Novel

Book Review: Dominasi Elit dan Penyalahgunaanya




profile image Ade Ghozali |
Peneliti Populi Center
Cover Buku

Judul Buku: Habib Palsu Tersandung Cinta
Penerbit: Pinus Book Publisher, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2010
Jumlah Halaman: 234 Halaman
Penulis : Ubay Baequni



Secara fitrah (alamiah) sifat dasar manusia adalah egois bertindak sesuai dengan keinginannnya (free will) dan selalu melakukan upaya dominasi terhadap di luar dirinya. Namun sebagai mahluk sosial, keinginan-keinginan tersebut dibatasi oleh konsensus untuk hidup bersama. Dengan kata lain kebebasan diri manusia dibatasi oleh hak orang lain. Meskipun demikian, faktor kepentingan pribadi dan kelompok menjadikan beberapa individu untuk membentuk ikatan tertentu dalam upaya untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan, pengakuan dan dukungan sosial untuk mempengaruhi dan mendominasi diluar diri dan kelompoknya.

Kondisi diatas lazim terjadi pada lingkungan kita tidak terkecuali dalam kehidupan di pondok pesantren. Relasi patronase di pondok pesantren, dimana patron dalam hal ini adalah dominasi Kyai dengan segala kelebihannya terhadap client (santri) yang memberikan loyalitas penuh, ketaatan dan pengabdian. Pola relasi yang demikian dalam konteks kehidupan pesantren ini saya lebih suka menyebutnya sebagai bagian sikap ta’dzim santri kepada guru (Kyai). Patronase dalam kehidupan pesantren tidak hanya antara santri dengan kyai dan ustadz namun juga terjadi pada sesama santri. Pada pola relasi patronase ideal antar santri biasanya ditentukan jenjang tingkatan santri itu sendiri. Mereka yang angkatannya lebih tinggi menjadi pihak patron untuk santri dibawahnya. Meskipun demikian kondisi ini sering kali tidak berlaku untuk santri yang memiliki ‘darah biru’. Istilah ini merujuk bagi para santri yang memiliki keistimewaan dari sisi silsilah kekerabatan. Kalangan Gus dan Sayyid adalah termasuk di dalamnya.

Bagi santri yang termasuk dalam salah satu kelompok tersebut mendapatkan perlakuan khusus meskipun secara jenjang tingkatan Pendidikan di pesantren masih tergolong junior. Penghormatan bagi kedua kelompok tersebut terbilang istimewa termasuk dalam penerapan peraturan pesantren. Sudah menjadi rahasia umum, jika kedua kelompok tersebut melanggar peraturan pesantren misalnya, supremasi hukum bagi keduanya sering kali tumpul karena sikap segan pengurus pesantren. Jikapun tetap diterapkan hukuman tentu akan berbeda perlakuannya dibandingkan santri lainnya. Bahkan sang kyai sebagai pemegang otoritas tertinggi di pesantren pun segan dan hormat khususnya bagi kelompok kedua (Sayyid). Dalam konsep Islam sesungguhnya semua manusia dalam pandangan Allah SWT adalah memiliki derajat yang sama, satu-satunya pembeda adalah tingkat ketakwaannya.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti”. (QS. Al-Hujurat (49): 13)

Meski demikian perlakuan khusus yang diberikan bukan tanpa alasan. Eksistensi Gus dan Sayyid khususnya, yang dipandang sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW harus dihormati sebagai salah satu bentuk ta’dzim dan kecintaan leluhurnya. Pada konteks ini tentu tidak bisa sepenuhnya salah karena sebagai mahluk yang beretika kita diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai. Persoalan selanjutnya muncul manakala penghargaan yang diterima kemudian disalahgunakan untuk kepentingan individu maupun kelompok.

Pada perjalannya praktek patronase dalam kehidupan pesantren tidak selalu berjalan ideal. Dominasi elit dan penyalahgunaannya juga tidak luput terjadi. Sebagai manusia biasa kelompok inipun tidak lepas dari kesalahan. Salah satu kasus yang masih hangat adalah dugaan kasus pelecehan terhadap santriwati yang dilakukan oleh oknum Gus (Putra Kyai) salah satu pengasuh pesantren di Jombang Jawa Timur. Upaya penangkapan oknum Gus yang sudah ditetapkan sebagai tersangka inipun saat itu tidak membuahkan hasil karena dihalang-halangi sejumlah pihak. Tidak tanggung-tanggung Kapolda Jawa Timur saat itu sampai turun tangan. Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan sebagaimana dilansir oleh detik.news mengatakan ada pihak-pihak yang sengaja membuat keruh hal ini. "Kami juga telah mengimbau melalui tokoh-tokoh agama yang ada untuk mengajak yang bersangkutan datang ke Polda Jatim, namun ini ada pihak-pihak lain yang sengaja membuat keruh,".

