dibuat oleh Rafif, yang juga dihadiri oleh Nona dan Anto. Isinya tentang bagaimana Australia, Filipina dan Amerika Serikat menghadapi pandemic virus Corona dengan menyiapkan paket kebijakan ekonomi untuk meredam dampak negatif yang mungkin ditimbulkan selama masa distancing. Dari paparan tiga negara tersebut, hal yang cukup menarik ialah bahwa ketiganya kesulitan mengatur warganya untuk menjalankan distancing. Rupanya masalah tersebut bukan hanya dialami Indonesia melainkan juga negara-negara lain.

Read More…

Guratan Minda (9)

01 April 2020
Kepala Berat! Tenggorokan Gatal!
Bangun tidur kali ini, kepala berasa tidak seringan biasnya. Apakah ini tanda-tanda Covid-19?. Hati merasa berdebar-debar memikirkan hal tersebut. Namun, suhu badan terasa normal, sedangkan tenggorokan memang lebih kering dari dua minggu yang lalu, sebelum kantor menerapkan kebijakan work from home demi menjalankan anjuran social distancing yang disarankan pemerintah.

Terasa sedikit kegelisahan, seolah ada yang bergulat di dalam tubuh dan ke Read More…

DIY Masker Yuk!

Hari ini, saya mengawali hari dengan membuat prakarya kecil-kecilan. Sembari menunggu jam 10 pagi untuk berjemur, saya iseng-iseng melihat tutorial membuat masker kain. Dulu sebelum saya menikah, saya sempat kursus jahit. Targetnya dulu supaya saya bisa membuat kebaya sendiri karena saya senang sekali pakai kebaya. Kenyataannya, tidak semudah itu membuat 1 kebaya. Harus telaten memang.

Akhirnya karena satu dan lain hal, mesin jahit yang pernah mendampingi saya saat kursus, terpaksa ditaruh di gudang dan saya pun tidak pernah jahit mulai saat masa kehamilan hingga saat ini. Iseng-iseng saya tanya Mama, di mana mesin jahit tersebut? Mama pun sempat lupa.

Read More…

Tukang Cukur

Dimas Ramadhan


Selasa, 31 Maret 2020
Jika Anda pernah merasakan hidup di era Orde Baru, mungkin Anda pernah mendengar joke berupa tebak-tebakan yang bunyinya kurang lebih begini: selain keluarganya, siapakah yang berani memegang kepala Soearto? Sejak anak-anak kita dididik bahwa memegang kepala orang lain adalah perbuatan tidak sopan, terlebih jika yang dipegang ialah kepala seorang Soeharto, pemilik rekor pemegang jabatan politik paling tinggi terlama di Indonesia. Ditambah profilnya yang berlatarbelakang militer, dan cerita tentang hilangnya orang-orang yang menentang kekuasaanya, siapa pun tidak akan berani memegang kepalanya. Maka orang bodoh mana yang berani kurang ajar memegang-megang kepala Pak Harto? Ternyata jawabannya ialah tukang cukur Istana. Jawaban tersebut tentunya hanya sekedar joke, karena tukang cukur yang memegang-megang kepala Pak Harto pastinya tidak bermaksud kurang ajar. Read More…

Guratan Minda (8)


31 Maret 2020
Bantuan datang!
Hari-hari dengan rutinitas dan keterbatasan gerak membuat saya mulai merasakan kebosanan. Tinggal di Jakarta membuat saya mudah bosan, beda dengan lingkungan di Jogja tempat sekitar hampir 6 tahun saya menghabiskan waktu disana, meski setiap harinya harus ulang alik. Namun, sering saya harus bermalam di Jogja jikalau ada agenda tertentu.

Jogja mungkin tempat yang paling nyaman untuk di tinggali baik oleh para pekerja maupun para pelajar seperti saya dulu. Ada salah satu indekos teman satu angkatan yang kala itu ibarat base camp buat sekedar bertukar canda tawa atau melepas lelah setelah kuliah. Tepatnya di daerah Karang Malang. Kami biasa menyebutnya Kos Ijo, atau Kos Mbah Read More…

Minimalisme, Decluttering, dan Fokus

Selasa, 31 Maret 2020
Hari ini saya tidak berolah raga. Pagi hari saya hanya memakan beberapa buah biskuit ditemani dengan air panas dengan madu. Agenda hari ini adalah mengikuti seminar dari CSIS dalam forum Knowledge Sector Initiative (KSI), serta melakukan decluttering untuk file-file digital yang ada di perangkat elektronik saya. Untuk poin yang terakhir ini, banyak orang yang menyebutnya dengan digital minimalisme. Hanya saja, sebelum saya banyak membahas terkait dengan digital minimalisme dan pengalaman saya mengikuti diskusi online. Saya hendak memaparkan beberapa hal terkait dengan minimalisme.

Persinggungan saya dengan minimalisme ada pada tahun 2013, ketika saya menempuh pendidikan master dalam bidang ilmu politik di Uppsala, Swedia. Ketika itu, tetangga tempat tinggal saya adalah orang Filipina, namanya Nick Tobia, kelak beliau menjadi salah satu sahabat baik saya di sana. Beliau yang pertama kali memperkenalkan praktik minimalisme. Salah satu ciri utamanya adalah tidak memiliki barang yang banyak, hanya menggunakan barang yang dinilai menambah nilai dalam diri kita. Kala itu saya ingat betul bahwa tidak ada banyak barang di kamarnya. Dengan pola hidup seperti ini, Nick Tobia dapat fokus pada hal-hal yang penting bagi dirinya, secara ekonomi juga dapat menghemat banyak uang. Read More…

Efektifkah Semprot Disinfektan Massal?


Pagi ini, saya mengawali hari dengan sarapan roti dan milo, kemudian berjemur 15 menit tepat jam 10 pagi, dan sesudah itu saya ikut menjadi peserta diskusi online dengan KSP dan CSIS di zoom. Beberapa teman sekantor juga ikut serta dalam diskusi ini, termasuk suami saya yang masih bertahan di Ciputat. Sebetulnya, hari ini saya mau membahas soal diskusi tersebut. Tapi besok saja sambil memantau perkembangan. Hari ini saya mau menulis tentang penyemprotan disinfektan massal.
Jujur saja, bencana COVID-19 ini tidak bisa disepelekan. Kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Saya mulai memikirkan, selama ini saya tidak keluar rumah, tidak interaksi dengan siapapun, tidak menerima tamu siapapun. Tamu hanya sampai portal. Sejak COVID-19, Papa saya memasang portal yang terbuat dari pralon. Portal tersebut berisi informasi bahwa tamu hanya sampai di sini saja. Tenang saja, kami tidak terima tamu kok. Tapi itu untuk ojek online atau tim ekspedisi yang mengantar barang online pesanan kami. Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari pun kami menyuruh salah satu orang kepercayaan (tentu tidak tinggal bareng dengan kami) untuk berbelanja. Lantas mau sampai kapan? Saat COVID-19 mereda nanti, kami harus kembali beraktivitas. Tapi apakah sekitar kami sudah aman dan bebas dari virus tersebut? Mungkin saya pribadi tetap akan memberlakukan pola hidup sehat dan rajin cuci tangan mengingat saya tipe orang yang sering pegang muka, apalagi kucek-kucek mata.

Read More…

Serba Online


Senin, 30 Maret 2020
Pagi hari saya mulai dengan joging selama 30 menit, dilanjutkan dengan bertemu dengan mas Agus untuk melakukan penyemprotan lingkungan. Memang beberapa hari yang lalu, telah ada penyemprotan disinfektan oleh ketua RT, hanya saja mengingat penyemprotannya dirasa kurang maksimal, mas Agus membuat inisiatif untuk melakukan penyemprotan mandiri. Setelah dilakukan browsing singkat terhadap metode pembuatan disinfektan mandiri, akhirnya kami membuat disinfektan dengan campuran air dan karbol bermerek Harpic. Untuk penyemprotan, kami dibantu oleh Tuming dan Herman, keduanya merupakan satpam di kompleks kami.

Sembari mengawasi penyemprotan disinfektan yang dilakukan oleh Tuming dan Herman, saya melakukan panggilan video call ke Hartanto Rosojati, sebelumnya beliau melakukan panggilan telepon namun saya tidak mendengar. Kami bercakap-cakap sembari mengajak Jefri Adriansyah dan Dimas Ramadhan untuk melakukan video call. Jefri sedang bersiap untuk ujian akhir semester, sementara Dimas menemani anaknya yang sedang sekolah dengan metode online. Menariknya, Gavin anak dari Dimas, masih menggunakan seragam untuk mengikuti kelas online.
Read More…

Covid-19 dan Ilmu Pengetahuan



Hari Kelimabelas
Kokoh bak Semen Indonesia. Begitulah kondisi hari ini.

Pagi ini mengikuti diskusi yang dilaksanakan CSIS via aplikasi Zoom. Mata masih sayu dan keringat masih cukup banyak menetes setelah menerima asupan ultraviolet-B. Tak sempat mandi namun mencoba untuk mengikuti diskusi. Sekitar 200 orang turut berpartisipasi dalam diskusi ini. Namun entah menyimak dengan seksama atu tidak, karena banyak dari para peserta mematikan layar video dan audionya. Saya pun begitu, karena tampilan belum meyakinkan tentu saja akses suara dan gambar saya matikan, namun masih bisa mendengar para pembicara yang memaparkan materinya tentang “Posisi Think Tanks di Tengah Pandemi Covid-19”. Intinya saat ini diperlukan sinkronisasi dan kerjasama antarsemua pihak, termasuk lembaga think tanks yang ada di Indonesia. Baik yang swasta atau bagi lembaga-lembaga yang ada di pos kementerian. Diskusi yang dimulai pukul 10.30 WIB ini berakhir pukul 12.30 WIB. Satu hal yang menarik dari paparan Bapak Phillips Vermonte yaitu wabah ini sudah semestinya menjadi porsi ilmu pengetahuan kita untuk berkembang, karena penyakit ini harus diselesaikan secara scientific. Semua orang harus percaya dengan cara kerja ilmu pengetahuan untuk mengatasi masalah ini. Read More…

Langkah Tegas Larangan Mudik Lebaran !

