Serangan AS ke Venezuela: Pilihan Rasional Keamanan Regional AS Di Kawasan Amerika Latin

Serangan militer AS ke Venezuela di awal tahun 2026 mengejutkan dunia internasional sekaligus menjadi peristiwa geopolitik yang menandai perubahan peta kekuatan energi global. Serangan tersebut ditujukan untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Tujuannya jelas, meruntuhkan rezim Maduro untuk mengamankan kepentingan minyak sekaligus memutus rantai hubungan Venezuela dengan China, serta menjaga kestabilan pengaruh AS, sekaligus mencegah peningkatan pengaruh geopolitik China di kawasan Amerika Latin.

Hubungan Venezuela-China yang saling menguntungkan memiliki resiko keamanan jangka panjang bagi AS. Hubungan keduanya memberikan resiko dilema keamanan bagi AS di kawasan Amerika Latin. Ekspansi geopolitik China ini berisiko mengancam keamanan AS. Hal itu membuka ruang bagi China untuk meningkatkan pengaruh geopolitik di Amerika Latin, menantang dominasi AS, dan menjadikan Venezuela pos terdepan dalam persaingan strategis AS-China.

Kedekatan China-Venezuela tidak terlepas kepentingan minyak dan geopolitik, di mana China memberi pinjaman besar ke Venezuela (dibayar dengan minyak) untuk mengamankan pasokan energi dan memperluas pengaruhnya di Amerika Latin sebagai tandingan AS, sementara Venezuela mendapat dukungan finansial dan politik untuk stabilitas, kemudian ditingkatkan menjadi kemitraan strategis. Nilai strategis Venezuela bagi China mencakup akses ke sumber daya energi melimpah (terutama minyak mentah di Sabuk Orinoco), pasar strategis, aliansi politik anti-AS, dukungan di forum internasional, dan memperluas pengaruh kebijakan Belt and Road Initiative di kawasan “halaman belakang” AS.

Dalam perspektif politik internasional, apa yang AS lakukan merupakan respon rasional terhadap dampak resiko keamanan yang lebih besar jika dibiarkan. Pertama, Venezuela memiliki cadangan minyak yang tidak hanya besar namun juga memiliki kualitas minyak yang sangat bagus, terutama untuk kebutuhan industri. Kedua, menurunkan kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro akan memberikan ruang bagi AS untuk meruntukan rezim lama pro China dengan rezim baru pro AS. Ketiga, hubungan Venezuela, di bawah kepemimpinan Maduro, dengan China memiliki resiko keamanan tinggi bagi AS, terutama jika dilihat dari kedekatan hubungan ekonomi Venezuela-China di kawasan Amerika Latin. Meredam peningkatan pengaruh China di kawasan Amerika Latin akan memberikan pengaruh signifikan bagi keamanan AS di kawasan. Konsekuensi resiko geopolitik dan keamanan jangka panjang menjadi pertaruhan AS untuk meredam api agar tidak semakin membesar dan membahayakan AS di kemudian hari.

Apa yang dilakukan China di Venezuela juga dilakukan negara-negara besar lainnya, seperti AS yang memanfaatkan posisi geografis Ukraina di Eropa Timur atau ketika era perang dingin ketika Uni Soviet memanfaatkan Kuba, dengan pola aliansi, untuk meredam kekuatan AS di kawasan, dan kini China di Amerika Latin memanfaatkan posisi strategis Venezuela di kawasan.

Sikap AS terhadap Venezuela, memiliki pola yang sama ketika ketika Rusia mencegah peningkatan pengaruh geopolitik AS dan NATO dengan memanfaatkan posisi geografis Ukraina di Eropa Timur. Sikap rasional Rusia meliputi menghentikan ekspansi NATO, menciptakan zona penyangga netral di perbatasan, mempertahankan pengaruh di Eropa Timur, mengamankan wilayah Donbas dan Krimea, serta melemahkan militer dan ekonomi Ukraina melalui perang untuk memastikan Ukraina tidak menjadi ancaman militer atau politik bagi Rusia. Rusia ingin Ukraina tetap berada di bawah pengaruhnya, bukan di bawah payung Barat, melalui tekanan militer dan politik untuk mencapai tujuan keamanan jangka panjangnya.

Kebutuhan keamanan energi AS mungkin tidak sebesar kebutuhan AS dalam meredam pengaruh dan kekuatan China yang semakin membesar di Amerika Latin. Apa yang dilakukan AS merupakan kalkulasi kebijakan rasional dengan mempertimbangkan kepentingan keamanan yang jauh berisiko dibandingkan membiarkan meningkatnya pengaruh geopolitik China di kawasan.

Tujuan strategis AS dalam meredam China, kalkulasi untung rugi jangka panjang, terutama dalam melakukan perubahan rezim yang lebih pro pada AS, akan memberikan manfaat keamanan yang besar dibandingkan langsung berhadapan dengan China. Langkah AS dalam meredam kekuatan lawan-lawannya mengarah pada strategi rezim change atau perubahan rezim di Venezuela.

Sebelumnya, AS juga pernah melakukan hal yang sama terhadap Presiden Filipina Emilio Aguinaldo. AS menahan Presiden Filipina Emilio Aguinaldo pada Maret 1901 selama Perang Filipina-Amerika. Tujuannya jelas, Aguinaldo ditangkap untuk diambil sumpahnya untuk setia kepada Amerika Serikat dan kemudian mengumumkan deklarasi yang menyerukan penghentian perlawanan Filipina terhadap AS.

Selain itu, Presiden Panama Manuel Noriega. Noriega adalah penguasa militer de facto Panama dari tahun 1983 hingga 1989. Sebetulnya, Noriega merupakan aset intelijen kunci bagi CIA, memberikan informasi berharga tentang pergerakan di Amerika Latin dan membantu operasi AS di wilayah tersebut. Namun, hubungan AS-Noriega memburuk dan membahayakan keamanan AS. Pada Desember 1989, AS di bawah pemerintahan George H.W. Bush melancarkan Operasi Just Cause, sebuah invasi militer untuk menggulingkan dan menangkap Noriega.

Di tahun 2003, Presiden Irak Saddam Hussein digulingkan AS dengan dalih tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal dan dukungan terorisme. Persoalan keamanan AS di Timur Tengah dan nilai strategis minyak Irak sebetulnya diyakini menjadi alasan strategis AS untuk menggulingkan rezim Saddam Husein dan membangun rezim yang pro terhadap AS.

Dengan menggulingkan kekuasaan Maduro di Venezuela, AS tidak hanya mengamankan nilai strategis sumber daya minyak Venezuela yang besar, namun juga memutus hubungan strategis China-Venezuela. Dengan begitu, Venezuela sebagai gerbang masuk China di Amerika Latin dapat ditutup rapat AS untuk mencegah peningkatan pengaruh geopolitik China di kawasan dimana geografis AS berada. Sehingga, serangan dan penculikan AS terhadap Presiden Maduro menjadi opsi rasional bagi AS untuk mengamankan nilai strategis minyak Venezuela, sekaligus mengamankan posisi AS di tengah persaingan AS dengan China di geopolitik global.

Apa yang dilakukan AS di Venezuela hanyalah potongan kecil dari keseluruhan gambaran utuh persaingan AS dan China dalam politik internasional dimana pilihan menjatuhkan rezim Maduro di Venezuela menjadi kebijakan rasional dan strategis AS menghadapi China untuk menjaga kepentingan keamanan jangka panjang di tengah persaingan keduanya dalam geopolitik global.

id_IDIndonesian