Kasus diatas adalah salah satu contoh kecil fenomena penyalahgunaan dominasi elit dilingkungan pesantren. Belum lagi jika kita telaah terhadap kasus-kasus lainnya termasuk yang menimpa kalangan sayyid/habaib. Pada lingkungan sekitar kita, tidak sedikit mereka yang terlena dengan penyematan gelar Gus dan Habib. Meskipun jika kita telaah lebih dalam soal kepatutan gelar itu disematkan pada seseorang yang mungkin pada dasarnya tidak sesuai dengan kriteria dan akhlak yang tercermin dari tingkah lakunya, namun disengaja atau tidak mereka enjoy dan mengambil banyak keuntungan dari penyematan gelar tersebut. Novel Bamukmin adalah salah satu anomali dari problem sosial ini. Jauh sebelum status silsilah “ke-Habib-anya” dipersoalkan dan terbukti dengan investigasi Rabithah Alawiyah (Organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia) Novel Bamukmin bukanlah termasuk dzurriyah Nabi Muhammad SAW , toh selama ini dia telah meraup banyak keuntungan setidaknya dari status sosial yang selama ini disematkan kepadanya. Tentu kita tidak bisa mengeneralisirkan persoalan karena dikelompok manapun oknum terlebih yang memiliki dominasi kuat akan selalu ada. Persoalan utamanya adalah sejauh mana hukum itu tajam ditegakkan bagi siapapun yang terbukti melanggar hukum.

Menguak Sisi Lain Kehidupan Pesantren

Sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, kehidupan pondok pesantren dengan segala warna-warninya menarik untuk dibahas. Zaman memang selalu berubah namun tradisi pesantren seperti sikap ta’dzim kepada guru dengan sebagal bentuknya selalu menjadi pedoman bagi para santri dalam menuntut ilmu. Dalam konteks lain sebagai bentuk keyakinan akan konsep ngalap berkah ketaatan seorang santri lebih diutamakan daripada ilmu yang didapat itu sendiri. Novel Habib Palsu Tersandung Cinta yang ditulis oleh Ubay Baequni sangat menarik karena tidak hanya diangkat dari kisah nyata namun juga sisi lain kehidupan santri di pesantren. Secara umum novel ini menceritakan kehidupan santri pesantren tradisional dengan segala warna-warninya.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah sekumpulan santri yang membentuk “geng elit” yang beranggotakan empat orang santri; dua dari kelompok Gus (Gus Fauzi dan Gus Haedar) dan dari Kelompok Habib (Habib Umar Bin Yahya) serta satu santri dari kelompok ahwal yakni Abdul Ghoni. Masuknya Dul biasanya dia disapa adalah berperan sebagai khodim (pembantu) yang melayani segala keperluan Gus dan Habib tersebut. Posisi ini bagi santri biasa adalah sebuah kehormatan karena berada pada ring satu elit yang tidak hanya mudah untuk ngalap berkah namun juga akan meningkatkan status sosialnya dimata para santri lainnya. Keempat tokoh tersebut memiliki karakter yang khas. Gus Fauzi misalnya memiliki karakter pendiam namun humoris dan sedikit slengehan. Sementara Gus Haedar terkenal tegas dan sedikit mreman sedangkan Habib Umar memiliki karakter yang sulit ditebak terkadang temperamental, mreman dan dibanyak kesempatan terlihat sangat alim. Empat sekawan ini selalu berkumpul setiap malam untuk menggelar diskusi terbatas. Tidak hanya persoalan agama yang dibahas namun juga persoalan umum termasuk juga soal film box office tak luput dari pembahasan utama kelompok elit ini.

Pada bab pertama dalam novel ini secara jelas bagaimana menggambarkan tingkah unik persahabatan empat sekawan ini baik dilingkungan pesantren maupun saat diluar pesantren. Digambarkan pula secara detail bagaimana sikap dan perlakuan santri, pengurus bahkan kyai pesantren terhadap mereka. Ketika mereka datang, para santri akan spontan berdiri dan menyalami dengan mencium tangan dan tidak jarang meminta do’a keberkahan dari mereka karena meyakini do’a dari Habib khususnya adalah maqbul (diterima) oleh Allah SWT. Ketika kelompok ini nongkrong di warung pesantren misalnya, santri yang ada dengan serta merta memberikan tempat duduk bahkan segan dengan meninggalkan warung karena khawatir mengganggu mereka.

