Membaca Masyarakat Indonesia




201126 Rana Pustaka - Membaca Masyarakat Indonesia

Judul Buku : Sistem Sosial Indonesia
Penulis : Nasikun
Penerbit : Rajawali Press
Tahun Terbit : 2016
Jumlah Halaman : 108 hlm.
Rate : 4.0/5.0

Rate : 4,0/5



Buku Sistem Sosial Indonesia karya Dr. J. Nasikun tidaklah asing bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) apa pun universitasnya. Buku ini terbit pertama kalinya tahun 1984, namun dengan kelebihannya dalam menjelaskan persoalan sistem sosial, buku ini masih menjadi rujukan bagi mahasiswa semester pertama di Fisipol. Buku ini sangat tipis, hanya terdiri dari 108 halaman (versi tahun 2016), serta hanya terdiri dari 5 bab. Pertanyaan utama, mengapa buku tipis ini masih menjadi rujukan, meski persoalan politik kontemporer telah banyak diperbincangkan dari berbagai paradigma, mulai dari Marxisme, Neo-Marxisme, Feminisme, Institusionalisme, New-Institusionalisme, dan banyak lagi. Dugaan saya sangat sederhana, belum ada karya lain yang menjelaskan secara ringkas terkait topik bahasan sistem sosial Indonesia. Dugaan saya yang kedua ada pada telah usangnya bahasan terkait dengan sistem sosial Indonesia, terlebih pendekatan struktural fungsional yang menjadi pendekatan utama dalam buku ini telah lama ditinggalkan atau mengalami pengembangan.

Meski demikian, buku ini memiliki banyak kontribusi, terutama bagi para pembaca yang hendak melihat kembali persoalan kebangsaan kita, termasuk menjadi pintu masuk pemahaman teorisasi lanjutan dari struktural fungsional, sebagai contoh teori mengenai modal sosial yang merupakan pengembangan pendekatan struktural fungsional. Bagaimana kita menempatkan kajian dalam buku ini (mengenai sistem sosial Indonesia) dalam konteks kontemporer? Apa yang bisa kita manfaatkan dari karya yang naskah awalnya hampir menyentuh tiga dekade ini?

Titik Tolak Bahasan

Buku ini dimulai dari bab 1 yang membahas tujuan dari penyusunan buku. Secara ringkas kajian dalam buku ini hendak melihat faktor-faktor laten apa yang menyebabkan konflik di Indonesia? Pertanyaan lanjutan lainnya, apa yang senantiasa akan menjadi konflik laten bagi konflik yang terjadi di Indonesia di masa mendatang? Tulisan pada bab awal tidaklah panjang, justru pembahasan paling banyak berada di ranah pendekatan teoritis. Pada bab 2, Nasikun coba untuk memberikan penjelasan terkait pendekatan struktural fungsional/fungsionalisme struktural yang melekat pada sosiolog Amerika Serikat, Talcott Parsons.

Pendekatan struktural fungsional menempatkan masyarakat sebagai sebuah sistem yang saling terkait satu dengan lainnya. Sebagai sebuah sistem, maka kaitan antara satu dengan lainnya hanya dapat terbentuk apabila terdapat satu nilai (nilai yang sama) yang dipegang. Nilai tersebut dikenal sebagai norma-norma sosial. Norma (aturan tidak tertulis/informal institution) dalam beberapa hal dapat merupakan aturan yang berasal dari satu kelompok dominan, namun dalam beberapa hal dapat pula merupakan aturan yang berasal dari interaksi antara kelompok yang berbeda. Dalam pandangan pendekatan ini, interaksi antara kelompok dengan identitas berbeda ini disebut dengan afiliasi lintas kelompok (cross-cutting affiliation). Interaksi antar kelompok inilah yang kemudian mendorong terbentuknya loyalitas/aturan lintas kelompok (cross-cutting loyalities).

