Book Review: Manusia dan Tanah Minahasa







Cover Buku Minahasa
Judul Buku: Minahasa
Penulis: N. Graafland
Tahun Terbit: 1991
Penerbit: PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta
Review:
  • Bab I, Asal Usul Leluhur
  • Bab II, Masyarakat dan Pemerintahan
  • Bab III, Cakalele dan Masyarakat Cina
  • Bab IV, Mapalus
  • Bab V, Perkebunan Rakyat

Skor : 4/5






Jika bicara tentang Minahasa, kita dapat mengacu pada daerah geografis tertentu, kesatuan politik atau kelompok suku yang mendominasi wilayah tertentu. Secara geografis, wilayah Minahasa berada di ujung utara Pulau Sulawesi. Untuk tujuan politis dan administratif, Provinsi Sulawesi Utara selanjutnya dibagi menjadi kabupaten-kabupaten dan kotamadya. Buku Minahasa adalah catatan perjalanan yang dilakukan oleh N. Graafland ke pulau paling utara di Sulawesi pada pertengahan abad ke 19. Dalam pemaparannya, Graafland melukiskan alam Minahasa mulai dari jalan, pemukiman, penampilan penduduk pribumi, serta lingkungan geografis yang sebagian besar masih perawan. Hal yang paling menarik dari tulisan ini adalah terkait tata kehidupan sosial, bahasa, sistem kepercayaan, mitologi dan legenda, nilai-nilai yang hidup di tengah rakyat, serta persentuhan rakyat dengan perdaban dari luar, dalam hal ini dengan masyarakat Cina dan Eropa, termasuk dengan agama Islam dan Kristen.

Siapa Orang Asli Minahasa?

Minahasa tidak mengenal istilah peduduk asli. Adanya cerita mengenai kedatangan orang Alifuru kesana belum ditemukan kebenarannya. Para pendatang mencapai pelosok-pelosok Minahasa merupakan salah satu bukti bahwa para pendatang sudah mencapai daerah pedalaman. Pemukiman yang pertama dan terbesar mencapai Lembeh di Tanjung Pulisan. Di sekitar daerah itu ditemukan banyak sekali makam, yang memperkuat dugaan bahwa di situ pernah ada suatu pemukiman.

Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa orang Minahasa tidak berasal dari satu asal. Pulau-pulau di utara Minahasa sepertinya dulu menyatu dengan Kepulauan Sangihe, dan lebih ke utara lagi dengan daratan yang lebih besar, yang menurut tafsiran cerita rakyat Sangihe adalah Filipina. Di Sangihe dan Bolang ada cerita tentang bekas-bekas pemukiman, dan cerita itu tidak bertentangan dengan letak pulau serta posisi gunung-gunungnya. Penamaan pulau yang sangat masuk akal berasal dari kata sangi, yang dihubungkan dengan cerita rakyat yang terjadi di masa lampau.

Dahulu kala, di utara Pulau Sangihe terjadi banjir yang sangat besar sehingga menghancurkan pulau tersebut. Hanya Sangi dan pulau-pulau di sekitarnya saja yang tertinggal. Cerita tersebut menjadi legenda yang terkenal bagi masyarakat Minahasa. Dataran tinggi yang masih tersisa tersebut menjadi tempat untuk menyelamatkan diri. Sepertinya penduduk pertama datang di Sulawesi Utara lebih banyak berdiam di pegunungan, kemudian turun ke daerah pantai.

Istilah Minahasa pertama kali muncul di catatan Belanda pada tahun 1789 dan hanya mengacu pada dewan kepala desa (landraad). Baru sekitar tahun 1820 istilah tersebut mengandung arti geografis atau etnis saat digunakan dalam masa kolonial, (landstreek van Manado. Asal etimologis kata minahasa tidak benar-benar jelas, tetapi ada kesepakatan di antara ilmuwan dan orang awam bahwa berbagai sumber linguistik, semua mengacu pada penyatuan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpisah secara kultural dan linguistik, pada proses ’menjadi satu’. Hal ini terjadi dalam masa kolonial Belanda dan pihak Belanda jelas tidak menjauhkan diri dari proses ini. Sebaliknya, administrasi kolonial berusaha sekuat tenaga untuk mendukung dan mempercepat proses penyatuan tersebut karena hal itu sesuai kepentingan pengurus administrasi Belanda dan para misionaris. Mereka ingin menyatukan semua suku agar dapat membentuk pemerintahan pusat supaya wilayah tersebut dapat tenang dan lebih mudah diatur (Henley dalam Weichart : 2004).

