Rafif Pamenang Imawan

The Last Samurai


210522 Review Film The Last Samurai_RI


Judul Film : The Last Samurai
Sutradara : Edward Zwick
Skenario : John Logan
Tahun : 2003
Durasi : 2 jam 34 menit
Skor : 4,5/5




Film ini bercerita tentang sosok Nathan Algren, seorang mantan kapten tentara Amerika Serikat yang diperankan oleh Tom Cruise. Nathan Algren merupakan kapten handal yang mengalami trauma psikologis dan terjebak dalam ketergantungan pada alkohol akibat perang Amerika-Indian. Singkat cerita, Algren dihubungi oleh mantan komandannya bernama Kolonel Bagley yang memberikan tawaran untuk membentuk dan melatih tentara kekaisaran Jepang. Keberadaan tentara kekaisaran Jepang penting bagi Omura, seorang politisi dan pebisnis yang dekat dengan Kaisar muda Jepang. Tujuan utama pembentukan tentara ini untuk menghadang kelompok pemberontak yang dipimpin oleh para samurai. Para samurai ini dianggap menentang Kaisar muda Jepang. Ketika berada di Jepang, Algren bertemu dengan Simon Graham, seorang translator dan fotografer yang memiliki pengetahuan terkait dengan samurai. Simon menjadi informan penting bagi Algren untuk mengetahui apa dan siapa para samurai tersebut.

Read More…

Membaca Masyarakat Indonesia






201126 Rana Pustaka - Membaca Masyarakat Indonesia

Judul Buku : Sistem Sosial Indonesia
Penulis : Nasikun
Penerbit : Rajawali Press
Tahun Terbit : 2016
Jumlah Halaman : 108 hlm.
Rate : 4.0/5.0

Rate : 4,0/5



Buku Sistem Sosial Indonesia karya Dr. J. Nasikun tidaklah asing bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) apa pun universitasnya. Buku ini terbit pertama kalinya tahun 1984, namun dengan kelebihannya dalam menjelaskan persoalan sistem sosial, buku ini masih menjadi rujukan bagi mahasiswa semester pertama di Fisipol. Buku ini sangat tipis, hanya terdiri dari 108 halaman (versi tahun 2016), serta hanya terdiri dari 5 bab. Pertanyaan utama, mengapa buku tipis ini masih menjadi rujukan, meski persoalan politik kontemporer telah banyak diperbincangkan dari berbagai paradigma, mulai dari Marxisme, Neo-Marxisme, Feminisme, Institusionalisme, New-Institusionalisme, dan banyak lagi. Dugaan saya sangat sederhana, belum ada karya lain yang menjelaskan secara ringkas terkait topik bahasan sistem sosial Indonesia. Dugaan saya yang kedua ada pada telah usangnya bahasan terkait dengan sistem sosial Indonesia, terlebih pendekatan struktural fungsional yang menjadi pendekatan utama dalam buku ini telah lama ditinggalkan atau mengalami pengembangan.
Read More…

Melawan Stigmatisasi Feminisme




201126 Rana Pustaka - Melawan Stigmatisasi Feminisme



Judul Buku : Feminisme Untuk Semua Orang
Penulis : Bell Hooks
Penerjemah : Pramesti Wijaya
Penerbit : Odise Publishing
Tahun Terbit : 2020
Jumlah Halaman : 160 hlm.

Rate : 3,5/5



Seksisme, atau dalam bahasa lain dipahami sebagai diskriminasi atas seseorang berdasarkan seks/jenis kelamin atau gendernya, merupakan konsep utama dalam bahasan terkait feminisme. Singkatnya, feminisme merupakan perlawanan terhadap seksisme. Sebelum membahas lebih jauh terkait feminisme, barangkali perlu dijelaskan di awal bahwa gender dan jenis kelamin merupakan dua hal yang berbeda. Gender mengacu pada karakteristik pria atau wanita yang terbentuk oleh masyarakat atau konteks sosial budaya, sedangkan seks/jenis kelamin merupakan perbedaan biologis antara pria dan wanita. Dalam pengertian ini, gender dapat dipertukarkan bahwa seorang wanita dapat bersifat maskulin, pun dengan seorang pria yang dapat bersifat feminin (Sehatq, 2019).