Pandangan ini tidaklah mengherankan. Pada awal mula perkembangan ilmu sosial mengambil cara pandang positivisme, sebuah cabang filsafat ilmu pengetahuan yang premis dasarnya memberikan jarak antara obyek dan subyek penelitian, mengadopsi prinsip ilmu pengetahuan alam ke dalam ilmu sosial. Dengan cara pandang ini, maka pendekatan sistem tidak dapat dihindarkan. Individu dilihat pula sebagai sub-sistem atau organisme yang dalam pandangan struktural fungsional terhubung satu dengan lain.

Ilustrasi sederhana pandangan ini ada pada gambaran masyarakat kita. Dalam masyarakat kita, terdapat individu yang bekerja sebagai satpam, menteri, tukang kebersihan, tukang sayur, pengusaha elektronik, pedagang makanan, dan ragam profesi lainnya. Bayangkan setiap individu ini sebagai satu organisme. Maka kehidupan baru dapat terbentuk apabila terdapat interaksi antara organisme tersebut. Sistem dapat berjalan apabila setiap ragam profesi tersebut memegang peranannya. Hanya saja patut dipahami bahwa dalam kekuasaan, distribusi otoritas selalu terbatas. Oleh karenanya, perebutan atas distribusi kekuasaan yang terbatas tersebut, tidak jarang menimbulkan benturan (konflik) di dalamnya.

Pendekatan struktural fungsional ini dikritik tajam oleh pendekatan konflik yang mengasumsikan bahwa kekuasaan tidak terdistribusi secara merata. Hal ini nampak disadari oleh Nasikun. Hal ini direspon dengan mencoba memberikan pendekatan alternatif terhadap pendekatan yang telah ada, salah satunya adalah dengan cara mengombinasikan antara pendekatan struktural fungsional dan teori terkait dengan konflik untuk membaca sistem sosial di Indonesia. Pendekatan ini tidaklah salah, bagaimanapun juga, teorisasi pada awal pengembangan ilmu politik memang banyak ditekankan oleh pendekatan sistem. Barangkali ini merupakan konsekuensi kuatnya pengaruh disiplin ilmu hukum dalam beberapa fase pengembangan awal disiplin ilmu ini.

Dari bab 3 hingga bab 5, para pembaca diajak untuk membaca bagian utama dari buku ini. Tulisan ini membicarakan beberapa aspek sejarah di bagian awal, terutama bagaimana pelayaran hingga perdagangan pada masa kolonialisme yang secara tidak langsung membawa dampak pada majemuknya masyarakat di Indonesia. Dalam paparannya, majemuknya masyarakat tidak diikuti oleh kehendak bersama yang terbentuk. Oleh karenanya Pancasila memiliki peran sebagai pendorong interaksi lintas identitas, serta sebagai salah satu usaha untuk membentuk kehendak bersama tersebut.
Pada bab 4, pembaca dibawa pada bahasan yang tidak kalah menarik, terkait dengan bagaimana pengaruh dari masyarakat yang majemuk terhadap kepartaian di Indonesia. Pada bagian ini, Nasikun menjelaskan bagaimana pembentukan beberapa partai yang didasarkan oleh beragam isu majemuk tersebut, terdapat partai yang dibentuk atas pengaruh sosialisme, hingga partai yang bernuansa agama seperti partai Kristen atau partai Katolik. Hal ini membawa pada satu bahasan yang menarik, bahwa terdapat dua pemilahan masyarakat yang terbentuk, yakni secara vertikal (berbasiskan kelas sosial) dan secara horizontal (berbasiskan identitas sosial).

Uraian ini membawa Nasikun pada bahasan terkait dengan bagaimana membangun identitas dan komitmen bersama bernegara.
Pada bab 5, Nasikun memberikan bahasan yang menarik terkait dengan model cross cutting affiliation, sebagai perangkat untuk menciptakan komitmen bersama. Pada bagian ini, Nasikun memaparkan pentingnya Pancasila sebagai wahana dan prinsip utama untuk mendorong komitmen bersama tersebut pada tataran praktis. Barangkali dapat dikatakan bahwa bab 5 ini merupakan kunci utama dari tulisan Nasikun. Beliau memberikan penawaran model membangun nilai bersama, sebuah pendekatan baru dalam mendekati studi mengenai Pancasila, mengingat studi terkait Pancasila banyak didominasi oleh studi filsafat.