Nurul Fatin Afifah

Selasa (30/3/2020) saya pergi ke pasar untuk ke tukang jahit langganan saya (Ibu Marni) untuk memotong baju sekaligus membeli persediaan beras. Saat saya sudah sampai di Pasar Slipi, terlihat banyak toko yang tutup padahal jam masih menunjukkan pukul 08.00 pagi. Setelah saya mencoba mencari informasi dari Ibu Marni, beliau mengatakan bahwa banyak sekali teman-temannya yang sesama penjahit mudik ke kampung halamannya. Mereka ketakutan jika besok-besok tidak bisa mudik lebaran karena adanya lockdown sehingga akses ke luar kota di tutup. Selain itu, Jakarta yang menjadi kota yang sudah terinfeksi dikhawatirkan akan membuat mereka mati konyol. Penjahit yang kebanyakan pulang kampung tidak takut akan kehilangan mata pencaharian, lebih baik mereka di kampung, sumber makanan masih melimpah dan bisa berkumpul bersama keluarga di situasi yang panik ini.

Read More…

Fukuyama, Corona, dan Kepercayaan Publik

Erwinton Simatupang

Inilah judul artikel yang ditulis oleh Francis Fukuyama kemarin (30/3/2020) di The Atlantic: “The Thing That Determines a Country’s Resistance to the Coronavirus.” Di situ, ilmuwan politik dunia itu menjelaskan, dikotomi antara sistem politik liberal demokrasi dan otoritarian dalam mengatasi virus Corona tidaklah relevan.

Menurut profesor di Stanford University itu, tidak sedikit orang awalnya mengkritik pemerintah China dalam menangani COVID-19, sebab pemerintah China menghambat arus informasi perihal makhluk renik itu. Namun, lanjutnya, belakangan ini negara-negara demokratis justru menunjukkan performa yang tidak lebih baik. Sementara itu, pemerintah China perlahan-lahan mulai berhasil keluar dari ancaman makhluk renik tersebut. Read More…

Tentang Distancing

Dimas Ramadhan

Senin, 30 Maret 2020
Ini merupakan hari Senin ketiga selama menjalani work from home. Ya, seiring dengan kondisi Kota Jakarta yang belum aman dari penyebaran virus Corona, Populi Center menambah lagi durasi kerja dari rumah bagi sebagian besar stafnya. Dengan demikian, tiga minggu sudah kami tidak berkomunikasi selain lewat WAG Populi Kerja. Namun pagi ini berbeda. Saya menerima panggilan video dari Rafif, Anto, dan Jefri. Tentu saja saya menerima panggilan tersebut meskipun sedang disibukkan dengan aktifitas domestik. Dalam tiga minggu belakangan, sebenarnya komunikasi saya dengan trio kwek-kwek itu tidak sepenuhnya sebatas di WAG. Kami cukup rutin untuk menggelar e-jogging, sebuah hobi baru yang ditularkan Rafif sekitar dua bulan lalu.

Read More…

Kepanikan Ibu-Ibu Jelang Lockdown


Entah mengapa, feeling saya mengatakan pembatasan akses keluar masuk suatu wilayah akan dilakukan pemerintah pusat. Entah apapun namanya.. mungkin lockdown, mungkin juga karantina wilayah. Tapi yang jelas, wacana yang beredar dari kemarin, telah membuat para ibu-ibu ketar ketir. Awalnya saya menyembunyikan kepanikan ibu-ibu di grup saya kepada Mama saya. Tetapi yang namanya saat ini informasi cepat sekali menyebarnya, ibu saya akhirnya dapat kabar itu. Begitupun dengan Mama mertua saya.

Saya merasa ibu-ibu yang berada di sekitar saya, baik itu Mama, Mama mertua maupun ibu-ibu yang sebaya dengan saya, cepat sekali latah. Bukan latah omongan, tetapi latah sikap. Kalau bahasa kekiniannya, cepat sekali teracuni. Info soal Jakarta akan menutup akses sudah beredar di whatsapp group di keluarga mertua saya. Di situ ada Mama mertua. Kemarin dia belum sepanik ini karena Papa mertua yang saat ini di Kementerian PUPR, belum ada informasi yang diterima. Mama mertua saya bilang, kalau memang valid, pasti PUPR sudah diberitahu terlebih dahulu. Saya pun percaya dengan mertua saya.

Read More…

Hujan dan Rebahan

Hari Keempatbelas
Fisik prima, hanya hati yang sedang gundah. Awali hari dengan silaturahmi virtual. Menelepon satu per satu para penjaga republik agar tahu kabarnya. Rafif, Jefri, Dimas melengkapi empat kuota dalam sekali panggilan whatsapp video. Mereka tampak bugar. Tak berapa lama Jefri undur diri karena ada kelas online. Ada satu slot kosong yang kemudian diisi oleh Winton. Terlihat sedang bangun tidur dan tidak memakai baju, namun sepertinya ia masih sehat, meskipun sedang menunggu semesta alam mengirimkan bidadarinya. Rafif kemudian undur diri karena harus menyemprot lingkungannya dengan cairan alkohol, untung tidak ia minum. Kemudian Ustadz Ade melengkapi untuk memberikan tausyiah kepada kami-kami yang sudah mulai kehilangan arah.

Read More…

Guratan Minda (7)

30 Maret 2020
Semua serba online. Tapi bagaimana dengan kasih sayang?
Pandemi korona kali ini membuat semua harus dilakukan serba online. Bekerja, kuliah, belajar, cari makan semua serba online. Tidak pernah terpikirkan bagaimana pandemi Covid-19 ketika terjadi tanpa ada gojek, grab, zoom, skype, teams, dan google.

Anak-anak, remaja, hingga yang sudah beruban mau tidak mau kini harus mulai terbiasa dengan aktivitas virtual. Kini setidaknya di setiap rumah pun jumlah gawai harus sama dengan jumlah anggota keluarga. Namun, meski semua serba online, ketika di rumah, banyak peran orang tua yang menjadi berlipat ganda. Bagi mereka yang harus tetap bekerja tetap turut menyiapkan perangkat untuk sang anak belajar jarak jauh.

Read More…

Guratan Minda (6)

29 maret 2020
Tak ada rotan akar pun jadi. Dalam kondisi kepanikan dengan masih mewabahnya penyakit Covid-19, satu persatu barang kebutuhan masyarakat hilang di pasaran. Sayang sekali masyarakat Indonesia sering gagap menanggapi segala persoalan. Meski sebenarnya di negara lain hal tersebut juga terjadi. Panic buying!, semua yang diberitakan dapat menangkal dan baik melindungi ketahanan tubuh dari Covid-19 perlahan menjadi langka.

Pertama kali barang yang langka dan melambung tinggi di pasaran adalah masker. Pemerintah melalui apparat penegak hukum sejatinya juga telah bertindak dengan menangkap para penimbun masker yang membuat harga jualnya kini meningkat bahkan 1.000 persen. Pemerintah fokus pada penindakan mereka yang menimbun masker dari info-info di media sosial dan aplikasi jual beli online. Tetapi bagaimana dengan mereka yang menjalankan praktik jual beli secara manual?. Mereka sangat jarang tersentuh. Beberapa hari lalu saya sempat menyaksikan sendiri bagaimana harga masker sensi satu boxnya masih dihargai Rp 250.000.
Read More…

Yang Kaya dan Yang Miskin

Erwinton Simatupang

Seorang pejabat tinggi negeri ini berkomentar: “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar...” Namun, pernyataan itu masih memiliki anak kalimat, dan akhirnya menjadi kontroversi: “...dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya.”

Tentang anak kalimat yang menjadi kontroversi itu, sejumlah pengamat sudah mengulasnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah risiko dihadapi ‘yang miskin’ seragam? Apakah pernyataan pejabat tinggi tadi tentang “yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar” memiliki dasar penjelasan?
Read More…

Corona dan Anakku


Ade Ghozaly

Minggu, 29 Maret 2020
"Empat belas hari ku mencari dirimu. Untuk menanyakan ….." Penggalan lirik lagu "empat belas hari" Kangen Band yang kudengar malam ini mengingatkanku tepat empat belas hari lalu saya mendengar langsung keputusan Pemerintah untuk meniadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tidak hanya dunia Pendidikan yang "dirumahkan", kegiatan perkantoran juga demikian termasuk lembaga Populi Center tempat dimana saya bekerja. Himbauan tidak melaksanakan kegiatan yang mengundang masa bahkan penutupan beberapa pusat perbelanjaan dan tempat hiburan serta wisata pun terkena imbasnya. Semua itu tentang satu hal untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 yang akrab kita kenal dengan nama Corona.

