Darin Atiandina

Genderless Society, Apakah Mungkin?




Cover Buku Feminist Thought



Judul Buku: Feminist Thought
Bab: “Radical Feminism”
Penulis: Rosemarie Tong
Penerbit: Westview Press
Tahun Terbit: 2009
Jumlah Halaman: 401
Skor : 3/5


Kelompok feminis radikal mengklaim bahwa satu-satunya cara untuk menciptakan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki adalah dengan cara menghilangkan atau meniadakan konsep seks/ gender. Gagasan atau cara untuk mewujudkan kondisi masyarakat tanpa gender pun beragam. Shulamith Firestone, misalnya, mengusulkan agar reproduksi alami (in utero) digantikan dengan reproduksi buatan (ex utero) sehingga perempuan tidak perlu memainkan identitas sebagai ibu dan berperilaku feminin, begitu pula laki-laki tidak perlu memainkan peran sebagai bapak dan berperilaku maskulin. Gagasan lain adalah menciptakan kesadaran antara laki-laki dan perempuan bahwa tidak ada hal lain yang membedakan mereka, kecuali jenis kelamin keduanya. Pertanyaannya, suatu kondisi masyarakat yang gender-less, apakah memungkinkan?


Read More…

Refleksi Pemilu Indonesia Lewat Film Please Vote for Me




Cover Please Vote For Me


Judul
: Please Vote For Me
Genre : Dokurama/Politik
Sutradara : Weijun Chen
Tahun Rilis : 2007
Durasi : 58 Menit
Skor : 4/5




“Apa yang dimaksud dengan demokrasi?” tanya Cheng Cheng, seorang siswa kelas tiga sekolah dasar di Wuhan, Cina kepada ayahnya. Di negara yang sejak tahun 1949 rezim pemerintahannya telah dipimpin oleh oleh Partai Komunis Cina (PKC) itu, konsep demokrasi tentunya masih terdengar asing. Tidak hanya bagi anak-anak yang masih polos, belum memiliki pengalaman sama sekali dengan demokrasi, atau pemilihan umum langsung, orang dewasa di sana pun masih merasa jauh dengan apa yang disebut oleh Presiden ke 16 Amerika Serikat, Abraham Lincoln, sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untk rakyat tersebut.

Cheng Cheng pertama kali mendengar kata demokrasi dari gurunya, Ms. Zhang, “Berbeda dengan yang sebelumnya, kita akan menggelar pemilihan yang demokratis untuk ketua kelas.” Anak-anak yang baru pertama kali mendengar kata yang berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan atau pemerintahan) itu pun hanya bisa mengangkat alis serta mengerutkan dahi kebingungan. Sudah menjadi semacam tradisi di tempat Cheng Cheng bersekolah untuk ketua kelas ditunjuk langsung oleh sang guru. Tapi, kini Ms. Zhang menginginkan sesuatu yang berbeda, yakni, ketua kelas bisa dipilih oleh masing-masing anggota kelas lewat pemilihan umum. Siapa yang dipilih paling banyak, maka dia yang akan menjadi ketua kelas. Tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah untuk memperkenalkan konsep demokrasi kepada murid-murid sekolah dasar.Read More…

Book Chapter Review: Cara Barat Memandang Timur: Orientalisme





Cover Orientalism


Judul Buku: Orientalism
Judul Bab yang Ditinjau: Chapter 1: The Scope of Orientalism
Penulis: Edward W. Said
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 2003
Jumlah Halaman: 396

Skor : 3/5



Sudah seperti kebiasaan bagi saya dan kedua orangtua saya untuk menghabiskan akhir pekan dengan menonton film di ruang tengah rumah kami. Kami biasanya tidak memilih film tertentu alias terima jadi dan menonton segala macam film yang sedang tayang di televisi. Sore itu kami menonton London Has Fallen (2016), sebuah film yang bercerita tentang misi sekelompok teroris untuk membunuh para pemimpin dunia yang menghadiri pemakaman Perdana Menteri Inggris di London serta aksi agen secret service, Mike Banning (diperankan oleh Gerrard Butler), untuk melindungi Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher dari serangan tersebut. Layaknya kebanyakan film produksi barat lainnya, yang diposisikan sebagai pihak penyerang dalam film ini adalah orang Timur Tengah, sang penjahat berasal dari Pakistan. Sementara itu, yang diposisikan sebagai pihak yang diserang serta berakhir menjadi pahlawan adalah orang Barat.

Komposisi film yang terdiri dari barat-pahlawan serta timur-penjahat mengingatkan saya pada salah satu karya Edward W. Said, yakni Orientalisme. Buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1978 itu kini telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam 36 bahasa. Buku dengan tebal 396 halaman tersebut terdiri dari tiga bagian utama, yakni the scope of orientalism, orientalist structures and restructures, orientalism now. Tulisan ini akan mengulas bab pertama dari buku Orientalisme: the scope of orientalism. Namun, sebelum itu ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan orientalisme. Read More…

Film Review: Menghapus Mitos Menstruasi Lewat Film Pad Man




Pad Man Poster

Judul Film: Pad Man
Genre: Drama-Comedy
Sutradara: R. Balki
Tahun Rilis: 2018
Durasi: 140 menit

