Edisi perdana ini mengangkat tema besar tentang transisi dan tata kelola. Di awali pembahasan mengenai kelanjutan pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara, terutama terkait kesiapan anggaran dan arah prioritas pemerintahan baru yang membutuhkan bukan saja komitmen politik, melainkan juga ditopang oleh rencana pembiayaan yang jelas dan realistis. Pada ranah demokrasi elektoral, buletin ini menghadirkan catatan kritis atas Pemilu dan Pilkada Serentak 2024, mulai dari dinamika perubahan aturan, integritas penyelenggara, hingga konsekuensi lanjutan seperti pemungutan suara ulang (PSU), sekaligus menegaskan urgensi perbaikan regulasi kepemiluan dan kepartaian agar pemilu tidak sekadar rutinitas, tapi juga berintegritas.

Kontributor:

Afrimadona, Ratri Istania, Novri Susan, Usep Saepul Ahyar, Dimas Ramadhan, Hartanto Rosojati, Darin Atiandina, Muhammad Haidar Allam, Rivan Prasetyo

Buku ini memperkaya studi politik di Indonesia, terutama terkait sistem kepartaian dan kompetisi elektoral. Sebagai bacaan akademik yang disusun dengan metode riset campuran (mixed method), buku ini menjadi referensi penting bagi para akademisi, terutama yang tertarik pada dinamika partai politik dan persaingan elektoral, karena menawarkan analisis teoritis yang mendalam dengan dukungan data empiris yang solid.

Penulis:

Nico Harjanto

Sepuluh Pelajaran Berharga Pasca Pandemi COVID-19 Pendekatan demi pendekatan silih berganti digunakan untuk memahami bagaimana pandemi mempengaruhi cara hidup manusia. Pertentangan dominasi ilmuwan di bidang kesehatan berbasis sains terus bertabrakan dengan para ekonom untuk menghasilkan kebijakan yang tidak menimbulkan efek penyebaran virus lebih lanjut, tanpa juga mematikan detak jantung perekonomian rakyat. Pemerintah terus merevisi kebijakan penanganan COVID-19 dalam rangka beradaptasi dengan temuan-temuan di lapangan. Titik keseimbangan pun terus dicari antara kebijakan berbasis sains dan ekonomi.

Kontributor:

Afrimadona, Dimas Ramadhan, Rafif Pamenang Imawan, Ratri Istania, Shanti Darmastuti, Ade Ghozaly, Aulia Rahmawati, Darin Atiandina, Faza Dhora Nailufar, Hartanto Rosojati, Jefri Adriansyah, Nurul Fatin Afifah, Rachma Lutfiny Putri, Usep Saepul Ahyar

Dari 1945 sampai awal 1998 Jakarta pada dasarnya adalah manifestasi dari visi dan ideologi Sukarno dan Suharto. Sukarno menjadikan Jakarta sebagai semacam sebuah deklarasi tentang dekolonisasi dari sebuah negara-bangsa baru yang pantas dihormati dalam percaturan dunia. Tapi ke dalam ia juga ingin Jakarta menjadi simbol dari perjuangan dan persatuan nasional merebut kemerdekaan. Sukarno tidak ingin bangsa Indonesia ketinggalan zaman dalam percaturan internasional tapi sekaligus menginginkannya tetap memiliki identitas yang khas miliknya. Jakarta di matanya harus menjadi mercusuar kota-kota lain di Indonesia, sekaligus mercusuar peradaban umat manusia.

Kontributor:

Hikmat Budiman, Afrimadona, Hartanto Rosojati, Jefri Adriansyah, Nurul Fatin Afifah, Nona Evita, Rafif Pamenang Imawan

Kawasan Indonesia Timur secara historis pernah menjadi pusat perhatian dunia sejak abad ke-17 sampai kurang lebih akhir abad ke-18. Kayu cendana, kayu manis, cengkih, pala, dan fuli atau lawang menja­di komoditas yang sangat mahal harganya di pasar internasional di Eropa waktu itu. Tapi sejak Belan­da memilih Pulau Jawa sebagai pusat politik dan ekonominya, kawasan ini menjadi wilayah yang terus-menerus mengalami marginalisasi politik dan ekonomi sampai dekade-dekade awal abad ke-21.

Kontributor:

Hikmat Budiman, Cahyo Pamungkas, Hartanto Rosojati, Hilma Safitri, Rafif Pamenang Imawan, Usep Saepul Ahyar

Copyright 2026 © Populi Center

id_IDIndonesian