Selama hampir dua pekan ini, sejak diberlakukannya kebijakan Work form House (WFH) Populi Center, praktis saya hanya tinggal di rumah. Demikian juga dengan anak-anak yang dalam dua pekan terakhir juga tidak bersekolah. Selama itu pula saya baru merasakan full time merasakan kehangatan berbeda bersama keluarga. Yah benar-benar full time 24 jam sehari saya bersama istri dan anak-anak tercinta. Kondisi ini dimaklumi karena seperti halnya “Bang Thoyib” saya dan rekan-rekan peneliti Populi Center lainnya nyaris lebih banyak menghabiskan waktu tugas lapangan ke luar kota.
Read More…

Lockdown Mandiri


Rafif Pamenang Imawan


Minggu, 29 Maret 2020
Tidak ada hal baru yang saya lakukan di pagi hari ini, saya hanya melakukan olah raga seperti biasa. Setelah jogging selama 35 menit, saya menyantap oatmeal dan air madu panas. Seperti biasa, saya melakukan posting di media sosial saya, ternyata Hartanto Rosojati menyebarkan foto makanan saya tersebut ke grup whatsapp kantor. Sembari menyantap makan pagi, saya membuka grup whatsapp keluarga serta grup whatsapp teman-teman saya di Jogja. Banyak yang mengabarkan bahwa dusun-dusun di Yogyakarta yang melakukan lockdown mandiri. Secara umum, lockdown dimaknai menutup akses masuk maupun keluar seseorang di suatu wilayah.

Lockdown mandiri yang dilakukan oleh dusun-dusun menunjukkan masih kuatnya independensi wilayah di Yogyakarta. Di masa lampau, terdapat konsepsi daerah perdikan, terdapat dua pengertian terkait daerah perdikan. Pertama, pengertian bahwa perdikan merupakan daerah khusus yang dibebaskan dari kewajiban untuk membayar pajak kepada raja. Pemberian keistimewaan tersebut dikarenakan daerah tersebut memiliki jasa kepada raja. Kedua, merujuk pada independensi sebuah daerah dikarenakan tidak adanya kekuasaan yang tunggal atau dengan kata lain desa yang mandiri dikarenakan tidak ada yang membawahinya.
Read More…

Jangan Terlambat!

Dimas Ramadhan




Minggu, 29 Maret 2020
“Yang paling bikin frustasi dari semua ini adalah semuanya terasa sedikit sudah terlambat. Kayak, kita sebetulnya sudah tahu kalau bakal begini kejadiannya”. Kalimat tersebut keluar dari seorang dokter di Amerika Serikat yang kewalahan dalam menangani pasien Corona. Kalimat tersebut saya kutip lengkap sebagaimana ditulis Tirto.ID dalam artikel “Positif COVID-19 Terbanyak Ada di AS, Kecerobohan Trump Sebabnya”. Siapa yang sangka Amerika kini menjadi negara dengan jumlah penderita Corona terbanyak. Dalam artikel tersebut disebutkan Pemerintah AS terlambat mengantisipasi karena sempat meremehkan penyebaran virus Corona di negaranya.

Sontak saja, pikiran saya langsung ke arah bagaimana pemerintah Indonesia menangani virus Corona. Paling tidak ada dua kesamaan antara situasi yang dihadapi oleh AS dan Indonesia. Pertama ialah sikap menganggap enteng ancaman penyebaran virus Corona, dimana ketika Cina mengumumkan kasus penyebaran Corona, pemerintah justru mengundang orang luar untuk datang dengan cara mempromosikan pariwisata, berharap para turis yang gagal berangkat ke Cina, juga Korea Selatan, beralih mengunjungi Indonesia. Di saat yang sama, kita juga teralihkan dengan wacana pemberlakuan UU Cipta Lapangan Kerja karena isinya yang kontroversial. Read More…

Penerapan Social Distancing di Tengah Masyarakat

Nurul Fatin Afifah



Minggu pagi (29 Maret 2020) saya bangun dengan kondisi badan yang lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya. Seperti biasa setelah bangun tidur hal pertama yang saya lakukan adalah membuka handphone. Setelah saya buka ternyata banyak sekali telfon yang tidak terangkat dari keluarga di rumah yang terus memantau kondisi kesehatan saya selama di Jakarta. Saya segera membalas singkat di grup keluarga bahwa kondisi saya lebih baik. Rupanya keluarga saya cemas setelah semalam saya meminta informasi dimana saya harus melakukan rapid test. Salah satu kakak saya langsung mendadak sesak nafas mendengar kabar tersebut. Sesak nafas bukan karena virus, namun karena kaget. Awalnya saya hanya berniat untuk meminta informasi bagaimana prosedur untuk melakukan rapid test. Ternyata hal tersebut justru membawa kecemasan untuk keluarga. Dalam hal ini justru semakin serba salah, tidak memberi kabar malah semakin diteror tapi memberi kabar malah membuat khawatir. Read More…

Privilege

Dimas Ramadhan

Sabtu, 28 Maret 2020
Waktu menunjukkan pukul 09.30 ketika saya mendengar tawa dan celoteh anak-anak kecil depan rumah. Mereka tiga bersaudara, yang huruf depan namanya sama semua yaitu diawali dari huruf R. Rupanya R bersaudara sedang berjemur, mengikuti anjuran para pakar bahwa matahari di jam 9 hingga jam 10 baik untuk tubuh. Keberadaan R bersaudara di depan rumah memancing dua ‘prajurit’ yang saya miliki, yang nama-namanya diawali huruf G. Jadilah R bersaudara dan G bersaudara berjemur bersama. Celotehan dan candaan mereka membuat hidup suasana di pagi itu.

Tidak lama kemudian, datanglah sepeda motor bermuatan air minum ke samping rumah saya. Pengendaranya ialah Bang Mamat, seorang pria panggilan yang berprofesi sebagai penjual air minum gallon langganan hampir semua warga disini. Jika kelangsungan hidup manusia bergantung pada keberadaan air, maka kepada Bang Mamatlah kehidupan warga ditentukan, salah satunya. Lho, kan air untuk minum bisa dimasak dari air keran? Betul. Masalahnya Bang Mamat juga berjualan gas. Ketika kita kehabisan air minum di gallon sekaligus gas kompor di saat yang sama, maka habis pulalah hidup kita. Mengingat kedudukan Bang Mamat yang begitu penting bagi warga komplek ini, ia memiliki semacam privilege, yaitu tetap diperbolehkan masuk mengantar air gallon atau gas hingga ke depan rumah warga. Sementara pedagang lain atau pun ojek online, tidak diperbolehkan masuk dan harus menunggu di dekat pos sekuriti sehubungan dengan ditetapkannya peraturan baru tentang pengunjung atau tamu komplek. Oke, privilege bagi Bang Mamat mungkin kata yang terlalu berlebihan untuk merujuk pada sebuah pengecualian (exception), karena pada dasarnya memang tidak akan ada warga yang sudi mengangkat sendiri gallon atau gas tabung dari pos sekuriti hingga ke dalam rumahnya.
Read More…

Komitmen Hidup Sehat


Rafif Pamenang Imawan


Sabtu, 28 Maret 2020
Badan saya lemas hari ini, bukan karena sakit, namun karena saya berolahraga agak keras kemarin. Saya berlari cepat disertai joging untuk waktu yang agak lama, yakni satu jam. Olah raga joging merupakan olah raga yang kembali saya tekuni, bersama rekan saya Hartanto Rosojati, Jefri Adriansyah, Toni Malakian, dan Saefudin. Biasanya kami berlari di Gelora Bung Karno (GBK), namun dikarenakan wabah corona, maka agenda rutin kami terganggu. Kami biasa berlari memutari GBK di setiap hari selasa dan kamis. Olah raga tidak hanya membuat mood meningkat, namun juga berpengaruh pada kualitas tidur saya.

Sejak awal tahun, saya dan istri saya memiliki tekad untuk memiliki berat badan yang ideal. Dorongan itu muncul ketika kami bertemu dengan dokter gizi di RS Permata Cibubur. Pada kala itu dokter memberikan banyak nasihat, termasuk menekankan efek-efek positif dari kami makan-makanan bersih. Resepnya sangat sederhana, kami dilarang untuk makan makanan yang digoreng, semua makan harus dikukus, boleh menggunakan bumbu-bumbu alami, serta mengatur porsi makanan.

Read More…

Please Pahami! Saya Sedang WFH!

Nona Evita

Hampir 2 minggu saya working from home. Saya merasa produktif selama WFH karena kewajiban menyetor tulisan Chronicle untuk website yang dibuat Direktur Eksekutif kami. Saya tidak punya meja khusus untuk belajar. Maklum, dari dulu tidak ada meja belajar karena Mama tidak suka banyak barang. Jadi biar praktis, meja belajarnya di meja makan. Sebetulnya ada meja belajar di paviliun tapi karena paviliun di rumah Mama saya sudah tidak berpenghuni, malas juga rasanya belajar di sana. Saya lebih senang suasana ramai, tidak suka yang sepi sepi. Saya malah ngantuk kalau bekerja di ruangan sepi. Oleh karena itu, aktivitas saya terpantau oleh seluruh anggota keluarga.


Read More…

Yang Penting Order


Hartanto Rosojati


Hari Ketigabelas
Segar, seperti sehabis minum susu kuda liar. Begitulah update jiwa dan raga kali ini.
Agenda hari ini hanya push up 10 kali, baca jurnal bagian abstraksnya saja, ngedit video, serta yang tidak kalah penting adalah menghitung butiran beras, untuk tetap melatih fokus dan konsentrasi.