Sedikit membahas terkait dominasi ini, salah satu

profile image


Erwinton Simatupang | Peneliti Populi Center



Judul Buku: Bakat Menggonggong
Penulis: Dea Anugrah
Penerbit: Buku Mojok
Tahun Terbit: 2016

Skor : 3/5





Tanpa basa basi: apa menariknya cerpen itu? Ku

rang lebih pertanyaan

tersebut yang saya ajukan kepada orang-orang di sejumlah grup WhatsApp. Bahkan, beberapa orang sengaja saya japri. Tentu saja, saya tidak lupa melampirkan cerpen yang berjudul Kemurkaan Pemuda E itu kepada mereka semua.
Inilah sejumlah jawaban dari mereka:

"Mungkin beberapa detail kecil kaya simbol2 rahasia yg unik yg dimiliki E yg mau ditonjolkan?"

"... aku ga paham penulisnya nulis apa. Mulai dari kucing bawa muntahan, saringan acara, sampai tulisan 600 kata."

"Aku kok gagal paham sama cerpennya ya..."

Apa yang mereka kemukakan boleh dikatakan sebagai respon yang lazim. Yang tidak lazim ialah kumpulan cerpen Dea Anugrah. Di bagian pembuka Bakat Menggonggong, jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tersebut menyuguhkan kisah seorang penulis, pemuda E, yang menerima tawaran temannya menjadi pembicara di sebuah seminar. Di bagian akhir kisah itu, ia murka karena tidak memperoleh honor dan perlakuan yang sama dengan pembicara lain. Di sini, pembaca tidak mendapati pembuka yang menarik, seperti karya penulis-penulis lain. Dan, Dea juga mengamininya: "Tapi hemat saya, sih, itu bukanlah cerita yang menarik. Kalimat pertamanya saja berbunyi begini: 'Pemuda E mencengkeram tutup toples acar dengan jari-jari tangan kanan dan mencekal bagian bawahnya dengan telapak tangan yang lain...'" (hal. 8).

Hal lain yang membuat cerpen pembuka itu tidak lumrah ialah gaya menulis Dea. Ia berperan layaknya seorang sutradara yang membawa pembaca ke satu adegan ke adegan lainnya dengan cepat, melompat 'ke sana di masa lalu' dan 'ke sini di hari ini', serta sering kali menyuguhkan kejadian-kejadian yang tidak terlalu berhubungan dengan kisah utama. Juga, sebagaimana penulis kolom media massa, Dea menggunakan kata "kita" dan "kita tahu" untuk memaksa pembaca menerima, atau mengamini, begitu saja situasi yang dideskripsikannya. Dea juga tidak mengaduk-aduk emosi pembaca. Dengan kata lain, pembaca tidak akan tersenyum, apalagi tertawa terbahak-bahak, atau jeda sejenak untuk bersimpati, terlebih berlinang air mata, ketika membacanya.

Tidak hanya itu, dalam Kisah Afonso, Dea lagi-lagi menyuguhkan ketidaklaziman. Paragraf pembuka tulisan itu kemungkinan besar membuat siapa saja mengerutkan dahi. Ia menuliskan ini: "Seekor buaya adalah seekor buaya adalah seekor buaya, dan seorang manusia adalah seorang manusia adalah seorang manusia. Apakah itu truisme? Tidak. Afonso Garcia de Solis, misalnya, adalah seekor buaya adalah seorang manusia adalah penjelajah asal Eropa, dan menurut seorang antropolog, adalah seekor ikan baung yang—karena kesialan murni—berakhir sebagai lauk makan siang anak-anaknya sendiri" (hal. 11). Kalau tulisan itu terus diikuti, pembaca akan mendapati bahwa tulisan itu 'hanya' laporan perjalanan yang dikisahkan oleh "aku" di Tulang Bawang Barat, Lampung. Di dalamnya, pembaca bisa menemukan alasan "aku" ke sana, kegiatan yang "aku" lakukan, orang-orang yang "aku" ajak bicara, dan apa saja yang mereka omongkan.