Kembali kepada bahasan, feminisme merupakan paham yang menentang keras seksisme. Dalam cara pandang ini, terdapat banyak diskriminasi yang dialami terutama merupakan diskriminasi kaum pria terhadap wanita dalam tatanan maupun interaksi sosial. Prinsip utama para feminis (seseorang yang menganut paham feminisme) ada pada dunia yang dikuasai oleh sistem patriarki (seksisme yang dilembagakan). Sistem ini diyakini tidak hanya memenjara kaum wanita, tetapi juga memenjara kaum pria.Read More…

Oase Pertempuran Sehari-hari






201126 Rana Pustaka - Oase Pertempuran Sehari-hari


Album: Mantra, Mantra
Penulis: Kunto Aji
Label: Juni Records
Genre: Pop
Tahun: 2018

Rate : 4,5/5



Saling membandingkan diri, hujatan, cyber bullying, patah hati, menghadapi stres di jalanan, tekanan pekerjaan, seluruh persoalan-persoalan yang menyangkut kesehatan mental, dituangkan oleh Kunto Aji dalam album Mantra Mantra. Sebelum membahas lebih jauh terkait dengan album ini, saya perlu kemukakan di awal bahwa saya bukanlah ahli dalam bidang kajian budaya maupun music. Posisi saya dalam tulisan ini sebagai penikmat musik. Ini merupakan tulisan pertama saya terkait sebuah album musik.

Mengapa album Kunto Aji ini yang saya pilih. Singkatnya, album ini istimewa karena mengangkat isu kesehatan mental. Dalam proses pembuatan album ini, Kunto Aji bahkan bertemu dengan empat psikolog guna mendalami persoalan-persoalan kesehatan mental. Dari riset yang dia lakukan, frekuensi suara pada 396 Hz dinilai sebagai frekuensi yang dapat menghilangkan pikiran negatif. Oleh karenanya dalam salah satu bagian di lagu Rehat terdapat beberapa bagian yang diatur dalam frekuensi tersebut (CNN Indonesia, 23/09/2020). Read More…

Article Review: Keberagaman dan Modal Sosial di Abad 21





jurnal

Judul Artikel: E Pluribus Unum: Diversity and Community in the Twenty-first Century
Penulis: Robert D. Putnam
Nama Jurnal: Scandinavian Political Studies
Penerbit: Nordic Political Association
Tahun Terbit: 2007
Jumlah Halaman: 38 hlm.

Skor : 4,5/5


E Pluribus Unum, sebuah prinsip untuk melambangkan keberagaman masyarakat Amerika Serikat. Dalam kedudukan yang kurang lebih sama, kita dapat menempatkan E Pluribus Unum setara dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sebuah prinsip yang menekan elemen pentingnya keberagaman. Artikel oleh Robert Putnam ini dibacakan ketika beliau menerima penghargaan Johan Skytte Prize di tahun 2006 dari Uppsala University.

Penghargaan ini diberikan oleh departemen ilmu politik di Uppsala University di setiap tahunnya, terutama kepada ilmuwan politik yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu politik. Di luar bahasan terkait selebrasi tersebut, artikel ini memiliki pengaruh yang besar pada diskusi mengenai modal sosial (social capital), terutama dalam konteks keberhasilan artikel ini mendorong kajian-kajian yang lebih serius mengenai modal sosial.
Read More…

Film Review: Cerita Suram Dari Gotham



 Joker_RI
Judul Film: Joker
Sutradara: Todd Phillips
Skenario: Todd Phillips, Scott Silver
Tahun: 2019
Durasi: 2 jam 2 menit

Skor : 4,5/5



Pada sebuah jalan yang ramai di kota Gotham, seorang badut membawa papan iklan sambil berdansa ceria, riang, dan penuh semangat. Tidak lama kemudian datang anak-anak remaja yang lantas merampas papan iklan tersebut. Spontan sang badut mengejar si perampas. Papan iklan itu adalah penyambung hidupnya untuk mendapatkan upah. Dengan tergopoh-gopoh, si badut mengejar para remaja sampai di sebuah gang kecil. Ketika masuk ke dalam gang tersebut, ia dihajar oleh remaja-remaja perampas itu.