Pak Hendro yang sudah terlihat tua, mungkin sekitar 60 tahun ke atas masih semangat mengantarkan barang kiriman saya. Barang itu diambilnya di Kantor Populi Center. Saya tahu kondisi jalanan sepi. Kabar media cetak dan elektronik juga mengabarkan demikian. Bahkan beberapa driver ojol yang sebelumnya saya jumpai juga berkata demikian. Jalan sepi dan omset turun. Namun beda dengan Pak Hendro yang saya jumpai sore ini. Ia tidak pernah menjawab bahwa omset atau tarikannya turun, namun cukup. Tak ada kata penuh keluhan yang beliau ucapkan. Selama masih ada yang order, entah itu mengirim barang atau makanan, itu sudah cukup kata beliau. Kita memang tidak bepergian, namun dengan memberikan mereka orderan saja sudah cukup bagi para driver ojol tersebut, meskipun kita tahu resiko mereka di jalanan.

Read More…

Corona dan Sang Pecundang


Ade Ghozaly

Sabtu, 28 Maret 2020
Kala itu matahari masih memainkan terik panasnya. Suara dering ponsel membuyarkan obrolan riang saya dengan anak-anak. “Assalamu’alaikum Bro, gimana kabar?” seorang kawan menyapa diujung telepon. Kawan yang satu ini cukup unik. Pertama. Dia jarang menghubungi saya lebih dulu. Kedua. Biasanya jika dia telepon ada sesuatu yang penting didiskusikan. Dan benar saja alas an kedua inilah yang menyebabkan dia menghubungi saya. “Kemarin antum Jum’atan gak bro?”. Saya sudah hafal, pertanyaan model begini adalah gaya khasnya untuk memulai diskusi. “Tidak!” jawabku. Belum sempat saya menjawab lebih lanjut dia sudah mulai nyerecos dengan gaya ceplas-ceplosnya. Menurutnya dalam kasus pendemi Corona ini banyak pihak yang sengaja memancing di air keruh.

Salah satu contoh menurutnya adalah banyak yang teriak kencang memprotes soal mengurangi sampai melarang kegiatan pengajian, shalat berjam’ah dan shalat jum’at padahal dia sendiri sebelum ada Wabah Corona jarang ke masjid dan pengajian. Lebih lanjut dengan tegas dia mengatakan banyak pihak yang sengaja bermain isu untuk kepentingan dan tujuan tertentu dalam masa darurat corona ini. “Gue ikut volunterr corona, nah lu dekem bae di rumah Bro, eh Bro IDN lu masih idup kan? Payah lu bro harusnya ente dan IDN ikut membantu pemerintah menjelaskan dengan utuh kepada umat terhadap persoalan ini”. Mencecarku dengan gaya cueknya. Kalimat terakhir ini menohok pikiranku. Dia memang mengetahui kegiatanku secara pribadi saya pada Pilpres 2019 lalu mendirikan sekaligus aktif pada Ikatan Da’i Nusantara (IDN). Sempalan relawan untuk mengkampanyekan Paslon 01 sekaligus melakukan counter narasi hoax khususnya dalam isu keagamaan dan keumatan. Read More…

Guratan Minda (5)



Jefri Adriansyah


28 maret 2020
Telat, meski kuliah diselenggarakan online melalui mekanisme pembelajaran jarak jauh, tetap saja saya tidak bisa mengikutinya tepat waktu. Setelah semalam dihajar dengan tugas-tugas ujian tengah semester dan tidur sejenak pukul 04.00 wib. Kemudian satu jam berselang saya harus bangun kembali untuk mengikuti kuliah ekonomi perencanaan kota pukul 05.00 wib. Dengan semangat membara namun konsentrasi menipis perlahan-lahan saya memperhatikan materi yang ia sampaikan. Setelahnya, satu lautan harus saya seberangi lagi. Satu jam setelahnya menyusul kuliah asistensi mikroekonomi 2. Saya kembali telat membuka skype karena kantuk yang tidak tertahan membuatku terlelap sejenak setelah kuliah subuh sebelumnya. Konsentrasi? tentu tidak! saya hanya sekedar hadir menampakkan batang hidung saja kala itu.

Semester ini hidupku bagai artis stripping, harus kejar tayang setiap hari bahkan tidak tidur pun biasa, agar pemirsa pecinta layar kaca semua dapat menikmati suguhan hiburan tepat waktu setiap harinya. Setelah dua kali kuliah online saya tidur lagi? tentu tidak, beberapa tugas masih menanti untuk diselesaikan. Menundanya pun hanya akan semakin menambah beban. Perangkat jemala menyumpal telinga, lagu koplo menyala, saatnya untuk tetap membara, menyelesaikan tugas yang ada. Read More…

Soal Herd Immunity

Nona Evita

Saya rasa saat ini semua orang lebih aktif menggunakan media sosial dan aplikasi instant messaging platform seperti Whatsapp, Line, dan Telegram. Mulai dari orang yang working from home hingga ibu rumah tangga yang sudah mulai bosan dengan para suami dan anak yang hampir 2 minggu di rumah terus. Begitu pun dengan saya. Siang ini, ada satu informasi yang diforward oleh salah satu ibu di grup komplek perumahan di Ciputat. Ibu tersebut meneruskan berita soal Jakarta yang kemungkinan besar akan dikarantina hari Senin, 30 Maret 2020. Informasi ini berbeda dengan pembahasan sehari-hari di grup ibu-ibu. Biasanya kami membahas soal jasa titip (jastip) barang, makanan, snack, hingga kebutuhan anak-anak atau drama Korea. Hampir tidak pernah ada pembahasan soal current issues. Jangankan memikirkan current issues, mereka mikirin setiap hari mau masak apa saja bingung.

Kaget juga, wah tumben nih grup ibu-ibu komplek bahas current issue soal kebijakan karantina wilayah yang akan akan diambil oleh pemprov Jakarta hari senin besok. Ternyata terpaan berita soal Corona juga menyita perhatian ibu-ibu ini. Saya yang dari kemarin sudah terpapar sejak hari pertama karantina, sudah mulai cuek dengan berita-berita yang ada. Percuma menunggu pemerintah untuk karantina wilayah, kami sudah 2 minggu di rumah ini mengkarantinakan diri dari orang lain. Saya tidak heran kalau beberapa kepala daerah sudah melakukan karantina wilayah masing-masing. Bukan karena tidak ikut arahan pemerintah pusat, tetapi karena hingga saat ini kebijakan karantina wilayah secara nasional masih belum diputuskan pemerintah pusat. Sah-sah saja kalau kepala daerah mau melindungi warganya dari infection rate yang terus menerus naik angkanya karena hilir mudik orang-orang.

Read More…

Wabah Bebalisme

Erwinton Simatupang


Ketika kalender 2019 tiba di lembar terakhir, negeri ini masih belum mengarahkan perhatiannya ke Wuhan, Cina. Di sana, sebagaimana kita tahu, COVID-19 mencuat untuk pertama kalinya. Kini, hampir seluruh atensi negeri ini hanya tertuju pada virus itu. Bahkan, bukan tidak mungkin ia sudah berada di tangan, pakaian, atau uang yang kita miliki.

Harus diakui, ‘perjalanan’ virus tersebut dari Wuhan ke negeri ini terbilang sulit dibendung. Pasalnya, dibandingkan dengan SARS, karakteristik COVID-19 memang lebih mudah menyebar dan menular dari satu orang ke orang lain. Selain tak kasat mata, ia juga tidak sulit menempel di pelbagai benda, dan memakan waktu yang tidak sebentar agar bisa mati: sekitar tiga hari.
Read More…

Rindu, Namun Peduli


Hartanto Rosojati

Hari Keduabelas
Sehat, suhu tubuh normal.
Langsung mencuci, bangun belum 10 menit namun langsung terpikir untuk langsung mencuci. Sejak si coro melanda, entah mengapa menjadi rajin beberes, baju kena keringat sedikit langsung esok harinya dicuci. Tak seperti biasa, kaos kadang bisa dipakai dua hari. Saat ini, pagi berkeringat, sore sudah ganti baju, tidur pun ganti baju.

Mesin cuci sedang menggiling baju, sembari menunggu, saya sempatkan untuk berjemur. Berjemur sekitar jam 10.00 pagi adalah waktu yang pas untuk mendapatkan sinaran matari yang dapat memproduski vitamin D untuk tubuh kita, begitu kata ahlinya ahli. Read More…

Wacana Lockdown

Nona Evita

Populi Center memperpanjang lagi 1 minggu masa Working From Home. Duh, sudah bosan sebetulnya. Tapi ya memang inilah yang harus dilakukan untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus Corona. Hari ini sebetulnya saya ingin menulis tentang kebiasaan baru keluarga saya selama 2 hari ini. Tiap malam, Ibu saya sudah mulai jenuh dengan terpaan berita. Terlalu banyak terpaan berita tentang COVID-19 bisa membuat jenuh juga ternyata. Tetapi mau tidak mau harus kita ikuti berita itu mengingat hanya dari televisi, media sosial, dan media online kita bisa tahu informasi soal penyebaran COVID-19.

Kebiasaan baru di keluarga saya bisa ditulis besok-besok saja. Saat ini saya terpikir untuk menulis tentang wacana lockdown. Hari ini saya melihat di berita bahwa sejumlah kepala daerah sudah melakukan lockdown. Beberapa daerah yang sudah melakukan lockdown seperti Solo, Tegal, Maluku, Bali, Papua. Saya juga membaca berita bahwa kebijakan lockdown di 5 daerah tersebut skalanya berbeda-beda. Seperti misalnya Tegal yang menyebutnya dengan istilah “local lockdown”, yaitu penutupan akses jalan protokol dalam kota dan jalan penghubung antarkampung dengan beton.

