Kawasan Indonesia Timur secara historis pernah menjadi pusat perhatian dunia sejak abad ke-17 sampai kurang lebih akhir abad ke-18. Kayu cendana, kayu manis, cengkih, pala, dan fuli atau lawang menjadi komoditas yang sangat mahal harganya di pasar internasional di Eropa waktu itu.
Tapi sejak Belanda memilih Pulau Jawa sebagai pusat politik dan ekonominya, kawasan ini menjadi wilayah yang terus menerus mengalami marginalisasi politik dan ekonomi sampai dekadedekade
awal abad ke-21 saat ini.
Setelah dua dekade Orde Baru Suharto berakhir, ada banyak hal yang sudah berubah di Maluku dan kawasan Indonesia Timur pada umumnya.Jumlah kabupaten/kota bertambah tapi kontribusinya pada perekonomian
di wilayah terebut tidaklah terlalu besar. Presiden Joko Widodo pernah mengungkapkan bahwa Indonesia Timur adalah masa depan kita. Di luar tafsiran-tafsiran politik atas pernyataan tersebut, kita sudah harus lebih serius mempertimbangkan ke arah mana haluan masa depan Indonesia menuju. Dengan berbagai pertimbangan rasional kita bisa mulai mendiskusikan apakah masa depan Indonesia akan tetap diproyeksikan ke wilayah-wilayah di barat, di Jawa terutama, yang cenderung sudah overpopulated, atau justru sebaliknya mengarah ke timur yang selama ini cenderung diabaikan. Secara metaforik pertanyaannya adalah apakah
kita akan menetapkan masa depan Indonesia di tempat senja datang
dan matahari terbenam ataukah kita akan memilih melabuhkan bahtera
harapan bagi masa depan yang masih muda remaja di tempat terbitnya
matahari pagi.