The Last Samurai

Rafif Pamenang Imawan

Rafif Pamenang Imawan

The Last Samurai

Sutradara : Edward Zwick

Skenario  : John Logan

Tahun      : 2003

Durasi      : 2 Jam 34 menit

Film ini bercerita tentang sosok Nathan Algren, seorang mantan kapten tentara Amerika Serikat yang diperankan oleh Tom Cruise. Nathan Algren merupakan kapten handal yang mengalami trauma psikologis dan terjebak dalam ketergantungan pada alkohol akibat perang Amerika-Indian. Singkat cerita, Algren dihubungi oleh mantan komandannya bernama Kolonel Bagley yang memberikan tawaran untuk membentuk dan melatih tentara kekaisaran Jepang. Keberadaan tentara kekaisaran Jepang penting bagi Omura, seorang politisi dan pebisnis yang dekat dengan Kaisar muda Jepang. Tujuan utama pembentukan tentara ini untuk menghadang kelompok pemberontak yang dipimpin oleh para samurai. Para samurai ini dianggap menentang Kaisar muda Jepang. Ketika berada di Jepang, Algren bertemu dengan Simon Graham, seorang translator dan fotografer yang memiliki pengetahuan terkait dengan samurai. Simon menjadi informan penting bagi Algren untuk mengetahui apa dan siapa para samurai tersebut.

Para tentara ini merupakan warga yang berprofesi sebagai petani dan tidak memiliki pengalaman bertempur. Celakanya, Omura dan Kolonel Bagley meminta Algren untuk melawan samurai, meski pasukan Algren terlihat belum siap. Pada pertempuran tersebut, pasukan Algren kalah, di kesempatan tersebut Algren terluka parah. Ketika Algren mengira dirinya akan dibunuh oleh samurai, Katsumoto (pemimpin samurai) justru menahan Algren setelah terkesan dengan kegigihan Algren. Inti dari film justru dimulai dari momen ini. Algren kemudian dibawa oleh Katsumoto ke desanya. Di desa tersebut, Algren dirawat oleh keluarga Taka yang ternyata merupakan keluarga samurai yang dibunuh oleh Algren dalam pertempuran. Pada awalnya, Algren dianggap sebagai sosok asing yang berbahaya bagi penduduk desa, setiap gerak-geriknya diawasi oleh para samurai. Ketika berada di desa, Algren terkesima terhadap sistem sosial yang ada. Masyarakat Jepang membagi fungsi sosialnya dan setiap orang memiliki tingkat disiplin yang tinggi serta komitmen melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Bagi pemanah, maka setiap hari orang melakukan latihan memanah. Pun demikian dengan pembuat senjata, setiap hari orang dengan giat membuat senjata.

Beberapa bulan berlalu, Algren menjadi sahabat dari Katsumoto, Algren semakin menyadari alasan utama dari pemberontakan terhadap kekaisaran muda Jepang. Salah satu alasan utama ada pada perkembangan kemajuan teknologi barat yang dinilai akan menghilangkan tradisi dalam masyarakat mereka. Pada suatu malam di tengah pesta, terdapat serangan ke desa oleh ninja dengan tujuan untuk membunuh Katsumoto. Pada momen tersebut, Algren berhasil menyelamatkan nyawa Katsumoto dan berhasil mempertahankan desa mereka. Paska kejadian tersebut, Katsumoto meminta untuk dapat bertemu dengan Kaisar Jepang di Tokyo.

Pada saat itu, Algren turut dibawa oleh Katsumoto, terutama dengan tujuan untuk membebaskan Algren. Terdapat momen menarik, ketika senjata dari Nobutada (anak dari Katsumoto) diminta oleh tantara yang lewat. Nobutada hendak melawan, sebelum akhirnya Algren datang dan meminta mengikuti arahan tentara, terutama untuk menghindari konflik, terlebih tentara kekaisaran Jepang saat ini sudah jauh lebih terlatih dibandingkan ketika masih dalam pelatihan di bawah kendali Algren. Pada momen tersebut, rambut kucir samurai (samurai bun) Nobutada dipotong oleh tentara kekaisaran Jepang. Bagi Nobutada, hilangnya kucir samurai merupakan salah satu penghinaan dari tentara kekaisaran Jepang.

Ketika bertemu dengan Kaisar muda Jepang, Katsumoto menyadari bahwa Kaisar berada dalam pengaruh besar Omura. Terdapat aturan baru yang disusun Omura, ketika samurai dilarang untuk membawa senjata di publik. Omura lantas meminta Katsumoto untuk melakukan hara-kiri (bunuh diri dengan cara menusuk perut sendiri) demi menjaga kehormatannya, terlebih Kaisar sudah tidak lagi terlalu peduli terhadap samurai. Pada momen ini, Algren dan Graham berusaha untuk menyelamatkan Katsumoto. Pada usaha ini, Nobutada tertembak dan mengorbankan dirinya agar Katsumoto dan Algren dapat membebaskan diri.