Read More…

Sugesti Positif

Nurul Fatin Afifah

Kamis sore (26/3/2020) setelah saya menyelesaikan sampling untuk survei Kabupaten Timur Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur mendadak kepala saya terasa berat dan pusing. Saya memutuskan untuk berdiri dan mengambil air putih untuk minum, namun ketika berdiri kepala terasa semakin berputar. Saya mencoba tetap memaksakan diri untuk membuka laptop tapi justru pandangan menjadi gelap, akhirnya saya memutuskan ke kamar dan istirahat sejenak dengan harapan sakit kepala segera mereda.

Pukul 23.00 wib saya terbangun dan merasakan badan panas. Saya mencoba meminta bantuan Mbak Ria (penjaga kost) untuk mencarikan termometer digital ke apotek. Sambil menunggu Mbak Ria mencari termometer, saya memaksan diri untuk makan roti gandum walaupun mulut terasa pahit. Beruntunglah saya memiliki stok paracetamol untuk penurun panas. Setelah menunggu 30 menit Mbak Ria menelfon bahwa dia sudah mencoba keliling apotek disekitar Kemanggisan dan Tanjung Duren bahwa semua apotek kehabisan stok termometer. Saya mencoba meminta bantuan teman-teman yang tinggal di sekitar Jakarta untuk mencarikan termometer di apotek sekitar rumahnya. Pukul 01.25 ada teman yang memberi kabar baik bahwa dia berhasil mendapatkan termometer, dia bersedia untuk mengirimkannya via gosend dari Kelapa Gading. Read More…

Gotong Royong Lawan Corona

Dimas Ramadhan


Jumat, 27 Maret 2020
Ini adalah hari ke sepuluh sejak diberlakukannya work from home. Seperti hari sebelumnya, hari ini diawali dengan beres-beres rumah, sarapan dan memandikan anak-anak. Sekitar jam 9 Gavin melakukan kelas jauh melalui applikasi zoom. Uniknya, pihak sekolah sempat meminta agar murid mengenakan seragam sekolah ketika belajar online. Tentu saja permintaan konyol tersebut ditolak oleh orang tua murid, dan akhirnya murid tetap mengenakan baju/kaos biasa. Bersama guru dan teman-temannya ia ‘menyetor’ hafalan beberapa surat. Syukurlah Gavin berhasil membacakan surat yang diminta oleh gurunya, hasil ‘penyiksaan’ sejak minggu lalu.

Siangnya, saya keluar rumah menuju beberapa tempat. Tempat pertama yang saya singgahi ialah Bank BTN, untuk setor tunai cicilan rumah. Jatiwaringin Raya nampak lengang, tidak banyak orang di jalan. Ketika motor sampai diparkiran bank, saya membayangkan akan diukur suhu badan dengan alat thermometer di jidat, karena seperti itulah ketika beberapa hari lalu saya ke Bank BRI. Namun ternyata sekuriti yang membukakan pintu tidak melakukannya. Pun tidak ada hand sanitizer bagi tamu. Sungguh disayangkan sebenarnya lembaga keuangan sebesar BTN kurang aware dengan hal ini. Selesai dari bank saya melanjutkan ke gerai mini market untuk membeli beberapa kebutuhan. Kebanyakan ialah bahan makanan dan makanan ringan untuk anak-anak supaya mereka betah di rumah. Berbeda dengan Bank BTN, gerai Alfamart dan Alfamidi yang saya datangi justru menyediakan fasilitas air untuk cuci tangan lengkap dengan sabun cair yang diletakkan di depan pintu masuk atau di parkiran. Setelah itu saya lanjut ke gerai JNT, untuk melakukan pengiriman sarung tangan plastik pesanan orang. Di gerai tersebut disediakan hand sanitizer untuk tamu yang hendak melakukan pengiriman barang. Setelah selesai saya pun kembali ke rumah.
Read More…

Berjemur dan Ketundukan Pasien

Erwinton Simatupang


Di grup Populi Kerja, Hartanto Rosojati mengunggah foto dirinya yang tengah berjemur, dan menuliskan ini: Sudahkah Anda berjemur hari ini? Barangkali, ia melakukan aktivitas itu disebabkan ancaman COVID-19 hari-hari ini. Jika dugaan itu benar, maka ia tak sendiri. Sejumlah orang, atau mungkin banyak orang, juga (mendadak) berjemur belakangan ini.

Berjemur umumnya dilakukan selama 15 menit antara pukul 09.00 sampai 10.00. Saya rasa, berjemur seperti itu tidak ada apa-apanya bagi orang-orang yang lahir dan besar di pedesaan atau perkampungan. Di situ, mereka berjemur seharian sampai gosong ke tulang. Sebagai gambaran, anak-anak bermain layangan di sawah, mandi di kali, berburu burung dan ikan, dan bermain gasing di bawah terik matahari. Jadi, bagi mereka, berjemur 15 menit terlalu cemen. “24 jam pun berjemur, aku jabani,” ucap seorang teman yang lahir dan besar di daerah pedesaan beberapa waktu lalu.

Read More…

Surat (Cinta) Untuk Dian Sastro

Erwinton Simatupang


Dear Dik Dian Sastro,
Kamu tampaknya kesel dengan tingkah orang-orang yang mengabaikan imbauan physical distancing dan work from home di tengah ancaman virus Corona sekarang ini. Media melaporkan, kamu mengunggah sebuah pesan kepada publik soal itu: “JIKA KAMU INGIN MEMBANTU INDONESIA, TAPI PASSION KAMU ADALAH REBAHAN, INI KESEMPATAN KAMU.”

Banyak orang yang mendukung tindakanmu itu, Dik. Namun, pesan yang kamu sampaikan secara samar-samar menyimpan ketakutan dirimu sendiri terhadap virus Corona. Karena terancam, kamu lantas mengunggah pesan itu. Memang, suatu hal yang lumrah takut sekarang ini. Tetapi, kamu tak perlu menggunakan huruf kapital, sebab itu secara implisit menunjukkan ketakutanmu yang berlebihan pada virus Corona. Yang dibutuhkan saat ini justru orang-orang yang tenang dan jernih berpikir melihat persoalan.
Read More…

Guratan Minda (4)


Jefri Adriansyah

27 maret 2020
Evacuate! Evacuate!. Aba-aba tersebut selalu nyaring terdengar di telinga saya ketika para pramugari sedang memperagakan himbauan keselamatan bagi setiap penumpang pesawat yang duduk di dekat pintu darurat ketika pesawat hendak lepas landas. Namun, kata-kata tersebut nampak terngiang-ngiang di benak saya meski kini saya tidak sedang di dalam pesawat.

Kemarin malam ibu menelpon untuk menanyakan kabar anak laki-laki satu-satunya ini, dan membicarakan tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi di tengah wabah Covid-19 ini. Terlebih dengan adanya gonjang-ganjing lockdown dan anjuran untuk tidak bepergian sementara keluar kota. Terbayang rasa rindu yang mendalam dari setiap tutur yang ia ucapkan. Maklum, terakhir kita berjumpa saat awal tahun baru 2020 dan ada kemungkinan saya akan kembali melewatkan lebaran bersama keluarga untuk kedua kalinya, ketika pertamakali melewatkannya ketika harus kuliah kerja nyata di Alor, Nusa Tenggara Timur tahun 2014. Semua keluarga pasti akan saling mengkhawatirkan satu dengan yang lain terlebih ditengah jarak yang jauh dan semakin jarangnya perjumpaan.
Read More…

No Mommy’s Perfect

Nona Evita

Saya sudah lupa ini hari ke berapa saya WFH. Malas juga menghitungnya. Yang jelas sudah hampir 2 minggu terhitung hari Senin minggu depan. Apa sih rasanya WFH? Untuk seorang Ibu berkarir seperti saya, pasti rasanya bosan. Muka saya sudah mulai jerawatan karena saat WFH saya ga rutin pakai skincare. Aneh memang, kesannya WFH kan waktunya banyak, kok sampai tidak rutin pakai skincare? Saya malah menemukan kalau WFH sangat padat waktunya karena mau tidak mau saya juga harus mengurus anak saya.

Ya, namanya ada induknya, meski diurus oleh baby sitter sehari-harinya, anak saya nempelnya ke saya kalau saya di rumah. Anak saya tipe anak yang super aktif. Sepertinya Mommy nya mungkin, energinya tidak habis-habis. Diamnya kalau lagi tidur saja. Selama saya WFH, Keana jadi super manja ke saya. Dia mungkin merasa aman di dekat Mommynya.

Read More…

Homo Homini Rakus



Rafif Pamenang Imawan


Jum’at, 27 Maret 2020

Pagi hari saya isi dengan berolahraga selama satu jam. Sembari berlari tipis-tipis, pikiran saya melantur pada sosok Slavoj Zizek, filosof asal Slovenia yang memberikan sumbangsih pemikiran bagaimana kapitalisme masuk dalam ranah kultural. Sebelum membahas kaitan antara Zizek dan Corona, pikiran saya terbawa pada persoalan serius dari wabah corona dan kelas sosial di masyarakat kita. Kita mengambil contoh sederhana, hand sanitizer dan masker. Kedua benda ini saat ini sangat sulit didapatkan di pasaran, kalaupun ada maka harganya akan selangit. Masker satu kotak yang semula dijual 30 ribu, saat ini dijual dengan harga 300 ribu. Hand sanitizer yang tersedia di supermarket juga sudah ludes diborong oleh masyarakat ekonomi menengah ke atas. Masyarakat kelas bawah tidak mendapatkan proteksi apa pun, hanya bergantung pada nasib.