Cerita berlanjut ketika kelompok ini merencanakan pergi keluar pesantren untuk menonton film bioskop di kota. Dalam peraturan pesantren keluar lingkungan pesantren tanpa izin terlebih untuk nonton adalah termasuk pelanggaran berat, namun tidak untuk kelompok ini. Beberapa kali mereka keluar pesantren untuk menonton film tanpa ada rasa khawatir sedikitpun. Namun tidak bagi Abdul Ghoni, meskipun diajak oleh ketiga sahabatnya yang notabene nya adalah Gus dan Habib, namun dia sadar sebagai santri biasa dia kerap merasa khawatir akan terkena hukuman berat. Namun ketiga sahabatnya menggaransi keamanan dirinya. Suatu ketika dia terlambat datang pengajian karena sebelumnya diajak keluar nonton, saat ditanya alasan keterlambatannya adalah karena diajak menemani Gus Haedar dirinya pun lolos dari hukuman.

Seiring berjalannya waktu, masa pendidikan di pesantren pun selesai. Ketiga sahabatnya yang memang satu angkatan berniat boyong . Gus Fauzi Kembali kerumah untuk membantu mengurus pesantren orang tuanya. Habib Umar melanjutkan pendidikan ke luar negeri (Yaman). Sementara Gus Haedar tidak diketahui pasti keberadaannya setelah boyong. Informasi terakhir yang didapat dia berkelana mengunjungi habaib habaib yang ada di Pulau Jawa. Sementara Abdul Ghoni sendiri masih tetap di pesantren karena belum menyelesaikan tingkat akhir.

Persoalan mulai muncul ketika tiga bulan berselang Gus Haedar muncul kembali di Pesantren. Perubahan drastis terjadi pada sosok yang satu ini yang bahkan Abdul Ghoni yang merupakan sahabatnya sendiri hampir tidak mengenalinya. Gamis dan peci putih dengan hidung yang lebih mancung dan putih menjadikan Gus Haedar tampak pangling. Pesona kewibawaanya kian terpancar. Gus Haedar menemukan momentum yang tepat untuk lebih menancapkan pengaruh yang lebih kuat ketika dia memprotes salah satu hukuman yang akan diberikan kepada santri yang notabene nya adalah Habib muda. Dia dengan tegas memprotes pengurus menggaransi dirinya sebagai bagian dari ahlul bait untuk melindungi habib muda tersebut. Secara tegas dia menyebut tidak lagi dengan sebutan Gus, namun sebagai Haedar Mubarok Assegaf . Habib Haedar memberikan argument tegas siapa yang menyakiti habaib sama saja menyakiti Rasulullah SAW. Sontak gertakan ini membuat pengurus mengurungkan niatnya untuk melanjutkan eksekusi.

Cinta yang Membutakan

Kharisma Habib Haedar kian bersinar bahkan didaulat menjadi ketua perkumpulan habaib di pesantren tersebut yang beranggotakan lebih dari 50 orang. Pesonanya tidak hanya dikalangan santri putra, dilingkungan santri putri pun Namanya selalu jadi pembicaraan hangat. Persoalan mulai muncul ketika diadakan ta’aruf perkumpulan ini baik dari kalangan habib maupun syarifah (sebutan untuk perempuan). Saat berkenalan dengan Umi Layla Al-Jufri salah satu syarifah yang nyantri di pesantren tersebut. Keduanya pun jatuh hati pada pandangan pertama. Lazimnya perjodohan dalam kelompok ini adalah kesamaan dalam hal silsilah. Hal ini yang membuat Habib Haedar berada dalam dilema. Ada perang batin dengan hatinya disisi lain cintanya kepada Umi Layla kian membutakan mata hatinya.

Dengan percaya diri, dia mendatangi keluarga Umi Layla untuk mengutarakan niat melamar sang pujaan hati. Memperkenalkan sebagai Haedar Mubarok Assegaf dengan segala kelebihan yang dia miliki adalah modal utama dia datang melamar. Orang tua Layla pun mengalami posisi dilematis, disatu sisi dia sudah berniat menjodohkan anaknya dengan anak salah satu kerabatnya yang masih satu fam “Al-Jufri” namun disisi lain dia juga tidak tega melihat anaknya yang tampak lebih memilih Habib Haedar Mubarok Assegaf. Secara tersirat lamaranpun diterima dengan syarat Habib Haedar diminta menuliskan silsilah ke-habiban-nya. Dengan percaya diri Haedar pun menyerahkan silsilahnya. Namun keluarga Layla (tampa memberitahukan Haedar) menemunkan keganjilan dalam penulisan silsilah yang diberikan. Atas dugaan ini pihak keluarga meminta ditunda terlebih dahulu.