Meskipun para sejarawan menyatakan bahwa Minahasa yang menyatu secara politis dan sosial belum berusia tua (kurang dari 200 tahun), cerita rakyat mengklaim bahwa semua orang Minahasa asli merupakan keturunan dari pasangan leluhur mitologis, Toar dan Lumimuut. Menurut berbagai variasi legenda klasik ini, Lumimuut membagi seluruh wilayah Minahasa menjadi tiga atau empat bagian dan memberikannya pada keturunannya. Terpisah satu sama lain, keturunan Lumimuut membentuk suku mereka sendiri dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Meskipun ada keragaman bahasa dan budaya, diyakini bahwa pada intinya Minahasa memiliki asal yang sama, secara fisik terwujud dalam figur ’ibu’ Lumimuut. Karena itulah usaha penyatuan yang dilakukan oleh Belanda dan masyarakat Minahasa bahkan dibenarkan oleh sejarah. Mereka dapat mengaku telah memperkenalkan kembali keadaan asli, sekalipun dalam kondisi yang sangat berbeda dan juga melibatkan para pendatang (Weichart : 2004).

Agama dan Pemerintahan

Minahasa pernah menjadi daerah yang berada dalam pengawasan Sultan Ternate. Saat itu raja-raja Bolang mempunyai hubungan erat dengan Minahasa dan membantu Minahasa melawan penguasa asing, lalu mengantikan kedudukan Sultan Ternate. Lalu datanglah Spanyol dan meninggalkan beberapa bahasa Spanyol sebagai kenangan. Akhirnya datanglah orang Belanda dan menguasai daerah ini.

Kebanyakan penduduk Manado memeluk agama Kristen, di samping ada pula pemeluk agama islam yang kebanyakan bukan penduduk asli Minahasa. Saat ini, mayoritas penduduk Minahasa beragama Kristen dan di antara berbagai kongregasi yang ada, GMIM (Gereja Masehi Injil di Minahasa) adalah yang terbesar. Konstruksi identitas, baik di tingkat individu maupun kolektif, adalah proses dialektik antara mengenali kesamaan dan perbedaan, dan sebagai akibatnya, antara inklusi dan eksklusi (lihat Jenkins 1996). Kristen sudah dikenal sejak lama. Orang Spanyollah yang membawa agama tersebut ke daerah ini, dan kompeni juga selalu berusaha menyebarkannya sejauh tidak bertentangan dengan pandangan mereka. Dengan demikian Kristen sudah ada sejak zaman Montanus dan Valentijn yang menerobos masuk ke daerah Sangir dan Manado, bahkan di sana-sini telah mencapai pantai utara.

Minahasa diperintah langsung oleh pusat, namun untuk beberapa hal masih berada dibawah kekuasaan Belanda yang diatur dalam Keresidenan Manado. Harus diakui pula bahwa pengaruh itu tidak terlalu kentara dan tidak terlalu besar. Misalnya daerah Gorontalo merupakan suatu pengecualian. Di sana seorang asisten residen langsung mewakili pemerintah. Daerah lain yang belum ada pejabat pemerintah, pemerintahan dilaksanakan oleh raja dan para kepala negeri, serta raja dan para tokoh kerajaan. Kerajaan-kerajaan seperti itu kami jumpai di pantai utara, yakni Bolaang Mongondow, Bolaang Bangka, Bintauna, Bolaang Itam, Kaidipan, Buwol, Tolitoli. Demikian pula dengan Sangir dan Talaud di sebelah utara Sulawesi, yang diperintah oleh raja-raja dari Tagulandang, Siauw, Manganitu, Taruna, Kandahar, dan Tabukan. Sistem pemilihan raja tersebut dipilih langsung oleh rakyat atau tokoh-tokoh kerajaan, namun pada umumnya hak tersebut diberikan berdasarkan keturunan.