Menurut saya ada yang aneh dari bagaimana kita menangani wabah corona. Kelangkaan dari hand sanitizer dan masker, menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tidak bersiap mendapatkan wabah corona. Kita tentu ingat, ketika dunia sedang bersiap menghadapi pandemik, Indonesia justru menyediakan anggaran untuk influencer guna mengundang para wisatawan datang ke Indonesia. Ketika masyarakat dunia khawatir terhadap penyebaran virus corona, Menteri Kesehatan justru memberikan statemen-statemen yang bertolak belakang, pada awalnya masyarakat tidak masalah beraktivitas seperti biasa, sekarang masyarakat dipaksa untuk mengisolasi di rumah. Sikap plin-plan ini bahkan direkam secara baik oleh Kustom Komik.
Read More…

Akhirnya Keluar


Hartanto Rosojati

Hari Kesebelas
Masih hangat, namun tidak sehangat kemarin. Semoga ini pertanda baik bagi kondisi tubuh.

Ritual yang perlu dilakukan adalah berjemur. Akan tetapi pagi ini sinar matahari tak menampakkan batang hidungnya, tertutup awan. Hanya hangat-hangat tai ayam saja yang saya dapatkan pukul 09.00 pagi ini. Read More…

Neo Jabariyah dan Covid-19 di Indonesia


Ade Ghozaly

Kamis malam (26/3) ada hal menarik di lingkungan Musholah tempat saya tinggal di Kawasan Ciracas Jakarta Timur. Seperti halnya kebiasaan pada malam-malam jum'at sebelumnya kegiatan pengajian dengan pembacaan yasin, tahlil dan tausyiah rutin dilakukan. Selepas selesai shalat Isya beberapa jama'ah sudah duduk melingkar mereka bersiap untuk mengikuti rutinitas pengajian sambil menunggu beberapa orang yang sedang melakukan shalat sunnah ba'diyah. Saya sendiri selalu dilibatkan tepatnya diminta sesepuh dan jamaah musholah untuk memimpin jika kebetulan saya berkesempatan hadir pada pengajian tersebut. Tidak seperti biasaya pengajian yang biasanya ramai dengan puluhan jama'ah, malam ini hanya belasan jama'ah yang hadir. Salah satu pengurus musholah menyalakan pengeras suara dan memberikan kata pengantar sebelum memulai pengajian. Saya membatin, kenapa kegiatan seperti ini masih dilaksanakan padahal Pemerintah sudah melakukan himbauan untuk tidak melaksanakan kegiatan yang mendatangkan banyak masa. Apakah sudah ada sosialisasi dari Pengurus RW atau RT dilingkungan kami? Dan jujur saja secara pribadi saya juga belum membahas ini sebelumnya dengan Pengurus Musholah dan sesepuh setempat. "Alhamdulillah mumpung Pak Ustadz hadir, kami persilahkan untuk memimpin pengajian." Ungkapnya seraya memberikan microphone pada saya.
Read More…

Virus Corona Masa Depan Kita


Rafif Pamenang Imawan

Kamis, 26 Maret 2020
Pagi ini kami bangun agak siang, pukul 7 pagi, biasanya kami bangun pukul 5 pagi. Hari ini tidak banyak kegiatan yang saya lakukan, di pagi hari saya mendapatkan undangan sarapan dari mas Agus, kami menyantap nasi pecel pagi hari itu. Menyantap nasi pecel mengingatkan saya pada kampung halaman ibu saya, yakni berada di kota Madiun. Kota ini memiliki banyak kenangan untuk saya, ketika kakek dan nenek masih hidup, kami sering menghabiskan waktu lebaran di kota ini. Ibu saya bercerita bahwa dirinya sempat mengalami peristiwa pembantaian 30 September 1965. Kala itu ibu saya masih berusia 6 tahun, ibu bercerita bahwa terdapat orang-orang dengan memakai pakaian-pakaian serba hitam, berjalan di tengah kota sembari menyanyikan lagu gendjer-gendjer. Kala itu ibu saya diminta untuk tetap berada di rumah, hingga muncul kabar banyak kepala manusia yang ada di sungai Madiun. Read More…

Ingin Segera Sudah


Hartanto Rosojati

Hari Kesepuluh
Pendingin ruangan dimatikan. Hasilnya bangun di pagi hari sedikit berkeringat, namun suhu tubuh masih saja terasa lebih hangat. Kepala sudah tidak lagi pusing.

Tak beranjak, suara "yur..sayur" terdengar dari luar. Ingin rasanya membeli bahan makanan dan tentunya kerupuk, namun raga ini enggan terbangun. Teringat pesan kawanku, "sing penting diwaregi". Karena itulah semangkuk sereal dilanjutkan mie rebus dan telur dengan ditambah nasi langsung digeber untuk menu pagi dan siang hari. BERKERINGAT. Read More…

Siapakah Aku?

Erwinton Simatupang


Kelaparan hebat memukul sebuah negeri. Juru statistik mencatat, lebih dari 30 juta orang menjadi korban kelaparan itu. Yang lain memperkirakan jumlahnya sekitar 45 juta orang. Kendati berselisih soal angka kematian, semuanya sepakat satu hal: kelaparan tersebut adalah tragedi kemanusiaan.

Di tengah masalah itu, penguasa negeri itu memberikan peluang kepada pengusaha untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kesempatan itu dimanfaatkan pengusaha setidaknya dengan dua cara: 1) menggarap pertanian dan peternakan; dan 2) melakukan perburuan dan perdagangan hewan liar. Semula, cara kedua itu ilegal. Namun, penguasa akhirnya memilih untuk melegalkannya, sebab cara itu terbilang ampuh mengatasi persoalan kelaparan dan membuka kesempatan penghidupan bagi orang-orang.
Read More…

Covid-19, Ilmu Pengetahuan, dan Krisis Lingkungan



Rafif Pamenang Imawan

Rabu, 25 Maret 2020
Pagi hari ini berbeda, hari ini adalah hari raya nyepi, sebuah hari besar untuk pemeluk agama Hindu. Saya tidak terlalu mengerti makna hari raya nyepi, makna sederhana yang saya tangkap adalah pengendalian diri terhadap sikap serakah manusia, serta mengembalikan kembali seluruh kehidupan ke alam semesta. Pada hari raya nyepi ini, pemeluk agama Hindu melakukan puasa dan pengendalian diri dengan cara tidak keluar rumah. Saat ini, mayoritas warga dunia dipaksa untuk berada di rumah, melakukan segala aktivitas di rumah. Pada titik ini, seharusnya manusia paham bahwa kita yang bergantung pada alam dan bukan sebaliknya.


Read More…

Tenaga Medisku

Nona Evita

Hari ini, di tengah berita seputar COVID-19, ada berita yang menyebabkan breaking news di sore hari. Berita duka datang dari Solo. Ibunda dari Bapak Presiden Joko Widodo tutup usia di usianya yang ke-77 tahun. Untuk Pak Jokowi, saya tidak bisa membayangkan perasaan Bapak. Di tengah wabah yang statusnya sudah menjadi bencana di tanah air ini, Pak Presiden harus terpukul jiwanya karena kehilangan salah satu orang yang dicintainya, mungkin orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Benar-benar Pak Jokowi sedang diuji di periode ke-2 ini.
Hari ini, di tengah berita seputar COVID-19, ada berita yang menyebabkan breaking news di sore hari. Berita duka datang dari Solo. Ibunda dari Bapak Presiden Joko Widodo tutup usia di usianya yang ke-77 tahun. Untuk Pak Jokowi, saya tidak bisa membayangkan perasaan Bapak. Di tengah wabah yang statusnya sudah menjadi bencana di tanah air ini, Pak Presiden harus terpukul jiwanya karena kehilangan salah satu orang yang dicintainya, mungkin orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Benar-benar Pak Jokowi sedang diuji di periode ke-2 ini.


Saya langsung tiba-tiba perhatian dengan Ibu saya. Saya amati setiap gerak geriknya. Sepertinya kebijakan #dirumahaja yang sedang diberlakukan sekarang, membuat Ibu saya bekerja ekstra keras di rumah tangga. Dari pagi hingga sore saya melihat dia selalu di dapur saja. Ada saja yang dikerjakan. Entah itu masak, bersihkan dapur, menyiapkan jus, membuat jamu. Ibu saya saat mendengar kabar Ibunda Pak Jokowi meninggal langsung berkata: “Kalau seorang Ibu di rumah udah ga ada, runtuh deh tuh rumah”, ucapnya dengan gaya ceplas ceplosnya.

Read More…

Bertahan di Jakarta

Nurul Fatin Afifah

Nak, sudah bangun kan?

Pagi ini tepat pukul 07.25 saya dibangunkan oleh suara telfon dari Ibu yang sedang berada di perjalanan menuju Jakarta. Beberapa hari terakhir ini semenjak Jakarta di hebohkan oleh meningkatnya jumlah korban Covid 19 suara telfon hampir tiap jam berdering. Hari ini, Rabu 25 Maret 2020 keluarga dari Indramayu bermaksud untuk datang ke Jakarta untuk menjemput saya pulang ke rumah di Indramayu. Keluarga cukup khawatir dengan berita yang beredar di media sosial bahwa Jakarta terlihat tidak aman dan membahayakan. Keluarga meyakini bahwa di kampung sangat aman, tidak ada orang yang terkena virus, mereka memohon agar saya mau diajak pulang supaya aman bersama keluarga.

