Merawat Ingatan, Memelihara Kenangan




The Memory Police Polisi Kenangan


Judul Buku: The Memory Police: Polisi Kenangan
Penulis: Yoko Ogawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2020
Skor : 3,5/5




"Walapun ingatanku memudar, masih ada sesuatu yang tersisa.
Seperti benih kecil yang mungkin akan tumbuh lagi apabila hujan turun.
Dan jika ingatan yang menghilang seluruhnya, masih ada yang tersisa dalam hati.
Seberkas getaran atau rasa sakit, sepercik kebahagiaan, setetes air mata."

Yoko Ogawa dalam The Memory Police: Polisi Kenangan

Di sebuah pulau tidak bernama, hampir semua orang mampu melupakan segalanya, termasuk kenangan atas apa saja yang hilang. Kita tentu cukup akrab, atau tidak asing, dengan prangko, parfum, zamrud, dan lonceng. Namun, di pulau itu sebagian besar penduduk tidak mengenal bentuk dan nama benda-benda tersebut.

Dalam The Memory Police: Polisi Kenangan, kita mendapati bahwa tragedi kehilangan demi kehilangan itu merupakan kehendak dari para pemimpin pulau tersebut. Meskipun rentetan panjang kehilangan itu tidak terjadi secara alamiah, mayoritas penduduk justru menggangap sebaliknya. Lebih jauh, Yoko Ogawa menuliskan: "Tidak ada seorang pun yang berusaha keras mencari tahu. Apa pun yang terjadi, hal itu hanya dianggap kemalangan semata. Terlebih lagi, membicarakannya saja bisa membuatmu berada dalam bahaya" (hal. 73).

Dari penjelasan penulis asal Jepang itu, kita tahu bahwa penduduk pulau itu berhadapan dengan psikologi ketakutan. Pada titik ini, mereka tidak bernyali untuk menggugat, termasuk mengajukan pertanyaan tentang, apa yang sedang terjadi di pulau itu. Tidaklah mengherankan jika kehilangan pada akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar.

Sekalipun para pemimpin pulau itu berupaya untuk meleyapkan segalanya, masih ada orang-orang yang mampu mempertahankan kenangan. Mereka bisa memikirkan sesuatu yang sudah (di)hilang(kan), dan akhirnya berhasil menolak ikut serta dalam amnesia kolektif. Namun, nasib mereka, termasuk ibu tokoh utama novel tersebut, cenderung berakhir tragis. Polisi Kenangan memburu dan kemudian membawa mereka ke tempat yang tidak seorang pun mengetahuinya.

Seperti ditelan bumi, orang-orang yang masih bisa menyimpan kenangan itu lenyap tanpa jejak. Sayangnya penduduk lain justru tidak bisa melakukan tindakan apapun. Karena itu, Polisi Kenangan selalu mampu menuntaskan tugas mereka: "memastikan segala sesuatu yang hilang tetap hilang" (hal. 19).

***

Apa yang disuguhkan oleh Yoko Ogawa mengisyaratkan kekuasaan rezim opresif dalam menghilangkan kenangan. Hari-hari ini, kisah seperti itu setidaknya bisa kita temukan dalam realitas politik. Di Cina, misalnya, pemerintah berupaya menghapus tragedi Tiananmen dari memori kolektif rakyatnya guna mengukuhkan cakar-cakar kekuasaan. Pada akhirnya, suka atau tidak, rakyat di negeri itu cenderung tidak bisa mengelak dari tindakan tersebut.

Dunia boleh dikatakan masih jauh dari keruntuhan rezim demokrasi yang direalisasikan oleh banyak negara. Namun, ada sekurang-kurangnya dua fenomena yang perlu diperhatikan perihal praktik demokrasi di level global. Pertama, belakangan ini demagog anti-elite muncul di berbagai negara. Layaknya pahlawan, mereka menawarkan solusi terhadap beragam isu. Persoalannya, solusi yang diajukan terlampau sederhana dalam menjawab permasalahan yang demikian kompleks. Tentang ini, kita bisa sebutkan sejumlah nama, seperti Modi, Orban, dan Bolsonaro.

Kedua, sebagaimana disebutkan Roberto Stefan Foa dan Yascha Mounk (2016) dalam The Danger of Deconsolidation: The Democratic Disconnect, daya pikat demokrasi semakin berkurang di sejumlah negara yang mapan demokrasinya. Pasalnya, orang-orang berusia di atas 30 tahun lebih mengapresiasi demokrasi dibandingkan anak muda di bawah 30 tahun. Pengalaman pahit pasca Perang Dunia II merupakan penyebab orang-orang berumur di atas 30 tahun merasa bahwa demokrasi merupakan sistem politik yang lebih baik dibandingkan sistem politik lainnya.

Pada akhirnya, seperti novel distopia lainnya, The Memory Police: Polisi Kenangan memberi signal peringatan bahwa demokrasi selalu mengandung kerentanan di dalam dirinya sendiri. Jika kita sepakat bahwa demokrasi memberikan ruang kepada kelompok-kelompok yang secara ekstrem tidak sejalan dengan kita, mau tidak mau hak berekspresi dan berkumpul mereka sudah seharusnya dilindungi. Sekalipun kekuatan politik tersebut hendak menjungkirbalikkan demokrasi itu sendiri, selama itu dilakukan tanpa kekerasan, hak berekspresi dan berkumpul mereka terasa penting.

***

Dalam bagian berikutnya, Yoko Ogawa menuliskan bahwa situasi di pulau tidak bernama tersebut semakin lama semakin memburuk. Pasalnya, tindakan Polisi Kenangan justru semakin bringas. Kalau sebelumnya mereka menghilangkan benda-benda secara diam-diam, belakangan aksi mereka semakin terang-terangan.
Setelah benda-benda hilang, juga kenangan atas benda-benda itu lenyap, seluruh bagian tubuh penduduk pun satu per satu raib, dari kaki kiri hingga lengan kanan, dari telinga sampai tenggorokan, dari alis hingga tulang punggung.

"Tangan yang menulis cerita, mata yang dipenuhi air mata, dan pipi tempat air mata itu mengalir-semuanya menghilang, dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah suara" (hal. 290).

Sekalipun semua yang berwujud hilang, Yoko Ogawa menunjukkan bahwa Polisi Kenangan tidak bisa melenyapkan suara. Dengan berbagai cara, termasuk kekerasan, Polisi Kenangan berupaya menghilangkan segalanya. Namun, orang-orang di pulau itu ternyata tidaklah kalah seutuhnya. Sebab, suara-suara mereka masih melayang-layang di pulau tidak bernama tersebut.