Pengeroyokan ini menjadi titik masuk pada bahasan yang konstruktif dan dalam batasan tertentu dekonstruktif terhadap apa yang disebut baik dan apa yang disebut buruk yang berada di sepanjang film ini. Relativitas terkait dengan hal baik dan buruk tersebut tentu mengingatkan kita pada filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche yang mempertanyakan kembali terkait dengan kebenaran. Sedikit berbeda darinya, film ini tidak sama sekali membahas terkait nihilisme, melainkan masuk pada antagonisme dan kontektualitas akan baik dan buruk tadi.
Read More…

Book Review: Menyoal Instrumen Kebijakan Publik




carrot_stick
Judul Buku: Carrots, Sticks & Sermons: Policy Instruments and Their Evaluation
Penulis: Marie-Louise Bemelmans-Videc, Ray C. Rist, & Evert Vedung
Penerbit : New Brunswick
Tahun Terbit: 1998
Jumlah Halaman: 281 hlm.

Skor : 4/5



Apabila politik adalah otak, maka instrumen kebijakan adalah otot-ototnya. Illustrasi ini menunjukkan bagaimana peranan fundamental instrumen kebijakan dalam politik. Setiap kebijakan publik yang dirumuskan pada dasarnya adalah proses politik, pun sebaliknya, apapun keputusan politik selalu berujung pada perumusan kebijakan publik. Buku ini mencoba untuk membaca bagaimana instrumen kebijakan publik digunakan dan konsekuensinya. Dewasa ini kajian terkait dengan kebijakan publik berujung pada dua paradigma besar, meski saat ini sedikit usang, dua paradigma tersebut yakni government dan governance.

Kedua cara pandang ini memiliki perbedaan yang fundamental. Paradigma government melihat bahwa negara merupakan aktor yang paling menentukan dalam proses pembuatan kebijakan publik, sebaliknya paradigma governance menekankan pada bekerjanya jejaring (multi aktor) dalam proses pembuatan kebijakan. Meski keduanya sedikit berbeda, keduanya berdiri pada kesepahaman bahwa diperlukan instrumen kebijakan. Buku ini memberikan satu gambaran baru. Apabila persoalan kebijakan publik sering dilekatkan dengan bagaimana struktur kebijakan dalam klasifikasi Etzioni yang membagi kebijakan dalam tiga kategori besar yakni coercive, remunerative, dan normative. Maka klasifikasi kebijakan dalam buku ini dimodifikasi dengan melihat dimensi legitimasinya (dukungan rakyat pada pemerintahan yang terbentuk/melakukan kebijakan).
Read More…

Book Review: Pembiayaan Perang dan Pembentukan Negara





coersion, capital and european states
Judul Buku: Coercion, Capital, and European States, AD 990-1990
Penulis: Charles Tilly
Penerbit: Basil Blackwell Publisher
Tahun Terbit: 1990
Jumlah Halaman: 278 hlm.

Skor : 4,5/5


Read More…

Book Review: Politik Popular dan Institusionalisasi Demokrasi di Indonesia





dilemma of populist transactionalism

Judul Buku: Dilemmas of Populist Transactionalism
Penulis: Luky Djani & Olle Tornquist
Penerbit: PolGov
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 91 hlm.

Skor : 3,5/5



Gerakan populis di suatu negara, tidak dapat dilepaskan dari bagaimana latar belakang historis negara tersebut. Sebagai contoh, gerakan-gerakan populis di negara-negara utara (north countries) yang relatif merupakan negara-negara maju, berbeda dengan negara-negara selatan (south countries) yang kerap dinilai sebagai negara berkembang. Pemilahan antara negara utara dan selatan pun telah menjadi debat tersendiri bagi kalangan ilmuwan sosial. Hanya saja, apabila kita menggunakan gelombang demokratisasi yang dikemukakan oleh Samuel Huntington sebagai kerangka argumentasi, maka kategorisasi besar berupa negara utara dan negara selatan menjadi relevan untuk membaca perkembangan populisme.

Berbeda dengan kajian populisme yang ada, terutama dalam melihat perkembangan populisme, rata-rata kajian populisme melihat dilekatkan pada perkembangan konseptual serta studi kasus yang melekat dengan kajian-kajian sosialisme, terutama di kawasan Amerika Latin (Pappas, 2016, h.4-6). Buku ini memberikan penekanan yang berbeda dengan mengaitkan perkembangan populisme dengan gelombang demokratisasi. Dalam gelombang demokratisasi, hal yang patut diperhatikan adalah kontradiksi antar kelas yang terjadi selama periode demokratisasi tersebut. Di awal berdirinya Republik Indonesia, terdapat beberapa gerakan massa yang sangat kuat, salah satunya ada pada periode tahun 1960-an. Gerakan-gerakan budaya massa, terutama pada periode politik aliran (termasuk masa ketika pemilu 1955), berakhir ketika Orde Baru (Orba) berkuasa.Read More…