Pukul 10.00 Wib keluarga sudah berada di kostan. Saat itu, saya mencoba meyakinkan bahwa kondisi saya disini sehat dan akan baik- baik saja. Ada dua pertimbangan mengapa saya benar-benar tidak bisa pulang ke rumah, Pertama, Kebijakan Work From Home dari Populi Center yang memperbolehkan stafnya bekerja dari rumah sehingga bisa mengurangi intensitas bertemu dengan banyak orang. Justru saya sangat khawatir jika harus pulang ke rumah dan akan menyebarkan virus bagi orang-orang di kampung. Indramayu yang masih zona hijau bisa jadi terdampak dengan adanya kehadiran perantau yang pulang kampung. Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Sumedang, karena warganya nekat mudik ODP (Orang Dalam Pemantauan) Corona meningkat menjadi 1.807 orang. Kedua, fasilitas kesehatan di Jakarta lebih lengkap dan memadai untuk penanganan wabah Covid 19 sehingga jika ada kemungkinan terburuk sekalipun, pemerintah di DKI Jakarta pasti lebih singgap jika dibandingkan dengan daerah-daerah. Fasilitas kesehatan di daerah bukan berarti buruk tapi di Jakarta sebagai pusat Ibukota negara sudah pasti memiliki fasilitas kesehatan lebih baik. Read More…

Sepinya Nyepi

Hartanto Rosojati

Hari Kesembilan
Mendadak pusing, panas tubuh lebih hangat dari biasanya. Itulah kondisi sesaat terbangun di pagi hari. Apakah itu efek karena saya keluar kosan untuk mencari galon air?

Selamat Nyepi, di hari yang sepi.
Suara nyaring terdengar. Sendok dan mangkuk beradu. Begitulah seorang penjual bubur ayam memanggil pembeli. Beberapa hari ini saya perhatikan dari balkon di lantai 2, sembari saya berjemur menikmati asupan vitamin D. Penjual bubur tersebut nampak lesu. Hari-hari biasa banyak warga sekitar yang berkerumun. Biasanya sekitar pukul 10.00 pagi ia pulang, tanpa memukul mangkuk dengan sendok, pertanda sudah habis. Namun dari dua hari yang lalu kondisinya berbeda. Kini, ia harus pulang lebih dari jam biasanya. Yang biasanya tidak berkeliling, kini ia harus mendorong gerobaknya, menjemput rezeki sambil berteriak, “bubur ayaammm…..”. Read More…

Mendadak Laboran!

Nona Evita

Hari ini saya dedikasikan tulisan saya untuk Papa saya. Papa saya orang yang suka bereksperimen. Dari dulu ada saja temuan-temuan uniknya. Papa saya bukan disabilitas, tapi ada cacat sedikit di lehernya karena kecelakaan yang dialami saat dirinya berusia 17 tahun. Tidak seperti orang umum yang bernafas lewat hidung, Papa bernafas lewat lehernya yang berlubang, akibat kecelakaan saat berusia 17 tahun. Lubang leher jelas berbeda dengan lubang hidung. Saya bukan orang yang bisa menjelaskan seperti dokter dengan bahasa-bahasa kedokteran yang tepat. Tapi sepengamatan saya, lubang leher harus ada alat penyangga supaya lubang tersebut tidak menyempit. Mungkin lubang leher lebih elastis dibanding lubang hidung.

Read More…

Guratan Minda (3):


Jefri Adriansyah

26 maret 2020

Lapar!, tepat pukul 00.35 perutku meronta-ronta setelah apa yang ada di dalamnya terkuras habis akibat tugas kuliah yang menggunung. Kuputuskan untuk keluar indekos sejenak mencari kudapan yang bisa membuat tidurku lebih terjaga. Nasi goreng seberang indekos nampaknya nikmat.

“Sego goreng pak, siji, endog e dipisah wae, pedes e sedeng, pangan kene wae”, ujarku, kepada sang penjual yang aku tahu dia adalah orang Jawa. Biasanya ketika beli nasi goreng saya selalu memintanya untuk di bungkus dan baru kusantap di indekos. Tapi waktu itu, ku putuskan untuk menyantapnya di samping sang penjual.
Read More…

Guratan Minda (2)


Jefri Adriansyah



25 maret 2020
Sepi, kala hari ini perayaan Nyepi tidak hanya dijalankan sebagai ritus agung umat Hindu. Semua nampak lengang, kedai minuman kekinian “Haus” dan “Mynum” di dekat indekos tidak seramai biasanya. Udara Jakarta yang sebentar lagi kehilangan status sebagai ibu kota pun nampak lebih segar dari biasanya. Tapi banyak rakyat tak bisa menikmatinya. Tentu karena mereka harus mengenakan penutup hidung. Ya! hari ini wabah Covid-19 masih belum mereda, kecemasan masih nampak di mata setiap orang yang melintas di depan saya.

Kebosanan membuat saya terpaksa keluar indekos untuk menuju kantor pukul 08.30 WIB. Tak jauh memang kantor dengan indekos, karenanya pula saya beranikan diri untuk berpergian. Tentu bukan hal yang layak dicontoh!. Mungkin kalau Indonesia adalah Rusia, kawanan Singa sudah mengejar saya untuk dijadikannya sarapan. Read More…

Belajar kembali Ekonomi Politik

Usep S. Ahyar

Bermula dari kebutuhan visual untuk kuliah online dari rumah, saya berselancar mencari bahan video tentang kebijakan ekonomi politik di Youtube agar mahasiswa Mata kuliah Ekonomi Politik yang saya ampu mudah memahami materi dan belajar sambil menonton biar tidak membosankan. Perselancaran saya sampai pada film-film dokumenter yang dibuat oleh Dandhy Laksono dan Ucok Suparta, dua jurnalis Watchdoc Documentary Maker yang berkantor di Jakarta. Film-film tersebut sejatinya adalah hasil perjalanan keduanya mengelilingi Indonesia selama 365 hari dari Januari sampai Desember 2015 bertajuk Indonesia Biru. Karena asyik, saya menonton habis 7 film dokumenter (kabarnya ada 5 film lagi sedang dalam proses) hasil suntingan Dandhy tersebut yang rata-rata menceritakan mengenai ketidakadilan ekonomi Indonesia akibat dari kebijakan yang kurang cermat, disamping menceritakan keindahan alam dan kearifan lokal yang terancam punah.
Read More…

Menjalankan Maklumat

Dimas Ramadhan

24 Maret 2020
Pada Senin, 16 Maret 2020, Direktur Eksekutif Populi Center Hikmat Budiman memberikan maklumat kepada seluruh stafnya mengikuti anjuran pemerintah, yakni membatasi interaksi dan mobilitas masing-masing untuk kemudian melakukan segala sesuatu terkait pekerjaan di rumah selama paling tidak dua minggu. Sempat terbesit keinginan untuk berkunjung dan tinggal sementara di rumah ibu mertua di Subang mengingat sekolah tempatnya mengajar diliburkan dan dia hidup seorang diri disana. Namun setelah berdiskusi dengan istri, niat tersebut kami urungkan mengingat sebagian besar korban meninggal akibat virus Corona ialah orang-orang berusia lanjut, terutama yang sebelumnya memang punya penyakit lain.
Read More…

Kita Putus, Aku Mau Fokus UN!

Hartanto Rosojati


Hari Kedelapan

Bregas waras, kondisi fisik prima. Begitulah kondisi hari ini.

Hari ini sebuah kalimat receh menyeruak.
“Kasihan anak sekarang, gak bisa mutusin pacarnya dengan alasan fokus UN”.

Seperti kita tahu, Nadiem Makarim telah melakukan rapat online dengan Komisi X DPR. Hasilnya adalah penghapusan Ujian Nasional UN tahun 2020, alasannya karena virus si koro-koro ini sudah mewabah. Keamanan dan kesehatan siswa-siswi serta keamanan keluarga menjadi alasan nomor satu dari prinsip dasar Kemendikbud. Read More…

COVID-19 Versi Anak

Nona Evita


Hari ini, tidak seperti biasanya. Di rumah Ibu saya, ada jam khusus yang diperbolehkan untuk menyalakan televisi. Peraturan tersebut berlaku semenjak saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak dan masih berlaku hingga sekarang. Peraturan tersebut dibuat karena dulu orang tua saya kerja dan saya hanya dijaga oleh baby sitter dan asisten rumah tangga. Saat itu orang tua Ibu saya tinggal di India dan nenek saya dari ayah sudah sakit stroke jadi tidak bisa ikut mengawasi saya yang masih kecil karena geraknya terbatas. Saat itu di era 90an marak sinetron di siang-sore hari yang bukan kategori layak tonton untuk anak-anak. Jadi, orang tua saya memilih dibanding baby sitter dan asisten rumah tangga tidak bisa memilah tontonan yang pas untuk anak-anak, maka orang tua saya memutuskan untuk menyalakan televisi hanya saat orang tua saya sudah pulang ke rumah.

Read More…

Populi vs Corona

Erwinton Simatupang


Apa yang dilakukan oleh orang-orang di Populi Center seandainya virus Corona adalah seorang durjana dan menyerang Populi Center?
Saya kira, Mas Jefri Adriansyah tanpa diberi komando dengan segera menerjangnya. Dari tulisan berjudul “Gugatan Minda (1)”, Mas Jefri tak ragu untuk ‘bertindak tegas’ terhadap virus Corona. Setelah menyinggung dampak negatif COVID-19 dan respon masyarakat, ia menuliskan begini: “’Bangsat’ tak terlihat ini tak pernah pandang siapa korbannya.” Barangkali, karena “semua kini serba tak pasti”, seperti dituliskannya, ia dengan sesingkat-singkatnya menerjang virus Corona.
Read More…

Guratan Minda (1)

Jefri Adriansyah

24 maret 2020
Semua berbalik 180 derajat. Orang dulu mentertawakan ketika kembalinya para Diaspora Indonesia dari Wuhan, China, harus disemprot oleh cairan disinfektan oleh petugas berbaju layaknya astronot, ketika turun dari pesawat Airbus A330-300 CEO. Begitu juga ketika meme orang Indonesia belum terserang Covid-19 karena kita adalah generasi micin. Kini candaan tersebut sirna, death rate akibat Covid-19 di Indonesia salah satu yang paling tinggi di Dunia, ketika negara lain ada yang masih nihil korban jiwa (Arab Saudi, Qatar, dan Russia), meski yang positif mengidap Covid-19 jumlahnya tidak jauh beda dengan Indonesia. Di Kalipakis, Bantul, bahkan warga desanya berinisiatif dan berinovasi memasang gerbang disinfektan otomatis.