Budaya Minahasa : Tarian Cakalele

Pada pagi menjelang tanggal 12 September 1855 terdengar sebuah letusan yang kemudian disusul letusan lainnya. Di Kota Manado terjadi kemeriahan untuk menyambut kedatangan Gubernur Jendral. Ratusan bendera dan umbul-umbul berkibar di sana-sini, ribuan lampu menyala, dan sejumlah gerbang hias dibangun. Di kedua sisi jalan dari pangkalan pelabuhan menuju benteng tampak bendera dan umbul-umbul. Tampak pula aneka ragam senjata penduduk pribumi seperti tombak, tutup kepala, kelewang dan perisai. Di antara bendera berdirilah pasuka hansip Manado. Pasukan itu terdiri atas orang Eropa atau turunan dan penduduk pribumi. Mereka bertugas menumpas berbagai kerusuhan, menanggulangi kebakaran, atau melawan para perampok, dan memberi bantuan dalam keadaan darurat. Mereka juga bertugas menjaga kantor residen. Latihan militer mereka memenuhi syarat, bahkan lebih baik daripada latihan militer pasukan pribumi.

Suasana semakain meriah ketika acara penyambutan mulai menampilkan Tarian Cakalele. Pada Tari Cakalele ini orang Minahasa yang lemah lembut dapat memberingaskan muka sedemikian rupa seakan-akan mau memakan orang hidup-hidup, atau sekurang-kurangnya menikam atau menakut-nakutinya. Tarian ini merupakan perpaduan tari Spanyol yang telah mengalami perubahan di Ternate, dan kemudian masuk ke Minahasa. Cakalele yang asli dalam dialek Minahasa disebut mahasasau. Gerakannya menggambarkan siasat perang. Menarik sekali melihat cara mereka menantang musuh, mengejar, dan menghindari mereka. Dengan gerakan ke kiri serta ke belakang atau dengan lompatan menyerang, mereka berteriak-teriak seolah-olah telah mengalahkan musuh. Semua itu berlangsung dengan semangat bertempur atau berkelahi.

Mapalus : Budaya Gotong Royong

Orang-orang Minahasa mengerjakan kebun bersama-sama, saling membantu atau dalam bahasa Minahasa disebut mapalus yang dapat diartikan dengan gotong royong. Mapalus adalah sebuah sistem yang sudah ada sejak dahulu kala yang berasal dari asas hidup kekeluargaan. Mapalus selain berlaku dalam pengerjaan kebun, juga diterapkan pada penarikan kayu dari hutan untuk pembangunan rumah dan sebagainya. Dulu kerja sama itu sering dilakukan di banyak tempat pada kegiatan menumbuk padi dan peluncuran perahu. Adat kebiasaan nenek moyang itu semakin lama semakin hilang, antara lain karena di Minahasa saat ini orang lebih mementingkan diri sendiri.

Mapalus diterapkan di kebun manakala orang membuka, membersihkan, dan menanami lahan, serta menuainya. Ukuran perkumpulan itu bermacam-macam, orang memberi nama mapalus untuk sesuatu kerja sama yang terjalin antara dua atau tiga orang. Tetapi biasanya nama ini dipakai bila ada sepuluh, lima belas, dua puluh, lima puluh, bahkan sampai seratus orang yang bekera sama.

Sistem kerjasama mapalus dimulai dengan menentukan bagaimana pengaturan pengerjaan atas suatu bidang tanah. Bila perkumpulan itu kecil, akan ditentukan untuk bekerja selama satu hari di setiap kebun. Kalau perkumpulan itu lebih besar, luas tanah yang akan dikerjakan ditentukan terlebih dahulu. Bila suatu pekerjaan selesai, perkumpulan itu pindah ke tanah lain. Semua orang harus berkumpul pada waktu yang telah ditentukan. Bila perkumpulan itu besar, sejak subuh, sebelum matahari terbit, tifa dibunyikan atau ada yang berkeliling memanggil orang dengan memukul gong.

Sebagai tanda perkumpulan, mapalus besar menggunakan bendera Belanda yang dibawa ke ladang dan dikibarkan di tengah kebun yang sedang mendapatkan giliran. Perjalanan itu diiringi pukulan tifa, gong dan kolintang. Sebelum berangkat ke kebun, orang berkumpul di depan rumah mayor, atau dahulu di Tondano, di rumah pengawas. Bila pergi atau kembali dari kebun, setiap orang yang bertemu atau berpapasan di jalan maka akan bersalaman atau mengangkat tutup kepala. Jika melanggar maka dia akan dituntut, diambil apa saja yang mereka miliki atau dilaporkan kepada kepala negeri karena melanggar keagungan mapalus.