Skor : 4/5



“Jika hati bersih, semua akan bersih,” begitu kata Gayatri ketika suaminya, Lakshmikant Chauhan, memarahi dirinya yang menggunakan kain kotor saat menstruasi. Lakshmi merasa begitu kesal sekaligus sedih saat mengetahui istri yang teramat ia cintai itu menggunakan kain kotor sebagai ganti dari pembalut. Saking kotornya kain tersebut, Lakshmi bahkan enggan menggunakannya untuk sekedar mencuci sepeda. Sebagian besar perempuan di India bernasib sama dengan Gayatri. Penelitian mengungkapkan 89% perempuan di India masih menggunakan kain ketika menstruasi, sisanya sebanyak 2% menggunakan kapas (2%), 7% menggunakan pembalut, dan 2% menggunakan abu ketika menstruasi (Pallapothu, 2018). Bukan masalah jika kain yang dipergunakan adalah kain bersih. Namun, akan jadi masalah ketika kain yang digunakan adalah kain kotor yang dicuci ala kadarnya kemudian dijemur tanpa terkena sinar matahari langsung. Mitos, kesalahpahaman, serta stigma di India akan menstruasi yang membutakan kesehatan perempuan adalah isu yang coba diangkat dalam film Pad Man.
Read More…

Article Review: The Tragedy of the Commons

f363c-illustration-public-domain-tragedy-e1547452760913
Sumber ilustrasi: fritsahlefeldt.com

Judul Artikel: The Tragedy of the Commons
Penulis: Garret Hardin
Tahun Terbit: 1968
Penerbit: American Association for the Advancement of Science
Jumlah Halaman: 6

Skor : 4/5



Artikel berjudul The Tragedy of Commons yang ditulis oleh Garret Hardin secara garis besar berbicara mengenai fenomena populasi manusia yang semakin hari terus mengalami peningkatan, akan tetapi, tidak berbanding lurus dengan sumber daya yang ada di dunia untuk memenuhi kebutuhan populasi tersebut. Seperti apa yang dikatakan Thomas Malthus, Hardin mengibaratkan pertumbuhan penduduk seperti deret ukur (1,2,4,8…), sementara pertumbuhan sumber daya sama seperti deret hitung (1,2,3,4,5…). Yang artinya, jumlah manusia yang hidup di bumi terus bertambah di tengah pertumbuhan sumber daya yang terbatas.

Sama seperti judul artikel yang ditulisnya, tragedy, menurut Hardin seluruh sumber daya di dunia akan berakhir dengan tragedi. Hardin memberi contoh dengan meminta pembacanya membayangkan sebuah padang rumput terbuka. Padang rumput ini yang disebut Hardin sebagai sumber daya bersama atau commons. Hardin mengatakan tragedi akan terjadi begitu para penggembala mengetahui hewan ternak mereka bisa secara bebas memakan rumput di padang tersebut. Para penggembala akan mulai berdatangan membawa ternak pula. Keesokan harinya, para penggembala itu datang lagi dengan jumlah ternak yang lebih banyak. Kedatangan penggembala dan ternak akan terus berulang dan jumlahnya akan terus bertambah sampai akhirnya rumput di padang itu habis, berakhir punah karena tidak sanggup lagi menanggung beban populasi ternak.

Read More…

Film Review: Joshua Wong dan Gerakan Sosial di Hong Kong


Joshua_ Teenager vs_ Superpower (2017) - Mobilized by teenage activist Joshua Wong, young citizens of Hong Kong take to the streets in a bid to preserve their history of autonomy from China
Judul Film: Joshua Wong. Teenager Vs. Superpower
Genre: Dokumenter
Sutradara: Joe Pistaclla
Tahun Rilis: 2017
Durasi: 78 menit

Skor : 4/5



Tubuhnya kurus, tidak terlalu tinggi, berkacamata tebal, serta hobinya adalah bermain video game. Sekilas, Joshua Wong nampak seperti kebanyakan pelajar di Hong Kong. Tetapi, nyatanya ia tak sama. Yang membuat pria dengan nama asli Wong Chi-Fung ini berbeda adalah keberanian yang dimilikinya. Joshua Wong, sejak usia 14 tahun sudah menunjukkan ketangguhannya untuk menentang kekuasaan Beijing di Hong Kong. Ketika remaja lain seusianya sibuk menghabiskan libur musim panas dengan bermain, Joshua memilih untuk memimpin Scholarism, sebuah gerakan sosial yang memprotes rencana pemerintah untuk menerapkan program Pendidikan Nasional dan Moral (NME).

Kisah Joshua menjadi pencetus sekaligus pemimpin Scholarism, kemudian keterlibatan pemuda itu dalam serangkaian aksi protes lainnya di Hong Kong diceritakan dengan apik oleh sutradara Joe Piscatella lewat film dokumenter berjudul ‘Joshua Wong: Teenager vs. Superpower’. Film keluaran Netflix yang diluncurkan pada 2017 ini sekaligus memberikan gambaran kepada penonton soal awal mula perkembangan gerakan sosial di Hong Kong. Bisa dikatakan, gerakan sosial di Hong Kong perkembangannya tidak akan semasif saat ini tanpa kehadiran Joshua. Read More…