Read More…

Hari Ketujuh


Hartanto Rosojati


(23/03/20)
Raga sehat, jiwa kuat. Jalan Asem Baris sepi? Entahlah! Hari ini mengurung diri di kosan. Tapi kemarin, jalan utama tempat saya biasa cari makan masih saja ramai. Apakah memang acuh terhadap kondisi pagebluk ini atau mereka tidak punya pilihan lain selain memang harus berjualan.

Menu sehat hari ini adalah sereal di pagi hari. Nasi panas dan telur dadar untuk lunch. Sop daging kiriman kang ojek dari Pengadegan untuk menghangatkan hati yang mulai dingin di malam hari. Read More…

WFH Hari Ketujuh

23 Maret 2020

Nona Evita

Hari ini adalah hari ke-7 Work From Home atau yang lebih dikenal dengan istilah WFH. Hari ini seperti biasa, saya masih terus mencari informasi mengenai COVID-19 yang menjadi penyebab adanya kebijakan WFH baik secara internal Populi Center, maupun secara nasional, di samping menyusun tulisan riset Jakarta yang sudah ditentukan jadwal pengumpulan pada hari Jumat, 27 Maret 2020.

Ini adalah hari pertama Populi Center mengeluarkan kebijakan membuat mini log of activity berbentuk narasi kepada seluruh staffnya. Saya ingin merangkum apa saja yang saya sudah kerjakan selama 7 hari. Jujur saja, dalam 7 hari ini energi dan pikiran saya hanya terpusat pada COVID-19 mengingat saya memiliki Ibu dan Bapak yang sudah lanjut usia. Mereka masing-masing berusia 64 tahun (Ibu) dan 68 tahun (Bapak). Sementara informasi yang saya dapat, COVID-19 sangat rentan untuk usia di atas 50 tahun karena daya tahan tubuh yang tidak seprima usia di bawah 50 tahun.

Read More…

Membaca, Membaca, Membaca

Selasa, 24 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Semenjak bekerja di Jakarta, salah satu hobi saya adalah membeli buku, namun sayangnya banyak waktu yang habis di jalan raya, membuat waktu membaca tidak lagi ada. Setiap hari saya kembali ke rumah dalam kondisi badan yang sudah letih. Kondisi ini berkebalikan dengan kondisi saya sewaktu di Yogyakarta, saya memiliki waktu untuk membaca, namun tidak memiliki uang untuk membeli buku. Saat ini, saya memiliki uang untuk membeli buku, namun tidak memiliki uang untuk membaca.
Read More…

Belanja di Giant

Senin, 23 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Pagi hari ini saya mendapatkan whatsapp dari Hartanto Rosojati. Beliau meminta ID akun Skype saya, rupanya rekan-rekan hendak membuat teleconference. Sudah lama saya tidak menggunakan akun skype, setelah melakukan beberapa langkah, termasuk mengubah password akun saya, akhirnya saya online skype. Saya melakukan panggilan ke Hartanto dan Jefri, setelah berbincang-bincang, tidak terlalu lama bergabung pak Usep dan pak Ade. Kami berbincang agak lama, terutama membicarakan bagaimana presentasi menggunakan skype sebagai mediumnya. Setelah tidak lagi berbincang-bincang, saya diminta oleh istri saya untuk membeli beberapa kebutuhan pokok di Giant. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah saya, lebih dekat dari pada kami harus ke Superindo.
Read More…

Bosan #Dirumahaja

Minggu, 22 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Hari minggu ini, kami tidak melakukan aktivitas berarti. Saya lebih banyak beristhirahat di rumah dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Hari ini saya membersihkan dumbbell yang sudah lama tidak saya pakai, saya memutuskan untuk lari sejenak menggunakan treadmill di rumah. Siang hari saya memasak daging, dan sore harinya memakan roti dengan putih telur. Aktivitas ini sudah seperti mode otomatis untuk saya. Meski demikian, di tengah hari ini, saya mendapatkan informasi dari group whatsapp bahwa pemerintah kota Bekasi akan melakukan tes massal di stadion Patriot.
Read More…

Belanja di Kota Wisata

Sabtu, 21 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Pagi hari, kami bersiap untuk pergi ke pasar bersih di kota wisata. Sebenarnya kami tidak ingin keluar rumah, namun dikarenakan bahan makanan kami habis, maka kami terpaksa keluar rumah. Pada dasarnya kami memiliki opsi untuk berbelanja di pasar Kranggan, lokasinya lebih dekat dengan rumah, namun dikarenakan factor kebersihan dan besarnya pasar, kami memilih tetap berbelanja di pasar bersih kota Wisata. Pertimbangannya cukup jelas, dengan berbelanja di pasar bersih yang notabenya lebih luas, kami dapat menerapkan prinsip social distancing.
Read More…

Religiusitas Petisi Online dan #Dirumahaja

Jum’at, 20 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Hari ini, istri saya tetap masuk kerja seperti biasa. Tidak banyak yang saya lakukan pada hari ini. Badan saya sedikit tidak enak, tenggorokan sakit, dan nampaknya akan flu. Saya atasi masalah ini dengan meminum obat warung, saya biasa meminum OBH Herbal, termasuk didukung dengan minuman vitamin C dosis tinggi. Pagi hari saya lewatkan dengan rebahan, saya sudah sedikit bosan di rumah, namun di sisi lain lebih baik bagi saya untuk tetap berada di rumah. Saya gunakan waktu dari pagi hingga menjelang siang untuk berkebun. Beberapa tanaman seperti lidah mertua, sudah tumbuh anak-anaknya. Saya memindahkan tanaman-tanaman ini sembari membersihkan daun-daun kering dari tanaman yang telah mati.
Read More…

Corona, Keluarga, dan Asmara

Erwinton Simatupang


“TUTUP”.
Kata itu terpampang jelas di pintu masuk sebuah klinik. Padahal, saya datang ke tempat itu di waktu kerja, bukan waktu istirahat, sekitar pukul 11.00 WIB. Menurut penjaga klinik, sang dokter tak membuka jasa pelayanan sejak virus Corona menyerang negeri ini. Kepastian kapan sang dokter beraktifitas seperti biasa juga masih tanda tanya.
Read More…

Kebijakan Work from Home

Kamis, 19 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Pada hari ini, istri saya masuk ke kantor. Hal ini agak mengherankan bagi saya, sebagai informasi, istri saya bekerja di ASEAN. Sebagai lembaga multinasional, ASEAN bukanlah lembaga yang mencari profit. Entah dengan alasan apa, ASEAN tetap mewajibkan karyawannya untuk masuk ke kantor. Di pagi hari kami melakukan aktivitas seperti biasa, termasuk mandi dan menyiapkan sarapan. Tidak banyak hal yang saya lakukan di hari ini, saya melanjutkan membaca buku “Polusi DKI Jakarta” dan dilanjutkan membaca buku “Mengurai Benang Kusus Kemacetan Jakarta”. Kedua buku ini memiliki titik tolak berangkat yang berbeda, namun keduanya membahas satu hal yang sama, yakni mengenai tidak adanya pembatasan kendaraan bermotor serta minimnya opsi sarana transportasi publik.
Saya akan membahas benang merah dari masing-masing buku yang saya baca. Read More…

Kebutuhan Pokok Langka?

Rabu, 18 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Hari ini istri saya masih belum masuk kerja, karena diminta oleh dokter untuk beristirahat selama dua hari. Tidak banyak yang saya lakukan pada hari ini, pada pagi hari kami melakukan aktivitas yang rutin kami lakukan, beribadah, mandi, dan menyiapkan sarapan sederhana, berupa roti panggang dan putih telur. Hari ini kami berencana untuk berbelanja di Superindo yang berada tidak jauh dari rumah, sembari menunggu toko tersebut buka, saya memutuskan untuk menyusun buku-buku yang saya bawa dari kantor, untuk keperluan menulis draf tulisan saja untuk riset Jakarta. Setelah hari agak siang, kami memutuskan untuk berangkat ke Superindo, guna membeli beberapa kebutuhan pokok.
Read More…

Kebijakan Pasca Pasien Pertama

Selasa 17 Maret 2020

Rafif Pamenang Imawan

Hari ini merupakan hari pertama kebijakan WFH yang diterapkan oleh Populi Center. Kebijakan ini dilakukan setelah diadakannya rapat darurat di kantor pada hari Senin (16 Maret 2020) yang menyetujui bahwa pelaksanaan kerja harian di kantor dilakukan di rumah. Sebelum keputusan ini diambil, terdapat dua opsi pilihan yang ditawarkan, yakni bekerja dengan sistem shift (dua hari masuk kerja, dua hari bekerja dari rumah) dan bekerja sepenuhnya dari rumah (WFH). Opsi terakhir yang diambil oleh kantor, oleh karenanya mulai hari ini kami melakukan kerja dari kantor.
Read More…