Ketentuan mapalus lainnya sangat sederhana. Setiap orang akan saling membantu secara bergiliran. Jika seseorang sakit atau berhalangan meneruskan pekerjaan maka dia harus mencari pengganti. Solusi lain, jika ia telah bekerja di beberapa kebun, si pemilik kebun yang telah digarap harus bekerja di kebun orang yang berhalangan itu hanya sesudah masa mapalus lewat. Bila ia termasuk orang yang kebunnya telah dikerjakan, ia harus membayar pekerjaan mereka yang menggarap tanahnya dengen memberi seorang pengganti, jika tidak mau membalas dengan cara itu, dia dapat melakukannya sendiri tahun berikutnya. Semua cara ini harus dibicarakan baik-baik dan bersama-sama. Bila tidak dilakukan maka dia akan diadukan.

Bila mapalus akan dimulai, maka jam mulai dan berakhirnya harus dibicarakan bersama-sama. Pemilik kebun harus menyiapkan makanan untuk seluruh pekerja. Harus ditentukan apa yang akan dimakan, mulai dari nasi, milu atau campuran keduanya, serta dengan atau tanpa lauk. Semua yang dilakukan berdasarkan kesepekatan, tidak boleh lebih atau kurang. Jika tidak maka yang dilakukannya tidak berdasarkan ketentuan maka akan dianggap salah.

Perkebunan Rakyat

Penanaman dan pengelolaan di Kopi di Minahasa dianggap lebih maju dari Jawa kecuali Priangan. Kebun-kebun rapi dan teratur, tidak diselingi tanaman lain, memberikan pemandangan baris-baris lurus pohon kopi. Di sini orang memetik kopi yang sudah dan belum masak bersamaan. Mereka membersihkan semua buah sekaligus dari tangkai dengan menggundulinya. Di tempat lain, orang membiarkan buah itu jatuh sendiri dan membusuk. dan di tempat lain lagi, orang memetik dan membawa kopi itu ke rumah, tetapi membiarkannya membusuk.

Menurut cerita dari orang-orang Minahasa, cara mengerjakan kopi di sini adalah cara Brazil, hanya bedanya orang-orang di sini tidak memiliki alat yang memadai untuk pengerjaan besar-besaran. Buah yang baru dipetik dari pohon ditumbuk dalam lesung supaya lembut dan esok paginya dicuci dalam keranjang. Daging buahnya dibersihkan, lalu dijemur. Jika kulit yang membalut bijinya cukup keras, kopi itu ditumbuk dalam sebuah bakul rotan berbentuk kerucut yang ditempatkan dalam lubang di tanah. Sesudah itu kopi yang telah terkupas dikeringkan kembali sampai sangat keras. Proses ini tidak sulit, menghindari kerugian dan pecahnya biji dan mendapatkan warna yang diinginkan. Jika kopi tidak mempunyai warna yang diinginkan, pucat, keabu-abuan, atau hitam, itu disebabkan karena yang dipetik adalah buah yang tidak masak, atau musimnya yang tidak menguntungkan, atau kurang hati-hati ketika mengeringkannya.

Selain budi daya kopi yang diharuskan ini, masih ada tanaman lain yang dapat disebut tanaman bebas karena menguntungkan pemerintah. Tetapi dalam arti yang sebenarnya tanaman itu tidak bebas. Sejak dahulu tanaman bebas adalah cokelat. Pada awalnya usaha ini memberi keuntungan yang cukup besar karena buahnya dibeli orang Cina dan Manila seharga 125 pon Amsterdam. Karena itu, Residen Jansen sampai pada pemikiran untuk mendorong dan memimpin usaha tersebut. Hanya beberapa orang saja yang menggunakan kesempatan baik ini untuk memperoleh keuntungan. Masyarakat tidak mengerti apa yang mereka butuhkan dan hal apa yang akan mendatangkan keuntungan. Jika hal tersebut adalah perintah barulah mereka akan melaksanakannya. Jadi, dengan perintah terbentuklah kebun coklat dimana-mana, yang bersih dan tumbuh dengan baik, serta menjanjikan masa depan yang baik bagi masyarakat.

Residen Jansen kemudian menyuruh atau mendorong rakyat supaya mencoba lebih banyak cabang usaha tani yang sedikit banyak telah dikenal. Misalnya kofo, kapas, jarak, pala dan kacang priangan.

Daftar Pustaka

Jenkins, R. 1996. Social Identity. London: Routledge.
Weichart, Gabriele. Identitas Minahasa : Sebuah Praktik Kuliner. Antropologi Indonesia 74, 2004. University Of Heidelberg.