Ketidaklaziman juga disuguhkan Dea pada Kisah Sedih Kontemporer (IV). Di dalamnya, pembaca bertemu dengan kedua orang tua I Gusti Putu Lokomotif alias Loko. Jika di Kemurkaan Pemuda E pembaca mendapati dialog yang sangat minim, di kisah ini pembaca justru 'hanya' menemukan dialog orang tua Loko. Mereka beradu argumen mulai dari cinta, harta, hak asuh anak, dan pada akhirnya pembaca dibawa ke perdebatan soal lempar koin untuk mengambil keputusan. Barangkali, hanya di karya Dea inilah, pembaca bisa mendapati percakapan yang tidak umum itu. Yang membuat kisah itu semakin tidak lumrah, perdebatan itu "Direkam secara darurat pada kaset greenday - Warning, Jakarta, April 2003. Transkrip dilampirkan dalam

skripsi berjudul

Hubungan Antar Manusia Menurut Arthur Schopenhauer. Arsip perpustakaan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2015" (hal. 27).

Di Kisah Sedih Kontemporer (IX), pembaca hanya menemukan chat, atau mungkin SMS, lengkap dengan sejumlah emoticon dan tanggal pengiriman, antara penyair dan mantan pacarnya. Isinya dimulai dengan serangkaian puisi yang dikirimkan seorang penyair bernama Fredrik kepada mantan pacarnya, Shalani, pada 19 Oktober 2011. Pesan itu baru mendapat balasan dari Shalani pada 23 Oktober 2011. Inti pesannya: menawarkan seorang perempuan untuk menjadi kekasih Fredrik. Namun, lelaki itu menolaknya, dan tetap memilih jadi penyair, dengan konsekuensi tidak bisa balikan dengan mantan pacarnya itu. Dari 2011, pembaca kemudian diajak ke percakapan pada 2013. Di sini, mantan pacar penyair itu meminta dukungan vote untuk sebuah kontes bayi. Tampaknya, Dea hendak menyampaikan bahwa perempuan itu sudah mempunyai anak, dan tidak memberikan kabar apapun, termasuk pernikahannya, sejak terakhir berkomunikasi pada 2011. Agak pahit, memang.

Dalam menyusun sebuah kalimat, juga paragraf, Dea juga keluar dari pola-pola yang lazim. Dalam Kisah Sedih Kontemporer (XXIV), misalnya, ia menuliskan begini: "Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges dan sinis seperti Maupassant. Ia menulis cerita-cerita bagus yang ringkas seperti Lydia Davis dan mengejutkan seperti Danevi dan lucu seperti Vonnegut dan filosofis seperti Borges.... dan mengharukan seperti Hemingway dan cerewet seperti Bolano" (hal. 64-65). Menambah anak kalimat dari satu kalimat, mengulangnya dan menambah lagi, dan begitu seterusnya, sangatlah tidak lumrah dalam aturan main penulisan.

Tampaknya, bagi Dea, menulis puluhan cerpen yang mengikuti standar umum tidaklah terlalu sulit. Sebab, dari k

umpulan cerpen

ini, pembaca bisa mendapati bahwa ia memiliki wawasan tentang penulis kelas dunia. Juga, diksi-diksi yang digunakannya kaya. Namun, ia justru memilih cara lain dengan menghadirkan karya yang berbeda. Ketika toko buku dipenuhi kiat-kiat menjadi kaya raya dan tenar dalam waktu singkat, ketika para penulis lain menggunakan gaya penulisan dan teknik penceritaan yang itu-itu saja, menolak sama bisa saja merupakan jurus untuk menarik perhatian pembaca.