Investigasipun dimulai melalui penelusuran silsislah di kantor Rabithah Alawiyah (Organisasi pencatat silsilah keturanan Nabi Muhammad SAW di Indonesia). Hasilnya tidak ditemukan nama Haedar Mubarak Assegaf. Investigasi kedua, dilakukan oleh pengurus pesantren atas permintaan keluarga Layla. Investigasi ke alamat Habib Haedar pun menemukan bukti yang memperkuat kejanggalan status Habib Haedar. Orang tuanya ternyata masyarakat biasa. Setelah mendapatkan dua bukti yang kuat akhirnya status Habib Palsu Haedar terbongkar dan cinta merekapun kandas.

Sebuah Pesan Moral

Novel yang ditulis Ubay Baequni ini sangat menarik menggambarkan sisi lain kehidupan pesantren dan bagaimana dominasi elit digunakan untuk menancapkan pengaruhnya yang tidak jarang dalam prakteknya terjadi peyimpangan dari praktek patronase itu sendiri. Pada skala 1 sampai 5 saya memberikan nilai 4 untuk keseluruhan ini dalam cerpen ini. Penilaian ini setidaknya didasari pada tiga alasan.

Pertama. Kang Ubay biasa dia disapa, merupakan santri tulen yang lahir dan besar dilingkungan pesantren. Sehingga dalam menuliskan realitas dunia pesantren dia begitu fasih menceritakan secara detail. Kedua. Keberanian Kang Ubay secara sportif menuliskan warna-warni sisi lain kehidupan di Pesantren. Tingkah laku santri dari kalangan Gus dan Habaib dengan sebaga khowariqul adat nya berani diceritakan secara gamblang seperti “kebal hukum” perlakuan istimewa, intimidasi terhadap santri diluar kelompoknya, fakta dan fenomena ini dengan lugas diceritakannya. Ini mungkin bagian sebagian orang adalah rahasia umum namun tidak banyak yang sportif menuliskannya secara jujur. Ketiga. Novel ini sarat akan pesan moral. Dimana status sosial yang disematkan seperti Gus dan Habib menjadikan ujian yang sangat berat terlebih jika gelar itu tidak tercermin dari prilaku keseharian kita. Kang Ubay dalam novelnya memberikan pesan yang sangat jelas yakni sikap bertanggung jawab, jujur dan bersyukur atas anugerah yang ada pada diri kita. Sikap kepura-puraan terlebih untuk kepentingan pribadi hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Pada konteks lain kita diingatkan untuk meletekan sesuatu secara proporsional termasuk dalam hal penghormatan dan cinta.

Meski demikian, novel ini juga tidak luput dari kekurangan. Hal ini sebenarnya sudah jujur diakui oleh Kang Ubay dalam kata pengantarnya. Namun saya melihat yang dia sampaikan tidak lebih hanya bentuk tawadhu seorang santri. Novel ini terlalu banyak menggunakan diksi asing (jawa dan arab) yang lazim dalam pergaulan di pesantren khusunya di daerah jawa seperti ta’zir, pakewuh, himmah, asbabul wurud, ana, antum dll. Penjelasan dari diksi-diksi inipun masih terbilang minim. Hal ini menyulitkan pembaca yang tidak memiliki latar belakang sebagai santri.

Kekurangan selanjutnya yang menurut saya ini sangat subtanstif adalah tidak dijelaskannya perbedaan istilah Sayyid dan Habib. Padahal tokoh kunci dalam alur cerita ini adalah sosok yang diberikan label Habib. Seharusnya selain buku ini sebagai salah satu karya satra yang enak dibaca juga memberikan bahkan meluruskan informasi yang salah kaprah di masyarakat kita. Istilah Sayyid/Syarif dan Habib memiliki makna berbeda meskipun keduanya merujuk pada istilah yang sama untuk silsilah ahlul bait/dzurriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW. Menurut adat kebiasaan umat islam, predikat 'Sayyid' diberikan kepada ahlul bait dari keturunan Al-Hussein, sementara 'Syarif' untuk keturunan Al-Hassan. Sedangkan gelar Habib yang secara bahasa adalah yang dikasihi, hanya untuk Sayyid/Syarif yang memiliki kriteria khusus seperti alim, berakhlak terpuji dan menjadi panutan umat. Jadi tidak semua Sayyid/Syarif berhak mendapat gelar Habib. Hal ini yang kemudian salah kaprah setiap ahlul bait disebut sebagai Habib.

Terlepas dari kekurangan yang ada, novel ini layak diapresiasi sebagai kritik sosial terhadap perilaku elit kuasa yang menyalahgunakannya predikat yang disandangnya untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya entah dia sebagai pejabat, publik figur, pemuka agama bahkan dalam skup yang paling kecil bagi setiap individu kita semua.