Kala kembali ke desa, Katsumoto berniat untuk melakukan hara-kiri mengingat Kaisar yang tidak lagi peduli terhadap samurai dan tradisi, namun niatan tersebut dicegah oleh Algren yang berhasil meyakinkan Katsumoto untuk dapat bertarung hingga akhir. Momen kemudian bergeser pada peperangan akhir. Algren pada akhirnya menggunakan baju zirah dari keluarga Tada, baju sama yang pernah digunakan oleh samurai yang dibunuh oleh Algren. Pada pertempuran akhir, pasukan kekaisaran yang merasa percaya diri dengan teknologi perang dari barat yang mereka miliki, terjebak dalam strategi para samurai yang menghujani tantara dengan panah. Ketika tentara kekaisaran terdesak, Katsumoto dan Algren maju ke garis terdepan perang. Pada pertempuran tersebut, Algren berhasil membunuh Bagley, namun disisi yang lain muncul Omura dan kapten perang yang dahulu dilatih Algren. Keduanya menembakkan senjata otomatis ke para samurai yang masih berada di tengah lapang. Melihat banyak samurai yang tumbang, kapten meminta untuk senapan mesin dihentikan, meski langkah tersebut berarti menafikan perintah dari Omura. Ketika Katsumoto terluka berat, Katsumoto atas bantuan Algren melakukan hara-kiri. Para tentara kekaisaran yang semula menembaki para samurai, kemudian melakukan penghormatan terhadap para samurai dengan cara berlutut.

Pada babak akhir film, ketika Kaisar sedang melakukan negosiasi perdagangan, Algren datang menghadap Kaisar Jepang. Dirinya hendak menyerahkan pedang dari Katsumoto, serta meminta Kaisar untuk mengingat tradisi yang coba dipertahankan oleh para samurai hingga wafat. Pada akhirnya kaisar menyadari bahwa meski terdapat tuntutan untuk melakukan modernisasi, bangsa Jepang tidak seharusnya melupakan sejarah dan tradisinya. Pada akhirnya Kaisar menolak untuk menandatangani perjanjian bisnis yang telah disusun oleh Omura. Hal ini membuat Omura murka, Kaisar lantas mengancam akan menyita aset keluarganya dan meminta komitmen yang sama seperti yang telah ditunjukkan oleh samurai. Kaisar menghampiri Algren, menanyakan bagaimana Katsumoto meninggal. Algren dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak akan menceritakan bagaimana Katsumoto meninggal, tetapi akan menceritakan bagaimana Katsumoto hidup (dengan memegang prinsip-prinsipnya). Film diakhiri dengan Algren yang kembali ke desa samurai untuk bertemu dengan keluarga barunya.

Restorasi Meiji

Film ini mengambil setting restorasi Meiji (1868-1912), yakni proses pengembalian kekuasaan Jepang pada sosok Kaisar, ketika sebelumnya Jepang berada di bawah kekuasaan keluarga militer Tokugawa (1603-1867) atau yang lebih dikenal dengan kekuasaan Keshogunan. Restorasi Meiji merupakan salah satu titik mula kemajuan Jepang, dari semula yang dikenal sebagai negara tertutup di era rezim Shogun. Di bawah kekaisaran Meiji, Kaisar Musuhito memutuskan untuk membuka diri terhadap pengaruh asing, terutama melalui penyelenggaraan perdagangan dengan negara-negara luar. Kebijakan krusial lainnya yang diambil pada masa ini ada pada pemindahan ibu kota dari Kyoto menuju Edo (saat ini dikenal dengan nama Tokyo). Pada dimensi sosial, Kaisar juga menghapuskan kasta masyarakat Jepang yang telah berlaku sejak abad 12. Kasta tersebut terdiri dari empat golongan yakni samurai, petani, pengrajin, dan pedagang (Kumparan, 29/11/2019).

Restorasi Meiji menjadi latar belakang utama dari film ini. Ketika menyaksikan film ini, saya teringat pada salah satu buku ketika saya mengambil studi politik perbandingan. Buku tersebut berjudul ”State Directed Development” karangan Atul Kohli. Secara singkat, buku ini bercerita tentang bagaimana pemusatan kekuasaan, terutama pada masa pemerintahan otoritarian, dapat menjadi momentum penting untuk mendorong industrialisasi. Premis utama yang coba untuk disampaikan melalui buku ini ada pada pentingnya fase otoritarianisme sebagai bagian penting perkembangan kapitalisme. Kohli mengangkat studi kasus di Korea, Brazil, India, dan Nigeria. Keempat negara tersebut diklasifikasikan oleh Kohli ke dalam tiga kategori utama, yakni cohesive-capitalist state (Korea), fragmented-multiclass state(Brazil dan India), dan neo-patrimonial state (Nigeria). Ketiga perbedaan kategori tersebut berkaitan dengan bagaimana kekuasaan dikelola.

Pada kasus Korea, restorasi Meiji memberikan pengaruh besar bagi perkembangan industrialisasi di Korea. Kolonialisme model Jepang mendorong terbentuknya mini Japan di Korea, termasuk diantaranya membentuk struktur sosial dan etos kerja yang sama layaknya di Jepang. Struktur kolonialisme ini lantas mendorong terciptanya tertib sosial di Korea. Di sisi lain, elite ekonomi politik di Korea belum sekompleks saat ini. Ketika berada pada fase otoritarian di bawah kekuasaan Park Chung Hee, elite Korea yang menguasai ekonomi politik berada dalam kendalinya. Korea memiliki instrumen kekerasan dan mampu membentuk tertib sosial yang memungkinkan industrialisasi dapat dikembangkan di wilayah ini. Oleh karenanya Kohli memberikan label cohesive-capitalist state untuk Korea, sebelum perlahan fase otoritarian bergeser pada rezim demokratis.

Berbeda dengan Korea, pada kasus di Brazil dan India, periode otoritarian tidak berhasil dikelola sebagai momentum untuk mendorong industrialisasi. Faktor utama penghambat ada elite ekonomi politik yang tidak terkonsolidasikan. Hal ini menunjukkan bahwa konsolidasi elite menjadi faktor krusial, bahkan terutama di negara yang menganut sistem otoritarian. Banyaknya elite ekonomi politik yang tidak terkonsolidasikan di Brazil dan India, diberi label oleh Kohli sebagai fragmented-multiclass state. Berbeda dengan Nigeria. Negara ini diberi label sebagai neo-patrimonial state mengingat konsolidasi elite ekonomi politik tidak terjadi. Negara melekat secara eksklusif terhadap salah satu suku, akibatnya stabilitas ekonomi politik tidak terjadi di Nigeria.

Karya Kohli menunjukkan bagaimana restorasi Meiji dan kolonialisme Jepang memberikan penjelas penting bagi industrialisasi atau perkembangan kapitalisme. Terlepas dari sisi drama dalam film “The Last Samurai”, film ini membuka bahasan mengenai bagaimana sebuah bangsa menyiasati modernisasi. Pada sebagian besar, modernisasi justru ditelan mentah-mentah tanpa melihat bagaimana tradisi yang telah mengakar pada masyarakat tersebut berperan dalam menciptakan keseimbangan/tertib sosial. Modernisasi tampak menjadi jalan penting bagi industrialisasi dan terutama pengembangan kapitalisme pada sebuah bangsa, hingga nilai-nilai tradisional pada akhirnya dianggap sebagai penghambat. Pada film ini, samurai yang merupakan bagian dari struktur sosial lama, menjadi simbol yang memegang teguh jati diri sebagai bangsa Jepang.

Kesan

Apabila dilihat dari alur cerita, terutama terkait dengan drama dalam film ini. Sebenarnya film ini tidak terlalu istimewa, nilai paling baik dari film ini justru ada pada benturan antara modernisasi dan tradisi. Film ini di beberapa bagiannya, berhasil memberikan satu gambaran kepada publik terkait dengan dilema pada massa restorasi Meiji. Pada akhirnya pilihan jalan tengah antara modernisasi dan jati diri dalam memegang tradisi menjadi jalan yang ditempuh. Langkah ini yang sebenarnya menjadikan Jepang sebagai kapitalis melalui jalan membuka perdagangan dengan bangsa dan negara lain, namun di satu sisi Jepang tidak kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Restorasi Meiji yang dicanangkan pada akhirnya mendorong pembentukan konstitusi Meiji, sebuah konstitusi yang telah diresmikan pada tanggal 11 Februari 1889, namun baru berlaku 29 November 1889.

Melalui konstitusi tersebut, diatur tugas dan wewenang Kaisar hingga persoalan perdagangan. Konstitusi ini juga menjadi dasar pembentukan Parlemen Jepang yang mengadopsi sistem bikameral, yakni parlemen yang terdiri dari Majelis tinggi dan Majelis rendah. Majelis tinggi berisikan orang-orang yang ditunjuk oleh Kaisar atau orang-orang yang merupakan anggota keluarga kerajaan, sedangkan Majelis rendah merupakan orang-orang yang dipilih oleh rakyat. Penetapan restorasi Meiji di tahun 1889 menjadikan Jepang sebagai salah satu negara pertama di Asia yang memberlakukan sistem perundang-undangan modern secara mandiri (Kumparan, 29/11/2019). Film ini memberikan pesan penting bahwa praktik sosial maupun pemerintahan di negara lain, tidak lantas tepat untuk diimplementasikan di negara lainnya. Pada kasus restorasi Meiji, justru mencari titik tengah antara nilai-nilai tradisi yang selama ini hidup dalam masyarakat dan modernisasi, mampu membawa Jepang menjadi bangsa dan negara yang disegani seperti saat ini.

Daftar Pustaka

Kumparan, 29 November 2019, Konstitusi Meiji: Warisan Restorasi Meiji yang Mengubah Sistem Politik, https://kumparan.com/zenius-education/konstitusi-meiji-warisan-restorasi-meiji-yang-mengubah-sistem-politik-1sLVbJJiyTH. Diakses tanggal 22 Mei 2021

Zwick, E. (Sutradara), (2003). The Last Samurai. Amerika Serikat: Warner Bros

Bagikan Postingan:

Ikuti Info Rana Pustaka

Terbaru

Copyright @ Populi Center
id_IDIndonesian